Surat al-Buruj

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-BURUJ

“BINTANG-BiNTANG”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

1. Demi langit yang penuh bintang,

Surah ini mulai dengan menyebut fenomena yang secara langsung melibatkan kita dalam kehidupan ini. Ketika bersumpah dengan konstelