Surat al-Buruj

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-BURUJ

“BINTANG-BiNTANG”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

1. Demi langit yang penuh bintang,

Surah ini mulai dengan menyebut fenomena yang secara langsung melibatkan kita dalam kehidupan ini. Ketika bersumpah dengan konstelasi bintang, kita diseru untuk memberikan kesaksian. Burj adalah apa saja yang nampak, menonjol atau tinggi. Ia juga berarti ‘menara, kastil’ dan ‘tanda zodiak’. Lelangit dapat dibagi ke dalam zona-zona yang berbeda, dan yang terdekat kepada kita adalah dua belas rumah zodiak, atau konstelasi bintang.

Penggunaan kata samâ’ (langit, cakrawala) di sini bisa berarti hati. Salah satu makna batin dari ayat ini berkenaan dengan tahap-tahap yang berbeda melalui mana hati berkembang ke arah realisasi tauhid.

وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ

2. Dan demi hari yang dijanjikan,

Mau’ud (dijanjikan, ditentukan) berasal dari kata kerja wa’ada, ‘menjanjikan, meramalkan, mengancam’. Pada Hari Perhitungan segala sesuatu akan terbuka dan gamblang. Kita telah diperingatkan tentang hari ini di seluruh wahyu.

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

3. Dan demi saksi dan yang disaksikan.

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah adalah saksi dan yang dipersaksikan, karena yang ada hanyalah Allah—la ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah).

Nabi Muhammad telah mengatakan bahwa syahid adalah Yawm al-Jum’ah dan masyhud (yang disaksikan) adalah Yawm al-’Arafat (Hari Arafah dalam ibadah Haji). Kita masing-masing adalah saksi, secara terus-menerus, berulang kali, setiap menit dari setiap hari, setiap minggu, setiap Jum’at. Ini juga bermakna menjadi saksi dalam arti kolektif, karena hari berkumpul (Jum’at) adalah latihan untuk menghadapi saat ketika semua jiwa akan dikumpulkan setelah Kebangkitan.

Masyhud adalah Hari Kepastian, atau pengenalan akan kebenaran yang satu, karena seluruh ciptaan menyaksikan kebenaran tersebut. Itulah hari keesaan (tauhid): kita menyaksikan itu sekali sepanjang hidup. Hari Jum’at menyaksikan kita, dan kita menyaksikan Arafah. Mengenal sekali saja sudah cukup, dan kemudian si penyaksi (syahid) bisa juga menjadi si tersaksi (masyhud).

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ

4. Kehancuran menimpa para penghuni parit,

Ini adalah penjelasan historis tentang suatu peristiwa yang terjadi di negeri Yaman. Peristiwanya mengenai seorang nabi dari Ethiopia yang memiliki sekelompok pengikut. Ini adalah cerita yang dituturkan oleh Amir al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib. Kaum pagan memenjarakan sang nabi dan pengikutnya, menggali sebuah lubang di tanah lalu menyalakan api besar di dalamnya. Kemudian kaum pagan mengumpulkan mereka dan berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang percaya kepada nabi orang Ethiopia ini, ia harus loncat ke dalam api dan membakar diri, karena jika kalian beriman kepada Allah, maka Allah akan menyelamatkan kalian! Dan mereka yang tidak percaya kepada orang ini hendaklah menjauhkan diri.” Diceritakan bahwa semua orang yang bersamanya loncat ke dalam api, dan mereka diselamatkan oleh Allah, dengan cara Allah. Di antara mereka ada seorang wanita yang punya anak kecil, dan ketika dia dan anaknya masuk ke dalam api yang ada hanyalah kesegaran dan kedamaian, persis seperti Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api oleh orang-orang Mesopotamia penyembah patung. Mereka yang loncat ke dalam api berada dalam keadaan yang benar-benar yakin. Pada saat berserah diri itu ada sistem lain yang mengambilalih. Kita biasanya terhalang dari sistem lain tersebut.

النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ

5. Api yang diberi bahan bakar,

إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ

6. Tatkala mereka duduk di situ,

Barangsiapa tidak bergabung dan mengikuti jalan mereka maka ia dimasukkan ke dalam jurang api yang besar, sementara kaum kafirin duduk di dekat api itu menyaksikan pertunjukkan besar.

وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

7. Dan mereka adalah saksi terhadap apa yang mereka lakukan terhadap kaum beriman.

Mereka sendiri menjadi saksi atas apa yang sedang mereka lakukan terhadap kaum mukrnin yang sedang menantikan kehidupan berikutnya, yang berbuat sebaik-baiknya dalam kehidupan ini. Kaum tiran ini menyengsarakan kaum beriman karena mereka ingin kaum beriman menjadi seperti mereka, karena kita semua ingin kebersatuan. Mereka yang mendustakan Tuhan (kafir) ingin menyatukan setiap orang dalam sistem kufur mereka, dan seperti dikatakan Nabi Muhammad, ‘Kufr (menolak Tuhan) adalah sebuah sistem.’ Hal itu seumpama seorang ayah dan seorang ibu yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya dengan menabung uang, tapi ujung-ujungnya sang anak tidak menginginkan apa yang semestinya mereka berikan kepada si anak. Ini adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada orang tua yang borjuis. Ayah dan ibu ingin menularkan sistem mereka kepada anak mereka dan jika si anak memberontak, mereka pun kecewa karena harapan yang tidak terpenuhi. Begitulah mereka menghancurkan si anak secara psikologis.

Contoh lain adalah terjadinya kehancuran masal di negeri Yaman. Golongan status quo, yang ingin melanggengkan sistem kehidupan mereka yang sempit, menyiksa golongan lainnya. Mereka rnembangun api persis di tengah-tengah para pengikut nabi karena benar-benar ingin melenyapkan para pengikut nabi, agar mereka tidak akan terganggu dan agar tidak ada unsur pemecah belah yang dapat mengancam kesinambungan sistem mereka.

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

8. Dan mereka membalas dendam orang-orang itu hanya karena mereka beriman kepada Allah, Yang Mahaperkasa, Yang Maha Terpuji.

Niqmah (balas dendam) adalah kebalikan dari ni’mah, yang berarti ‘kebaikan, berkah, manfaat’. Niqmah adalah penderitaan yang kelihatan dan destruktif. Kaum kafir dari negeri Yaman melakukan balas dendam dan berusaha menghancurkan orang-orang ini hanya karena mereka ingin mempercayai Allah dan beriman. Mereka menginginkan pengetahuan tentang Allah karena hal itulah komoditas yang paling jarang dan paling berharga dalam penciptaan, dan itulah pengetahuan yang paling agung yang bisa diperoleh manusia.

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍشَهِيدٌ

9. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Allah adalab Saksi atas segala sesuatu.

Ayat ini menunjuk kepada ayat sebelumnya: wa syahid wa masyhud (dan demi saksi dan yang disaksikan).

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

10. Sesungguhnya, mereka yang menganiaya kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, kemudian tidak bertobat, mereka mendapat siksa neraka (jahanam), dan bagi mereka siksaan yang menghanguskan!

Fatana (menyerah pada godaan atau cobaan, siksaan dan kesengsaraan, terpikat), di sini secara khusus bermakna ‘menimpakan penderitaan’ atau ‘menganiaya’ dalam arti menguasai, menghancurkan, dan menyebabkan kerusakan. Mereka yang telah melanggar kaum mukmin, sekalipun tanpa menyadari apa yang sedang mereka perbuat, dan juga mereka yang berbuat tidak pada jalan tauhid yang lurus dan kemudian tidak bertobat, maka mereka akan ditimpa ‘adzab (azab). ‘Adzdzab berarti ‘menyebabkan kerusakan atau kesakitan, hukuman, siksaan’. Pada saat yang sama, ‘adzuba, dari akar kata yang sama, berarti ‘bersikap manis, menyenangkan, ramah’. Inilah contoh gamblang tentang bagaimana makna yang berlawanan terkandung dalam kata yang sama. Maka siksaan neraka (jahanam) merupakan suatu aspek penyucian dan keadilan.

Haraqa berarti ‘membakar’. Adegan yang digambarkan dalam ayat-ayat sebelumnya dibalikkan. Sementara mereka yang dibakar dalam lubang adalah pemenang, mereka yang membakarnya akan berakhir sebagai orang-orang yang akan dibakar secara hakiki. Mereka akan menerima hukuman atas apa yang mereka sebabkan sendiri sehingga mereka sebenamya mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنتَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

11. Sesungguhnya, mereka yang beriman dan berbuat kebaikan, mereka akan rnendapat surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai—itulah kemenangan yang besar!

Dan mereka yang, seperti penghuni lubang api, memiliki iman dan mewujudkannya ke dalam perbuatan yang patut disertai niat yang benar, akan mendapatkan surga yang dialiri dengan sungai-sungai gaib. Kesuburannya bahkan tercermin sekarang dalam kecemerlangan wajah-wajah mereka. Itulah kemenangan yang besar dan terakhir. Fawz, yang berarti ‘kemenangan’, mengandung arti kemenangan mencapai keselamatan, dan itulah tujuan terakhir dari si calon pemenang.

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

12. Sesunggnhnya, cengkaman Tuhanmu sangatlah kuat.

Bathasya berarti ‘mencengkam dengan keras’, Ini berkenaan dengan saat-saat ketika sesuatu menimpa kita secara dahsyat, dengan tak diduga-duga. Jika kita mengatakan bathasya bihi, maksudnya adalah ‘dia menyerangnya’, apakah dalam kemarahan atau karena balas dendam. Syadid berarti ‘kuat, dahsyat, keras, hebat, kasar’. Serangan ini mungkin datang secara tiba-tiba dan tak terduga pada saat kematian di kehidupan ini, atau di kehidupan mendatang pada saat pengadilan.

إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ

13. Dialah Yang mengawali dan mengulang penciptaan.

Tuhan adalah asal segala sesuatu dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Ayat ini berkenaan dengan awal kehidupan seseorang, kesadaran individunya dan pengembalian terakhir kesadaran individunya kepada kesadaran total terhadap Allah, atau ke awal kehidupan jasmaniah itu sendiri dan kembalinya kehidupan ke sumbernya. Semua ini hanyalah sebagian dari makna yang mungkin dari ayat ini.

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

14. Dan Dia adalah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,

Kata yang digunakan di sini untuk mengungkapkan sifat dari Yang Maha Pengampun (al-Ghafur) berasal dari kata kerja ghafara, yang asalnya berarti ‘menutupi’. Pengampunan tidak bisa diartikan mengabaikan atau membatalkan apa yang telah terjadi dan dicatat. Karena untuk setiap aksi ada reaksi, sifat sesungguhnya dari pemaafan adalah bahwa dengan mengakui dan berpaling dari suatu pelanggaran, maka kita menyeru sumber kasih sayang dan ampunan untuk melindungi dan mencegah kita dari berbagai pengaruh negatif. Ketika menyeru, Sifat al-Ghafur akan menangkis dan mengubah gema dari segala perbuatan salah kita.

Wadud (Yang Maha Pengasih) berasal dari salah satu kata Arab yang bermakna ‘mencintai’. Kata yang lebih umum digunakan untuk cinta, hubb, adalah cahaya wudd sejati, atau widd (cinta, kasih sayang). Dua-duanya bermakna cinta, tapi jika widd-nya murni dan memancar secara terbuka, maka ia menjadi hubb. Seluruh penciptaan bergantung kepada cinta.

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

Surah al-Insyiqaq

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-INSYIQAQ

“TERBELAH”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ

1. Tatkala langit terbelah.

Surah ini mulai dengan gambaran tentang akhir alam semesta. Insyaqqa, akar dari insyiqâq berarti ‘terbelah, terpecah’, dan menunjukkan keretakan yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Kekuatan yang menyebabkan sistem tersebut berantakan sangatlah besar sehingga nampak sekali tidak adanya pola kehancuran terakhir yang sudah ditentukan sebelumnya. Keserampangan nyata dari babak akhir ini, secara linguistik menurut Alquran, berbeda dengan awal penciptaan yang telah ditentukan secara cermat (Q.S. 21:30). Kata kerja yang digunakan adalah fataqa (membelah pada lipatan). Fataqa dilakukan tidak secara serampangan, karena lipatan sepanjang mana penciptaan berlangsung sudah ditentukan sebelumnya, sebagaimana tersirat dalam makna kata kerja tersebut.

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

2. Dan menaati Tuhannya dan melaksanakannya.

Ketaatan serta kebenaran di sini menunjuk kepada lelangit yang mengikuti takdimya, yang menunjukkan sifat-sifat ini melalui tindakan-tindakannya. Udzun berarti ‘telinga’, dari adzina, yang berarti ‘mendengarkan, menyimak, mengizinkan’. Itu artinya langit telah mendengarkan, dan dengan demikian telah berhubungan dengan sumber pesan. ‘Beri saya idzn artinya ‘Beri saya izin’, yakni aspek lain dari bersatu dengan takdir.

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

3. Dan tatkala bumi dibentangkan.

Madda berarti ‘mengulurkan, membentangkan, mengembangkan’. Ketika seseorang berlomba dengan orang yang lebih kuat dari dirinya dan ia meminta madad (dari akar kata yang sama), maksudnya adalah ‘mendahului pada permulaan’. Nuansa penghancuran bumi diungkapkan dengan jelas dalam konteks dua ayat yang sebelumnya dan berikutnya.

وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ

4. Dan [bumi] mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.

Bumi telah mengembangkan diri, menghampar secara sempuma, dan telah menyemburkan semua yang ada di dalamnya. Keseimbangannya terganggu dan terhenti. Gaya gravitasi dan semua antarhubungan yang cocok dengan itu tidak lagi mendominasi.

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

5. Dan menaati Tuhannya dan melaksanakannya.

Lagi-lagi dengan ketaatannya langit menunjukkan takdirnya. Kewajibannya adalah mendatangkan stabilitas tertentu dan kemudian lenyap. Gambaran ini menjadi sangat jelas sekaitan dengan apa yang akan terjadi pada beberapa aspek bumi lainnya, seperti pegunungan.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

6. Wahai manusia! Sesungguhnya engkau selalu berjuang menuju Tuhanmu dengan perjuangan yang keras sampai engkau bertemu dengan-Nya.

Setelah diberikan gambaran tentang babak akhir di mana penciptaan akan hancur, kita melihat bahwa kehancuran dan keterpecahan akan terefleksi dalam kesadaran manusia. Kâdih adalah orang yang bekerja atau berjuang untuk mencapai sesuatu. Berjuang, berusaha keras, atau bekerja juga berarti mencari makanan dalam arti duniawi. Salah seorang hamba Allah yang mulia di Afrika Utara biasa merajut satu topi sehari. Ia mengerjakannya di pagi hari lalu membawanya ke pasar. Semua pedagang mengenalnya dan ingin menjual hasil karyanya. Orang pertama yang menjumpai dia akan mendapat topi dan menjualnya. Hamba Allah yang mulia ini kemudian berkata, “Sekarang aku telah menggoncangkan pohon palem!”

Surat al-Muthaffifin

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-MUTHAFFIFIN

“ORANG YANG MENGURANGI TAKARAN”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

1. Celakalah bagi orang-orang yang mengurangi takaran!

Akar kata muthaffifin adalah tbaffafa, yang berarti ‘membuat kurang, memberikan takaran kurang, bakhil’. Artinya, sengaja melakukan ketidakadilan dalam suatu transaksi. Tathfif berarti ‘kekikiran, hemat’, dan thafif berarti ‘kurang, sedikit, kecil, tidak berarti’.

Ini adalah gambaran tentang kecenderungan alamiah manusia dalam jual-beli dan perdagangan untuk mencoba memanipulasi timbangan demi keuntungannya sendiri, sering kali tidak jujur. Para pedagang Mekah dan Madinah tidak berbeda dengan pebisnis lain di sepanjang sejarah.

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

2. Yang jika mereka menakar [untuk dirinya] dari orang lain, mereka menakar dengan penuh.

Bentuk akar kata yastawfun adalah istawfa yang berarti ‘menerima sepenuhnya, lengkap, sampai nilai penuhnya, memenuhi’. Akar kata asalnya adalah wafa berarti ’sempurna, memenuhi, ketaatan, kesetiaan’. Dalam kisah Nabi Ibrahim yang kadang-kadang disebut Ibrahim wafa’ (wafd di sini artinya iman dia), dikatakan bahwa ketika dimasukkan ke dalam api beliau berteriak, ‘Hasbi Allah’ (cukup Allah bagiku) dan ia tetap tidak teriuka oleh api. Itulah arti wafa’.

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

3. Tetapi ketika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.

Kala artinya ‘menakar’. Yukhsirun berasal dari kata kerja khasira, ‘membuat rugi, kehilangan, tidak sampai, binasa’. Ketika muthaffifin (orang yang mengurangi takaran) berada dalam keadaan mampu memberi dan menerima secara adil, yang mereka lakukan dalam transaksi malah merugikan pihak lain dan menguntungkan diri mereka sendiri.

Tiga ayat ini bermakna sama: muthaffifin, yastawfun, dan yukhsirun, saling menguatkan satu sama lain dalam hal kecenderungan manusia untuk ingin selalu menang. Ayat-ayat tersebut menggambarkan bagaimana kita berusaha untuk cerdik dalam transaksi. Itulah sifat dasar kita yang ingin menang dan untung dalam segala situasi. Sementara, sifat mukmin, atau muslim, adalah selalu ingin mengetahui kecenderungan ini dan berusaha memperbaikinya ketika dirinya bertransaksi dengan orang lain yang memiliki potensi sama dengan dirinya. Inflasi terjadi bila kita berusaha mengambil lebih banyak dan memberi lebih sedikit. Ini berlaku bagi situasi sekarang, persis seperti terjadi di Madinah selama periode turunnya Alquran. Jika kita berhubungan dengan suatu komunitas atau masyarakat, maka kita memperhatikan kecenderungan manusia untuk mengambil lebih banyak dan memberi lebih sedikit, dan jika seseorang menyadarinya selagi dia mengerjakannya, maka peluang dia untuk tidak terlalu rakus lebih besar, dan ia akan ingat untuk lebih berlaku adil dalam transaksinya. Kesadaran terhadap ketidakseimbangan kemungkinan besar akan menghasilkan keadilan. Jika kita sadar akan ketidakadilan, maka mungkin kita akan menyadari sifat bawaan manusia yang rendah dalam diri kita.

Ayat pertama mengatakan: Wayl, artinya, ‘Celakalah’ bagi orang-orang yang menipu. Suatu tindakan yang tidak seimbang adalah penipuan. Imam Ghazali mengatakan bahwa kita harus mengakui bahwa jual-beli tidak bisa terjadi kecuali kalau ada ketidakseimbangan, yakni, selalu ada unsur laba. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi pedagang yang jujur, kita harus selalu mengetahui kecenderungan bawaan ini dan memahami bahwa salah satu pihak akan memiliki tangan di atas. Keadaan yang paling baik terjadi bila kedua belah pihak merasa telah mengambil kesepakatan yang memuaskan dan perasaan tersebut tidak berubah begitu salah satu pihak meninggalkan tempat jual-beli. Jual-beli yang jujur harus bertahan terhadap ujian waktu. Jual-beli itu harus mencapai keseimbangan yang paling adil, agar terjadi inflasi yang paling kecil.

Untuk menjelaskan hal ini, mari kita tengok seorang tabiin (generasi muslim kedua, murid para sahabat Nabi) yang mempunyai toko emas. Satu hari ia meninggalkan tokonya untuk pergi salat ke mesjid, dan mempercayakan kepada kemenakan laki-lakinya untuk menjaga toko sampai ia kembali. Ketika si penjaga toko kembali usai salat, ia berpapasan dengan seorang laki-laki, seorang pedagang yang jelas kaya, yang membawa beberapa gelang emas, dan ia tahu gelang tersebut berasal dari tokonya. Ia menghampiri laki-laki tersebut dan bertanya, “Apakah Anda senang dengan yang Anda beli?” Orang itu menjawab, “Ya, saya sangat-sangat senang”. Lalu si penjaga toko bertanya dengan harga berapa ia membelinya. Si laki-laki menjawab, “Saya membayar 200 dirham untuk yang ini, dan 400 dirham untuk yang itu. Saya dapat menjualnya di tempat saya seharga dua kali lipatnya, karena itu saya sangat gembira.” Tapi si penjaga toko berkata, “Tidak. Saya tidak senang karena bajingan kemenakan ini telah menipu Anda. Saya sudah memberitahu dia tentang harga barang-barang ini. Tolong, saya mohon kepada Anda, kembalilah ke toko bersama saya.” Maka si penjaga toko menarik kembali laki-laki itu, memberinya sebagian uang selisihnya, dan mengusir kemenakannya. Si penjaga toko telah memasang harga untuk barang-barangnya dan puas dengan harga itu. Nabi berkata, “Jual, dan ambillah keuntungan, sekalipun keuntungannya sedikit saja.” Dengan cara ini ada dinamisme dan perputaran, dan orang tidak terikat pada apa yang dimilikinya.

Muthaffifin menunjuk kepada kita semua, karena potensi untuk melakukan penipuan ada pada kita semua. Jika potensi untuk menjadi penjahat tidak ada pada diri kita, maka kita tidak akan mampu memahami kriminalitas. Jika potensi kekasaran, atau potensi rasa takut, tidak ada dalam diri kita, maka kita tidak akan memahami maknanya. Jika ketuhanan tidak ada dalam diri kita, bagaimana kita dapat berbicara tentang Samudera Ilahi? Semua itu ada dalam diri kita, dan karena itu kita tidak akan mengatakan bahwa kemenakan si tukang emas suka mementingkan diri sendiri. Jika kisah ini bersifat historis belaka dan ditujukan hanya kepada penduduk Madinah, maka kita tidak perlu mengindahkannya. Namun, yang benar adalah bahwa kita selalu memiliki potensi ini, karena memang begitulah kisah umat manusia.

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ

4. Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan?

Ayat ini menunjukkan jalan keluar dari penjara dan rantai kecenderungan kita pada kesukaan untuk mementingkan diri sendiri dan ketamakan.

Ba’atsa berarti ‘bangkit, bangun, mengirimkan, menyebabkan’. Di sini maksudnya bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban. Siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban kepada siapa? Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban kita sendiri. Ini tentu saja menunjuk kepada alam akhirat, dan tentunya juga berkenaan dengan kehidupan ini. Dengan jalan apa pun, perhitungan ini akan terjadi baik kita suka atau tidak. Jika kita membuka sebuah keran, apa pun yang ada dalam pipa akan memancar; dan semakin lebar kita membukanya, semakin banyak mengalir. Jadi, kita hanya akan membangun lebih banyak ketamakan, kebencian, atau apa pun yang ada dalam diri kita, karena sistem penciptaan terletak dalam pertambahan. Itulah sebabnya mengapa Allah mengatakan, “Kasih-sayangku meliputi segala sesuatu” (Q.S.7:156).

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

5. Pada Hari yang Besar.

Secara eksplisit, ayat ini merupakan penjelasan tentang hari ketika yang tertinggal adalah roh kita, di mana niat dan amal kita telah distempel. Hari Besar ini bisa juga merupakan hari di mana kita siap untuk memperhitungkan diri kita secara utuh, hari kepasrahan total kita, hari islam kita (ketundukkan kepada Realitas). Jika kita ingin terbebas dari rantai-rantai yang membelenggu diri kita, kita harus mampu menyelesaikan semua perhitungan kapan saja. Bahkan, sebenarnya kita harus siap menyelesaikan perhitungan kita sebelum kita membuat perhitungan. Kita dapat melakukan hal ini dengan mempertanyakan niat. Dengan mengetahui niat kita sebelum melaksanakan suatu perbuatan, perhitungan kita akan selalu tetap bersih.

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

6. Pada hari tatkala manusia berdiri di hadapan Tuhan sementa alam.

Yawm yaqumu adalah Hari di mana kita akan berdiri di hadapan Tuhan semesta alam dan menghadapi catatan-catatan amal kita. Jika kita sungguh-sungguh dalam Islam sepanjang waktu, maka kita selalu menghadapi Rabb al-Alamin (Tuhan semesta alam). Qama berarti, di antaranya, ‘berdiri, bangkit dari kematian’, dan menunjukkan bahwa si pelaku dipersiapkan untuk berinteraksi dengan apa yang menjadi tujuan dibangkitkannya dia.

Ayat ini berkenaan dengan akhir zaman untuk menyentak kita dari kelesuan kita saat ini. Ia mengingatkan kita bahwa ada suatu akhir, dan bahwa pada akhimya kita akan dibiarkan tanpa dibekali apa pun selain buah dari niat-niat kita.

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

7. Tidak! Sesungguhnya buku (catatan) orang-orang jahat itu berada dalam Sijjin.

Buku catatan kaum fujjar (orang-orang yang jahat, berakhlak rendah, sesat jalan) berada dalam sijjin. Fujjar berasal dari fajara, yang berarti ‘membelah, mengakhiri, bertindak secara tak bermoral, turut dalam penyimpangan moral’. Subuh disebut fajr, karena ia mengakhiri malam. Seseorang disebut fajir jika ia sesat jalan. Ini berarti bahwa ia menyeleweng, merosot, keluar jalur. Kita semua adalah mutiara dalam untaian yang sama, dan sebutir mutiara hanya akan berarti jika ia dirangkai dalam sebuah untaian.

Akar kata sijjin, daftar setiap perbuatan yang tidak bermoral, adalah sajana, yang berarti ‘memenjarakan’. Sijjin adalah suatu pemenjaraan yang berlebih-lebihan, lebih permanen dan kekal. Dalam beberapa tafsir Alquran, kata ini dijelaskan sebagai nama lain dari jahannam (neraka). ‘Kitab’ adalah apa yang sedang ditulis oleh orang yang telah melakukan kejahatan tentang kehidupannya. Ia adalah penulis biografinya sendiri, tentang segala perbuatannya, yang dihasut oleh niat-niatnya. Si pesakitan sendirilah yang menentukan berapa banyak lagi rantai dan belenggu yang akan dimilikinya.

Kitab adalah apa yang ditulis, dan tulisan itu diwujudkan oleh setiap orang di antara kita melalui amal-amalnya. Jika biografl kita penuh dengan ketamakan dan kekikiran, sebagaimana disebutkan dalam ayat kedua dan ketiga, dan kita beramal tapi demi keuntungan pribadi dan untuk menguasai orang lain, maka kita akan dipenjarakan oleh amal-amal kita. Seseorang bisa saja berkeinginan untuk memimpin selumh kerajaan, karena mengira itu akan mem-bawakan kebahagiaan. Tapi, begitu keinginannya terpenuhi dia pun ingin merangsak kerajaan tetangganya juga. Apakah keinginan ini bukan belenggu? Karena terbelenggu maka kita tidak mau berurusan dengan objek itu sendiri, melainkan dengan perasaan kita terhadap objek tersebut. Sijjin, hukuman penjara, menunjuk kepada keadaan mental kita dan berkenaan dengan kebahagiaan kita, kebebasan batin kita, dan pemenuhan kita, yang merupakan hasil sampingan dari keluasan dan ketulusan islam (penyerahan) dan keterbebasan kita.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

8. Dan apakah yang membuat engkau tahu apakah sijjin itu?

Kata kerja adraka berarti ‘mencapai, mendekati, merenggut, merasakan, menyadari, matang’. Ia menunjukkan suatu pengetahuan yang lebih dalam dan lebih halus dibanding ketajaman buatan. Melalui perenungan yang dalam, maka realisasi dan pemahaman akan datang. Kita semua tahu apa itu belenggu, dan tahu akan seperti apa berada di bawah beratnya pengharapan dan kekecewaan. Kita harus bertanya kepada hati kita sendiri. Bagairnana sijjin, atau penjara kita, muncul, dan mengapa penjara seseorang berbeda dengan penjara orang lainnya? Itu karena kita menentukan situasi-situasi tertentu untuk kita sendiri.

كِتَابٌ مَّرْقُومٌ

9. Sebuah kitab yang ditulis.

Akar kata marqum (tertulis) adalah raqama, yang berarti ‘menulisi, menandai dengan hal-hal yang bersifat pengenal, membubuhi cap, menomori’. Ia juga bermakna ditetapkan dan dituliskan. Raqam berarti ‘nomor’. Maka kitab, atau apa yang dibicarakan, dapat diukur, ditulis dengan persis, dan tidak hanya dapat diukur.

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

10. Celakalah pada hari itu orang-orang yang menyangkal!

Pengertiannya di sini adalah bahwa jika seseorang menyangkal realitas eksistensi dan penciptaan, maka ia adalah seorang mukadzdzib (pendusta). Mukadzdzib berarti perbuatan seseorang yang bertentangan dengan ucapannya, ada pemisahan antara ucapan dan perbuatan. Kidzb adalah dusta, penipuan, kebohongan atau ketidakjujuran. Kecelakaan akan menimpanya pada hari ketika ia tak bisa lagi mengubah did dan menyaksikan realitas terakhir, yak-ni hari kematiannya. Barangsiapa menyangkal haqq (kebenaran), yang menjelma sebagai keadilan, berarti telah menyangkal bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan haqq, dengan keadilan dan keseimbangan. Jika seseorang berbuat tidak seimbang, maka ia sedang berbohong. Seseorang yang mengaku bahwa dirinya tidak menyangkal kebenaran tapi menegakkannya namun berbuat dengan cara yang berlawanan, maka ia berada dalam keadaan kufr (menutup, menyangkal realitas). Pengakuannya sebagai orang yang mengesakan Tuhan (muwahhid) ternyata palsu karena ia berbuat sebagai penipu (muthaffif) dan tidak memperhatikan keadilan dari perbuatannya sendiri.

الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

11. Orang-orang yang menyangkal Hari Pengadilan.

Hari Pengadilan, hari din, adalah hari ketika kita membayar penuh utang-utang kita. Itulah Hari Perhitungan, hari ketika bentuk kita yang sesungguhnya, yakni roh, membentang terbuka. Bentuk ini tidak dapat dilihat sekarang, karena ia merupakan energi halus yang mempertahankan kita hidup. Pemahaman kita tentang roh hanya bisa sejauh ini saja dan tak lebih, karena kemampuan untuk memahaminya muncul dari apa yang disebut ‘Aku’, yang akan terputus sudah sampai di situ.

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

12. Dan tidak ada yang menyangkalnya kecuali orang yang melanggar (melampaui batas) dan berdosa.

I’tadâ, akar dari mu’tadîn artinya ‘menyeberang, melebihi, bertindak sangat keterlaluan’. Sekaitan dengan kata ini adalah kata ‘aduw, yang berarti ‘musuh, lawan’, dan ‘ada, yang berarti ‘permusuhan, kebencian, antagonisme, agresi’. Pelanggaran terjadi karena kita tidak merasakan adanya tauhid di dalam diri kita.

Kata ‘aduw (musuh) tentu saja tidak berarti permusuhan di antara dua pihak tapi mengindikasikan bahwa mereka asing atau berbeda satu sama lain: tidak ada kesatuan di antara mereka. Itu tidak berarti bahwa mereka saling membenci, tetapi yang pasti mereka tidak saling mengenal. Maka kebodohan (ketidaktahuan) adalah juga musuh; kita menentang apa yang tidak kita ketahui. Dari kata i’tada, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pelanggaran dan penyangkalan kita adalah akibat kebodohan kita, maka kita bisa melihat betapa kita bisa menjadi musuh diri kita sendiri. Ketika kita telah melanggar (melampaui batas) jatidiri kita sendiri, maka kita atsim (berdosa). Atsima berarti ‘melakukan dosa atau kejahatan’, dan ini dilakukan karena kebodohan dan kebencian kita yang menyebabkan kita terputus dan berdusta. Atsima termasuk melakukan apa yang tidak boleh kita lakukan. Itsm artinya ‘berjudi’; perjudian dianggap pelanggaran karena dengan terlibat di dalamnya kita melakukan ketidakadilan. Kita menyebutkan suatu sistem selain dari apa yang ditetapkan oleh realitas—yakni kasih sayang dan keadilan—dan, karena itu, kita melakukan kejahatan. Dengan kembali ke sistem yang tidak adil maka kita menjadikan diri kita bagian dari itu.

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

13. Tatkala ayat-ayat kami dibacakan kepadanya, ia berkata: “Dongengan orang-orang kuno”.

Ini berkenaan dengan situasi yang berulangkali terjadi bahkan hingga sekarang, dimana orang mengatakan bahwa karena Alquran diturunkan beberapa ratus tahun lampau maka ia tidak bisa berlaku pada kondisi sekarang; ia hanyalah dongengan masa lampau.

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

14. Tidak! Apa yang mereka usahakan menjadi karat pada hati mereka.

Rana berarti ‘mengambil hati’, dan juga ‘menangkap, mengatasi, merendahkan diri, berlaku’. Yang mereka usahakan akan dimudahkan bagi hati mereka. Seperti dikatakan sebelumnya, jalan mana pun yang kita pilih akan dijadikan mudah bagi kita. Jika kita seorang penjahat, jalan ini akan dimudahkan bagi kita karena bagaimana pun juga kita akan selalu berusaha membenarkan perbuatan kita. Apa pun amal-amal seseorang, semuanya akan dibuat kelihatan nampak-wajar baginya. Dia akan terus membenarkannya kalau dia tidak senantiasa mengembalikan kepada standar perilaku kenabian. Maka dari itu dikatakan bahwa kalau kita terus bersama orang-orang tertentu selama empat puluh hari, kita akan menjadi seperti mereka. Bagi orang yang mudah dipengaruhi mungkin hanya perlu dua jam saja untuk menjadi seperti orang-orang yang mereka gauli.

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

15. Tidak! Sesungguhnya pada bari itu mereka tertutup dari Tuhan mereka!

Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa dalam kehidupan mendatang para pelanggar tertutup oleh suatu hijab dari pengenalan terhadap ketuhanan secara total dan final. Ini berarti bahwa mereka belum memperoleh cukup pengetahuan untuk mempersiapkan diri sebagaimana mestinya di kehidupan ini guna menjalani proses pengungkapan dan penyucian tambahan lainnya yang akan berlangsung di kehidupan selanjutnya. Mereka belum mempersiapkan jalan bagi dirinya untuk berpindah ke alam kehidupan selanjutnya. Alquran mengatakan bahwa kehidupan kita selanjutnya akan sesuai dengan ilmu dan amal kita dalam kehidupan ini. Maka orang-orang yang telah mengingkari, yang terus-menerus berbuat tidak adil dan tidak seimbang di sini, mereka akan berada dalam keadaan terpisah di kehidupan selanjutnya karena mereka sudah berada dalam keadaan seperti itu di sini. Pengingkaran yang mereka jalani dan mereka hidupkan di sini akan mencegah mereka untuk lebur kembali ke dalam sumbernya (tauhid).

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيمِ

16. Lalu sesunggubnya mereka akan memasuki api (neraka) yang menghanguskan.

Shala berarti ‘memanggang, membakar’ atau ‘dihadapkan pada lautan api’. Akar kata jahim adalah jahama, yang berarti ‘menyalakan api’ dan ia digunakan karena api yang akan mereka masuki adalah api yang telah mereka nyalakan dalam kehidupan ini. Jahim di sini rnenunjuk kepada neraka yang diancamkan kepada kita pada hari kiamat, dan juga neraka yang kita pahami sebagai manusia biasa. Ketika hati kita berkecamuk, ketika darah kita mendidih oleh kemarahan atau kegusaran, atau ketika kita terbakar oleh hasrat, maka kita mengalami berbagai aspek neraka dunia. Tapi maksudnya di sini adalah bahwa orang-orang tersebut pasti akan mencapai api abadi karena perbuatannya sendiri.

ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تُكَذِّبُونَ

Surat al-Infithar

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-INFITHAR

“TERBELAH”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Tema dan pola surah ini mirip dengan surah al-Takwir, tetapi maknanya berbeda. Surah ini memperingatkan kita bahwa manifestasi penciptaan akan berakhir dan mendeskripsikan bagaimana kejadian tersebut berlangsung dengan cara yang secara nalar dapat kita pahami. Nalar kita memahami kenyataan bahwa segala sesuatu yang diciptakan berasal dari zat padat yang memuai, kemudian rusak dan selanjutnya terjadi pembaharuan. Setiap pembahan tersebut tidak ada yang menjelma ke dalam bentuk atau pola yang tidak berakhir. ‘Akhir’ ini senantiasa berada di sepanjang bentangan waktu, dan objek kajian kita adalah pengetahuan mutlak yang tidak bembah dengan berjalannya waktu, yakni pengetahuan yang sah dan benar selamanya.

Surah ini dimulai dengan deskripsi tentang alam semesta dan lelangit, kemudian berlanjut ke tingkat duniawi—kuburan—yang merupakan tujuan akhir dari wujud sadar. Bahkan realitas yang menurut perkiraan kita sebagai wujud akhir pun akan hancur.

إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ

1. Tatkala langit terbelah

Ayat ini berbicara tentang akhir waktu dan awal kehidupan berikutnya. Infatharat berasal dari kata kerja yang artinya ‘retak, koyak atau pecah berantakan’. Fithrah, dari akar kata yang sama, berarti ’sifat bawaan lahir, naluri’. Kata fitrah secara inheren mengingatkan pada gagasan tentang ‘asal-mula’, dan, sebagaimana nampak dari bentuk-bentuk katanya yang sekaitan, menunjukkan bahwa asal-mula sesuatu bersumber dari retakan. Alquran mengatakan bahwa bumi berbentuk telur, dan ketika air muncul maka bumi pun retak sehingga memudahkan terjadinya pertumbuhan sesuatu dari dalam bumi. Berdasarkan apa yang nampak dan secara simbolis, segala sesuatu berasal dari satu sumber awal yang mendadak masuk ke dalam arus penciptaan yang bersaluran banyak.

Lelangit dipersatukan oleh kekuatan-kekuatan berbeda yang menjaga agar bintang-bintang dan planet-planet tetap berada dalam orbitnya yang teratur. Jika sistem tersebut retak, maka tatanan ini akan rusak. Implikasinya di sini adalah bahwa bila sistem eksistensi di alam ini—baik untuk kita maupun untuk makhluk lain, seperti jin—sudah mencapai suatu titik yang merupakan akhir perkembangan, maka sistem tersebut akan mulai runtuh. Setiap sistem yang ada bersifat terbatas kecuali yang hakiki, yakni Allah yang meliputi semua sistem. Ia Tidak Berbatas dan karena alasan inilah maka muncul batas-batas yang penuh makna. Setiap batasan berasal dari Yang Tak Berbatas, dan karena berasal dari Yang Tak Berbatas, maka ia mesti terbatas. Waktu dapat dipahami hanya karena ada ketidakberwaktuan, yang maknanya sudah terkandung dalam diri manusia.

وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انتَثَرَتْ

2. Dan tatkala bintang-bintang bertebaran.

Beginilah yang terjadi sebagai akibat dari ayat pertama. Intatsarat artinya ‘bertaburan secara serampangan’. Kawâkib adalah ‘planet-planet’. Menurut pendapat kita, ketika lelangit retak, planet-planet yang terdekat kepada kita akan bertaburan. Kekuatan yang dengan kuat menjaganya agar tetap dalam orbit akan hancur dengan sendirinya.

Kawkaba, akar kata yang merupakan asal kata kawâkib, artinya ‘bersinar cemerlang’, terutama digunakan untuk menggambarkan kilau besi yang mengkilat. Jika suatu ‘hari’ digambarkan sebagai kawkabi, berarti hari tersebut memiliki arti penting atau kesulitan tertentu. Dalam hal ini, menurut pendapat kita, kata tersebut menunjuk kepada berbagai unsur di alam raya yang keberadaannya menonjol dalam sistem tata surya, dan mereka bersinar dengan kecemerlangan yang lebih besar dibanding sinar benda langit lainnya.

Intatsara yang berarti ‘bertaburan atau berhamburan, bertebaran’, menunjukkan bahwa pertaburan ini terjadi secara serampangan meskipun mengikuti pola tertentu. Gerakannya acak, namun tidak tanpa makna, dan bersifat abstrak. Kata intatsarat menimbulkan kesan menaburkan benih di atas tanah. Dari sudut pandang si penabur, si pelaku, maka penaburan ini mengikuti pola tertentu, yakni pola yang ditentukan oleh beberapa faktor seperti ukuran tangan dan gerakan serta iramanya yang normal, meskipun dari sudut pandang pengamat atau peneliti penaburan tersebut nampak serampangan. Tindakan menebar itu sendiri adalah menaburkan, namun ia mengikuti pola tertentu yang sudah ditetapkan.

وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ

3. Dan tatkala lautan naik meluap-luap.

Bila kekuatan atau sistem yang menjaga keutuhan alam semesta lenyap, maka terjadilah ledakan. Fujjirat berasal dari fajjara, yang berarti ‘menyebabkan mengalir, membelah, meledak’. Sistem yang ada akan meluap melampaui batas asalnya dan hancur dengan cepat.

Kata kerja fajara mempakan sumber kata yang kaya makna, yang makna-maknanya semua bertalian secara logis, sehingga perlu mendapat perhatian lebih jauh. Fajr (subuh) dihubungkan dengan fajara. Malam, yakni kegelapan yang menyelubungi, dirobek oleh sorotan pertama cahaya pagi, karena itu kata tersebut diartikan ‘fajar sidik’. Infijar adalah ‘ledakan, letusan, atau letupan’. Dalam Al-quran, fujur (kejahatan, imoralitas, kejangakan) biasanya menunjukkan pelanggaran, tindakan kelewat batas, melampaui batas jalan. Bila seseorang dikatakan sebagai seorang fajir maka artinya orang tersebut merosot akhlaknya dan bermoral bejat tak punya malu.

Salah satu makna fajjara yang paling penting dalam Alquran terdapat dalam ayat berikut: “Sebuah mata air dari mana hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan berlimpah” (Q.S.76:6). Pengertiannya di sini adalah bahwa mata air itu ada dalam diri kita sendiri. Mata air tersebut, yakni tempat fitrah (sifat yang orisinil), berada di dalam hati manusia, tapi ia harus diletuskan dan dipancarkan. Untuk itu kita harus dapat mencapai mata air itu. Untuk membuka deposit box di sebuah bank saja kita harus berjalan melalui beberapa lorong guna mencapainya. Demikian juga hati: untuk mencapainya, kita harus berjalan melewati semua mangruang menakutkan yang telah kita buat dan kita bangun dalam perjalanan hidup ini.

Hasan al-Bashri, salah seorang murid Ali ibn Abi Thalib, mengatakan bahwa maksud dari ayat ini berkenaan dengan ‘air yang mengering’ karena air tersebut mengalir kembali ke sumber asalnya. Planet-planet yang menahan kita dalam orbit, yang berhubung dengan kita dan paling berpengaruh terhadap kehidupan kita, akan bertebaran. Demikian pula, lautan akan kosong, yang padat akan kembali mencair, dan uap akan kembali hampa. Kita akan melihat segala sesuatu terbalik dan kita pasti akan mengalaminya.

وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ

4. Dan tatkala kuburan-kuburan dibuka.

Kini keruntuhan dunia semakin dekat. Tempat istirahat terakhir adalah kuburan, yang mempakan tempat kedamaian. Ba’tsara, akar dari bu’tsirat, berarti ‘tersebar di sana-sini, terbalik, menjebloskan ke dalam kekacauan’. Ayat ini menggambarkan akibat lain dari terjadinya gangguan, antara lain, dalam daya gravitasi dan sentrifugal yang mempersatukan dunia. Pemakaman akan menyembul dan kuburan-kuburan akan terbuka. Apa pun yang disembunyikan dan dirahasiakan oleh setiap jiwa akan tersingkap melalui pembukaan ini.

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

5. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang ditempatkan di depan dan apa yang dibiarkan di belakang.

Nafs di sini berarti ‘roh’, atau ‘jiwa’. Akar katanya dihubungkan dengan tanaffasa, yang merupakan kata kerja ‘bernafas’. Nafs adalah entitas kompleks yang meliputi sebab sejati eksistensinya, yakni roh. Kata ruh dalam bahasa Arab berkaitan dengan ‘angin’, karena sifatnya yang bebas mengalir. Nafs juga memiliki semua ciri buatan yang dicangkokkan kepada roh sebagai akibat dari perwujudannya. Kata nafs dan ruh kadang dapat dipertukarkan. Hu-bungan mereka bagaikan matahari kepada bumi: diri disadarkan oleh roh.

Bila semua tiang lahiriah telah roboh, seperti pada Hari Kebangkitan, setiap diri akan menjalani realitasnya, dan realitas ini dibentuk oleh amal-amalnya dan oleh apa yang telah dipeliharanya sebelum dunia wujud lahiriah runtuh.

Qaddamat, di sini diterjemahkan sebagai ‘[ia] menempatkan di depan’, kata kerja yang akarnya adalah qadam, artinya ‘kaki’, yakni, apa yang kita letakkan di hadapan kita untuk bergerak ke depan menuju sesuatu yang baru. Kita hanya mengupayakan apa yang sesuai dengan tujuan kita. Kalau tujuan kita adalah menyampaikan dan memperoleh pengetahuan tentang realitas, maka semua kekuatan di sekitar kita akan membantu.

Ayat ini mengatakan bahwa bila semua peristiwa tersebut tadi terjadi, maka niat seseorang akan terlihat jelas oleh dirinya sendiri, meskipun sebelumnya mungkin ia nyaris tidak memikirkan alasan untuk melakukan sesuatu perbuatan. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa lebih baik sama sekali tidak berbuat sebelum niat kita jelas, karena perbuatan hanya sesuai dengan niat yang mendahuluinya, dan kehidupan kita akan diuji. Jika kita memulai dengan hal nyata, maka kita akan membuat kemajuan. Umpamanya, menafkahi keluarga adalah suatu perbuatan yang patut dipuji. Karena bertindak dengan niat yang baik maka seseorang akan mencapai suatu titik di mana ia mulai haus akan pengetahuan, dan hal ini membawa dia kepada pengingatan akan Allah (zikir), yang pada gilirannya menggiring kepada kesunyian batin. Jika kita berbuat dengan ketulusan hati, rnaka keadaan zikir akan dicapai bagaimana pun juga, karena, seperti dikata-kan dalam Alquran, “Sesungguhnya la Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!’

Akhkhara artinya ‘menunda, menangguhkan, menghalangi, mengembalikan’, secara tidak langsung menunjuk kepada apa yang telah disembunyikan. Kita adalah hasil dari apa yang telah kita tinggalkan, masa lalu kita. Sebagai individu, sebagai manusia, kita adalah jumlah dari perbuatan dan pemikiran masa lalu kita, yang disembunyikan, ditangguhkan, atau yang diungkapkan. Yang berpotensi terjadi di masa mendatang adalah tujuan kita dan yang sebenarnya akan terjadi adalah perwujudan tujuan itu. Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lain dan juga dengan lingkungan luar, dan hasil dari interaksi-interaksi ini adalah masa akan datang. Jika manusia mengetahui apa yang ada di belakang dan di depan dirinya, maka ia sudah menguasai seluruh cakrawala dan berhubungan dengan cakrawala tersebut.

Makna ayat ini adalah bahwa pada hari itu setiap nafs akan benar-benar menampakkan diri, warna, nada, dan iramanya. Roh berawal sebagai kekuatan sejati, dan substansinya terbuat dari suatu unsur yang dengan itu setiap roh lain dapat berhubungan. Oleh karena itu setiap roh akan melihat roh lainnya dengan jelas, tidak seperti sekarang di mana kita dapat menyembunyikan bagian-bagian dari diri kita yang tidak ingin diketahui orang lain. Oleh karena itu, semakin terbuka kita di sini dan saat ini, dan semakin siap kita hidup di sini dan saat ini, maka kita pun semakin siap untuk menghadapi yang akan terjadi kelak. Kita harus memperhatikan cara hidup kita, sepenuhnya dan secara total. Jika seseorang sungguh-sungguh ingin menerapkan hal ini, ia akan mencapai kesimpulan bahwa cara mewujudkannya adalah dengan membersihkan setiap niat dan merangkaikannya dengan perbuatan yang benar dan dengan sungguh-sungguh bersikap terbuka, tidak menutup-nutupi, dan siap ditanya.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

6. Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan engkau dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah?

Setelah mengungkapkan bahwa dunia ini bersifat terbatas dan begitu kompleks serta fantantis, dan bahwa yang akan tertinggal dari masing-masing orang adalah jiwa, surah ini kemudian memusatkan perhatiannya langsung pada manusia. Insan (manusia) pada dasarnya memiliki sifat suka bergaul, peramah dan bersahabat. Makna yang lebih dalam dari ayat ini adalah: ‘Wahai engkau yang sudah menjadi penyembah ketauhidan, dengan nama apa pun engkau menyebutnya, apa yang menyebabkan engkau sombong sehingga mengira bahwa engkau terpisah dari Tuhanmu Yang Senantiasa Pemurah?’ Ketika kulit luar dunia hancur, apa alasan perbuatan manusia melepaskan diri dari Realitas Tunggal? Esensi manusia itu murah hati dan menyenangkan, lantas apa yang menyebabkannya begitu congkak?

Yang menjadi perhatian di sini adalah sifat manusia yang sesungguhnya, yakni yang akan tetap bertahan pada saat semua hiasan duniawi berangsur sima. Apa yang memalingkan dia sehingga tidak mengenal Rububiyyah (Ketuhanan)? Jawabannya adalah kecintaannya terhadap dunia ini, kesukaannya berada dalam kebingungan. Namun jawaban yang benar adalah ‘tidak ada alasan’. Ketika terjadi pertentangan dengan Tuhan, mengapa manusia tidak melaksanakan apa yang menjadi tujuannya dilahirkan, yakni mencari kebenaran? Untuk ini pun tidak ada jawaban yang sahih.

Selain Allah, semuanya adalah palsu dan kita tidak bisa ditipu oleh ‘ketiadaapa-apaan’, oleh suatu keniskalaan. Apa pun yang memalingkan manusia dari garis kebenaran maka itulah dunia, yang bersifat sementara dan menyebabkan kita berada dalam ghaflah (kelalaian, ketakperdulian). Kita menjadi terpancang pada dunia ini karena berbagai ilusi yang dibebankan pada diri kita sendiri, walaupun kita sebenarnya mencari keamanan. Sebenarnya, Yang Senantiasa Memberi Keamanan itu sudah ada di dalam hati dan berpengaruh terhadap situasi lahiriah, dan dalam situasi tersebut kita mendapati ternyata kita mengikuti hal-hal yang bersifat sementara. Kita harus berupaya untuk merasakan keamanan tersebut, dan begitu unsur yang menyebabkan kecintaan kita itu tidak lagi berkuasa, maka kita pun bebas dari kelalaian dan dapat mengenal Tuhan kita.

Perekat cinta yang paling hebat adalah tampilnya ‘Aku’, sang ego. Saat penciptaan berlangsung, unsur setaniah berkata, “Aku lebih baik daripada dia” (Q.S.7:12), dan dengan masuknya unsur ini maka mulailah kecintaan terhadap sesuatu yang asalnya tidak ada. Ketika dunia yang nampak ini tiba pada saat akhimya, maka segala sesuatu yang menjadi sandaran pun akan lenyap. Setan tidak akan muncul di alam kesatuan absolut, karena mustahil kekuatan yang menyebabkan keterpisahan itu akan berfungsi di sana.

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ

7. Yang menciptakan engkau, lalu menyempumakan engkau, lalu membuat engkau seimbang (proporsional).

Seandainya manusia tidak diciptakan maka ia tidak akan memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, juga tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan eksistensi batin, juga tidak akan melihat ratusan bunga yang nampak sama namun berbeda dalam warna dan bau.

Sawwa memiliki banyak makna, termasuk ‘meratakan, mendatarkan, meluruskan, mengatur, merapikan, menyamakan’. Lantas, mengapa manusia berlaku sombong padahal ia melihat betapa dirinya diberi potensi untuk tampil harmonis dan sempurna?

‘Adl artinya ‘lurus’, dan ini merupakan prinsip yang paling efisien (jalan tercepat untuk menghubungkan dua titik, bagaimana pun, adalah garis lurus). Ia juga berarti ‘keadilan, kewajaran dan ketulusan’. Segala sesuatu secara menakjubkan diciptakan dengan seimbang, wajar dan ekologis, baik di alam lahir maupun batin—dua alam ini sebenarnya adalah satu, dan, karenanya, seimbang. Kita memahami Pencipta kita melalui penelitian dan perenungan terhadap ciptaan-Nya.

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ

8. Dalam bentuk apa pun Ia kehendaki, Ia membentuk kamu.

Shurah adalah ‘gambaran, bentuk, rupa, kesamaan atau tiruan, dari kata kerja shawwara, ‘membentuk, menciptakan, menggambarkan, membuat’. Rakkaba adalah ‘mengikatkan, membangun, menyatukan’. Akar katanya adalah rakiba (menaiki). Bila kita melihat penciptaan secara keseluruhan, maka kita akan mengetahui bahwa temyata apa pun dapat terjadi, dan memang terjadi. Adalah di luar pemahaman intelektual kita untuk mengerti mengapa suatu sel atau makhluk tertentu bergerak dengan cara tertentu, dan kemudian kita menyebutnya sebagai gerakan yang abstrak atau serampangan. Sebenarnya tidak ada yang serampangan dalam gerakan tersebut, tapi yang terjadi adalah bahwa kita tidak dapat memahami gerakan tersebut. Sebenarnya, pola pencarian intelektual kita bisa melalui proses pemahaman atau, kalau tidak, melalui kebingungan. Dari segi realitas batin (hakikat) segala sesuatu sangat masuk akal dan tidak ada yang nampak janggal, tapi jika kita melanggar norma-norma akal dan pikiran, maka kita memasuki alam kebingungan.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

9. Sekali-kali tidak Engkau menolak Hari Pengadilan.

Kalla (sekali-kali tidak) maksudnya menegaskan kembali. Dengan kata lain maksud ayat ini adalah ‘Memang demikianlah halnya’. Penolakan bagi manusia sangatlah wajar: “Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi” (Q.S.103:2); dan, sangat bisa dimaklumi kalau kita melanggar, lupa dan tidak ingat. Itulah sebabnya mengapa Allah Maha Pengampun, Maharahman, dan mengapa kita bertobat kepada Allah. Hal ini Normal. Dalam konteks ayat ini, yang sedang kita ingkari adalah transaksi yang benar dan perilaku yang benar, yakni satu-satunya jalan untuk hidup, untuk bersiap-siap, untuk berada dalam keadaan bebas dari hawa nafsu di mana kita dapat menyadari dan mengalami keberlimpahan.

Ayat ini berbicara kepada kita pada tataran batin yang dalam. Din, dalam konteks lain, biasanya diterjemahkan sebagai ‘agama’. Namun kata tersebut menunjukkan suatu transaksi, yakni transaksi untuk membayar utang-utang kita kepada sang Pencipta. Akar kata din adalah dâna, yakni ‘berhutang, menjadi sasaran, menyerah’. Sifat dasar manusia memang mengingkari Islam. Persis bagaikan ikan salmon yang berusaha berenang ke hulu dan hanya sedikit sekali yang mencapai sumbemya. Ayat ini ditujukan untuk orang-orang Mekah kepada siapa ayat ini khususnya diturunkan, dan juga untuk semua orang di sepanjang masa. Sifat sejati manusia adalah ingin mencari sumbernya, sementara sifat rendahnya adalah menolak perjanjian yang mengaridung kerahmanan dan hanya dapat diketahui melalui pembayaran utang—dengan menghidupkan din— yang memang utangnya. Kemudian jalan kecil menuju Kerahmanan yang meliputi semua makhluk dilicinkan, ta’abbada (diratakan, dibuka, dilicinkan), melalui nyanyian ibadah.

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ

10. Dan sesungguhnya ada penjaga untuk kamu.

Kekuatan dan energi yang luhur, malaikat atau lainnya, menggiring kita ke arah pola dan takdir penciptaan. Kekuatan ini ditujukan kepada hâfizhin (penjaga, pelindung) karena tugas mereka adalah merefleksikan salah satu sifat Allah, al-Hafizh. Nama ‘Pelindung, Penjaga, Pemelihara’ menunjuk kepada Allah, satu-satunya Pelindung yang sejati.

Bagaimana mengejawantahkan al-Hafizh? Nama ini berasal dari akar kata kerja yang berarti ‘memelihara, melindungi, menjaga, menopang, mengingat’. Hafizh, dalam bahasa Arab sehari-hari, berarti seseorang yang hafal Al-quran. Sang Pencipta tidak akan menciptakan hukum kehidupan kalau Dia tidak akan mempertahankannya. Dengan demikian kita yakin bahwa hukum itu tidak berubah dan tidak akan berubah bagi siapa pun, baik ia seorang nabi, rasul, atau orang biasa. Hukum penciptaan berlaku sama kepada semua. Banyak di antara hukum-hukum ini yang kita anggap pasti benar karena kita tunduk padanya sepanjang waktu, seperti hukum gravitasi. Setiap diri ingin sekali mempertahankan, memelihara dan melanjutkan hidup. Ini adalah manifestasi kekuatan hâfizhin melalui diri.

كِرَامًا كَاتِبِينَ

11. Juru catat yang mulia.

Segala perbuatan manusia langsung dicatat. Ganjarannya seketika itu juga, dan akan ditulis dalam buku catatan amal dan kemudian dicatat dalam dirinya sendiri. Baik penyakit serius maupun ringan yang menyebabkan kita menderita adalah akibat langsung dari perbuatan kita. Ganjaran kita identik dengan perbuatan kita, dan makna dari perbuatan kita adalah niatnya. Kita mewujudkan niat: pada saat ini kita adalah jumlah total dari semua niat masa lampau kita. Jika mereka bebas—fi sabilillah (di jalan Allah)—maka kita bebas. Kita sama kotornya atau sama bersihnya dengan niat kita, dan itulah yang menentukan keadaan dan kondisi hati kita.

Jika niat manusia bersih sebersih-bersihnya, namun ia bertindak secara bodoh karena ia tidak memiliki cukup pengetahuan dunia lahiriah, maka mungkin ada yang menganggapnya tolol atau bahkan jahat jika orang lain menderita akibat tindakannya. Meskipun demikian Allah, Yang Mahabijaksana, memaafkan dia. Tapi di dunia ini, hukum lahiriah (syariat) meliputi kebenaran abadi (hakikat). Segala sesuatu mengikuti hukum Allah, dan hanya Allah yang berkuasa. Jika, meskipun niatnya bersih, ternyata manusia dijebloskan ke dalam penjara karena secara lahiriah menyebabkan keluhan kepada orang lain dan perbuatannya ini dapat dikenai hukuman, maka hal ini dibenarkan menurut syariat. Seorang hamba Allah yang benar-benar bebas (secara batiniah—peny.), namun berada dalam penjara (secara lahiriah—peny.), akan benar-benar puas dengan ketetapan Allah atas dirinya.

Kirâm kâtibîn (pencatat yang mulia) artinya bahwa amal baik yang paling luhur adalah mengetahui jalan yang sesuai dengan penciptaan manusia. Para malaikat, atau kekuatan, yang menjaga agar kehidupan berjalan terus dengan lancar di dunia ini, adalah kirâm kâtibîn. Mereka adalah energi dan kekuatan dalam diri manusia yang mencatat kisah manusia dari dalam. Setiap satu sel dalam tubuhnya menggemakan seluruh kemakhlukkannya, yang mengandung sejarah tentang semua yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Kâtibîn berasal dari kata kerja kataba, yang berarti ‘menuliskan, menggoreskan, menentukan, menakdirkan’. Ada pengertian ‘mengumpulkan’ di dunia ini. Karena itu, kitab tidak hanya berarti ‘buku’, tapi juga ‘apa yang diperbuat’. Jika seseorang dalam keadaan sadar, ia dapat ‘membaca’ apa yang diperbuat. Itulah yang dimaksud Alquran. Para malaikat, atau kekuatan, adalah mulia karena mereka berada pada batas-batas kemampuannya yang telah ditentukan. Dituliskan bahwa mereka harus menulis, dan mereka melakukannya.

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

12. Mereka mengetahui apa yang engkau lakukan.

Entitas atau kekuatan—kemana kita dihubungkan dan diikatkan oleh Realitas Tunggal—mengetahui apa yang kita lakukan meskipun intensitas pengetahuannya berbeda. Segala sesuatu yang kita lakukan akan mempengaruhi segala sesuatu yang lain dalam keseimbangan ekologis yang mutlak ini. Setiap perbuatan kita akan meninggalkan kesan pada kekuatan sensitif yang menguasai serat kosmik yang halus. Itulah mengapa kita mengatakan, “Allah sangat mengetahui”, dan “Allah memiliki pengetahuan atas segala sesuatu.”

Allah adalah al-’Alim (Yang Maha Mengetahui [semua]). Jika kita bertambah dalam ‘ilm (pengetahuan, kearifan), maka kita akan mendekati al-’Alim, sehingga kebodohan akan berkurang. Ibaratnya, saat cangkir menjadi penuh maka apa yang berada dalam cangkir dan cangkimya sendiri sudah dapat dipahami sebagai membentuk satu sistem, karena agar ada isi maka harus ada wadah. Inilah makna dari tema di mana seorang guru agung berkata: “Satukan minuman dengan cangkir dan lenyaplah olehnya (minuman-cangkir sudah menjadi ’satu’ sistem—peny.).”

Meskipun kedua sistem itu nampak berbeda, yang satu cair dan satunya lagi padat, manusia adalah penghubung, ruang antara (barzakh), maka ia harus menghubungkan batin dengan lahir. Dari sudut pandang ‘arifbi’llah (orang yang mengenal Allah), tidak ada yang namanya batin ataupun lahir. Yang ada hanyalah Allah, Realitas Tunggal, yang memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk penciptaan.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

13. Sesungguhnya orang-orang yang tulus ada dalam kenikmatan.

Surah ini dimulai dengan mendeskripsikan dampak besar di hari kiamat (akhir dunia), yang deskripsinya meliputi akhir kita sendiri, dan kemudian memberi kita kabar baik tentang kenikmatan. Akar kata abrar (bebas, adil, baik hati) adalah barra (bersikap adil). Barr adalah ‘permukaan tanah yang luas’, tapi maknanya lebih dari sekadar gurun pasir. Kata ini menunjukkan ruang, keterbukaan dan pandangan yang jelas. Barr adalah lawan dari bahr (laut). Di atas barr segala sesuatu nampak jelas, tapi dalam bahr segala sesuatu tersembunyi di bawah permukaan.

Na’im (kebahagiaan, damai, sentosa) barasal dari na’ama (hidup senang dan tenteram, berbahagia, lembut). Na’am artinya ‘ya’. Ni’mah Allah adalah nikmat Tuhan. Di antara sifat dasar manusia adalah membenarkan karunia Allah. Keadaan abrar yang sesungguhnya akan merefleksi ke tempat tinggal di masa akan datang, dan di sana yang akan mereka dapati tak lain hanyalah kenikmatan atau kesenangan semata.

Surat at-Takwir

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-TAKWIR

“MENGGULUNG”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Surah ini dimulai dengan membicarakan dimensi alam semesta, lalu bergerak ke dimensi manusia, kemudian memfokuskan pada kehidupan batin. la mulai dengan alam semesta, kembali kepada manusia, dan kemudian membicarakan manifestasi terbuka dari semua hal tersembunyi dalam rangka menampakkan kita secara lahir dan batin agar kita menemukan kesatuan dalam diri kita.

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

1. Tatkala matahari digulung,

Kawwara artinya ‘menjadikan bulat, memadatkan, melipat sesuatu, menggulung’. Kurah adalah bola. Takwir adalah gerakan sesuatu yang melipat dirinya sendiri menjadi bulat.

Pengetahuan bahwa matahari bersifat eksplosif dan ekspansif jelas-jelas sudah ada pada saat diturunkannya ayat ini. Ayat ini merupakan keterangan mengenai proses berbaliknya ekspansi penciptaan. Adapun matahari, ia terus-menerus meledak. Proses serupa terjadi pada bom hidrogen, yakni, melebur atau meledak sendiri secara terus-menerus. Kalau penciptaan yang meledak sendiri itu sampai pada akhirnya, maka matahari benar-benar akan melipat dirinya sendiri.

وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ

2. Dan tatkala bintang-bintang menjadi gelap,

Inkadarat berasal dari akar kata kerja kadura, yang berarti ‘berlumpur, berawan, keruh, kehitam-hitaman’. Menurut beberapa sumber, inkadara artinya ‘menembak jatuh atau menukik ke bawah’. Manusia bersifat ekspansif: ia merefleksikan keekspansifan seluruh alam semesta. Sebagai buku pedoman kehidupan, Alquran memperhatikan peran dan keadaan manusia dalam penciptaan. Realitas batin Nabi Muhammad menggetar dalam kata-kata sebagai wahyu untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, jika Alquran tidak digunakan sebagai buku pedoman hidup, sebagai sesuatu yang dapat kita pahami dalam keadaan kita sekarang atau dalam keadaan lainnya di mana kita mungkin berada, berarti kita belum menggali dan menjadikannya berguna bagi kita. Kita harus menggemakan realitas Qurani dalam kehidupan sehari-hari kita dan kita harus mengambil manfaat darinya sebanyak mungkin. Pada se-tiap tahap kehidupan, Alquran mampu menghilangkan noda yang telah menutupi sumber pengetahuan dalam diri kita. Sumber pengetahuan itu berada dalam diri kita, dan kegunaan Alquran adalah untuk membawa kita ke dalam penyadaran.

Secara naluriah manusia tidak menyukai kegagalan sebab ia merefleksikan ekspansi alam semesta. Kita mencintai Sifat-sifat Allah, dan Sifat Allah dalam penciptaan adalah ekspansif. Tak seorang pun di antara kita ingin rugi; kita hanya ingin berhasil, dan makna keberhasilan zaman sekarang adalah ekspansi. Namun, kadang-kadang keberhasilan terletak pada penyusutan. Ketika bentuk lahiriah manusia menyusut, aspek batinnya kemungkinan meluas. Kehidupan dan realitas manusia berlanjut sehingga ia tidak memperhatikan kematian pribadinya sendiri. Karena yang hakiki hidup selamanya, maka, mengapa ia harus takut? Yang ia butuhkan hanyalah sikap yang lurus.

Ayat ini berkenaan dengan jatuhnya bintang-bintang. Bintang-bintang disatukan oleh kekuatan sentrifugal, elektromagnetis, dan gravitasi, dan mereka membentuk satu entitas sempurna yang berada dalam keadaan ekspansif. Bila kekuatan ekspansif ini diintervensi—disebabkan oleh munculnya suatu fase tertentu dalam proses jalannya penciptaan secara keseluruhan—maka mereka akan jatuh. Setiap yang diciptakan mesti berakhir pada waktunya, apa pun itu. Surah ini memberikan suatu gambaran tentang bagaimana babak akhir ini akan terjadi pada skala kosmik, mulai dengan yang paling ekspansif dan menyeluruh kemudian menyusut ke skala individu.

Kita juga dapat melihat makna dari dua ayat ini dari sudut pandang mikrokosmik. Sejauh mengenai individu, maka matahari adalah rohnya, dan najm (bintang) adalah nafs (diri)-nya. Ketika matahari, atau roh, berhenti memberikan makanan kepada nafs, yakni bintang, maka bintang kemudian menyusut atau melipat dirinya. Nafs akan menyerah karena pada saat itu ia akan dipadamkan, ditutupi dan dilenyapkan.

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ

3. Dan tatkala gunung-gunung digerakkan,

Suyyirat adalah kata kerja pasif sayyara, yang berarti ‘menggerakkan, menghidupkan, mengedarkan’. Sayyarah artinya ‘kendaraan’. Ketika gunung-gunung mulai bergerak, mereka tidak akan bergerak dengan satu sentakan, tapi bergerak dalam gerakan yang terus-menerus. Bagaimana mungkin gunung bergerak dengan cara ini, kalau proses pembentukkan dan peluncuran bumi tidak berhenti? Karena kita sedang mengitari angkasa dengan kecepatan ribuan mil per jam, ketika saat akhirnya tiba dan bumi tercengkam lalu berhenti mendadak, gunung-gunung pun, niscaya, akan tercerabut dari tempatnya dan hancur. Untuk merasakan proses ini coba saja kita berhenti mendadak dalam kendaraan yang sedang bergerak. Pencabutan ini merupakan satu aspek dari babak akhir drama keci! kita di atas planet yang mungil ini.

وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ

4. Dan tatkala unta-unta hamil ditinggalkan,

Gunung-gunung yang terlepas dan binatang-binatang yang dibiarkan tidak terpelihara adalah kejadian yang luar biasa. Semua kesan ini melukiskan suatu keadaan berlawanan yang menyatu seketika itu juga. ‘Isyâr adalah seekor unta yang hamil sepuluh bulan. Bagi bangsa Arab gurun pasir pada waktu itu, unta melambangkan harta yang paling diinginkan. Jika unta-unta tak dipelihara, itu berarti bahwa irama yang nonnal dari berbagai peristiwa yang biasanya menyatukan kehidupan padang pasir tidak lagi berjalan. Akar kata ‘uththilat artinya ‘mengabaikan, meninggalkan tanpa peduli, memutuskan, menghentikan’. ‘Uthlah berarti ‘liburan atau tidak bekerja’, yakni, istirahat dari rutinitas normai seseorang. Ketika proses-proses penciptaan yang alamiah terganggu, maka akan teqadi kemacetan total dalam proses kehidupan. Ketika dunia sam-pai pada akhirnya, maka tidak ada orang waras yang akan merawat unta!

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

5. Dan tatkala binatang-binatang buas dikumpulkan,

Semua margasatwa akan berkerumun saling mendekat. Hasyara artinya ‘berkerumun, berhimpun, berkumpul’. Lagi-lagi ini mencerminkan sifat dasar penciptaan. Segala sesuatu pada dasamya bersifat ekspansif. Meskipun semua margasatwa cenderung bergerak bersama-sama dalam beberapa kawanan atau kelompok, namun binatang-binatang tidak berkumpul terlalu rapat; mereka mempertahankan individualitasnya, mempertahankan jaraknya masing-masing . Pada hari ketika semua sistem kehidupan sampai pada ujungnya, mereka akan bergerak dengan cara yang berlawanan dengan sifat dasarnya. Rasa takut menyebabkan mereka tidak berpencar tapi berkumpul bersama, karena tidak akan ada tempat bagi mereka untuk melarikan diri mencari keselamatan.

وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ

6. Dan tatkala lautan dipanaskan,

Sajjara, akar dari sujjirat, berarti ‘bergelombang, meluap’, dan bentuk pertamanya, sajara, berarti ‘menyalakan, membakar, mendidihkan’. Seringkali bila sesuatu berakhir, secara sepintas kita melihat seperti apa permulaannya. Dengan kata lain, ayat ini mungkin berarti bahwa api akan benar-benar keluar dari tanah pada akhir penciptaan persis seperti ketika bumi pertama kali diciptakan. Ketika itu bumi mulai sebagai sebuah bola api yang kemudian mendingin begitu proses penciptaan dibentangkan.

Kiasan ‘lautan memanas’ mungkin menunjuk kepada gunung-gunung berapi yang meletus dari lautan, atau bahkan kepada neraka yang membara di lautan akibat tumpahan minyak yang terbakar besar-besaran. Apa pun makna persisnya, perujukkan kepada lautan yang bernyala menunjukkan bahwa hal yang biasa digantikan oleh hal yang luar biasa.

Air melambangkan kesejukan dan ketenangan, tapi di sini kita diberitahukan bahwa akan tiba suatu saat di mana bagian bumi yang berair akan mendidih. Hal-hal yang kita anggap semestinya berbeda dan terpisah dihubungkan dengan kebalikan-kebalikannya. Semua kejadian ini merupakan peristiwa yang berlangsung pada saat proses kehidupan yang terus berkembang berhenti.

وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ

7. Dan tatkala roh-roh dipertemukan,

Nafs di sini artinya roh. Zuwwijat (bersatu) berasal dari akar kata zawwaja, yang artinya ‘berpasangan, bergandengan, bersatu’. Ayat ini bisa berarti bahwa roh akan dipersatukan dengan roh pasangan atau kawannya ketika di dunia atau dengan roh yang dikenalnya, atau bahwa roh itu akan dipasangkan dengan masa lalu duniawinya. Di alam kosmos, perpasangan terjadi secara konstan di mana hal-hal yang berlawanan bertemu. Manusia terdiri dari dua aspek: aspek jasmaniah yang merupakan bagian dari apa yang dinamakan ‘aku’ dan aspek yang tak dapat dilihat yang disebut rohaniah. Kita bisa membayangkan eksistensi roh dengan bertanya, ‘Di mana aku berada saat tertidur lelap? Di mana aku berada ketika mimpi?’ Kita mengatakan, ‘Aku bermimpi mendaki lereng gunung yang curam,’ tapi kenyataannya tubuh kita tidak bergerak. Dengan kata lain, roh adalah aspek lain dari manusia yang memiliki pengalamannya sendiri. Memahami penyatuan dari dua hal yang berlawanan ini—jasmani dan rohani—adalah satu cara untuk memahami makna ayat ini.

Cara lain untuk memahaminya adalah bahwa kita tidak berada dalam keadaan penyatuan karena bermacam-macam keadaan yang muncul dari nafs kita. Berbagai harapan, keinginan dan kebutuhan kita harus dipenuhi jika kita ingin ternetralisir dan mengalami penyatuan. Itulah sebabnya kebanyakan kita dapat direhabilitasi melalui penyatuan ‘perkawinan’. Perkawinan merupakan sarana pemenuhan, terutama bila kedua belah pihak saling respek, dan menyadari bahwa manusia datang ke dunia ini sendirian dan akan pergi dari dunia sendirian pula. Jika mereka saling membantu untuk mencapai pemenuhan diri selama persinggahan di dunia ini, mereka akan mencapai sesuatu.

Dengan demikian, ada dua cara yang mungkin untuk memahami ayat ini. Ketika nafs seseorang hancur, ia menyatu dengan lawannya. Segala sesuatu dalam kehidupan berada pada tingkat dualitas; ada baik dan ada juga buruk. Segala sesuatu yang dapat dibayangkan, disentuh, dirasakan atau sedikit banyaknya diamati, muncul dengan salah satu dari dualitas itu. Namun kita semua sedang mencari Yang Satu, karena kita takkan pemah dapat terpuaskan oleh dualitas.

Implikasi dari ayat ini adalah bahwa dualitas akan berakhir. Dalam kehidupan ini, dualitas akan berakhir bila manusia mencapai kebebasan diri yang sempurna, dan bila sudah tidak ada yang dapat memenuhinya karena ia sudah terpenuhi. Hal ini juga akan terjadi ketika manusia memahami sifat realitas yang sejati pada saat mati. Dalam realitasnya yang ada hanyalah Tuhan, yang ada sebelumnya hanyalah Tuhan, dan yang akan ada hanyalah Tuhan. Pengetahuan ini datang melalui batin—realisasi pengalaman—dan tidak perlu dipelajari.

Jika seseorang ingin mencapai esensi Alquran, maka yang dapat ia lakukan hanyalah persiapan untuk menanggalkan segala sesuatu—dan itu berarti mati. Ia harus berada dalam keadaan fana. Ia harus mendekatinya dengan hati yang bersih, tanpa ada asumsi atau prasangka apa pun. Jika tidak, ia tetap terperangkap dalam penderitaan dualitas dan dunia kearifan yang, paling banter, hanya bersifat lahiriah dan eksistensial belaka. Sebaliknya, ia hanya akan berinteraksi dengan kulitnya—ajaran lahiriah— ketimbang berubah dengan mendengarkan kebenaran. Pencari yang tulus akan mendengar Alquran seakan langsung dari bibir Nabi. Pencari yang tersadarkan mendengar Alquran seakan digemakan dari luar waktu oleh Allah.

Ketika seseorang memahami Alquran, berarti ia menemukan keluasannya. Namun, esensi manusia itu sendiri adalah luas. Pemahaman tergantung pada seberapa kuat dan lurusnya hati seseorang. Alquran mengatakan, “Bacalah apa yang mudah dari Alquran” (Q.S.73:20). Membaca apa? Apa maksudnya? Kita membaca apa yang sudah ditulis, apa yang ditulis pada kita. Pernyataan ini dibuat untuk mempertajam pandangan kita, untuk membuka apa yang sudah ada dalam diri kita.

Dalam ayat ini kita membaca, ‘Dan tatkala roh-roh dipertemukan’, artinya pada saat kita dipertemukan Dengan lawan kita atau pada saat kita dinetralisir. Sekarang ini hasrat kita tidak pernah terpuaskan. Kita selalu mengidamkan sesuatu, terus beralih dari satu aspek dualitas ke aspek dualitas lainnya dengan mengubah keadaan luar kita. Namun, kecenderungan ini akhirnya tidak akan berguna sebab yang mesti berubah adalah diri kita sendiri.

Kita hidup dalam dualitas, karena itu kita berusaha menetralisir. Bagaimana kita menetralisir? Kita menetralisir nafs kita dalam keheningan, secara sungguh-sungguh dan positif. Dalam keheningan itu kita memiliki pengetahuan langsung tentang makna Hajar Aswad (Batu Hitam) yang terpasang di sudut Ka’bah di Mekkah.

Tidak banyak kaum muslim yang mengetahui makna Hajar Aswad, meskipun mereka melakukan tbawaf (lari-lari kecil mengitari Ka’bah) dan menciumnya pada waktu ibadah haji setiap tahun. Hitam mengandung semua warna—ia melambangkan kematian, dari mana muncul kehidupan. Kehidupan tidak dapat dipahami kecuali jika kita siap mati. Makna jihad (secara harfiah, upaya keras, dan perang membela diri melawan kaum kafir) tidak hanya tentang darah dan kematian fisik; ia adalah kesiapan untuk mempertahankan kehidupan tanpa kenal takut, kehidupan rohani. Nabi tidak menginginkan perang dan kematian yang diakibatkannya. Beliau menggunakan nalar untuk menghindarinya. Ia tak gentar untuk bersikap rasional, karena ia menggunakan akalnya dan telah menyimpang dari warisan politeisme sukunya.

Hasan ibn Ali menggunakan nalar ketika ia melepaskan khilafah. Imam Hasan memiliki ribuan prajurit tapi ia tahu bahwa mereka tak mungkin mampu bertahan dan gigih. Oleh karena itu ia beranggapan tidaklah bijaksana menggidng mereka ke dalam peperangan sementara mereka tidak akan mampu bertahan, karena mereka tidak memiliki keyakinain yang dalam.

Kejahilan terjadi bila kita tidak mensyukuri penciptaan. Kejahilan ada dalam substansi manusia, karena segala sesuatu mengandung kebalikannya. Bagian dari manusia yang ingin hidup juga mengandung kehancurannya yang terakhir. Kita semua akan mati dan akan melihat indahnya kesempurnaan dalam kenyataan ini. Meskipun kita mungkin masih menggemakan rasa cinta terhadap al-Baqi (Yang Abadi), namun kesempurnaan kehidupan dan kematian manusia terletak dalam pengetahuan bahwa hidup dan mati hanyalah suatu siklus yang melahirkan kesadaran.

Kita akan mengetahui siapa kita sebenarnya kala kita sampai pada keadaan penyatuan yang sejati. Kita memahami mengapa kita semua—dalam realitasnya—mencari tauhid. Pengalaman pertama kita adalah pengalaman keterpisahan, dengan jalan mana kita dapat mengatakan bahwa esensi adalah satu. Yang ada hanyalah Keesaan, hanya Allah, tapi untuk mencapai realisasi ini kita harus berjalan melalui beberapa tahap. Tahap pertama kita meyakini keesaan. Tahap selanjutnya kita mampu mengatakan ‘Aku mulai mengerti!’ Namun, sepanjang ada ‘Aku’ kita berada dalam syirik (menyekutukan Allah dengan selain Allah). Ketika si ‘Aku’ tumbang, maka yang kita lihat hanyalah Aliah, hanyalah Sifat-sifat-Nya, dan itulah kedamaian terakhir yang melahirkan perbuatan. Kedamaian ini bersifat dinamis, tidak statis atau mati, juga tidak ada sandiwara dan penderitaan di dalamnya. Orang luar bisa saja melihat penderitaan, tapi sang muwahhid (pemersatu) tidak melihat penderitaan; yang dilihatnya tak lain hanyalah cinta. Pada saat itu segala sesuatu akan dapat dimengerti dan dilihat sebagai kesempurnaan. Gambaran eksistensi duniawi mungkin tidak diinginkan bila manusia sudah memahaminya, tapi itulah kesempurnaan. Mungkin saja kita tidak ingin minum obat yang pahit rasanya, tapi kesempurnaannya terletak dalam kemanjuran obat tersebut dalam mengembalikan kita ke keadaan sehat. Namun, tahap ini sangat halus dan hanya akan diungkapkan kepada teman yang paling intim.

Dengan demikian, makna dari ayat ini adalah bahwa esensi manusia adalah satu, dan hanya ada satu esensi. la mulai dengan syirik, dengan mengatakan, ‘Esensiku adalah satu’, dan kemudian ‘Yang ada hanya esensi, tak ada yang lain di samping Allah.’

وَإِذَا الْمَوْؤُودَةُ سُئِلَتْ

8. Dan tatkala gadis kecil yang dikubur hidup-hidup ditanya,

بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ

9. Karena dosa apakah ia dibunuh.

Orang Arab pada zaman Nabi begitu arogan dan bangga akan kegagahan lahiriahn

Surat ‘Abasa

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH ‘ABASA

“IA BERMUKA MASAM”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Setiap surah diturunkan pada kesempatan tertentu dan mempunyai relevansi langsung baik dengan kejadian saat itu maupun dengan kejadian mendatang, karena firman Tuhan tidak dibatasi oleh waktu. Surah ini berkenaan dengan kejadian berikut: suatu hari ketika Nabi sedang duduk bersama para petinggi Quraisy yang menentang Islam dan tidak mau masuk Islam, beliau diganggu oleh seorang laki-laki buta. Orang buta ini, ‘Abd Allah ibn Umm Maktum, berakhlak baik sekali. Setiap kali berjumpa dengan Nabi, ia selalu bertanya, “Beritahu aku apa yang telah Tuhan sampaikan kepadamu.” Maka Nabi akan berusaha menerangi hatinya dan memberinya kabar baik. Namun kali ini Nabi bermuka masam dalam menanggapi gangguan tersebut, karena mungkin saat itu beliau nyaris mencapai kesepakatan dengan para pemimpin Quraisy, dan peristiwa ini akan memperkuat posisi Islam di tengah mereka dan menambah jumlah umat Islam. Surah ini turun kepada beliau saat kembali ke majelisnya setelah mengatasi gangguan (kedatangan Umm Maktum) tersebut.

عَبَسَ وَتَوَلَّى

1. Dia bermuka masam dan berpaling,

أَن جَاءَهُ الْأَعْمَى

2. Karena orang buta datang kepadanya.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى

3. Dan apa yang kau ketahui, bahwa mungkin ia hendak menyucikan dirinya?

Ayat ketiga berkenaan dengan para pemimpin Quraisy dan orang buta. Yazzakka berasal dari kata kerja ‘membersihkan (menyucikan) diri’; pembersihan harus dilakukan untuk mengerjakan salat, yang merupakan salah satu pilar Islam. Salat tidak hanya berarti sembahyang tapi juga berarti mengisi ulang dan berhubungan, dan dikerjakan lima kali sehari sampai kita terhubungkan secara permanen. Sekaitan dengan yazzakka adalah tazkiyah yang berarti pembersihan (penyucian), dan bermakna menambah atau meningkatkan kualitas sesuatu. Misalnya, kualitas air ditingkatkan dengan cara membersihkannya; kita membersihkan diri dengan cara membayar zakat.

Seluruh subjek kehidupan adalah pembersihan, dan jika ada kebersihan maka ada kedamaian. Manusia selalu berusaha semampunya untuk membersihkan pikiran dan perbuatannya. Pembersihan perbuatan sebagian orang bisa saja dilakukan dengan cara melakukan amal-amal yang paling baik, sesudah itu akan terjadi keseimbangan dan mendapat pelajaran. Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan kaum Quraisy, sementara sebagian lainnya mengatakan bahwa ia berkenaan dengan orang buta karena yang dibicarakan bukan kuantitas melainkan kualitas (penyucian).

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَى

4. Atau menjadi ingat sehingga peringatan itu berguna bagi dia?

Praktik-praktik yang dilakukan orang bertakwa merupakan upaya untuk senantiasa berada dalam keadaan ingat dan sadar. Kita mungkin bertanya, ingat akan apa? Ingat akan apa saja yang menyebabkan pemenuhan dan yang menyebabkan tiadanya pemenuhan. Kita semua menderita karena tiadanya pemenuhan yang kita sebabkan sendiri. Setiap orang, sebagai individu, menetapkan bahwa pemenuhan akan terjadi hanya jika beberapa peristiwa tertentu terjadi. Jika peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi, maka ia akan sengsara. Karena itu setiap individu adalah penulis dari pemenuhannya sendiri, dan tak ada orang lain yang dapat menolongnya dari sejak dalam kandungan sampai ke liang lahat. Maka zikir, dari kata kerja dzakara, yang berarti ‘mengingat’, adalah awal dari perenungan, bukan sekadar meditasi. Zikir sulit dilakukan dalam dunia modern sebab kita selalu berada dalam keadaan tergesa-gesa sehingga kita tidak dapat meluangkan waktu yang tenang untuk melihat bayangan kita dalam cermin.

Keempat ayat ini berkenaan dengan zikir yang positif. Jika zikir hanya merupakan pikiran romantis, lantas apa gunanya? Itulah sebabnya maka kita tidak perlu memikirkan hari kemarin ataupun apa yang akan terjadi esok, tapi bekerjalah hari ini sebaik-baiknya. Hari ini, saat ini, adalah milik kita. Jika energi kita dipelihara, maka setiap hari akan menjadi hari yang terbaik, karena kita akan selalu siap dan waspada. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mampu melakukannya.

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى

5. Adapun orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan apa-apa,

Istaghna berasal dari ghaniya, yang berarti ‘kaya, bebas dari kekurangan’. Tidak ada ketidakbergantungan, tapi yang ada hanyalah Yang Tidak Bergantung. Dalam realitasnya tidak ada keterputusan total, di mana setiap orang mempengaruhi orang lainnya. Seekor lalat mempengaruhi keseluruhan kosmos, meskipun pengaruhnya hanya sejenak. Namun, di antara kita ada yang mengira bahwa kita baru saja menemukan ekologi. Hanya setelah menyebabkan punahnya puluhan spesies barulah kita menemukan ketidakseimbangan dalam ekologi alam. Jadi, tidak ada yang terbebas dari kekurangan dan kebutuhan, dan kita tidak memiliki apa pun, karena segala daya dan kehi-dupan memancar dari Allah (Yang terbebas dari segala kekurangan maupun kebutuhan—peny.).

فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّى

6. Maka engkau memberikan perhatian kepadanya.

Meskipun di sini diterjemahkan sebagai ‘memberikan perhatian’, tashadda berasal dari kata kerja ‘menyibukkan diri dengan seseorang, beralih kepada seseorang, menentang, melawan’. Adapun orang yang kelihatannya sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri, mereka akan menjumpai berbagai kendala dalam usahanya. Mereka akan terhambat.

وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى

7. Dan bukanlah kesalahanmu jika ia tidak menyucikan diri.

Tugas seorang rasul sejati adalah menyampaikan pesan kepada yang lain. Ia hanya dapat berusaha mencontohkan isi pesan tersebut. Keinginan untuk memberikan segala aspek yang kita sendiri menyukainya merupakan unsur penting kondisi manusia. Namun rasul tidak dapat menyucikan orang lain, dan beban dosa akibat penyangkalan orang lain pun tidak jatuh padanya. la hanya dapat memberikan jalan dan contoh.

Seperti telah kita ketahui dalam ayat tiga, kata kerja untuk ‘disucikan’ mempunyai dua makna pokok: ‘menumbuhkan’ dan ‘menyucikan’. Zakat, yang berasal dari akar kata yang sama dengan yazzakka, adalah sebutan untuk 2,5% pajak yang dikenakan atas beberapa jenis harta yang didistribusikan kepada kaum miskin. Secara lahiriah zakat menyangkut pemberian. Secara batiniah zakat adalah membuang kotoran dan membersihkan diri, karena zakat menyiratkan pengakuan bahwa apa pun yang dimiliki seseorang akan mengikatnya erat-erat. Karena manusia sudah terikat oleh jasadnya dan terpaksa memilikinya, maka ia hams memberikan zakat. Zakat adalah kewajiban menurut syariat (hukum ilahi). Ia juga merupakan kewajiban secara batiniah, karena jika praktik lahir tidak sejalan dengan makna batin, maka tidak ada gunanya.

وَأَمَّا مَن جَاءَكَ يَسْعَى

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan usaha keras,

Ayat ini berkenaan dengan orang buta yang datang kepada Nabi meminta pengetahuan. Sa’i (berlari tujuh balik antara bukit Safa dan Marwah, sebagai ritus haji) berasal dari akar kata kerja yang sama dengan yaSa dan berarti ‘bergerak dengan cepat, berusaha keras’. Sa’i adalah prosesi yang kita laksanakan pada saat Haji, dan merupakan simbol dari apa yang kita—sebagai manusia berakal— kerjakan setiap hari dalam kehidupan kita. Kita sedang berjuang dengan segala upaya.

وَهُوَ يَخْشَى

9. Dan ia takut,

Siapa pun yang mendatanginya dengan tekad kuat untuk mendapat pengetahuan seperti orang buta itu maka ia akan takut terhadap hal-hal yang menyebabkan harapannya tidak terkabul. Bukan hanya tidak lepas dari rasa takut, tapi juga dari ketakutan—yang bersifat waspada— terhadap hal-hal yang merintangi kemajuan atau pengayaan ilmu pengetahuannya.

فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّى

10. Dan engkau tidak memperhatikannya.

Bentuk akar kata kerja talahha adalah laha, yang di sini berarti ‘tidak memperdulikan, berpaling, atau terlupakan’. Makna lain termasuk: ‘menghibur diri, membuang-buang, menghabiskan waktu, menikmati, mengecap, berusaha melupakan’. Zaman sekarang malha dikenal sebagai klub malam. Namun makna awalnya adalah setiap hal yang mengalihkan perhatian. Hal yang mengalihkan seseorang dari mengejar tujuannya adalah lahw (hiburan, pengalih perhatian), bukan pembebasan batin, dan pembebasan lahir hanya berguna jika dibimbing oleh batin.

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

11. Tidak! Sesungguhnya itu adalah peringatan.

Bila kata kalla (sesungguhnya tidak) muncul dalam Alquran, maka ia digunakan untuk mempertegas persoalan. Peringatan seperti ini jangkauannya luas melampaui waktu. Dengan kilas-balik ke masa lampau, dapatkah kita mengingat kembali suatu kejadian di mana kita mempunyai niat yang jelas dan bergerak melaksanakan niat tersebut? Andaikata tidak bisa, dapatkah kita mengakui bahwa kita dulu hidup tenang? Sebaiknya anggaplah tahun-tahun itu bertentangan dengan kita, karena mereka hanyalah tahun-tahun di waktu lampau, bukan tahun-tahun dalam kehidupan nyata. Ayat ini merupakan peringatan bagi kita agar bersikap peka, waspada dan aktif.

Setiap tindakan tanpa niat yang jelas menghendaki tindakan yang benar. Teguran ayat ini mengingatkan kita terhadap berbagai kecenderungan normal yang ada pada kita, yakni lebih menyukai perbuatan tertentu daripada terus memfokuskan beribadah kepada Allah sebagai tujuan utama kita. Kecenderungan untuk mengikuti asumsi-asumsi tertentu atau pola-pola perilaku pilihan merupakan cagar alam dari jiwa yang rendah. Sifat ini ada pada semua makhluk. Namun pada diri Nabi Muhammad yang sempurna, kecenderungan ini tidak termanifestasi secara lahiriah karena bimbingan Ilahi mutlak senantiasa mengontrol. Bunyi ayat ini tidak ditujukan kepada tindakan nyata Nabi, karena Nabi adalah sempurna. Oleh karena itu, meskipun ayat ini kedengarannya seperti teguran, ia hanya mendengungkan suatu peringatan terhadap kecenderungan ini yang ada pada semua hamba Allah. Jadi seakan-akan Allah mengatakan, “Jika engkau dibiarkan tanpa petunjuk, engkau akan lebih menyukai para pembesar Quraisy, yakni musuh-musuh-Ku.”

فَمَن شَاء ذَكَرَهُ

12. Maka barangsiapa ingin, hendaklah memperhatikan itu.

Pilihan ada di tangan kita. Realitas telah mewujudkan dirinya dengan cara ini, tidak dengan cara lain. Yang berjalan dalam sistem ini tak lain hanyalah kerahiman, dan karena saking luasnya jangkauan kerahiman tersebut serta meliputi segala sesuatu, sampai-sampai segala perbuatan salah kita pun bisa jadi nampak baik pada kita. Ayat ini mengatakan barangsiapa ingin ingat maka ia akan ingat. Pilihan terserah pada masing-masing individu, karena setiap orang, sebagai makhluk manusia, adalah makhluk tertinggi dalam penciptaan. Kita berada di puncak realitas penciptaan yang telah memberikan kita peluang untuk mencoba hidup dengan melanggar hukum Allah meskipun, realitasnya, kita tidak terpisah dari Pencipta kita. Tidak ada pemisahan, tidak ada dua. Alquran menyatakan: “Jalan telah ditunjukkan kepadanya, apakah ia bersyukur atau ingkar” (Q.S.76:3). Maka, kalau tidak dalam keadaan bersyukur, puas, dan mabuk batin, ia tentu dalam keadaan tertutup, menyesal, dan menjadi kaku. Manusia harus memilih! Begitu diciptakan, ia segera dihadapkan pada dualitas, pada beberapa alternatif. Kalau kita sadar, pengalaman langsung kita akan mengingatkan kita untuk menghindari apa pun yang tidak baik demi kebahagiaan kita. Kita akan menjadi takut menyebabkan kerugian pada diri kita sendiri dengan cara hanya mengingat apa yang sudah ada pada kita.

فِي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ

13. Dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan,

Shuhuf adalah jamak dari shahifah, yang berarti ‘halaman buku’. Shahifah dalam bahasa Arab modern berarti ’surat kabar’. Fungsi surat kabar adalah menyebarkan berita, menunjukkan situasi. Shuhuf mukarramah artinya ‘lembaran-lembaran yang dimuliakan’, yang dibubuhi dengan cap realitas penciptaan. Ini berkenaan dengan tulisan mulia yang terukir dalam gen kita dari sejak awal waktu penciptaan, bukan berkenaan dengan sesuatu yang ditulis oleh seorang bijak bernama Ibrahim.

Yang tertulis adalah hal-hal yang inheren dalam penciptaan. Buku Catatan Ilahi ini memuat petunjuk dan takdir penciptaan. Di dalamnya terdapat semua hukum yang membawakan semua kehidupan dan yang menghubungkan alam nyata dengan alam gaib. Kita semua sudah dikondisikan karena masing-masing diberi karakter jasmani, karakter emosionil, dan, pada tingkat yang lebih dalam, karakter spiritual tertentu. Bagaimana pun bentuk yang diberikan, keselumhan karakter kita tercakup dalam karakter yang jauh lebih luas dan setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketetapan Allah itu dibuat sedemikian rupa sehingga ada takdir-takdir tertentu yang tidak dapat diubah dan ada takdir lainnya yang dapat diubah dengan cara mernperbaiki niat dan perbuatan kita. Takdir seorang individu seluruhnya merupakan hasil dari tindakan, pemikiran dan niatnya yang berinteraksi dengan dunia luas.

مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ

14. Yang ditinggikan, yang disucikan,

Kitab, realitas, atau penulisan kode genetika itu bersifat luhur dan suci. Tapi apa yang dimaksud dengan kesucian mutlak? Tingkat kesucian yang disebutkan di sini tidaklah terhingga; ia tidak dapat dimengerti ataupun diukur. Tidak ada kebenaran, misalnya, pada sesuatu yang kita katakan sebagai gambar arus listrik murni, karena tidak ada kemurnian di dalamnya. Listrik sebenarnya memancar sendiri karena ia mengalir secara berlawanan. Sepanjang sesuatu dapat diukur maka ia tidak suci, dan sepanjang manusia hidup maka ia pun tidak suci. Ayat ini menyinggung penulisan kode abstrak yang tercantum dalam Buku Catatan.

‘Buku yang terhormat’ itu bersifat agung dan tinggi karena hal-hal kotor semuanya ada di bawah, tunduk pada hukum gravitasi. Apa pun yang berat akan jatuh, dan apa pun yang ringan akan bergerak naik. Itulah sebabnya ketika menyeru Tuhan kita tanpa pikir-pikir lagi langsung melihat ke atas dan bukan ke bawah.

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

15. Di tangan para penulis,

Safarah adalah jamak dari safir, artinya ‘ahli menulis’. Safar, dari akar kata kerja yang sama, adalah ‘perjalanan’, sedangkan safir adalah ‘dutabesar, utusan, atau mediator’. Tangan merupakan instrumen tindakan. Suara Tuhan mengatakan bahwa penyandian ini, yang sama sekali abstrak dan murni, dilakukan atau diciptakan melalui medium atau tangan-tangan utusan. Seorang dutabesar penuh sepenuhnya mewakili kedutaannya. Begitu pula kehendak Ilahi, diimplementasikan melalui para wakil dan utusan yang benar-benar loyal.

كِرَامٍ بَرَرَةٍ

16. Yang mulia, berbudi baik.

Kata-kata ini menggambarkan kekuatan pelaksanaan yang menghasilkan realitas penciptaan ini. Kita mesti ingat bahwa Alquran menyatukan gaung keabadian dengan kemanusiaan. Nabi adalah entitas yang bergetar dan berdenyut yang menyampaikan Alquran dengan kata-kata yang dapat kita selami sedalam-dalamnya dalam rangka merenungkannya. Kita tidak bisa hanya memeriksa permukaannya saja. Oleh karena itu, kiram bararah tidak hanya berarti ‘mulia dan baik budi’. Karam berarti ‘kemurahan hati yang mutlak dan menyeluruh’. Jika seseorang benar-benar murah hati, maka ia menjadi saluran tempat lewatnya berbagai hal, baik dalam bentuk harta, ilmu pengetahuan, atau wujud kemurahan hati lainnya. Jika ia adalah karim (murah hati), ia hanya akan menjadi sebuah instrumen, sementara dirinya sendiri mangkir. Inilah kemurahan hati dalam bentuk terakhir.

Akar kata bararah adalah barra, yang berarti ’saleh, adil’. Birr, dari akar kata yang sama, dalam kamus-kamus bahasa Arab didefinisikan sebagai ‘kebajikan, penghormatan, atau ketaatan’, tapi hanya sebagian saja yang benar. Kata tersebut juga diartikan sebagai loyal, setia dan konsisten.

Kiram bararah adalah kekuatan-kekuatan yang melaksanakan realitas penciptaan tanpa ada intervensi. Hanya makhluk manusia, sebagai puncak penciptaan, yang diberi kebebasan untuk secara cukup bodoh mengira bahwa dirinya adalah makhluk yang istimewa, atau, dengan cukup bijak membebaskan batinnya [dari persangkaan seperti itu—peny.].

قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ

17. Celakalah manusia itu! Alangkah tidak berterimakasihnya dia!

Qutila adalah bentuk pasif dad kata kerja ‘membunuh’, dan, dengan demikian, sedikit mengubah maknanya menjadi ‘dikutuk’ dengan konotasi kuat ‘dihukum’.

Alquran baru saja membawa kita kepada persoalan yang sangat halus, lalu tiba-tiba membawa kita kembali kepada kekasaran manusiawi kita. Kufr—kata benda dari akar kata kerja yang sama dengan akfara (tidak berterima-kasih atau tidak setia)—adalah menutupi kebenaran dalam upaya membenarkan keirasionalan ego kita. Segala sesuatu dalam eksistensi ini menunjukkan kesempurnaan—kita mendapatkan apa yang patut kita dapatkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena kita mempunyai berbagai pengharapan maka biasanya kita dilanda frustasi. Dunia secara keseluruhan bergerak ke satu arah, tapi segala pengharapan kita malah berbelok ke arah lain.

Pembunuhan menyiratkan berakhirnya kemungkinan. Sebenarnya kehidupan memancar dari satu sumber ilahiah, dan karena itu eksistensi individual dari masing-masing orang dibangun oleh kerahiman sumber tersebut. Dengan demikian warisan kita yang sebenarnya adalah ketuhanan. Tapi apakah hal itu diakui oleh kita? Bukannya berada dalam kesatuan, kebanyakan kita justru hidup dalam keter-pisahan yang sangat menyedihkan dengan sumber kehidupan.

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

18. Dari benda apakah Ia menciptakannya?

مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ

19. Dari benih kehidupan yang kecil, Ia menciptakannya, lalu Ia membentuknya sesuai dengan ukurannya.

Dari apa manusia diciptakan? la diciptakan dari sperma. ‘Lalu la membentuk dia’. Qaddara, berarti ‘menyiapkan, merencanakan atau menentukan sesuatu sesuai dengan ukurannya’. Qadr, yang dihubungkan dengan qaddara berarti ‘takdir, ketetapan Ilahi’. Suatu ketetapan bisa diukur.

Ayat ini menunjukkan bahwa pengkodean manusia yang lengkap terdapat dalam sperma. Selanjutnya manusia akan muncul dalam wujud kasar, berinteraksi dengan eksistensi lainnya, dan menemukan jalan kembali ke sumbernya. Alquran membawa kita ke dalam kemutlakan dan kemudian mengembalikan lagi kepada realitas duniawi ini untuk menyadarkan kita agar bisa lebur ke dalam realitas.

ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

20. Lalu Ia menjadikan jalan itu mudah baginya.

Lagi-lagi, ini berkenaan dengan hal positif. Sabil berarti ‘jalan atau garis edar’. Mengapa kita semua mencari jalan dalam kehidupan? Sabil dicari untuk menghindari lubang perangkap di jalan yang tidak dipasangi rambu-rambu yang jelas. ‘Jalan’ ini mungkin saja berupa kesepakatan, perkawinan, bisnis, liburan, dan sebagainya. Kita mencari jalan yang jelas karena kita telah menyimpang akibat pilihan-pilihan buruk yang kita buat dalam kejahilan dan kegelapan kita.

Perhatikanlah kata Arab untuk ketidakjelasan atau kegelapan, zhulam atau zhulumat. Kegelapan dideskripsikan dalam Alquran sebagai selubung yang harus disingkirkan karena hakikat dari segala sesuatu adalah cahaya. Cahaya adalah ilmu pengetahuan, sehingga kita mendapat gambaran: “Allah adalah cahaya langit dan bumi’ (Q.S.24:35). Zhulam, bila menutupi cahaya itu, kadang menjadi hikmah. Segala sesuatu ada hikmahnya, tapi kita tidak selalu memahaminya demikian. Jika, umpamanya, seseorang tahu bahwa kesehatan yang buruk akan menimpanya dalam waktu dekat, mak’a ia akan sakit karena cemas dari sekarang sampai nanti (saat keburukan menimpa). Oleh karena itu, kegelapan yang menutupi pengetahuannya tentang apa yang akan terjadi merupakan suatu hikmah.

Yassara berarti ‘melancarkan, meratakan, melicinkan, memudahkan’. Yusr dari akar kata yang sama, berarti ‘kemudahan, kemakmuran, kelimpahan’. Yasar berarti ‘kesenangan, kemewahan’, dan juga ‘tangan kiri’. Di semua kebudayaan, selama periode spiritualitas besar, tangan kanan melambangkan tindakan positif dan tangan kiri negatif. Manusia mengambil, memberi dan makan dengan tangan kanan. Ia membuang dan menghambur-hamburkan dengan tangan kiri. Ia mengetahui hal positif dengan meniadakan hal negatif.

Surah an-Nazi’at

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAHAL-NAZI’AT

“MEREKA YANG MEROBEK-ROBEK”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Surah Makkiyah ini berkenaan dengan kehidupan sekarang dan mendatang, dan juga memberikan deskripsi tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi pada Hari Pengadilan.

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا

1. Demi mereka yang merobek-robek dengan kekerasan,

Surah ini dimulai dengan mendeskripsikan kekuatan yang diketahui oleh semua orang dan umumnya ditafsirkan sebagai kekuatan malaikat, kekuatan luar biasa yang melaksanakan berbagai fungsi dalam seluruh penciptaan.

An-Nâzi’ât berasal dari kata naza’a, artinya ‘membawa, mencabut, bertengkar’, menunjukkan dua kekuatan yang saling berlawanan. Ghariqa, akar kata kerja gharq, artinya ‘terbenam, karam, basah kuyup.’ Ada ketidakjelasan makna di sini, dan penjelasannya sudah pasti hanya Allah yang tahu. Bisa jadi ayat ini berkenaan dengan saat kematian, ketika malaikat maut dengan kekerasan mencabut nyawa orang yang tidak ingin berpisah dengan kehidupan ini dan yang tidak siap untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Jiwa mereka harus dicabut paksa dari tubuhnya agar mereka melanjutkan jalannya takdir. Ayat ini mungkin juga berkenaan dengan alam semesta, di mana lima ayat pertama menunjuk kepada berbagai jenis planet dan bintang karena semuanya adalah pusat energi yang menjaga agar alam semesta tetap dalam keadaan terus-menerus bergerak.

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

2. Dan demi mereka yang menarik dengan lembut,

Yang diterjemahkan di sini sebagai ‘dengan lembut’ (nasyth) bisa juga diterjemahkan sebagai ‘dengan mudah, dengan penuh semangat atau dengan enerjik’. Ini mungkin berkenaan dengan jiwa-jiwa yang nasyth, bersemangat dan aktif, sehat dan dinamis. Ali Zainul Abidin pernah berkata, ‘Bagi orang yang mempercayai Realitas (Wujud Hakiki), kematian adalah bagaikan melepas pakaian kotor yang baunya busuk’. Jiwa seperti itu menanti-nanti kehidupan berikutnya sebab ia mengetahui bahwa di kehidupan berikutnya tidak ada kekacauan dan kesengsaraan dunia ini. Pasti, tidak akan terjadi gangguan di sana. Kita tidak bisa mengintervensi atau menyela—karena kita akan tidak berdaya—dalam kedamaian.

Ayat ini mungkin juga menunjuk kepada bintang-bintang jauh yang cahayanya mencapai kita setelah ratusan bahkan ribuan tahun cahaya dan ekspansi kosmiknya senantiasa melampaui batas kecepatan.

وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا

3. Dan demi mereka yang melayang di angkasa,

Al-sâbihât, ‘mereka yang melayang’, berasal dari akar kata kerja sabaha yang berarti ‘berenang, mengapung, melayang’. Jiwa mengalir mengikuti takdir dan berjalan sekehendaknya tanpa hambatan. ‘Mereka yang melayang’ bisa juga menunjuk kepada entitas-entitas yang substansinya menyerupai riak gelombang energi—para malaikat—yang memudahkan jiwa-jiwa yang mau menyerah. Sekali lagi ayat ini bisa saja berlaku untuk planet-planet yang beredar dalam orbitnya.

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

4. Lalu mereka yang mendahului ke muka,

Ayat-ayat ini dapat juga dipahami seluruhnya pada tingkat mulk (kekuasaan di bumi, berhubungan dengan hal-hal keduniawian). Sabaqa artinya ‘mendahului, meninggalkan’. Sibâq, dari akar kata yang sama, berkenaan dengan pacuan, khususnya pacuan kuda. Sebagian tafsir mengatakan bahwa ayat ini berarti ‘melihat yang berketurunan murni, melihat kuda yang unggul’. Kuda yang benar pemeliharaannya adalah kuda yang unggul. Jika kita memahami ayat ini dipandang dari sudut ekspansi kosmik, maka ayat ini juga mungkin berkenaan dengan planet-planet yang bergerak lebih cepat dibanding bintang-bintang atau galaksi-galaksi lain yang bergerak lebih jauh dibandingkan benda langit lainnya dalam orbit mereka.

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

5. Dan mereka yang mengatur urusan,

Ayat ini berkenaan dengan daya, kekuatan, planet-planet dan energi yang tujuannya adalah tadbîr (pengaturan), dari dabbara, artinya, ‘mengadakan penataan, mengorganisir, mengatur’, yakni, melakukan berbagai aksi yang saling menghubungkan berbagai kejadian di dunia ini, aksi-aksi yang akhirnya menjadi gerakan angin, awan, gunung berapi, atau umat manusia; dengan kata lain, gerakan dari berbagai unsur luar yang menyatukan semua unsur. Apa pun yang temasuk di antara mudabbirât adalah berkenaan dengan tadbîr atau pengaturan urusan.

Surah ini menggiring kita untuk mulai merenungkan segala daya dan kekuatan yang mempengaruhi kita secara lahir maupun batin, dan kita tidak bisa lepas dari daya dan kekuatan tersebut, seperti roh di dalam tubuh kita dan lingkungan sekitamya. Beberapa ayat pertama ini merupakan pendahuluan untuk penjelasan mengenai apa yang akan terjadi bila penciptaan ini, yang berkembang dari ledakan pertama, sampai pada ujungnya, yakni pada satu titik asalnya.

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ

6. Hari ketika goncangan pertama akan menggoncangkan,

Ini merupakan kejadian pertama yang mendengungkan akhir dari ekspansi kosmik. Bila ekspansi berhenti, maka kekacauan besar di seluruh sistem kosmik akan terjadi. Adapun mengenai bumi, maka di bumi akan tejadi suatu goncangan dan getaran yang hebat (rajifah).

Bila sebuah sistem berjalan secara alamiah, ia akan bergerak dengan lancar. Begitu jalannya bembah dan berganti arah, maka pembahan ini menunjukkan perlawanan yang, dalam hal ini, berbentuk getaran. Kejadian pertama ini berulangkali disebutkan dalam Alquran yang menjelaskan secara rinci bagaimana dunia ini akan berakhir. Ayat ini menjelaskan bagaimana sistem pertama berhenti. Sistem-sistem senantiasa saling berinteraksi satu sama lain; jadi, bila satu sistem berhenti maka sistem yang lain mulai. Faktor penyatu dari berbagai sistem yang saling tumpang-tindih ini berada di luar jangkauan pernahaman intelektual kita.

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

7. Yang datang sesudahnya akan menyusul.

Di susul kemudian goncangan berikutnya, yakni suara sangkakala yang mengumandangkan jalan baru di ‘alam al-arwah. Itulah alam energi halus sebagai kebalikan dari alam energi kasar. Radifah berasal dari radifa, artinya ‘mengikuti, datang kemudian’, dan radif artinya ‘yang berikutnya, yang menyusul’. Goncangan pertama, atau suara tiupan pertama, merupakan peristiwa pecahnya sistem yang ada hingga terkoyak-koyak, dan goncangan kedua akan menjadi permulaan dari sistem berikutnya.

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ

8. Ketika itu hati-hati akan berdebar-debar,

Informasi ini menjelaskan bahwa yang akan utuh pada diri kita di saat itu hanyalah apa yang tertanam dalam hati kita, yakni yang telah dibentuk oleh segala niat dan perbuatan kita dalam kehidupan ini. Mereka yang telah mengingkari peristiwa ini, yang mengingkari kebenaran dari pesan yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah Wujud (Realitas) Tunggal dan Pencipta Tunggal dan bahwa kita tidak pernah terputus dari takdir yang sudah ditetapkan, hatinya akan benar-benar berkecamuk. Pada saat Kebangkitan dimulai maka yang akan mereka rasakan adalah keterpisahan yang amat-sangat. Mereka merasa ddak mengalir dengan lancar mengikuti arus tapi malah melawan arus.

أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

9. Mata mereka menunduk.

Pandangan manusia, kemampuan penglihatannya, tidak akan berfungsi lagi seperti sebelumnya. Visi dan harapan yang ada dalam hatinya menjadi rendah, lemah, terputus dari segala peristiwa, sehingga tercampakkan.

يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ

10. Mereka berkata: “Benarkah kami akan dikembalikan kepada keadaan [kami] semula?

Suasana hati mereka mengumandangkan sebuah pemberontakan yang didasarkan pada keraguan mereka, dan bertanya ‘apakah kita akan kembali? Apakah memang ada peristiwa kembali itu? Akankah kita memulainya lagi seluruhnya? Ataukah ada kesinambungan, ada siklus kehidupan lain?

أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً

11. Apakah [akan dibangkitkan juga]! ketika kami sudah menjadi tulang-belulang yang hancur?

Pertanyaan berlanjut dengan seruan kuat yang bernada sangsi, seakan berkata ‘Bagaimana ini bisa terjadi? Kami tidak pernah menduganya!’ Pertanyaan seperti ini muncul karena dalam menilai peristiwa itu mereka hanya terpaku pada sudut pandang fisik. Jadi mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin tulang-belulang busuk ini dapat disusun kembali padahal, sebagai unsur tubuh yang paling keras, mereka sudah hancur. Mereka hams mengerti bahwa pertanyaan ini tidak berkenaan dengan daging dan tulang melainkan dengan roh dan segala perbuatannya selama berkelana di dunia ini.

قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

12. Mereka berkata, kalau demikian ini akan menjadi suatu pengembalian yang merugikan.

Begitu menyadari bahwa mau tidak mau mereka harus memasuki suatu tempat baru, mereka pun berkesimpulan bahwa mereka kembali ke keadaan yang merugi, karena roh mereka tidak siap untuk menjalani alam eksistensi berikutnya. Mereka sudah menyadari bahwa dalam kehidupan berikutnya mereka akan benar-benar rugi.

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ

13. Tapi itu hanyalah satu teriakan saja

Zajara, akar kata kerja dari zajrah (teriak), artinya ‘memaksa kembali, mengusir, mencegah, mengomeli’. Bagi orang-orang sesat—yakni mereka yang telah mengingkari kebenaran berita bahwa akan terjadi peristiwa pengembalian, ada alam akhirat—hanya ada satu teriakan, satu peringatan utama. Dalam seketika roh-roh akan menyadari bahwa mereka dalam keadaan merugi. Mereka akan mengakuinya dan menyatakannya secara terbuka, karena keadaan merugi itu melekat dalam roh.

فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ

14. Perhatikanlah! Mereka akan dibangkitkan!

Makna umum dari sahirah adalah ‘permukaan bumi’. Makna batinnya diambil dari akar kata sahira, yang berarti ‘menjadi tidak dapat tidur, tetap bangun (dalam suatu aktivitas)’. Sahar artinya ‘insomnia’. Ini menunjukkan bahwa permukaan bumi senantiasa hidup. Berarti, sekali roh-roh ini dibangunkan, selamanya mereka akan menyadari Realitas. Sebelumnya mereka tidak sadar akan kebenaran, tapi tiba-tiba mereka akan terbangun (sadar). Makna lahir dari ayat ini adalah bahwa mayat-mayat yang sebelumnya terpendam dalam kubur akan terdampar di permukaan bumi begitu menyembul keluar dan bergetar. Makna batinnya adalah bahwa roh-roh ini akan tiba-tiba sadar sepenuhnya. Tidak akan terjadi lagi tidur dalam kesadaran seperti yang kita alami dalam kehidupan ini.

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

15. Sudahkah kisah Musa sampai kepadamu?

Sekarang kita disodori kisah Nabi Musa sebagai contoh di dunia ini, di mana Tuhan Pemeliharanya memerintahkan dia untuk beramal, untuk melangkah mengikuti jalan realitas dalam kehidupan ini.

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

16. Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa

Musa as. dibawa ke lembah suci Thuwa. Hatinya dikuasi oleh al-ruh al-qudus (roh kudus). Hatinya ditarik oleh Rububiyyah (Ketuhanan) Tuhannya. Ia tidak punya pilihan selain melayani Tuhannya, dan ia diperintah oleh-Nya untuk menggempur puncak piramida kecurangan.

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

17. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas!

Ketika seseorang menjadi budak dari Yang Paling Tinggi, maka tugas yang harus dilaksanakannya memiliki tingkat kesulitan paling tinggi, tanggungjawabnya paling berat, dan ganjarannya pun paling besar. Musa ditugaskan untuk menyampaikan pesan tauhid kepada Fir’aun karena Fir’aun telah melakukan pelanggaran yang mengakibatkan seluruh bangsa tersesat.

فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَى أَن تَزَكَّى

18. Kemudian katakanlah: ‘Apakah kamu akan membersihkan diri?

Allah memerintahkan Musa untuk menyampaikan pesan kepada Fir’aun dan menanyakan apa sebabnya dia belum menyucikan diri. ‘Mengapa kamu belum menyerahkan dirimu dalam ketundukkan? Mengapa kamu tidak berjalan dalam kepasrahan diri? Mengapa kamu tidak melepaskan pakaian yang telah kamu kenakan, pakaian tempat kamu bersembunyi dan berperan sebagai Tuhan?

وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى

19. Dan aku akan membimbingmu ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut [kepada-Nya].

Pengertiannya di sini adalah bahwa Fir’aun tidak takut apa pun dan tidak menghargai apa pun; ia tidak punya pengetahuan tentang batas-batas perilaku. Petunjuk (hidayah, dari hada) di sini berarti rasa takut (khasyyah; dari khasyiya, kuatir atau takut kepada sesuatu). Pintu kepada petunjuk adalah rasa takut terhadap pelanggaran, takut akan membuat kesalahan dan takut mendatangkan murka Allah karena melanggar hukum-hukum-Nya yang mengatur kehidupan ini dan kehidupan akan datang. Ini adalah pesan Musa kepada Fir’aun. Dia berkata, “Jika engkau mau, jika engkau ingin menyucikan diri, jika engkau ingin menjalani kehidupan yang sejati dengan persiapan yang benar untuk dunia mendatang, akan aku tunjukkan jalan dan batas-batasnya, agar engkau merasa takut untuk melanggarnya. Kemudian engkau akan diberi petunjuk menuju satu-satunya Kebenaran. Jika engkau tidak punya rasa takut, maka engkau tidak akan mendapat petunjuk.”

فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى

20. Maka Musa menunjukkan kepadanya tanda yang besar.

Musa mempertunjukkan berbagai mukjizat kepada Fir’aun, beberapa di antaranya adalah memperlihatkan tongkatnya yang berubah menjadi seekor ular; tangannya yang berwarna putih dan bersinar, dan banyak lagi. Semua ini adalah mukjizat yang biasa. Persoalannya di sini adalah tentang al-ayat al-kubra (tanda besar), yakni ilmu Allah. Musa berkata, “Jika engkau mempunyai rasa takut, engkau akan mendapat petunjuk, dan dari petunjuk itu akan muncul pengetahuan tentang Realitas tunggal. Engkau tidak terpisah dari-Nya.

Pesan Musa kepada Fir’aun bukanlah pesan yang biasa, karena Fir’aun bukan seorang raja biasa. Ia menguasai berbagai pengetahuan dan sains yang sangat canggih (di zamannya). Ia memiliki banyak sekali kemampuan tapi tidak digunakan sesuai dengan sunah Allah. Misalnya, Fir’aun dan kaumnya menggunakan kekuatan supernatural, seperti mengerahkan kekuatan jin, atau kekuatan gaib. Bagi seorang nabi, kekuatan seperti itu tidak ada artinya— itu hanyalah kemampuan yang tidak berarti. Yang tertinggi dari seluruh mukjizat adalah pengetahuan tentang Allah, sedangkan yang paling rendah adalah mukjizat lahir, yang disebut keajaiban. Yang ada hanyalah Allah, dan kita telah menerima dunia ini untuk diuji dengan berbagai kesusahan agar pasrah dan tunduk kepada-Nya. Caranya adalah melalui rasa takut (khasyyah) untuk melakukan pelanggaran.

فَكَذَّبَ وَعَصَى

21. Tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan menolak.

Setelah mencurahkan seluruh hidupnya dalam sistem yang menonjolkan kekuatan dan kekuasaan, Fir’aun tidak mau menerima pesan yang mengajaknya untuk takut terhadap kekufuran. Arogansi kekuasaannya menyebabkan dia tidak mau menerima pesan tersebut. Reaksinya terhadap petunjuk yang terang bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa dirinya tidak berarti apa-apa, adalah mengingkari cetusan kebenaran yang ada dalam hatinya.

‘Asha artinya ‘tidak patuh, melawan, menentang, menolak’. Setelah menolak, ia berusaha mengkonfirmasikan kembali kedudukannya. Kita semua menginginkan penegasan dalam kehidupan ini, karena kita semua mencari keselamatan. Kita mencari konfirmasi bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah benar. Bagaimana pun juga, kita adalah pecinta Realitas Tunggal. Oleh karena itu, jika pemikiran kita sesat kita akan dihubungkan dengan orang-orang yang juga sesat pemikirannya.

Kita selalu beribadah dan mencintai Sifat-sifat Tuhan. Segala sesuatu dalam penciptaan berada dalam keadaan sempurna, dan kita hanya menjacli saksinya. Tak ada yang dapat kita tambahkan pada penciptaan. Hanya orang-orang yang telah dipilih untuk misi yang lebih tinggi yang hams menyatakan diri dan bertindak, mengajar, dan mengikuti langkah para nabi, seperti Musa. Sangat wajar dan dapat dimengerti kalau Fir’aun tidak memahami pesan ini dan belok ke arah yang sesat.

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى

22. Kemudian ia pergi membelakangi dengan tergesa-gesa,

Fir’aun pergi dengan sangat tergesa-gesa untuk menenangkan diri dan menjalankan sistem kekufurannya, dan mengkonsolidasikan kekuatan dirinya.

فَحَشَرَ فَنَادَى

23. Lalu ia mengumpulkan dan memproklamirkan,

Fir’aun mengumpulkan para pendukungnya karena ia merasa rentan terhadap serangan. Karena terpojok oleh sorotan pesan Musa yang gamblang, maka ia menghimpun semua pendukungnya untuk menenangkan dirinya.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

24. Kemudian ia berkata: “Akulah tuhan yang paling tinggir”,

Kemudian Fir’aun kembali ke kebiasaan lamanya, berlindung dan bertahan di bawah tahta kepemimpinan dan ketuhanan yang telah dinobatkannya sendiri untuk dirinya sendiri. Ia bermain sebagai tuhan, beaisaha menempatkan dirinya pada posisi yang sangat kuat dan mustahil. Ini sangat berbahaya bagi seluruh umat manusia. Semakin tinggi kita naik, semakin besar bahaya ini mengancam. Orang-orang yang memiliki wawasan dan kekuatan batin khususnya harus tetap berada di dalam batas-batas norma perilaku yang diwahyukan, yakni syariat—parameter hukum lahiriah—karena bahaya penyesatan ada dalam diri kita semua. Kita telah menyaksikannya dalam kehidupan ini, baik di kalangan ahli lahir (zhahir) maupun ahli batin. Selalu ada kecenderungan untuk menjadi sasaran bahaya ini kalau kita tidak senantiasa mengikuti jalan syariat, dengan melakukan salat dan do’a secara teratur dan berkesinambungan.

Fir’aun berkata, “Akulah tuhan yang paling tinggi,” kepada kaumnya. Tapi tidak ada manusia yang bisa hidup dalam keterasingan karena seandainya ia tidak berhubungan dengan Realitas tunggal dan menjadi hambanya semata, tentu ia berhubungan dengan versi kebenaran yang sesat dan menyimpang, sebagaimana dalam kasus Fir’aun.

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى

25. Maka Allah mencengkamnya dengan hukuman di akhirat dan hukuman di dunia ini.

Fir’aun mengangkat dirinya sendiri sebagai tuhan. Reaksi Tuhan atas perbuatan nekad ini adalah jatuhnya hukuman. Nakâl artinya hukuman. Fir’aun mendapat bantahan dari Tuhan atas perbuatannya di waktu lampau dan akan datang, baik yang telah dilakukannya sebelum Musa datang padanya maupun yang dilakukan sesudahnya. Ayat ini berkenaan dengan penderitaan yang dirundung Fir’aun dalam kehidupan sekarang dan nanti. Sebagaimana kita ketahui, Fir’aun dan kaumnya mati tenggelam saat menyeberangi Laut Merah. Tapi ‘terakhir’ dan ‘pertama’ bisa juga berarti ‘lahir’ dan ‘batin’; secara lahir ia ditegur, dan secara batin ia disiksa. Secara lahiriah ia tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi berbagai aksi Musa, secara batiniah juga ia tidak tahu bagaimana memberikan reaksi terhadap pesan Tuhan. Pembinasaan fisik Fir’aun pada akhimya menjadi catatan tambahan bahwa memang lazim kalau kebenaran selalu menang atas khayalan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَى

26. Sesungguhnya pada yang demikian ini ada pelajaran bagi orang yang takut.

‘Ibrah artinya ‘peringatan, contoh, pelajaran’. Akar katanya adalah ‘abara, yang berarti ‘menyeberangi, melintasi, menafsirkan (suatu mimpi), atau mencucurkan air mata’. Ini berarti bahwa pelajaran nyata yang diperoleh menyebabkan kita menyeberang dari kesalahan ke kebenaran. Kata untuk ‘Hebrew [Ibrani]‘ (‘ibri) berasal dari akar kata yang sama (dari ‘abara), karena mereka menyeberang menuju keselamatan di tepi laut lain. Kata ini juga berarti menyeberangi pantai pengetahuan karena orang yang ingin sekali mendapat ilmu akan berusaha agar tidak tetap dalam kebodohan. Orang seperti itu menginginkan keselamatan yang dijamin oleh perilaku yang benar.

Dalam ayat-ayat ini kita diberi contoh mengenai orang yang bertauhid, orang yang beriman kepada Allah, dalam hal ini Nabi Musa, dan lawannya yang berseberangan, yang merugi, yang asyik sendiri dengan kekuasaannya. Alquran mengatakan bahwa kedua sistem tersebut tidak bisa bertemu ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku’ (Q.S. 109:6). Sistem kekafiran akan dihancurkan, dan sistem Kebenaran akan menang.

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءَ بَنَاهَا

27. Apakah kamu yang lebih sulit diciptakan ataukah langit? Allah telah membangunnya.

Dengan memperhatikan kekuasaan Fir’aun dan apa yang terjadi padanya serta kaumnya, kini kita dihadapkan pada pertanyaan di atas, yang memaksa kita untuk merenungkan kekuasaan yang menciptakan alam semesta ini. Sama’ (langit, cakrawala) menunjukkan hal yang menyatukan alam semesta. Akar kata kerja sama’ berarti ‘tinggi’, tidak hanya dalam arti vertikal, tapi juga dalam arti kiasan, dinaikkan atau luhur. Dengan demikian, ia juga berarti ‘berjalan di luar pemahaman (seseorang)’. Rajul samin artinya ‘orang yang bernilai tinggi, berwatak moral tinggi’.

Ayat ini menunjuk kepada langit yang lebih dekat dalam sistem planet dan juga langit yang lebih jauh di luar sistem itu. Alquran mengatakan bahwa Allah telah men-ciptakan tujuh langit (Q.S. 41:12). Langit yang dapat kita lihat, yang kelihatannya tidak dapat diduga, sebenarnya adalah langit paling rendah. Di atasnya ada enam langit lagi. Sebagaimana ada tujuh lapis langit, begitu juga ada tujuh lapis bumi, dan lapisan paling dalam berupa logam cair. Tujuh lapis ‘langit’ pun ada pada tingkat energi elektron yang mengelilingi inti atom.

Namun, dalam bahasa Arab jumlah tujuh atau tujuh puluh (atau bahkan kelipatan tujuh) menunjukkan jumlah yang sangat banyak. Dalam ceramah biasa, jika kita mengatakan bahwa seseorang memberitahu kita sesuatu tujuh kali, tentu saja itu tidak berarti benar-benar tujuh kali tapi mungkin maksudnya beberapa kali. Sama halnya juga pada jumlah tujuh puluh. Pada beberapa hadis Nabi, kita menemukan jumlah-jumlah ini disebutkan, ‘Tiada hari berlalu tanpa aku meminta ampunan kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali.’ Tentu saja ini tidak berarti bahwa beliau menghitung tujuh puluh biji tasbih atau bahwa beliau duduk dengan setumpuk biji kurma, sebagaimana lazimnya pada waktu itu, untuk menghitung jumlah kali yang telah dia ucapkan, ‘ Astaghfirullah’. Lebih tepatnya, jumlah itu berarti bahwa beliau mengucapkan kalimat ini berulangkali dalam jumlah yang banyak, barangkali paling sedikit tujuh puluh kali.

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

28. Dia menambah ketinggian [atap langit]-nya, lalu menyempurnakannya.

Samk artinya ‘atap’ atau ‘langit-langit’, sumk artinya ‘ketebalan’, sedangkan samik artinya ‘tipis’. Rafa’a samkaha, ‘ia menambah ketinggiannya’, artinya lebar langit ditambah sampai suatu tingkat yang menurut persepsi kita ukurannya tak dapat diduga. Dalam ayat ini kata tersebut menyiratkan bahwa langit meletus. Bisa saja menafsirkan ayat ini dengan makna Ledakan Besar (Big Bang).

Fa-sawwaha (lalu menyempurnakannya) merupakan salah satu petunjuk paling awal pada kata sawa, artinya ’sepadan, rata, datar, meratakan, menyamakan, mengatur, menertibkan’. Sawa dan beberapa derivatnya memiliki makna yang saling mencakup dengan kata ‘adala, yang berarti ‘bertindak adil, sesuai, menyamakan, menyusun rapi’. Dari sawa muncul kata musawah, yang artinya ‘persamaan di depan hukum’, dan taswiyah, yang berarti ‘penyusunan, penyamaan’. Jadi setelah terjadi ledakan besar, ketertiban pun ditegakkan.

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا

29. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan paginya terang benderang.

Ini berkenaan dengan dualitas eksistensi. Malam hari dijadikan gelap, sementara siang hari, awal pagi, dikeluarkan dan dijadikan lebih terang. Akhraja artinya ‘mengeluarkan, atau memunculkan’. Kharaja akar dari akhraja berarti ‘keluar, terbit’. Kharaj adalah apa yang harus dibayar oleh kita dari kekayaan kita sebagai zakat.

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

30. Dan bumi, Dia menghamparkannya sesudah itu.

Bumi adalah bagian dari keseimbangan penciptaan secara keseluruhan. Di sini bumi dibentangkan dengan datar dan dijadikan dapat digunakan. Daha artinya ‘menggelar, meratakan, mendatarkan, membuka gulungan’, dan dahyah artinya ‘telur’. Ini menunjuk pada kenyataan bahwa bumi diciptakan terhampar pada beberapa kutub (ujung-ujung hamparan bumi bertemu di dua kutub—peny.), suatu fakta yang baru beberapa dekade saja diketahui oleh manusia modern.

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

31. Dia mengeluarkan darinya mata airnya dan padang rumputnya

Pada tahap-tahap awal penciptaan, bumi memadat dari material berbentuk cair atau gas. Kemudian dari bumi keluar katalis cair yang dibutuhkan untuk mengubah zat padat menjadi lebih dapat digunakan, zat untuk menopang kehidupan, dan kemudian menjadi tetumbuhan, binatang dan manusia.

Mar’a berarti ‘padang rumput’ atau ‘tempat untuk menggembala’. Ra’a artinya ‘menggembalakan’, dan juga berarti ‘memelihara sekawan binatang’, atau lebih umum lagi ‘mengurus seseorang atau sesuatu’. Rctai adalah pelindung, sedangkan ra’ini artinya ‘lindungi saya’. Dengan demikian dari bumi muncul suatu zat cair yang membuat kehidupan menjadi mungkin dan memberi kita kemungkinan untuk menggembala di atasnya.

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

32. Dan gunung-gunung, Dia menjadikannya teguh.

Lagi-lagi di sini kita diberi contoh bagaimana bumi terjadi, yang berubah menjadi bentuk padat. Arsaha artinya bahwa ‘Dia telah mengikatkan mereka pada suatu medium cair, Dia menambatkan mereka’, dan kata itu berasal dari rasa, yang berarti ‘meneguhkan’, dan ‘menambatkan’. Diteguhkannya bumi ini agar kita bisa menetap dan mencari perbekalan, dan juga memberi kita kestabilan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan. Jadi, Al-quran sudah bercerita kepada kita lebih dari 1400 tahun lampau tentang awal proses pembentukkan bumi, dan fenomena ini baru sekarang dapat dijelaskan oleh para ahli geologi modern.

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

33. Perbekalan untukmu dan untuk binatang ternakmu.

Karena bumi menetap dan berkembang, maka disediakanlah perbekalan untuk umat manusia dan binatang, yang memberikan sekadar kesenangan tertentu dalam perjalanan kita di muka bumi ini.

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى

34. Namun ketika malapetaka besar datang.

Kematian adalah malapetaka besar bagi mereka yang menganggap kehidupan dunia ini sebagai tujuan utama eksistensinya, padahal itu hanyalah pendahuluan menuju kehidupan berikutnya.

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَى

35. Hari di mana manusia akan mengingat kembali apa yang telah ia usahakan.

Pada hari itulah manusia akan mengingat semua yang telah terjadi sebelumnya, dan semua yang ia usahakan ketika hidup akan terbentang di hadapannya, yang mengungkapkan segala niat, perbuatan, dan, dengan demikian, realitas dia. Engkau adalah siapa engkau pada hari itu, tanpa kepura-puraan ataupun ditutup-tutupi.

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَى

36. Dan neraka akan diperlihatkan dengan jelas bagi siapa yang melihat.

Pada hari itu penglihatan kita akan menjadi lebih tajam dibanding sebelumnya dan jahim—nama lain untuk neraka—akan nampak segamblang-gamblangnya. Mereka yang telah memimpin kehidupannya dalam bimbingan agitasi batin akan melihatnya dengan jelas.

فَأَمَّا مَن طَغَى

37. Adapun orang yang telah melampaui batas.

وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

38. Dan lebih menyukai kehidupan dunia ini.

فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

39. Maka tentu saja nerakalah tempat tinggalnya!

Dunya, maksudnya ‘dunia ini’ sebagai lawan dari dunia berikutnya, berasal dari kata dana, yang berarti ‘rendah, dekat, berhampiran’, dan juga ’sebagai atau menjadi alas, hina, atau tercela’. Dengan lebih mencintai kehidupan dunia ini seseorang secara otomatis bergerak ke arah materialisme yang lebih kotor dan bersifat rendah.

Keadaan yang bergejolak selamanya adalah tempat istirahat terakhir yang pantas bagi mereka yang melampaui batas di dunia ini, yang lebih menyukai kehidupan dunia ini daripada kehidupan selanjutnya, yakni, bagi mereka yang telah kufur dan terperangkap dalam kekufurannya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

40. Dan adapun orang yang takut berdiri di hadapan Tuhannya, dan menahan diri dari segala hasrat (hawa nafsu) rendahnya.

Adapun orang yang takut terhadap kekuasaan dan kedudukan Tuhannya Yang Mahabesar, yang selalu berdiri seakan dalam genggaman Tuhannya, dan yang selalu berbuat seakan perpanjangan Ketuhanan itu, maka itulah orang yang menjaga jiwanya dari mengikuti hasrat rendah, yang tiada hentinya mengingat Allah dan tidak melampaui batas.

Barangsiapa senantiasa menyadari kerusakan akibat tingkah hawa nafsunya akan senantiasa berada di jalan yang lempang dan, konsekwensinya, paling selamat.

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

41. Maka tentu saja surgalah tempat tinggalnya!

Bagi siapa saja yang memelihara rasa takut di hadapan Allah, maka jannah (taman surga) adalah tempat tinggal terakhirnya yang pantas. Ia telah mempersiapkan diri untuk itu di sini dan saat ini juga, dan telah mempelajari kondisi serta situasi taman tersebut. Ia telah memasuki suasana taman surga di dunia ini dalam persiapan untuk keadaannya yang terakhir dan abadi di dunia akan datang.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

42. Mereka bertanya kepadamu tentang saat (kiamat) kapan ia akan terjadi.

Inilah petunjuk tentang Saat Perhitungan (Hari Pengadilan), saat penyingkapan total dan sempurna, saat di mana aksi dan reaksi bertemu dan dipertemukan, di mana segala niat, perbuatan dan roh manusia akan dihubungkan dan dipersatukan. Saat itulah manusia akan melihat dirinya sendiri sebagai hasil perbuatannya yang, dalam kenyataan, merupakan perwujudan dari segala niatnya. Yang akan dilihatnya tak lain adalah sifat tersembunyi yang merupa-kan sifat aslinya, dan penampilannya akan jelas dalam dua pilihan: cemerlang karena selalu digosok, atau suram tertutup oleh sifat rendahnya.

فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا

43. Tentang apakah engkau mengingatkan?

Orang yang bertanya tentang hari itu tidaklah sungguh-sungguh kuatir, karena jika mengimaninya maka ia akan selalu bersiap-siap menghadapi kematian dan pertanggung-jawabannya. Jika kesadaran dia seperti demikian, maka tidak ada alasan untuk terobsesi dengan kiamat besar dunia ini. Perhatian terhadap saat (kematian)nya sendiri mengalahkan perhatiannya terhadap akhir alam semesta atau Saat Pasti.

إِلَى رَبِّكَ مُنتَهَاهَا

44. Kepada Tuhanmulah tujuannya.

Bagaimana engkau dapat mengingatkan mereka kepada ujung atau tujuan akhirnya? Seluruh waktu berhenti pada Tuhan, karena Tuhan berada di luar waktu. Saat tersebut, perhentian waktu itu—tempat berhenti atau ter-akhir itu—adalah pada Tuhan.

إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا

45. Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut terhadapnya (kiamat).

Yang dapat kita lakukan di dunia ini, yang tunduk pada waktu, hanyalah mengingatkan orang lain, menyadarkan mereka bahwa akan terjadi situasi di mana waktu akan berhenti. Pada saat itu yang akan kita miliki sebagai modal hanyalah apa yang telah kita peroleh dari hasil perbuatan kita dan pengetahuan yang terbit dari sumber pengetahuan dalam diri kita, dan dari kesadaran pencegahan kita bahwa kehidupan ini akan sampai pada akhirnya.

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

46. Pada hari tatkala mereka melihat itu, seakan-akan mereka tidak tinggal kecuali selama bagian akhir hari (sore) atau bagian awal hari (pagi).

Saat akhir dapat dirasakan di sini, tapi pada saat akhir yang mutlak, waktu akan berhenti. Ketika kita menjalaninya, tahun-tahun panjang kehidupan ini akan terasa bagaikan satu hari saja, atau bagian dari sehari dan semalam semata. Kehidupan terasa singkat dan tidak berarti. Bila waktu sampai pada ujungnya dan kita melihatnya dengan kesadaran seperti itu, maka seluruh perjalanan kita di dunia ini akan nampak menyimpang sama sekali. Kita akan meninggalkan waktu kernudian memasuki ketakberwaktuan, yang melatarbelakangi waktu; dan Allah adalah Yang Tak Berwaktu.[]

Tafsir Surat an-Naba

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AN-NABA’

“BERITA BESAR”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Ini adalah ungkapan pertama dalam Alquran yang senantiasa muncul pada setiap awal surah kecuali satu (surah Al-Taubah). Konon seluruh esensi Quran terkandung dalam ungkapan ini. Kata ‘dengan nama’ mengindikasikan sesuatu yang mustahil untuk disebutkan atau dideskripsikan, yakni Allah, dan penciptaan ini seluruhnya ‘dengan nama Allah’.

Sebutan ‘Maha Pengasih’ dan ‘Maha Penyayang’ berasal dari akar kata bahasa Arab yang sama. ‘Maha Pengasih’ mengindikasikan kemurahan hati dan belas kasih yang berlaku umum untuk semua makhluk tanpa ada diskriminasi, sedangkan ‘Maha Penyayang’ mengindikasikan kemurahan hati yang khusus diberikan kepada mereka yang menyerahkan diri kepada Wujud Tunggal Yang Mahatinggi.

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ

1. Tentang apakah mereka saling bertanya?

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

2. Tentang berita yang besar.

الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

3. Yang dalam hal itu mereka berselisih.

Ini adalah surah Makkiyah yang awal. Pertanyaan dalam ayat pertama ditujukan kepada mereka yang mengingkari kebenaran, yakni kaum kafirin (orang-orang yang menutupi [kebenaran], yang tidak bersyukur). Kaum kafirin adalah mereka yang tidak sanggup mengemban perintah suci atau memahami kedalamannya, mereka yang tidak mau mengakui kebenaran makna tauhid, dan menganggap kehidupan dunia ini adalah satu-satunya kehidupan. Mereka percaya bahwa tidak akan ada lagi kehidupan setelah itu, sehingga tentu saja mereka akan mengingkari ‘peristiwa besar’, peristiwa menentukan yang paling akhir; Mereka menyangkal dan meragukan kejadiannya.

Apa yang mendorong mereka untuk bertanya? ‘Amma adalah singkatan dari ‘an mâdzâ, yang artinya ‘tentang apa?’ Kemampuan mereka bertanya ini merupakan fakta adanya tanda kehidupan pada mereka, dan dimana ada kehidupan mesti juga ada kematian, sebab dalam eksistensi ini segala sesuatu ada lawannya. Dengan menafakuri kenyataan ini, kita akan mengetahui bahwa karena kehidupan dan kematian ada pada tingkat kesadaran ini, maka mungkin saja ada kehidupan dalam bentuk lain pada tingkat kesadaran lain, atau kehidupan setelah mati, yang akan dibuka oleh Hari Kebangkitan. Oleh karena itu, sungguh berani mereka meragukan kenyataan ini! Kenyataan absolut yang tak terbantahkan bahwa apa pun yang berawal pasti akan berakhir. Kalau kita renungkan lagi, maka jelaslah bahwa Dia Yang menciptakan makhluk ini juga dapat dengan mudah menciptakan bayangannya.

Dalam gambaran total eksistensi, segala aspek halus kehidupan ini akan menjadi aspek nyata di kehidupan mendatang, dan segala aspek kasar kehidupan ini akan nampak hanya sebagai tambahan semata atau wujud yang tidak berarti. Misalnya bentuk tubuh, yang penting sekali artinya dalam kehidupan sekarang, hanya akan menjadi tambahan semata dalam kehidupan mendatang. Kesangsian orang kafir ini terhadap adanya kehidupan akhirat merupakan bukti nyata dari ketidakpastian dan kebingungan mereka. Di lain pihak, orang beriman yakin sepenuhnya tentang tempat kediamannya kelak.

Naba’ artinya ‘berita, kabar, informasi, maklumat’, yakni berita tentang akhir penciptaan. Mereka yang menyangkal pesan realitas ini, sebagaimana dijelaskan secara gamblang dalam Alquran, bertanya-tanya tentang hari akhir dan berasumsi bahwa akhir dari peijalanan hidup ini akan menjadi akhir dari segala perjalanan hidup. Mereka mempersoalkannya dan terjadi perselisihan di antara mereka sendiri karena mereka sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ciri-cirinya. Mereka mengira akan dapat melepaskan diri dari kesengsaraan dan kekacauan hari kiamat dengan cara bagaimana pun, dan tidak percaya bahwa pada hari itu keadilan Allah pasti dan mutlak akan ditegakkan, sementara mereka akan membawa buah dari perbuatannya.

Manusia mengira dapat mengatasi hukum yang mengatur eksistensi kehidupan ini, dan dapat lari dari kenyataan bahwa ganjaran terakhir akan diberikan sesuai dengan perbuatannya yang, sebaliknya, bergantung pada niatnya. Kehidupan dia di tingkat kesadaran berikutnya didasarkan pada perbuatan dan niatnya di tingkat kesadaran ini; ia akan diciptakan ulang sesuai dengan komposisi perbuatan dan niatnya secara keseluruhan pada saat meninggalkan kehidupan ini.

كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

4. Tidak, mereka akan segera mengetabui.

ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

5. Sekali-kali tidak, mereka akan segera mengetahui!

Kallâ(sekali-kali tidak) adalah omelan, suatu teguran positif kepada orang-orang yang bertikai. Setiap orang akan mengalami akhir penciptaan melalui kematiannya, dan kemudian juga akan mengalami akhir seluruh penciptaan (kiamat) dan mengalami kebangkitan. Kematian seseorang adalah kematian mikrokosmos. Pada saat mati tidak ada lagi sedikit pun keraguan pada kaum yang ingkar tentang kebenaran berita tersebut, yakni berita tentang peristiwa mahadahsyat yang merupakan akhir dari eksistensi ini.

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا

6. Bukankah Kami jadikan bumi suatu hamparan yang luas.

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

7. Dan gunung-gunung sebagai pasak?

Ayat 6 sampai 16 memiliki makna yang sama. Allah sedang menunjukkan bukti dari kesempurnaan penciptaan dan sifat siklis dari penciptaan tersebut. Bukankah bumi menjadi hamparan luas yang meringankan gerak kita sehingga kita dapat mencari penghidupan, dan bukankah gunung-gunung itu pasaknya? Secara geologis, gunung-gunung bagaikan pilar-pilar terpendam yang merekatkan lapisan kerak bumi yang renggang sehingga aman dan stabil.

وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا

8. Dan Kami telah menciptakan kamu berpasang-pasangan.

Ayat ini mengungkapkan keberpasangan dari setiap jenis makhluk hidup, laki-laki dan perempuan, dan kebertentangan setiap aspek penciptaan lainnya, seperti baik dan buruk, sehat dan sakit, nafs (diri) yang rendah dan nafs yang tinggi.

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

9. Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

10. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian penutup,

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

11. Dan Kami jadikan siang untuk mencari pengbidupan,

Akar kata kerja ‘istirahat’ dalam bahasa Arab adalah subât yang artinya tidur di musim dingin, beristirahat, menghentikan kegiatan (sabata). Kata benda yang bertalian adalah sabbat yang artinya Sabtu. Pada hari ini kaum Yahudi tidak boleh mengerjakan urusan duniawi apa pun. Semua aktivitas lahiriah dilarang agar manusia bisa mengisi ulang dirinya secara batiniah. Tidur—suatu bentuk hibernasi atau kegelapan yang singkat—sebenarnya dapat membangkitkan vitalitas karena dengan tidur kesegaran fisik kita akan pulih kembali dan mencapai keseimbangkan diri setelah menjalani berbagai kesulitan di siang hari. Saat malam tiba, maka malam pun menyelubungi kita bagaikan sebuah jubah. Kata yang digunakan di sini untuk ‘penutup’ adalah libâs, dari kata kerja labisa, yang artinya ‘mengenakan penutup atas sesuatu, menyelubungi, membajui atau memasangkan pakaian’.

Penghidupan (ma’âsy) berasal dari kata ‘âsya, yang artinya ‘hidup’. Ma’âsy juga berarti ‘jalan hidup atau gaya hidup’. Siang hari adalah waktu untuk melakukan aktivitas jasmaniah karena ada cahaya, dan sebaliknya, bila tidak ada cahaya (yakni, malam hari), maka itulah saatnya untuk melakukan aktivitas batiniah. Begitulah menurut hukum kebalikan.

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

12. Dan Kami membangun di atas kamu tujuh buah yang kokoh,

‘Tujuh buah yang kokoh’ di sini adalah tujuh langit. Syidâd adalah jamak dari syadîd (kuat), dari akar kata syadda (kokoh, kuat, teguh, mantap,’ dan ‘membebani’). Ini berarti bahwa langit-langit itu saling bertalian dan terjalin secara kuat, disatukan oleh kekuatan-kekuatan tak kentara yang berada di luar jangkauan penglihatan kita. Dari tujuh lapis realitas fisik (langit) yang tinggi, kita hanya dapat melihat lapisan langit yang berisi bintang-bintang.

Banâ artinya ‘membangun, mendirikan, menegakkan, menyusun’. Langit-langit disatukan dan dibangun oleh kekuatan dan kekuasaan yang tidak nampak. Bagian fisik dari langit-langit itu tidaklah ada artinya dibanding banyak sekali kekuatan gaib yang menjaga agar mereka tetap seimbang selama berjalannya ekspansi.

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

13. Dan Kami jadikan lampu yang menyala terik,

Ini adalah deskripsi tentang matahari yang seringkali diilustrasikan sebagai sirâj wahhâj (lampu yang menyala terik). Wahhâj artinya ‘menyala terik, pijar, panas membara, berkobar-kobar, cemerlang’. Sifat matahari adalah memancarkan cahaya, sedangkan sifat bulan adalah memantulkan cahaya.

وَأَنزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا

14. Dan Kami turunkan dari awan air yang melimpah,

Kata yang digunakan di sini untuk awan (mu’shirât) berasal dari ‘ashara, yang artinya ‘memeras, menekan ke luar’. ‘Ashîr artinya ‘air’ (jus). Mu’shirât adalah awan yang mengeluarkan air hujan yang turun melimpah (tsajjâja).

لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا

15. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu bijian-bijian dan tumbuh-tumbuhan,

وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا

16. Dan kebun-kebun yang lebat.

Turunnya hujan dan denyutan bumi menyebabkan terjadinya proses pengadukkan, yang selanjutnya menyebabkan biji-bijian dan tanam-tanaman baru bertumbuhan sehingga kebun-kebun pun tertutup dengan lebatnya tanaman.

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

17. Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan.

Kemudian terjadilah perubahan yang tiba-tiba. Hari Keputusan (atau Hari Pembalasan) adalah hari pemilahan dan pemisahan, hari kejelasan. Saat itu segala sesuatu jelas-jelas dipisahkan secara adil lalu dimasukkan ke tempatnya masing-masing, yang baik dengan yang baik dan yang buruk dengan yang buruk. Pada hari ini tidak akan ada lagi ketidakpastian. Kata yang diterjemahkan di sini sebagai ‘keputusan’ (fashl), berasal dari akar kata kerja fashala yang artinya ‘memisahkan, memencilkan, membuat suatu keputusan tanpa ada keraguan sedikit pun’—tidak ada bidang yang samar-samar (tidak jelas). Fashala juga berarti ‘menyapih’, karena tindakan menyapih itu memisahkan seorang bayi dari sumber makanan pertamanya, yakni ibunya. Kata Arab untuk ‘patokan yang tegas’ (fayshal) berasal dari kata kerja yang sama (yakni fashala), dan juga berarti ‘hakim’ atau ‘pedang pemisah’.

Ayat ini menyiratkan bahwa sekarang ini bukanlah hari kejelasan, tapi lebih merupakan hari kebingungan dimana kita tidak tahu apakah sesuatu itu benar atau salah, atau apakah kita sudah berada dalam keimanan yang benar atau belum. Paling banter, ada semacam kearifan pada hari ini, dan setidaknya ada upaya untuk membedakan dengan mengingat Allah. Tapi pada hari itu, setelah kematian, tidak akan ada kebingungan lagi. Penghuni neraka akan berada di dalam neraka, penghuni surga akan berada di dalam surga, dan segala sesuatu akan nampak jelas dalam pandangan Pencipta Yang Adil.

Waktu yang ditetapkan untuk peristiwa ini sudah pasti. Mîqât berasal dari waqt yang artinya ‘waktu yang sudah ditentukan dan pasti, suatu batas waktu’ atau ’saat pertemuan’. Kita semua akan bertemu pada hari itu yang disebut Hari Pertemuan, saat setiap orang akan dikumpulkan untuk menjalani perhitungan terakhir (dihisab).

يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا

18. Hari ketika sangkakala ditiup kamu akan datang berkelompok-kelompok.

Ini berkenaan dengan Hari ketika malaikat Israfil meniup terompet cahaya untuk mematikan semua cahaya kecuali satu-satunya Cahaya. Pada hari itu tidak ada cara untuk melihat segala sesuatu kecuali melalui Cahaya Allah yang sejati. Ketika suara sangkakala yang kedua diperdengarkan, itulah pertanda Kebangkitan. Yang ada hanyalah Cahaya Sang Pencipta, dan tidak ada yang mengintervensi. Bangsa-bangsa akan muncul dipenuhi dengan suku-suku, keluarga-keluarga dan rumahtangga-rumahtangga. Mereka akan datang secara bergelombang mengikuti irama, dan di dalam kelompok-kelompok ini akan ada jiwa-jiwa yang memimpin mereka, yakni para rasul dan nabi. Alquran mengatakan bahwa satu Hari itu menurut perhitungan Allah sama dengan 50.000 tahun menurut perhitungan manusia. Semakin dekat kepada Allah—Yang Tak Berbatas Waktu—semakin jelas relativitas waktunya. Waktu yang sesaat bagi Allah akan terasa tiada akhir bagi kita.

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا

19. Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,

Kekuatan yang sekarang menyatukan langit-langit tidak akan ada lagi, seolah-olah pintu keluar-masuk ke zona-zona lain telah diciptakan. Ketika penataan ulang ini berlangsung, seluruh energi penciptaan akan lepas melalui pintu-pintu tersebut. Lelangit tidak akan lagi menyatu sebagai sebuah struktur tunggal, tapi akan mengikuti kecenderungan baru, yang merupakan penghancurannya, dan akan kembali ke keadaannya semula, yakni lenyap dalam kekuasaan Sang Pencipta. Selain tujuh lapis langit yang kuat, akan ada beberapa saluran yang melalui saluran tersebut bisa terlihat bahwa secara pelan-pelan segala sesuatu sedang bergerak mundur.

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

20. Dan gunung-gunung akan dijalankan sehingga bagaikan fatamorgana.

Gunung-gunung yang sekarang nampak laksana sosok-sosok yang kokoh, akan lenyap sehingga nampak bagaikan fatamorgana. Terjemahan umum untuk sarâb adalah ‘fatamorgana’. Akar katanya adalah sariba yang berarti ‘lambat laun habis, lenyap di depan mata tanpa ketahuan’. Semakin dekat kita bergerak ke arah fatamorgana, semakin jauh kelihatannya, dan selamanya takkan pernah bisa ditangkap. Ini menunjukkan adanya tingkat kesadaran lain di mana zat dan energi akan saling bertukar dan saling memberi. Gunung-gunung tidak akan menjadi fatamorgana, tapi mereka akan berubah bentuk dengan cara yang tidak bisa dipahami (rahasia), yakni mereka akan lebur kembali menjadi wujud yang tak kentara, kembali menjadi bentuk energi yang semakin halus, kembali ke ketiadaan yang merupakan asalnya.

Runtuhnya penciptaan merupakan pembalikan transformatif dari proses penciptaan. Berawal dari ketiadaan kemudian muncullah bentuk-bentuk zat yang paling halus (berupa gas), yang kemudian memadat dan menjadi cair. Setelah mendingin dan mengeras, siklus air pun mulai. Kemudian muncullah tanam-tanaman dan terjadi siklus penciptaan yang konstan, yang dapat kita saksikan selama tempo hidup kita yang singkat ini. Namun kemudian proses tersebut akan berbalik di mana setahap demi setahap penciptaan kembali ke asalnya.

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا

21. Sesungguhnya neraka jahanam bersembunyi mengintai.

Jahannam (neraka) adalah salah satu nama yang digunakan dalam Alquran sebagai lawan dari jannah (surga). Kata ini dihubungkan dengan akar kata jabuma (bermuka masam) dan jahm (suram, muram, merengut, murung). Kata benda yang sekaitan adalah jahnîm, artinya ‘lubang yang tak berujung (berdasar)’ dan di tempat seperti itu tidak ada kestabilan maupun kedamaian. Sifat dasar manusia adalah mencari keamanan dan juga kepastian. Sementara, ketidakpastian terburuk yang dapat dialami semua orang adalah dijebloskan ke dalam lubang yang tak berujung itu dan menggelepar-gelepar di sana tanpa daya selamanya.

Maksud dari sesuatu yang ‘bersembunyi mengintai’ itu menunjukkan adanya proses penyergapan (mirshâd). Mirshâd berasal dari rashada, artinya ‘mengawasi sesuatu dengan sungguh-sungguh’, laksana seekor kucing yang sedang mengawasi seekor tikus di lubang tikus. Dalam bahasa Arab modern, mirshâd berarti ‘teleskop’. Dengan menggunakan sebuah teleskop kita dapat mengamati bintang dalam jangkauan ruang penglihatan kita. Jadi lubang tak berujung ini, yang menimbulkan kesulitan tiada akhir kepada kita, sebenarnya sedang mengintai kita, mengamati lansekap untuk menangkap orang-orang yang termasuk dalam ‘ruang penglihatan’-nya.

لِلْطَّاغِينَ مَآبًا

22. Tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.

Setiap sistem mempunyai batas, dan kalau kita berjalan melampaui batas-batas tersebut berarti kita melanggar. Itulah yang dimaksud dengan thaghâ. Jika di dalam sistem tersebut kita melampaui batas-batasnya maka kita akan hancur sehancur-hancurnya. Jahanam—ketakbertepian yang abadi dan terakhir—adalah tempat kembali bagi orang-orang yang melanggar (al-tâghîn). Berarti, mereka yang melampaui batas dalam kehidupan ini sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal terakhir itu. Dengan melakukan segala perbuatan dan niat yang salah mereka sudah sedang bergerak ke dalam medan api (penderitaan) dan kekacauan.

Alquran mengartikan api terakhir sebagai nâr al-kubrâ (api besar, api abadi). Kalau api besar itu adalah api terakhir, maka berarti nâr al-shughrâ (api kecil) sudah dapat dirasakan di sini dan saat ini juga. Api kecil adalah sesuatu yang kita rasakan dalam kehidupan ini yang disebabkan oleh kejahilan dan kezaliman kita. Banyak ayat lain dalam Alquran yang menyatakan bahwa barangsiapa melampaui batas maka ia sudah berada dalam jahanam kecil di alam kehidupan ini. Mungkin saja ia tidak menyadarinya, tapi yang jelas ia mengisi jahanam kecil itu dengan bahan bakar berupa kemarahan, ketidakteguhan dan kebenciannya. Andaikan ia mau secara serius merenungkan keadaannya, maka ia akan mengetahui apakah dirinya sedang bergerak memasuki taman ataukah api. Ayat ini menyebutkan ‘tempat kembali’, seakan-akan para pelanggar berlindung di dalamnya (di tempat kembali itu). Hal yang sama terjadi pada penghuni taman (surga). Alquran memberitahukan bahwa ketika mereka mendapati dirinya berada di dalam taman pada kehidupan mendatang, mereka akan berkata, ‘kami selalu ingat tempat ini!’ Ini berarti mereka pernah mengalami berbagai aspek suasana taman dalam kehidupan ini.

Kita mempersiapkan suasana atau kondisi yang akan meliputi kita di alam kesadaran mendatang. Pada saat mati, kita akan memasuki dan menjalani keadaan terakhir yang tak dapat diubah, dan keadaan tersebut diciptakan oleh segala niat dan perbuatan kita sewaktu hidup. Karena itu, kehidupan mendatang merupakan hasil yang kita peroleh, dan merupakan rangkaian kesatuan dari keadaan terakhir kita dalam kehidupan ini.

لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا

23. Tinggal di dalamnya selama-lamanya.

لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا

24. Mereka tidak merasakan kesejukan dan minuman di dalamnya,

إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

25. Selain air yang mendidih dan dingin yang melumpuhkan,

Orang-orang yang niat dan perbuatannya tidak padu, dan menjalani kehidupannya dengan keterputusan dan amburadul, akhirnya akan memasuki pergolakan yang sangat dahsyat, yakni suatu kondisi yang tidak mendatangkan kedamaian maupun keterpusatan. Mereka akan tetap berada dalam jahanam selama berabad-abad, karena alam kesadaran berikutnya berada dalam zona abadi yang berlangsung selama-lamanya.

Di dalam neraka terjadi pergolakan yang mahadahsyat, di sana tidak ada kehidupan maupun kematian. Neraka adalah lawan dari cinta dan keterjalinan, kesatuan dan kepastian, yang tertanam dalam jiwa manusia. Jika roh menjalani kehidupan yang kacau, maka wajar kalau ia akan menuju tempat tinggal yang keadaan di dalamnya benar-benar mengerikan. Begitu pula, roh yang hidup dalam keharmonisan maka wajar kalau ia memasuki taman surga. Kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang tidaklah terputus, tapi membentuk suatu rangkaian kesatuan. Yang membedakan hanyalah tingkat kesadaran dan kejelasan serta kesejatian pengalaman. Hal ini dapat diilustrasikan dengan rasa takut orang yang terjaga dari mimpi buruk yang mengerikan, atau, rasa senang dan puas orang yang terjaga dari mimpi indah.

جَزَاءً وِفَاقًا

26. Pembalasan yang setimpal.

Ayat ini menyatakan hasil atau ganjaran yang pantas untuk kehidupan yang tertutup dan ingkar. Jazâ artinya ‘ganjaran atau balasan’. Hasil akhir ini benar-benar sesuai dengan semua yang terjadi sebelumnya. Penciptaan dan perintah Allah benar-benar selaras.

إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا

27. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada perhitungan,

Mereka, secara individu atau kolektif sebagai bangsa-bangsa, tidak mengharapkan adanya perhitungan (hisâb) terakhir ataupun reaksi terhadap segala perbuatan mereka. Mereka pun tidak menyangka bahwa akhimya akan menjumpai bayangan dari apa yang telah mereka sendiri ciptakan melalui perbuatan dan pemikiran mereka.

وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا

28. Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pengingkaran yang keras.

Kadzaba artinya ‘berbohong, menipu, atau memperdayakan’. Ini berarti mereka telah mengingkari kebenaran yang temkir dalam diri mereka, kebenaran bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa, bahwa tujuan dari penciptaan adalah tauhid (keesaan), dan bahwa para nabi dan rasul yang membawa kebenaran ini menunjukkan jalan menuju kehidupan yang selaras dengan pola penciptaan yang teradu. Dengan mengingkari ini, berarti mereka telah menipu diri mereka sendiri.

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا

29. Dan Kami telah mencatat segala sesuatu dalam sebuah Kitab.

Segala sesuatu dalam kehidupan ini dihimpun di dalam sebuah Kitab tunggal. Segala sesuatu adalah Kitab, dan Kitab itu mengandung segala sesuatu. Segala sesuatu yang ada adalah saling berhubungan dan pada akhirnya berakhir pada satu tempat, tidak ada yang terpisah. Yang mengingkari kebenaran ini berarti telah melanggar dirinya sendiri, dan pelanggaran ini pun tertulis dalam Kitab tersebut. Segala sesuatu telah diperhitungkan dan tercakup dalam Kitab tentang kesejatian ini, Kitab tentang manifestasi, Kitab yang komprehensif tentang qadhâ wa qadar (takdir keputusan Tuhan). Alquran adalah manifestasi yang jelas dari Kitab tersebut.

فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا

30. Maka rasakanlah! Karena Kami tidak akan menambah apa pun kepadamu selain azab.

‘Maka rasakanlah!’ artinya ‘Sambungkanlah!’ dalam arti pengalaman yang utuh. Kita akan merasakan dan mengetahui sepenuhnya tentang niat kita. Maka, barangsiapa menolak ia akan tertolak. Jika ia menyangkal bahwa hanya ada satu keesaan, bahwa ia menjadi ada karena kerahiman dari keesaan itu, bahwa melalui keesaan ia dipelihara, maka ia akan kembali kepada keesaan tersebut dalam keadaan terpisah dan terserak. Jika ia mengingkari fakta adanya para nabi dan rasul yang mempertegas kebenaran [keesaan] ini dan meninggalkan pesan dalam bentuk Kitab, maka ia telah terpedaya. Akibatnya, yang akan dialaminya di kehidupan akhirat kelak hanyalah keadaan yang penuh pertentangan dan kekacauan. Sekarang ia buta dan tidak mau menyadari kebutaannya, dan di alam kesadaran mendatang ia akan tetap dalam kebutaan semata.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا

31. Sesungguhnya, orang-orang yang bertakwa akan memperoleh keberhasilan,

Kaum muttaqîn senantiasa menjaga diri, dan sepenuhnya mengetahui batas-batas yang ditetapkan. Mereka menjalani kehidupan ini seolah-olah sedang berjalan lurus sepanjang tepi jurang yang terjal. Kehati-hatian dan kesadarannya yang tinggi (taqwa) mencegah mereka dari melampaui batas sehingga tidak mencelakakan diri mereka sendiri. Kualitas kehati-hatian ini didorong oleh keyakinan yang didasarkan pada pengetahuan, iman.

حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا

32. Disertai taman-taman dan kebun anggur,

وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا

33. Dan teman yang muda-muda dan sebaya umurnya,

Surah ini turun sesuai dengan tingkat pemahaman, tuntutan manusiawi, dan berbagai pengharapan kita di dunia ini. Segala keinginan kita disimbolkan dengan suasana yang sangat menyenangkan dari sebuah taman subur yang penuh dengan bebuahan bergizi dan teman yang saling mengisi, yang usianya sebaya dan menyenangkan. Kawâ’iba atrâbâ artinya ‘gadis-gadis muda’ atau ‘teman sebaya’, yang memiliki pemahaman yang cocok.

وَكَأْسًا دِهَاقًا

34. Dan gelas yang penuh.

Penuh dan tidak pernah berkurang sedikit pun. Gelas-gelas mereka selalu penuh, sehingga tidak ada tuntutan dan keinginan. Segala hasrat dan harapan telah dinetralisir sepenuhnya.

لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا

35. Di sana mereka tidak akan mendengar percakapan yang sia-sia dan dusta,

Laghw artinya ‘percakapan yang sia-sia, omong kosong’, atau ‘tidak berguna’. Akar kata kerjanya adalah laghâ yang berarti ‘berbicara omong kosong’, dan dari kata itu muncul lughah yang artinya ‘bahasa’. Bicara akan menepis kesunyian. Dengan kemencolokannya, energi komunikasi bahasa (berbicara) mampu menyisihkan keadaan sebelumnya, yakni, damainya suasana sunyi. Kondisi yang digambarkan di sini adalah suasana taman yang sangat luhur, kesadaran terhadap kedamaian yang paling agung dan sentosa yang tidak akan terganggu ataupun berakhir.

جَزَاءً مِّن رَّبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا

36. Ganjaran dari Tuhanmu dan badiah yang sesuai dengan perhitungan.

Inilah ganjaran dan hasil yang setimpal. Rabb artinya ‘Tuhan’, Asma Allah yang menyebabkan pengetahuan kita berkembang mencapai potensi penuhnya dan menyadarkan kita bahwa dalam kehidupan ini kita akan diganjar sesuai dengan perbuatan dan niat kita, dan dalam kehidupan mendatang kita juga akan diciptakan kembali sesuai dengan perbuatan dan niat kita. Proses aksi dan reaksi ini berlangsung dalam keseimbangan yang sempurna, dan terjadi dengan ukuran yang tepat. Keseimbangan ini begitu njlimet sehingga mencakup makna maupun bentuk. Misalnya, perbuatan lahiriah di dunia ini bisa mendatangkan ganjaran pada tingkat mental dan intelektual, atau niat yang baik bisa mendatangkan ganjaran yang bersifat lahiriah.

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرحْمَنِ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا

37. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pemurah, mereka tak mampu berbicara dengan Dia.

Di sini Allah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan langit dan bumi. Pemelihara lelangit tentu mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi, dan ruang di antara keduanya. Ayat ini menegaskan ruang di antara dua sistem yang berbeda dan menggarisbawahi kenyataan bahwa berbagai subsistem fisik dan energi, yang tunduk pada hukum ukuran dan keterprediksian, dipersatukan oleh aspek realitas lain yang tidak dapat langsung dimengerti oleh kita. Yang memerintah alam duniawi seringkali dapat dilihat dan dapat diukur. Yang memerintah entitas langit juga layak dapat diukur oleh umat manusia karena dua sistem ini tidak terpisah. Negeri yang tak berpenghuni manusia—ruang angkasa—yang sifatnya bisa melepaskan kita ketika kita mengalihkan perhatian dari fisika Newton ke mekanika kuantum, misalnya, berada dalam Ketuhanan yang sama. Setelah mengkaji berbagai sistem, ternyata menurut ilmu fisika, hukum dari satu sistem tidak dapat diterapkan pada semua sistem. Di antara sistem-sistem ini ada ruang antara melalui mana mereka saling berhadapan dan ruang antara tersebut tidak kita mengerti. Setiap modul dapat dimengerti, tapi kesalingberhubungan di antara mereka tidak dapat dimengerti. Fisika Newton dapat dimengerti, tapi hanya sampai batas tertentu. Mekanika kuantum berlaku pada suatu zona di mana fisika Newton tidak dapat dimengerti. Fisika subatomik berbeda dengan fisika Newton maupun mekanika kuantum. Masing-masing ilmu memiliki hukum-hukumnya sendiri. Dalam ruang antara, di antara lelangit dan bumi, ada juga zona-zona yang tidak dapat dikenal, dan semuanya dipelihara oleh Tuhan.

Kata untuk ‘berbicara’ atau ‘berkata’ yang digunakan di sini adalah khithâb yang berasal dari kbathaba, artinya ‘menyampaikan khutbah umum’. Ia juga berarti ‘meminta uluran tangan seorang wanita dalam pemikahan’. Khuthubah artinya ‘pinangan, lamaran’. Semua kata turunan ini menunjukkan komunikasi dan, dengan demikian, hubungan serta penyatuan. Karena itu, pelanggar adalah mereka yang memutuskan hubungan dirinya dengan penguasa realitas fisik dalam kehidupan ini; maka yang dapat Mereka rasakan di kehidupan mendatang hanyalah keterputusan hubungan yang lebih besar lagi.

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْأَذِنَ لَهُ الرحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا

38. Hari ketika roh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf tidak ada yang berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan yang mengucapkan kata-kata yang benar.

Hari Pembalasan—saat segala amal tidak lagi berlaku—merupakan hari diberlakukannya seperangkat hukum baru yang sudah ada sejak awal. Tubuh kita merupakan sebuah sistem kompleks yang di dalamnya terjadi interaksi yang halus di antara berbagai subsistem yang melibatkan energi kimiawi, listrik, magnetis, mekanis dan fisika, juga kekuatan-kekuatan yang lebih halus lagi, dan masing-masing tunduk pada hukumnya sendiri-sendiri. Hukum yang berlaku di dunia akan datang—setelah berakhirnya kehidupan ini—memiliki sifat lain. Sekarang ini kita menjalani segala sesuatu dengan mengikuti arah waktu tertentu; sedangkan, hancurnya penciptaan akan terjadi seakan-akan arah waktu proses penciptaan diputar balik. Tapi yang dapat kita lakukan saat ini hanyalah menganalisis secara cerdas dan teoritis tentang kehancuran itu, karena pemahaman kita tentang itu sangat-sangat terbatas.

Dalam situasi demikian, kita diberitahu bahwa—sebagai individu-individu—kita tidak akan lagi memiliki kemampuan untuk beramal—kita akan bemar-benar sepenuhnya berada di bawah kendali dan kekuasaan dominion baru. Babak akhir dari drama ini akan ditutup, dan tibalah waktunya untuk mengevaluasi penampilan setiap pemain.

Kata yang diterjemahkan di sini sebagai roh, ruh, berasal dari akar kata yang sama dengan râhah. Kata ini juga berkaitan dengan rîh, yang berarti ‘angin’, mirwahah berarti ‘kipas’, dan istirwâh yang berarti ‘pernapasan’.

Roh adalah unsur halus yang ditiupkan ke dalam diri kita dalam bentuk nyawa, begitu kita menyebutnya. Roh keluar atas perintah Sang Pemelihara dan merupakan wujud halus yang menutupi dirinya dengan tubuh, yang memberinya kesadaran dan kesanggupan untuk bertentangan dan melakukan bermacam-macam kemungkinan. Ketika roh lepas, maka mulailah proses kematian di bumi, dengan meninggalkan tubuhnya.

Pada umumnya kita menerima kemampuan kita untuk beramal dan berbicara sebagaimana adanya, tapi pada Hari Kebangkitan tidak akan terjadi campur tangan amal atau pun lisan. Hanya Sang Maha Pengasih dan Mahasempurna yang akan meliputi segala hal. Tidak akan ada lagi peluang bagi siapa pun untuk melakukan perbuatan jahat. Pelanggaran hanya teijadi dalam kehidupan dunia ini, dalam dimensi ini, dan di sepanjang arah waktu. Satu-satunya pilihan kita di sini adalah mengakui kenyataan bahwa kita tidak punya pilihan. Sama sekali tidak ada pilihan. Mengakui tidak ada pilihan adalah suatu kearifan. Seandainya kita mengetahui apa tindakan terbaik yang harus dilakukan dalam setiap situasi baru, maka pertanyaan tentang pilihan tidak akan muncul, karena akan jelas apa yang mesti dilakukan.

ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآبًا

39. Itulah Hari yang pasti terjadi—maka siapa yang menghendaki, hendaklah mencari perlindungan kepada Tuhannya.

Pada hari itu, dalam suasana serba baru, keadilan berjalan sempurna: kepastian bahwa kebenaran (haqq) akan berlaku adalah mutlak. Keadilan sejati juga meliputi eksistensi ini, tapi sebagai makhluk yang terbatas kita sering tidak mengetahuinya karena kita tidak dapat memahami semua hubungan timbal-balik di antara berbagai sistem penciptaan yang sangat banyak sekali. Dari sudut pandang Wujud Mutlak tidak pemah ada sedikit pun ketidakadilan. Allah berkata, ‘Aku menciptakan mereka untuk api neraka dan Aku tidak perduli.’ Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan adil, bil-haqq. Hanya manusialah yang, karena kebodohannya, merusak keseimbangan itu sehingga menciptakan ketidakadilan yang nyata.

Ungkapan ‘Maka siapa yang menghendaki, hendaklah mencari perlindungan kepada Tuhannya’ menunjukkan bahwa Allah sedang berbicara kepada orang-orang yang tidak menyadari kenyataan bahwa mereka dipelihara dan disantuni oleh Tuhan. Oleh karena itu ungkapan tersebut merupakan peringatan yang disampaikan kepada mereka yang sekarang berkeinginan untuk menemukan jalan kembali ke Wujud Tunggal yang telah memberi mereka kebebasan untuk menentang. Allah adalah ‘tempat kembali yang berulang-ulang’. Dia berulang-kali menerima kita kembali, laksana seorang ayah yang penuh kasih dan menyadari bahwa anaknya suka melawan sehingga akan pergi dan pergi lagi. Bilamana sang anak kembali pulang, si ayah menyambutnya, dengan tetap sepenuhnya menyadari bahwa kelak anaknya akan pergi lagi.

Sifat rendah manusia penuh dengan kecemasan yang tidak menyenangkan. Tapi bagi orang yang percaya akan belas kasih Allah yang mutlak dan berserah diri kepada-Nya, maka takkan ada kecemasan lagi karena ia menerirna apa yang terjadi padanya sebagai hal terbaik baginya. Dari penerimaan yang tulus ini muncullah kepastian.

Pada Hari Pengadilan, Hari Keputusan, semua keragu-an yang mengandung pertanyaan akan lenyap. Siapa pun yang ingin kembali ke dalam keesaan, yakni warisan sejati yang terkandung dalam hakikatnya, maka ia harus menemukan jalan. Untuk menemukannya kita harus mengetahui semua hal yang bukan jalan itu. Jalan menuju pengenalan Tuhan adalah melalui pengenalan nafs, yakni, dengan mengetahui nafs yang rendah, nafs binatang, nafs yang kuat, nafs yang ragu, nafs yang bertingkah atau bersemangat, dan mengetahui gangguan yang disebabkan oleh semua aspek diri yang rendah ini. Kalau sudah mengetahui semua ciri ini maka orang yang berakal akan mampu menghindarinya dalam situasi yang akan datang, dan segala aspek diri yang lebih tinggi akan secara spontan menjadi terpelihara dan mulai berkuasa.

Diri yang aman dan senang, nafs tinggi yang disucikan, yang tenteram dan damai dalam genggaman Tuhannya, dengan gembira memperkenankan Tuhan untuk berbuat sekehendak-Nya terhadap sang diri dengari mengikuti rancangan yang sempurna. Karena itu, jalan menuju Tuhan terietak pada pengenalan dan penghindaran semua hal yang akan menyebabkan kita rugi dan kacau. Dengan menghindari perkara yang jelas-jelas salah kita akan secara otomatis bergerak ke arah yang benar.

إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْيَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا

40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu tentang azab yang dekat: Hari ketika manusia akan melihat apa yang telah dilakukannya, dan orang kafir akan berkata: ‘Oh, andaikan dahulu aku adalah debu!

Nabi Muhammad, semoga Allah melimpahkan kedamaian dan rahmat kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya yang benar (sudah biasa, apabila disebut nama Nabi Muhammad kita memohonkan kedamaian dan rahmat Allah untuk beliau, keluarga dan para sahabatnya yang saleh), memperingatkan umat manusia akan batas-batas tempat berakhirnya ketenangan dan berawalnya kerugian. Beliau mewanti-wanti pelanggaran terhadap ketetapan yang sudah disepakati dan menegaskan bahwa ketetapan itu adil; mengingkari dan menolak ketetapan ini berarti membuka diri terhadap penderitaan yang entah apa akibatnya.

Makna yang paling dalam dari ayat ini adalah bahwa kita menimpakan penderitaan atas diri kita sendiri di sini dan saat ini juga, namun kita tidak menyadarinya karena kita senantiasa memberikan pembenaran terhadap diri kita dengan segala macam alasan. Karena manusia memiliki nafs yang meliputi semua hal yang mengandung dan mencerminkan makna Rahmân (Maha Pengasih), dan juga makna syaithdn (setan), maka ia dapat membenarkan setiap tindakan, mulia atau hina, baik atau buruk. Pembenaran, sesungguhnya, mempakan cara untuk menghubungkan satu hal dengan hal lain. la mencerminkan hasrat sejati kita terhadap tauhid yang memang sudah ada menetap dalam diri kita, tapi sebenarnya merupakan aspek pembenaran yang menyimpang. Siapa pun yang menyatukan niat dan perbuatan, maka ia akan berada dalam keadaan beribadah. la bisa berada pada altar Yang Mahatinggi, yang menghasilkan pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha-kuasa, atau pada altar yang rendah, yang menghasilkan khayalan dan keputusasaan.

Sebagian dari kondisi atau suasana Hari Kebangkitan—ketika segala sesuatu disingkapkan—bisa dirasakan sekarang oleh kita jika kita mau dan sanggup menghentikan pikiran dan perbuatan kita dan mengadakan introspeksi yang menyeluruh terhadap diri kita. Jika kita punya keberanian untuk menghadapi segala niat kita dan secara jujur mengakui tingkat kesucian kita, kita akan melihat sekilas apa arti hari pembalasan ini dan kita akan memahami makna dari keseimbangan.

Pada Hari Pengadilan kita akan direkonstruksi ulang sesuai dengan niat dan perbuatan kita di dunia ini. Jika kita ingin mengetahui kondisi hati kita di kehidupan mendatang, maka yang perlu kita lakukan adalah memeriksa kondisi hati kita di kehidupan ini. Jika kondisi hatinya bersih, maka mmah kita di kehidupan mendatang akan dekat dengan Sumber penciptaan yang bersih. Jika tidak, maka tempatnya akan berada pada suatu tempat di sepan-jang spektrum, di ujung yang satu adalah api abadi dan di ujung satunya lagi adalah taman-taman yang paling tinggi. Jika kita secara total menjalani kehidupan sekarang ini, dengan senantiasa menyadari dan memperhatikan diri kita, maka berarti kita sedang menjalani Hari Kebangkitan itu sekarang.

‘Dan orang-orang kafir akan berkata: Oh, andaikan dahulu aku adalah debu!’ Barangsiapa menyangkal masa lalu, terputus hubungannya dengan masa lalu, dan secara tiba-tiba sadar telah menyia-nyiakan waktu dan kehidupannya yang berharga, maka ia akan berharap seandainya dahulu hanya menjadi debu saja, dan terlupakan. Sayangnya untuk manusia semacam itu tidak ada yang terlupakan. Setiap orang, setiap roh, akan benar-benar dihidupkan kembali dan menyadari sepenuhnya akan arti penting dirinya. Dia tidak akan dapat bersembunyi laksana debu yang sirna di padang pasir. Allah mengatakan bahwa bila seseorang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, maka kebaikan itu akan muncul di hadapannya. Tidak akan ada lagi ceruk untuk nafs menyelinap masuk; semua gang akan dibuka. Itulah sebabnya jika seseorang sungguh-sungguh menghadapi dirinya sendiri dalam kehidupan sekarang, maka tindakannya ini menjadi Hari Pengadilan pribadinya. Inilah salah satu makna dari ucapan Nabi, ‘Jika engkau mengenal dirimu, engkau mengenal Tuhanmu’, karena urusan Ketuhanan adalah mengungkapkan segala sesuatu secara terbuka dengan segala cara.

Kita semua mencari keabadian pada segala sesuatu dalam kehidupan ini, dalam hubungan dan pengetahuan, dan itulah sebabnya kita membedakan antara pengetahuan yang benar dengan sekadar informasi. Informasi bisa berubah, seperti ketika obat-obat baru dikembangkan untuk mengobati penyakit tertentu. Namun pengetahuan yang benar tidak berubah. Ia bersifat mutlak, dan karena alasan inilah maka kita semua mencarinya. Pengetahuan yang mutlak adalah berita ini, al-naba`. Apa yang mereka tanyakan? Berita apa yang mereka inginkan? Informasi atau berita lebih tinggi apa lagi yang mereka harapkan selain dari berita kebenaran yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah Allah, dan dengan inayah-Nya kita telah diciptakan. Bila kita berserah diri kepada Allah dan mengikuti para rasul Allah, kita akan memasuki alam pengetahuan mutlak yang dicari ini.[]

Tujuan Pendidikan Islam

•Juni 14, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

DEFINISI PENDIDIKAN

1.1.Definisi Pendidikan Secara Umum

Definisi pendidikan menurut para ahli, diantaranya adalah :

Ø Menurut Juhn Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

(A. Yunus, 1999 : 7)

Ø Menurut H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

(A. Yunus, 1999 : 7)

Ø Menurut Frederick J. Mc Donald, pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang.

(A. Yunus, 1999 : 7-8)

Ø Menurut M.J. Langeveld, pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.

(A. Yunus, 1999 : 8)

1.2.Definisi Pendidikan Menurut Islam

Ø Pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori.

(Nur Uhbiyati, 1998)

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist).

Ø Ruang Lingkup Pendidikan Islam

1. Pendidikan Keimanan

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S 31:13)

Bagaimana cara mengenalkan Allah SWT dalam kehidupan anak?

  • Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis (bukan memanjakan)
    Jalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif.
    Hadits Rasulullah : “cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)
    Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.”    (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir)
  • Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin

Seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik seperti beli roti.

  • Memanfaatkan momen religious

Seperti Sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, buka shaum bareng.

  • Memberi kesan positif tentang Allah dan kenalkan sifat-sifat baik Allah
    Jangan mengatakan “ nanti Allah marah kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
  • Beri teladan

Anak akan bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model atau contoh bagi kehidupannya.

hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S 61:2-3)

  • Kreatif dan terus belajar

Sejalan dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak.

2. Pendidikan Akhlak

Hadits dari Ibnu Abas Rasulullah bersabda:

“… Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.”

Rasulullah saw bersabda:

Suruhlah anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Bagaimana cara megenalkan akhlak kepada anak :

  • Penuhilah kebutuhan emosinya

Dengan mengungkapkan emosi lewat cara yang baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar, tidak santun dan tidak bijak. Berikan kasih saying sepenuhnya, agar anak merasakan bahwa ia mendapatkan dukungan.

Hadits Rasulullah : “ Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka …:” (H.R Bukhari)

  • Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil

Dan janganlah kamu campur adukan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui .”(Q.S 2:42)

Seperti bahwa berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah kepada fakir miskin itu baik.

  • Memenuhi janji

Hadits Rasulullah :”…. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu. Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah yang memberi rizki kepada mereka.” (H.R Bukhari)

  • Meminta maaf jika melakukan kesalahan
  • Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan bantuan.
  • Mengajak anak mengunjungi kerabat

3. Pendidikan intelektual

Menurut kamus Psikologi istilah intelektual berasal dari kata intelek yaitu proses kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan mempertimbangkan.

Pendidikan intelektual ini disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak. Menurut Piaget seorang Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga dengan Teori Perkembangan Kognitif mengatakan ada 4 periode dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu:

Periode 1, 0 tahun – 2 tahun (sensori motorik)

  • Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap, menggenggam dan memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya dibacakan ayat-ayat suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca bismillah.

Periode 2, 2 tahun – 7 tahun (berpikir Pra Operasional)

  • Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan symbol dan khayalan mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis.

Seperti contoh nabi Ibrahim mencari Robbnya.

Periode 3, 7 tahun- 11 tahun (Berpikir Kongkrit Operasional)

  • Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik

Contoh : Angin tidak terlihat tetapi dapat dirasakan begitu juga dengan Allah SWT tidak dapat dilihat tetapi ada ciptaannya.

Periode 4, 11 tahun- Dewasa (Formal Operasional)

  • Kapasitas berpikirnya sudah sistematis dalam bentuk abstrak dan konsep

4. Pendidikan fisik

  • Dengan memenuhi kebutuhan makanan yang seimbang, memberi waktu tidur dan aktivitas yang cukup agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu melakukan aktivitas seperti yang disunahkan Rasulullah

“ Ajarilah anak-anakmu memanah, berenang dan menunggang kuda.” (HR. Thabrani)

5. Pendidikan Psikis

“Dan janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. 3:139)

  • Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih saying, pengertian, berperilaku santun dan bijak.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri
  • Memberikan semangat tidak melemahkan

1.3.Definisi Pendidikan Menurut Perspektif Nasional

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya pedagogis untuk menstranfer sejumlah nilai yang dianut oleh masyarakat suatu bangsa kepada sejumlah subjek didik melalui proses pembelajaran. Sistem nilai tersebut tertuang dalam sistem pendidikan yang dirumuskan dalam dasar-dasar pandangan hidup bangsa itu. Rumusan pandangan hidup tersebut kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan itu pandangan filosofis suatu bangsa di antaranya tercermin dalam sistem pendidikan yang dijalankan.

Bagi bangsa Indonesia, pandangan filosofis mengenai pendidikan dapat dilihat pada tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 paragraf keempat. Secara umum tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian secara terperinci dipertegas lagi dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

BAB II

TUJUAN PENDIDIKAN

2.1. Tujuan Pendidikan Pancasila

Rumusan formal konstitusional dalam UUD 1945 maupun dalam GBHN dan Undang-Undang Kependidikan lainnya yang berlaku adalah tujuan normative GBHN 1983 merumuskan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut :

“Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan tarhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan , mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa

(A. Yunus, 1998 : 165)

2.2. Tujuan Umum Pendidikan Manusia

a. Hakikat manusia menurut Islam

Manusia adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikembangkan didunia barat, dikatakan bahwa perkembangannya seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme) sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya (empirisme), sebagai sintesisnya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvergensi)

Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :

“Carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu tidak boleh melupakan urusan dunia “

b. Manusia Dalam Pandangan Islam

Manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani yang tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani tatkala manusia masih hidup didunia.

Manusia mempunyai aspek akal. Kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan kepada akal tidak hanya satu macam. Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan :

1. Kata Nazara, dalam surat al Ghasiyyah ayat 17 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”

2. Kata Tadabbara, dalam surat Muhammad ayat 24 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”

3. Kata Tafakkara, dalam surat an Nahl ayat 68 :

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia”.

4. Kata Faqiha, dalam surat at Taubah 122 :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

5. Kata Tadzakkara, dalam surat an Nahl ayat 17 :

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.

6. Kata Fahima, dalam surat al Anbiya ayat 78 :

“Dan ingatlah kisah daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu”.

7. Kata ‘Aqala, dalam surat al Anfaal ayat 22 :

“Sesungguhnya binatang(makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa-pun.

Manusia mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29 :

“Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kedalamnya roh-Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya”.

3. Manusia Sempurna Menurut Islam

- Jasmani Yang sehat Serta Kuat dan Berketerampilan

Islam menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman). Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam.

Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang sempurna, yaitu menguasai salah satu ketrampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.

Para pendidik Muslim sejak zaman permulaan – perkembangan Islam telah mengetahui betapa pentingnya pendidikan keterampilan berupa pengetahuan praktis dan latihan kejuruan. Mereka menganggapnya fardhu kifayah, sebagaimana diterangkan dalam surat Hud ayat 37 :

“Dan buatlah bahtera itu dibawah pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan jangan kau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu karena meeka itu akan ditenggelamkan”.

- Cerdas Serta Pandai

Islam menginginkan pemeluknya cerdas serta pandai yang ditandai oleh adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai di tandai oleh banyak memiliki pengetahuan dan informasi. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui indikator-indikator sebagai berikut :

a) Memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi.

b) Mampu memahami dan menghasilkan filsafat.

c) Rohani yang berkualitas tinggi.

Kekuatan rohani (tegasnya kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Karena kekuatan jasmani terbatas pada objek-objek berwujud materi yang dapat ditangkap oleh indera.

Islam sangat mengistemewakan aspek kalbu. Kalbu dapat menembus alam ghaib, bahkan menembus Tuhan. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara sungguh-sungguh. Bahkan iman itu, menurut al Qur’an tempatnya didalam kalbu.

2.3. Tujuan Pendidikan Islam (Khusus)

Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :

“ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jalal menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.

Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah.

Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :

1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.

3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

Menurut al abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi

1. Pembinaan akhlak.

2. menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat.

3. Penguasaan ilmu.

4. Keterampilan bekerja dalam masyrakat.

Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat diperinci menjadi :

1. Tujuan keagamaan.

2. Tujuan pengembangan akal dan akhlak.

3. Tujuan pengajaran kebudayaan.

4. Tujuan pembicaraan kepribadian.

Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :

1. Bahagia di dunia dan akhirat.

2. menghambakan diri kepada Allah.

3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat islam.

4. Akhlak mulia.

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa tujuan pendidikan islam pada intinya adalah :

terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

Wallahu A’lam Bish-shawab

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001

Nur Uhbiyati., Ilmu Pendidikan Islam., CV. Pustaka Setia., Bandung, 1998

Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.

Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000

Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.

Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.

Tilaar, Prof. Dr., 2004, Manajemen Pendidikan Nasional, PT. Remaja Rosdakarya., Bandung

H. A. Yunus, Drs., S.H., MBA. Filsafat Pendidikan, CV. Citra Sarana Grafika. Bandung. 1999.

KEUNGGULAN SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM DENGAN SISTEM DEMOKRASI

•Juni 7, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

SISTEM pemerintahan (politik) Islam sangat jauh berbeda dengan sistem politik, ideologi-ideologi dan isme-isme akal manusia. Islam memiliki tafsiran dan bentuk yang khusus dan istimewa tentang pemerintahan. Tafsirannya jauh lebih bijaksana dan adil daripada ajaran-ajaran lainnya. Hal ini mungkin tidak jelas kalau kita bandingkan dengan pemerintahan umat Islam yang ada di dunia hari ini. Sebab bagi saya negara-negara umat Islam hari ini tidak menjalankan Islam yang syumul (menyeluruh). Mereka tidak mengikuti jejak sejarah kegemilangan Islam di zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin serta Salafussoleh.

Sistem pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang menggunakan Al Quran dan Sunnah sebagai rujukan dalam semua aspek hidup, seperti dasar undang-undang, mahkamah perundangan, pendidikan, dakwah dan perhubungan, kebajikan, ekonomi, sosial, kebudayaan dan penulisan, kesehatan, pertanian, sain dan teknologi, penerangan dan peternakan. Dasar negaranya adalah Al Quran dan Sunnah. Para pemimpin dan pegawai-pegawai pemerintahannya adalah orang-orang baik, bertanggung jawab, jujur, amanah, adil, faham Islam, berakhlak mulia dan bertakwa. Dasar pelajaran dan pendidikannya ialah dasar pendidikan Rasulullah, yang dapat melahirkan orang dunia dan orang Akhirat, berwatak abid dan singa, bertugas sebagai hamba dan khalifah ALLAH. Dasar ini terdapat dalam buku saya, PENDIDIKAN RASULULLAH.

Sistem ekonominya bersih dan adil. Suci dari riba, monopoli, penindasan, penipuan dan hal haram lainnya. Pembagiannya adil menurut keperluan untuk kemudahan, kewajiban, kedudukan dan bidang seseorang. Sistem sosialnya bersih dari kemungkaran dan maksiat terang-terangan. Setiap orang dihormati hak asasinya serta diberi peluang untuk melaksanakan hak-hak asasi masing-masing sesuai dengan bakat dan kebolehannya. Sistem ketentaraan berjalan atas disiplin Islam. Kebudayaan dan adat-istiadat dibenarkan berbagai asalkan semuanya tidak bertentangan dengan Islam.

Perlantikan presiden ada caranya tersendiri, cara yang adil dan tepat. Berbeda dengan cara demokrasi dan revolusi serta cara diktator. Sistem syura juga tersendiri, unik dan harmoni. Segalanya jauh berbeda dengan apa yang terjadi dalam syura sekuler.

Demikianlah seterusnya dalam mengelola hal-hal pengobatan, rumah tangga, alat-alat perhubungan, media cetak dan elektronik, jalan raya, pertanian dan segala-galanya adalah mengikuti cara hidup Islam. Politik atau pemerintahan Islam sebenarnya bukan saja karena orang-orangnya adalah Islam. Tetapi yang lebih utama dari itu adalah pengisiannya dengan program-program yang bersifat Islam. Tanpa ciri-ciri ini, syariat ALLAH tidak akan muncul di atas muka bumiNya walaupun nama dan slogan pemerintahan Islam diserukan.

Akan tetapim tidak bias dipungkiri juga bahwa kita saat ini hidup di Negara yang berasaskan Pancasila dan juga menganut system pemerintahan Demokrasi. Maka dari itu penulis ingin menjadi penengah antara sistem pemerintahan islam dengan system pemerintahan demokrasi. Dengan cara membmbahas tentang keunggulan masing-masing dari system pemerintahan tersebut. Mudah-mudahan dengan ini kita bias lebih bijaksana dalam mensikapi pemerintah kita.

Dengan dorongan tersebut, maka penulis terdorong untuk menyusun makalah yang berjudul : “Keunggulan Sistem Politik Islam dan Sistem Politik Demokrasi”

2.2. Perumusan Masalah

Dengan melihat tujuan penulis tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas beberapa masalah, yaitu :

1. Apa definisi system pemerintahan ?

2. Apa sajakah macam-macam system pemerintahan ?

3. Apa keunggulan Sistem Pemerintahan Islam ?

4. Apa keunggulan Sistem Pemerintahan Demokrasi ?

2.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulis ialah :

1. Untuk mengetahui definisi system pemerintahan

2. Untuk mengetahui macam-macam system pemerintahan

3. Untuk mengetahui system pemerintahan islam

4. Untuk mengetahui keunggulan system pemerintahan demokrasi

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1. Pengertian Negara

Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut.

Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang berbeda dengan bentuk organisasi lain terutama karena hak negara untuk mencabut nyawa seseorang. Untuk dapat menjadi suatu negara maka harus ada rakyat, yaitu sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.

2.1.1. Keberadaan Negara

Keberadaan negara, seperti organisasi secara umum, adalah untuk memudahkan anggotanya (rakyat) mencapai tujuan bersama atau cita-citanya. Keinginan bersama ini dirumuskan dalam suatu dokumen yang disebut sebagai Konstitusi, termasuk didalamnya nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh rakyat sebagai anggota negara. Sebagai dokumen yang mencantumkan cita-cita bersama, maksud didirikannya negara Konstitusi merupakan dokumen hukum tertinggi pada suatu negara. Karenanya dia juga mengatur bagaimana negara dikelola. Konstitusi di Indonesia disebut sebagai Undang-Undang Dasar.

Dalam bentuk modern negara terkait erat dengan keinginan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan cara-cara yang demokratis. Bentuk paling kongkrit pertemuan negara dengan rakyat adalah pelayanan publik, yakni pelayanan yang diberikan negara pada rakyat. Terutama sesungguhnya adalah bagaimana negara memberi pelayanan kepada rakyat secara keseluruhan, fungsi pelayanan paling dasar adalah pemberian rasa aman. Negara menjalankan fungsi pelayanan keamanan bagi seluruh rakyat bila semua rakyat merasa bahwa tidak ada ancaman dalam kehidupannya. Dalam perkembangannya banyak negara memiliki kerajang layanan yang berbeda bagi warganya.

Berbagai keputusan harus dilakukan untuk mengikat seluruh warga negara, atau hukum, baik yang merupakan penjabaran atas hal-hal yang tidak jelas dalam Konstitusi maupun untuk menyesuaikan terhadap perkembangan jaman atau keinginan masyarakat, semua kebijakan ini tercantum dalam suatu Undang-Undang. Pengambilan keputusan dalam proses pembentukan Undang-Undang haruslah dilakukan secara demokratis, yakni menghormati hak tiap orang untuk terlibat dalam pembuatan keputusan yang akan mengikat mereka itu. Seperti juga dalam organisasi biasa, akan ada orang yang mengurusi kepentingan rakyat banyak. Dalam suatu negara modern, orang-orang yang mengurusi kehidupan rakyat banyak ini dipilih secara demokratis pula.

2.1.2. Definisi Negara oleh Para Ahli

  • Georg Jellinek
    Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu.
  • Georg Wilhelm Friedrich Hegel
    Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal
  • Roelof Krannenburg
    Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri.
  • Roger F. Soltau
    Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.
  • Prof. R. Djokosoetono
    Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.
  • Prof. Mr. Soenarko
    Negara ialah organisasi manyarakat yang mempunyai daerah tertentu, dimana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai sebuah kedaulatan.

2.2. Definisi Islam

Islam (bahasa Arab, al-islām, الإسلام “berserah diri kepada Tuhan“) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama ini termasuk agama samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim, adapun lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

2.3. Definisi Sistem Pemerintahan

· Definisi Sistem Pemerintahan Secara Luas

Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat ,menjaga tingkah laku kaum mayoritas maupun minoritas , menjaga fondasi pemerintahan , menjaga kekuatan politik , pertahanan , ekonomi , keamanan sehingga menjadi sistem pemerintihan yang kontiny,Quo dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam pembangunan sistem pemerintahan tersebut.Hingga saat ini hanya sedikit negara yang bisa mempraktekkan sistem pemerintahan itu.

· Definisi Sistem Pemerintahan Secara Sempit

Secara sempit,Sistem pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan roda pemerintahan guna menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan mencegah adanya perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri

2.3.1. Jenis-jenis Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan dalam inggris (system of governmential) adalah sistem yang dimiliki suatu negara pada umumnya.Setiap negara mempunyai sistem pemerintahannya sendiri-sendiri seperti sesuai dengan situasi dan kondisi suatu negara itu.

  1. Presidensial
  2. Parlementer
  3. Komunis
  4. Demokrasi liberal
  5. liberal
  6. kapital

Sistem pemerintahan mempunyai sistem dan tujuan untuk menjaga suatu kestabilan negara itu.Namun di beberapa negara sering terjadi tindakan separatisme karena sistem pemerintahan yang dianggap memberatkan rakyat ataupun merugikan rakyat.Sistem pemerintahan mempunyai fondasi yang kuat dimana tidak bisa diubah dan menjadi statis.Jika suatu pemerintahan mempunya sistem pemerintahan yang statis,absolut maka hal itu akan berlangsung selama-lamanya hingga adanya desakan kaum minoritas untuk memprotes hal tersebut.

  1. PRESIDENSIAL

Sistem presidensiil (presidensial), atau disebut juga dengan sistem kongresional, merupakan sistem pemerintahan negara republik di mana kekuasan eksekutif dipilih melalui pemilu dan terpisah dengan kekuasan legislatif.

Menurut Rod Hague, pemerintahan presidensiil terdiri dari 3 unsur yaitu:

  • Presiden yang dipilih rakyat memimpin pemerintahan dan mengangkat pejabat-pejabat pemerintahan yang terkait.
  • Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa jabatan yang tetap, tidak bisa saling menjatuhkan.
  • Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan eksekutif dan badan legislatif.

Dalam sistem presidensiil, presiden memiliki posisi yang relatif kuat dan tidak dapat dijatuhkan karena rendah subjektif seperti rendahnya dukungan politik. Namun masih ada mekanisme untuk mengontrol presiden. Jika presiden melakukan pelanggaran konstitusi, pengkhianatan terhadap negara, dan terlibat masalah kriminal, , posisi presiden bisa dijatuhkan. Bila ia diberhentikan karena pelanggaran-pelanggaran tertentu, biasanya seorang wakil presiden akan menggantikan posisinya.

Model ini dianut oleh Amerika Serikat, Filipina, Indonesia dan sebagian besar negara-negara Amerika Latin dan Amerika Tengah.

Ciri-ciri

Ciri-ciri pemerintahan presidensiil yaitu:

  • Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.
  • Kekuasan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat dan dipilih langsung oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.
  • Presiden memiliki hak prerogratif (hak istimewa) untuk mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan non-departemen.
  • Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasan eksekutif presiden bukan kepada kekuasaan legislatif.
  • Presiden tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif.

2. PERLEMENTER

Sistem parlementer adalah sebuah sistem pemerintahan di mana parlemen memiliki peranan penting dalam pemerintahan. Dalam hal ini parlemen memiliki wewenang dalam mengangkat perdana menteri dan parlemen pun dapat menjatuhkan pemerintahan, yaitu dengan cara mengeluarkan semacam mosi tidak percaya. Berbeda dengan sistem presidensiil, di mana sistem parlemen dapat memiliki seorang presiden dan seorang perdana menteri, yang berwenang terhadap jalannya pemerintahan. Dalam presidensiil, presiden berwenang terhadap jalannya pemerintahan, namun dalam sistem parlementer presiden hanya menjadi simbol kepala negara saja.

Sistem parlementer dibedakan oleh cabang eksekutif pemerintah tergantung dari dukungan secara langsung atau tidak langsung cabang legislatif, atau parlemen, sering dikemukakan melalui sebuah veto keyakinan. Oleh karena itu, tidak ada pemisahan kekuasaan yang jelas antara cabang eksekutif dan cabang legislatif, menuju kritikan dari beberapa yang merasa kurangnya pemeriksaan dan keseimbangan yang ditemukan dalam sebuah republik kepresidenan.

Sistem parlemen dipuji, dibanding dengan sistem presidensiil, karena kefleksibilitasannya dan tanggapannya kepada publik. Kekurangannya adalah dia sering mengarah ke pemerintahan yang kurang stabil, seperti dalam Republik Weimar Jerman dan Republik Keempat Perancis. Sistem parlemen biasanya memiliki pembedaan yang jelas antara kepala pemerintahan dan kepala negara, dengan kepala pemerintahan adalah perdana menteri, dan kepala negara ditunjuk sebagai dengan kekuasaan sedikit atau seremonial. Namun beberapa sistem parlemen juga memiliki seorang presiden terpilih dengan banyak kuasa sebagai kepala negara, memberikan keseimbangan dalam sistem ini.

3. KOMUNIS

Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.

Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi “tumpul” dan tidak lagi diminati.

Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.

Secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama adalah racun yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata.

4. DEMOKRASI LIBERAL

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.

Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).

Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana).

5. LIBERAL

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.[1]

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan Oxford Manifesto dari Liberal International: “Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan kaum minoritas.”</ref>.

7. KAPITAL

Kapitalisme tidak memiliki suatu definisi universal yang bisa diterima secara luas, namun secara umum merujuk pada satu atau beberapa hal berikut:

  • sebuah sistem yang mulai terinstitusi di Eropa pada masa abad ke-16 hingga abad ke-19 – yaitu di masa perkembangan perbankan komersial Eropa, di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal seperti tanah dan tenaga manusia, pada sebuah pasar bebas di mana harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran, demi menghasilkan keuntungan di mana statusnya dilindungi oleh negara melalui hak pemilikan serta tunduk kepada hukum negara atau kepada pihak yang sudah terikat kontrak yang telah disusun secara jelas kewajibannya baik eksplisit maupun implisit serta tidak semata-mata tergantung pada kewajiban dan perlindungan yang diberikan oleh kepenguasaan feodal.
  • suatu keyakinan mengenai keuntungan dari menjalankan hal-hal semacam itu.


Pengertian Lain dari Kapitalisme

Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa.

ciri-ciri Kapitalisme:

1.Sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu.

2.Barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas (free market) yang bersifat kompetitif.

3.modal kapitali (baik uang maupun kekayaan lain) diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba (profit).

BAB III

“STUDY PERBANDINGAN ANTARA SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM dan SISTEM PEMERINTAHAN DEMOKRASI”

3.1. Bentuk dan Kelebihan Sistem Demokrasi

Dalam sejarah terdapat sedikitnya tiga bentuk demokrasi yang pernah dicoba: demokrasi langsung (direct democracy/assembly democracy), demokrasi perwakilan (representative democracy), demokrasi perwakilan (deliberative democracy). Berikut ini adalah gambaran singkat tentang bentuk-bentuk demokrasi tersebut

a. Demokrasi Langsung

· Praktik demokrasi paling tua; praktik demokrasi pada asosiasi yang berukuran kecil

· Berdasarkan pada partisipasi langsung, tanpa perwakilan dan terus menerus dari warga dewasa dalam membuat dan melaksankan keputusan bersama

· Tidak terdapat batas yang tegas antara pemerintah dan yang diperintah à semacam system self-government à pemerintah dan yang diperintah adalah orang yang sama

· Sistem kelembagaan: pertemuan warga (mass meeting, town meeting, pertemuan RT/RW, dll), referendum

b. Demokrasi Perwakilan

· Praktik demokrasi yang dating lebih belakangan sebagai jawaban terhadap beberapa kelemahan demokrasi langsung; parktik demokrasi pada asosiasi yang berukuran besar seperti Negara

· Berdasarkan pada partisipasi yang terbatas à partisipasi warga hanya dalam waktu yang singkat dan hanya dilakukan beberapa kali dalam kurun waktu tertentu seperti dalam bentuk keikutsertaan dalam pemilihan umum

· Berdasarkan pada partisipasi yang tidak langsung à masyarakat tidak mengoperasikan kekuasaan sendiri tapi memilih wakil yang akan membuat kebijakan atas nama masyarakat

· Pemerintah dan yang diperintah terpisah secara tegas à demokratis tidaknya demokrasi bentuk ini tergantung pada kemempauan para wakil yang dipilih membangun dan mempertahankan hubungan yang efektif antara pemerintah dan yang diperintah

· Sistem kelembagaan:

1) para wakil rakyat yang dipilh: parlemen

2) para pejabat Negara yang dipilih: kepala pemerintahan dan pembantu-pembantunya, judikatif, dll.

3) Pemilihan umum yang adil, bebas dan berkala

4) Media massa yang membuka kesempatan bagi kebebasan berpendapat dan kebebasan mendapatkan informasi dan pengetahuan

5) Sistem asosiasi yang bersifat otonom: partai politik, organisasi massa, dll

6) Hak pilih bagi semua orang dewasa dan hak untuk menduduki jabatan-jabatan publik

c. Demokrasi Permusyawaratan

· Bentuk demokrasi paling kontemporer; dipraktikan pada masyarakat yang kompleks dan berukuran besar à bentuk demokrasi yang menggabungkan aspek partisipasi langsung dan bentuk demokrasi perwakilan

· Memberikan tekanan yang berbeda dalam memahami makna kedaulatan rakyat: kedaulatan: kedaulatan berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam membicarakan, mendiskusikan dan mendebatkan isu-isu bersama atau dalam menentukan apa yang pantas dianggap isu bersama à demokratis tidaknya sebuah kebijakan tergantung pada apakah kebijakan tersebut sudah melalui proses pembicaraan, diskusi dan perdebatan (baca: permusyawaratan) yang melibatkan masyarakat luas

· Ada pemisahan yang tegas antara pemerintah dan yang diperintah. Tapi pemisahan yang lebih penting adalah antara Negara dan masyarakat sipil. Negara merupakan tempat menggodok dan melaksanakan kebijakan. Masyarakat sipil merupakan tempat berlangsungnya “permusyawaratan”

· Selain itu ada juga pemisahan antara wilayah public dan wilayah privat. Wilayah public adalah wilayah “permusyawaratan; wilayah privat adalah wilayah tenpat seseorang memikirkan apa isu yang penting dan kenapa isu itu perlu dibicarakan, didiskusikan dan didebatkan secara public

· Sistem kelembagaan:

1) Semua sistem kelembagaan demokrasi perwakilan

2) Debat public; lewat media massa, lewat pertemuan warga yang terjadi secara spontan di tempat-tempat public, dst

3) Dialog

Kelebihan dan Kekurangan Bentuk-Bentuk Demokrasi

Demokrasi Langsung

KELEBIHAN

KEKURANGAN

Menjamin kendali warganegara terhadap kekuasaan politik

Sulit dioperasikan pada masyarakat yang berukuran besar

Mendorong warganegara meningkatkan kapasitas pribadinya; misalnya meningkatkan kesadaran politik, meningkatkan pengetahuan pribadi dll

Menyita terlalu banyak waktu yang diperlukan warganegara untuk melakukan hal-hal lain; dan karenanya bisa menimbulkan apatisme

Membuat warganegara tidak tergantung pada politisi yang memiliki kepentingan sempit

Sulit menghindari bias kelompok dominan

Masyarakat lebih mudah menerima keputusan yang sudah dibuat

Masyarakat lebih dekat dengan (konflik) politik dan karenanya berpotensi melahirkan kehidupan bersama yang tidak stabil

Demokrasi Perwakilan

KELEBIHAN

KEKURANGAN

Lebih mudah diterapkan dalam amsyarakat yang lebih kompleks

Jarak yang jauh dari proses pembuatan kebijakan yang sesungguhnya bisa membuat masyarakat bisa menolaknya ketika hendak diterapkan

Mengurangi beban masyarakat dari tugas-tugas membuat, merumuskan dan melaksankan kebijakan bersama

Mudah terjebak dalam kepentingan para wakil rakyat yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat

Memungkinkan fungsi-fungsi pemerintahan berada di tangan-tangan yang lebih terlatih untuk itu\

Demokrasi perwakilan menghadapi persoalan waktu dan jumlah seperti yang dihadapi demokrasi langsung

Cenderung menciptakan politik yang stabil karena menjauhkan masyarakat dari (konflik) politik; dan karenanya mendorong kompormi

Demokrasi Permusyawaratan

KELEBIHAN

KEKURANGAN

Memberikan kesempatan yang lebih baik bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses pembuatan kebijakan; tanpa mendekatkan mereka dengan (konflik) politik

Dalam praktiknya permusyawaratan sulit menghindari kecenderungan elitisme

Mendorong warganegara untuk selalu memiliki kesadaran politik yang tinggi dan selalu memperkaya diri dengan pengetahuan tentang perkembangan masyaraktnya

Sulit mengharapkan setiap warganegara memiliki kepedulian politik yang sama dan setara

Mendorong warganegara untuk selalu memikirkan kepentingan bersama

Memerlukan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan sarana komunikasi yang modern

3.2. Keunggulan Sistem Politik Islam

Sistem politik Islam merupakan sistem politik yang khas dan diyakini merupakan sistem politik yang unggul. Hal ini terkait dengan Islam itu sendiri. “Islam itu unggul dan tidak ada yang dapat mengunggulinya (Al Islâmu ya’lu wa lâ yu’la ‘alaihi),” kata Nabi.

Berbicara tentang sistem politik berarti berbicara tentang proses, struktur, dan fungsi. Proses adalah pola-pola yang mengatur hubungan antar manusia satu sama lain. Struktur mencakup lembaga-lembaga formal dan informal seperti majelis umat, partai politik, khalifah, dan jaringan komunikasi. Adapun fungsi dalam sistem politik menyangkut pembuatan berbagai keputusan kebijakan yang mengikat alokasi nilai. Keputusan kebijakan ini diarahkan pada tercapainya kepentingan masyarakat. Proses, struktur, dan fungsi dalam sistem politik Islam semuanya berdasarkan pada ajaran Islam yang bersumber dari wahyu. Karena itu, sistem politik Islam, termasuk konsep kenegaraannya, menjadi sistem yang unggul karena bersumber dari Allah Swt., Zat Yang Mahaagung. Di antara keunggulan sistem politik Islam adalah:

1. Istiqamah.

Sistem politik Islam memiliki karakter istiqamah; artinya bersifat langgeng, kontinu, dan lestari di jalannya yang lurus. Dalam sistem demokrasi, misalnya, sistem politik bergantung pada kehendak manusia. Perubahan nilai dan inkonsistensi pun terjadi. Hal yang sama bisa berlaku untuk orang lain, tetapi tidak untuk negara tertentu. Misalnya, Iran tidak boleh memiliki nuklir, tetapi AS dan Israel tidak mengapa; setiap negara tidak boleh mencampuri urusan negara lain, kecuali AS dan sekutunya yang dapat menerapkan pre emptive. Sistem seperti ini tidaklah istiqamah. Betapa tidak; semuanya bergantung pada kehendak dan tolok ukur manusia yang senantiasa berubah-ubah, bahkan dapat saling bertolak belakang. Sekarang benar, nanti salah; atau sekarang terpuji lain waktu tercela.

Berbeda dengan itu, sistem politik Islam berdiri tegar tak lekang ditelan zaman. Ini karena sistem politik Islam bukan lahir dari logika dan kepentingan sesaat manusia, namun jalan lurus yang berasal dari Allah Swt. untuk kemaslahatan manusia. (Lihat: QS al-An’am [6]:153).

Dalam konteks kenegaraan, sistem politik Islam dibangun di atas landasan yang istiqamah, yakni:

(a) kedaulatan ada di tangan syariah;

(b) kekuasaan ada di tangan rakyat;

(c) wajib hanya memiliki satu kepemimpinan dunia; dan

(d) hanya khalifah yang berhak melegalisasi perundang-undangan dengan bersumber dari Islam berdasarkan ijtihad. Jika terdapat perselisihan di antara negara dengan rakyat atau antar pelaku politik maka harus dikembalikan tolok ukurnya kepada Allah dan Rasul; kepada al-Quran dan as-Sunnah. Inilah tolok ukur sekaligus landasan yang tetap, tidak berubah. Ini pulalah yang menjamin keistiqamahan sistem politik Islam.

2. Mewujudkan ketenteraman secara kontinu.

Di antara fungsi sistem politik adalah mewujudkan ketenteraman. Setiap warga negara harus terjamin ketenteramannya. Tanpa ketenteraman, kehidupan tak akan nyaman. Ketenteraman merupakan syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Islam sangat memperhatikan hal ini. Salah satu ajaran penting Islam adalah mewujudkan keamanan di tengah-tengah masyarakat. Sejarah menunjukkan bagaimana saat Islam diterapkan, warga negaranya, baik Muslim maupun non-Muslim, hidup dalam keamanan. Hal ini terwujud melalui pendekatan multidimensi.

Pertama: sistem politik Islam mengaitkan aspek keamanan dengan aspek ruhiah. Rasul berkali-kali menegaskan bahwa di antara ciri Muslim yang baik adalah Muslim yang tetangganya selamat dari lisan dan tangannya. Bahkan, siapa saja yang menyakiti kafir zimmi diibaratkannya sebagai menyakiti beliau. Penjagaan keamanan dikaitkan dengan pahala dan siksa. Akibatnya, muncullah dorongan takwa dalam diri individu untuk senantiasa mewujudkan keamanan, baik bagi diri, masyarakat, maupun negara. Kekuatan internal inilah yang mengokohkan terwujudnya keamanan. Landasan ruhiah seperti ini tidak ditemukan pada sistem lain. Sistem selain Islam hanya menyandarkan aspek keamanan pada kepentingan.

Kedua: mengharuskan masyarakat untuk menjaga keamanan dan bersikap keras kepada perusak keamanan. Setiap kemungkaran yang ada, termasuk gangguan tehadap keamanan, diperintahkan untuk dihilangkan oleh siapapun yang melihatnya; baik dengan kekuatan, lisan, ataupun dengan hati melalui sikap penolakan. Bahkan, membiarkan kerusakan yang ada diumpakan Nabi saw. sebagai menenggelam-kan seluruh masyarakat. Masyarakat diibaratkan Rasul sebagai sekumpulan orang yang sedang menumpangi kapal di lautan. Jika sebagian mereka melakukan kejahatan dengan melobangi kapal tersebut tanpa dicegah, maka semua penumpangnya akan karam. Bahkan, mati mempertahankan keamanan harta, kehormatan, dan nyawa dari para perusak keamanan dipandang sebagai syahid. Hal demikian tidak dimiliki oleh sistem di luar Islam.

Ketiga: makna kebahagiaan yang khas. Allah Swt. telah menetapkan makna kebahagiaan adalah tercapainya ridha Allah. Berbagai limpahan materi hanyalah kepedihan jika jauh dari ridha Allah. Untuk apa memiliki kekuasaan jika digunakan untuk menjauhkan diri dan masyarakat dari ridha Allah. Walhasil, mafhûm kebahagiaan demikian mendorong setiap orang untuk mengejar ridha Allah dengan menaati-Nya. Salah satunya adalah memberikan keamanan bagi orang lain.

Keempat: menutup pintu kriminal. Salah satu pintu datangnya gangguan keamanan adalah tindak kriminal. Dalam konteks ini, Islam mencegahnya dengan jitu. Allah Swt. melarang tindak kriminal dengan motif apapun, termasuk untuk kepentingan politik. Sistem politik Islam tidak mengenal paham machiavelis (menghalalkan segala cara). Siapapun diharamkan mencuri, merampok, membunuh, merampok harta negara, korupsi, mengintimidasi rakyat, dll. Islam juga mengharamkan zina dan perkosaan. Tidak ada cerita dalam Islam yang mentoleransi menggunakan perempuan sebagai umpan dan modal dalam transaksi ekonomi maupun bargaining politik. Hal ini berbeda secara diametral dengan sistem politik sekular.

Penutupan pintu kriminal tersebut ditempuh dengan landasan ruhiah, dengan menanamkan mafhûm qanâ’ah dan ridha. Setiap orang menerima dan ridha terhadap rezeki yang diberikan Allah, sedikit ataupun banyak. Selain itu, sistem Islam memiliki seperangkat aturan yang menjamin pemenuhan kebutuhan pokok dan kebutuhan seksual. Nabi saw. mencontohkan bahwa kebutuhan pokok setiap warga dijamin oleh negara. Adapun pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier diserahkan kepada produktivitas dan kemampuan masing-masing. Negara hanya memfasilitasi siapapun hingga memiliki peluang untuk mendapatkan sumberdaya informasi, dana, dan kesempatan. Ketika kondisi keamanan telah diciptakan, jaminan kebutuhan pokok pun dijamin, maka jika masih tetap ada pihak yang melakukan tindak kriminal, hukum Islam pun ditegakkan pada mereka. Hukum Islam menghasilkan efek jera. Siapa yang tidak akan jera dengan adanya aneka ragam jenis hukum seperti denda, penjara, pengasingan, cambuk, potong tangan, bahkan hukuman mati. Jelaslah, mulai dari keyakinan, kondisi sosial, dan hukum diatur oleh Islam untuk mencegah tindak kriminal. Silakan, telaah sistem sekular apakah punya sistem handal seperti Islam? Jawabannya: Tidak!

Selain melalui pendekatan keamanan, ketenteraman pun ditempuh melalui jaminan pemenuhan kebutuhan pokok secara kontinu dan sempurna. Sering alasan ketidakstabilan masyarakat adalah masalah ekonomi. Lagi-lagi, Rasulullah saw. mencontohkan jaminan kebutuhan pokok ini dilakukan secara kontinu dan sempurna. Masyarakat tenang dan tenteram karena ada jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok individual (sandang, pangan, dan papan), serta kebutuhan pokok kolektif (pendidikan, keamanan, dan kesehatan).

Ketentraman akan terganggu ketika rasa keadilan terusik. Di situlah Islam menempatkan keadilan sebagai salah satu pilar ketakwaan. Bahkan, adil selalu merupakan syarat seseorang diterima kesaksian dan kelayakan penguasa. (Lihat: QS al-Maidah [5]:8).

Allah Pencipta alam memuji dan memerintahkan bersikap adil. Siapapun harus adil. Bukan sekadar sikap, Allah menjelaskan realitas bahwa semua orang dibawah payung Islam kedudukannya sama, tidak ada diskriminasi atas dasar suku, etnis, golongan, bahkan agama. Semua warga negara dalam sistem politik Islam berkedudukan sama. Betapa melekat dalam benak setiap Muslim penuturan Nabi saw. bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non Arab, juga tidak ada kelebihan orang non-Arab atas Arab kecuali karena ketakwaannya. Pada saat Allah memerintahkan adil, dan saat yang sama manusia itu berkedudukan sama di sisi Allah, maka hanya ada satu pilihan: bersikap adil.

Di samping memerintahkan adil, Allah Swt. melarang kezaliman. Penggusuran tanah milik, perampasan hak, ataupun perlakuan sewenang-wenang merupakan sebagian penampakan kezaliman. Pelaku kezaliman tidak akan ditunjuki oleh Allah Swt. (Lihat: QS al-Jumuah: 5), dan di dunia dikenai sanksi hukum sesuai dengan kezaliman yang dilakukannya.

Lebih dari itu, hubungan antara rakyat dan penguasa dalam Islam harus didasarkan pada keadilan, bukan kezaliman. Rasulullah Saw. bersabda:

Tidak akan seorang pemimpin kaum Muslim mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali diharamkan baginya masuk surga. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya pemimpin yang paling jahat adalah pemimpin yang lalim. Karena itu, janganlah kamu termasuk golongan mereka (HR al-Bukhari dan Muslim).

Terlihat, tegaknya keadilan dalam Islam lahir dari keyakinan akan perintah Allah Swt., pandangan kesejajaran manusia sesuai dengan realita, dan metode implementasinya berupa sanksi hukum bagi pelanggarnya. Tentu, sistem politik yang dibangun di atas landasan seperti ini merupakan sistem politik yang unggul.

3. Menciptakan hubungan ideologis penguasa dengan rakyat.

Hubungan penguasa dengan rakyat dalam sistem politik Islam adalah hubungan ideologis. Kedua belah pihak saling berakad dalam baiat untuk menerapkan syariat Islam. Penguasa bertanggung jawab dalam penegakkannya. Sebaliknya, rakyat membantu penguasa sekuat tenaga, taat kepadanya, selama tidak menyimpang dari Islam. Berdasarkan hubungan ideologis inilah penguasa akan melakukan pengurusan (ri’âyah) terhadap umatnya melalui: (a) penerapan sistem Islam secara baik: (b) selalu memperhatikan kemajuan masyarakat di segala bidang; dan (c) melindungi rakyat dari ancaman. Nabi saw. bersabda (yang artinya): Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan pelindung. Dia bersama pengikutnya memerangi orang kafir dan orang zalim serta memberi perlindungan kepada orang-orang Islam (HR al-Bukhari).

Pada sisi lain, rakyat tidaklah tinggal diam. Di pundak mereka terdapat kewajiban terhadap pemimpin dan negaranya sesuai dengan akad baiat. Karenanya, rakyat berperan untuk: (a) melaksanakan kebijakan penguasa yang sesuai dengan syariat demi kepentingan rakyat; (b) menjaga kelangsungan pemerintahan dan semua urusan secara syar’î (larangan keluar dari penguasa, perintah memerangi bughât, dsb); dan (c) memberikan masukan kepada penguasa; mengontrol dan mengoreksi penguasa. Dengan adanya hak sekaligus kewajiban warga negara untuk memberikan nasihat, pelurusan (tashîh), dan koreksi terhadap penguasa (muhâsabah al-hukkâm) akan terjamin penerapan sistem Islam secara baik di dalam negeri.

Merujuk pada hal tersebut, hubungan rakyat dengan penguasa dalam sistem politik Islam adalah hubungan antara sesama hamba Allah Swt. yang sama-sama menerapkan kewajibannya dalam fungsi yang berbeda. Hubungan antara keduanya merupakan hubungan sinergis, fokus, dan saling mengokohkan untuk penerapan syariah demi kemaslahatan rakyat. Sungguh, pemandangan demikian amat sulit ditemukan dalam sistem politik selain selain Islam.

4. Mendorong kemajuan terus-menerus dalam pemikiran, sains teknologi, dan kesejahteraan hidup.

Sejarah telah membuktikan hal ini. Kemajuan sains, teknologi, dan pemikiran merupakan keniscayaan dalam Islam karena:

a. Islam mendorong umat untuk terus berpikir, merenung untuk menguatkan iman dan menambah pengetahuan tentang makhluk. Ada 43 ayat al-Quran yang memerintahkan berpikir.

b. Melebihkan ulama daripada orang jahil (Lihat: QS al-Mujadilah: 11).

c. Allah telah menundukkan alam untuk manusia agar diambil manfaatnya. Realitas ini mengharuskan umat untuk mengkaji alam itu. Artinya, realitas menuntut umat untuk mengembangkan sains dan teknologi.

d. Islam mendorong inovasi dan penemuan. Dalam masalah jihad, misalnya, Rasulullah saw. mengembangkan persenjataan dabâbah saat itu. Kini, berarti umat harus mengungguli sains dan teknologi negara besar. Begitu juga ijtihad; harus terus dikembangkan. Betapa tidak, banyak sekali perkara baru bermunculan, padahal dulu belum dibahas oleh para ulama.

Bukan hanya itu, kemajuan ekonomi pun akan tercapai karena:

a) ada konsep kepemilikan dan pengelolaannya secara jelas;

b) kewajiban ri’âyah mengharuskan adanya perhatian secara terus menerus atas urusan dan kemajuan;

c) perlindungan terhadap milik pribadi dan pemanfaatannya dalam batas syariat; dan

d) adanya pengumpulan harta untuk kaum miskin dan lemah. Konsekuensi dari hal ini bukanlah sebatas dana menetes ke bawah (tricle down effect), melainkan menggelontor ke segala penjuru. Hal ini berbeda dengan sistem Kapitalisme yang membiarkan manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus).

BAB IV

KESIMPULAN

Dari pembahasan tersebut diatas dapat penulis ambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat ,menjaga tingkah laku kaum mayoritas maupun minoritas , menjaga fondasi pemerintahan , menjaga kekuatan politik , pertahanan , ekonomi , keamanan sehingga menjadi sistem pemerintihan yang kontiny,Quo dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam pembangunan sistem pemerintahan tersebut.

2. Jenis-jenis atau macam-macam system pemerintahan adalah :

a. Presidensial

b. Parlementer

c. Komunis

d. Demokrasi liberal

e. Liberal

f. Capital

3. Keunggulan system pemerintahan islam

a. Istiqamah.

b. Mewujudkan ketenteraman secara kontinu.

c. Menciptakan hubungan ideologis penguasa dengan rakyat.

d. Mendorong kemajuan terus-menerus dalam pemikiran, sains teknologi, dan kesejahteraan hidup.

4. Keunggulan Sistem Pemerintahan Demokrasi, terdiri dari :

a. Dempkrasi Langsung. Diantara keunggulannya adalah : Menjamin kendali warga Negara terhadap kekuasaan politik.

b. Demokrasi Perwakilan. Diantara keunggulannya adalah : Lebih mudah diterapkan dalam masyarakat yang lebih kompleks.

c. Demokrasi Permusyawaratan. Diantar keunggulannya adalah : Mendorong warga Negara untuk selalu memikirkan kepentingan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Saeful Mujani, Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde-Baru Gramedia Pustaka Utama. 2007. ISBN : 979-22-2749-0

Ellyasa KH Dharwis, M. Iman Aziz, M. Jadul Maula. Agama, Demokrasi dan Keadilan. Gramedia Pustaka Utama. 1993. ISBN : 979-511-775-0

Komaruddin Hidayat dan M. Yudhie Haryono, Manuver Politik UlamaTafsir Kepemimpinan Islam dan Dialektika Ulama-Negara. Jalasutra. Tanpa Tahun.

Ali Munhanif, Hendro Prasetyo, Islam dan Civil Society. Gramedia Pustaka Utama. 2002. ISBN : 979-686-668-4

Olivier Roy, Gagalnya Islam Politik , Serambi, 2002

Srijanti, A. Rahman, Purwanto S. K. Etika Berwarga Negara Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Salemba, 2006. ISBN : 979-691-318-6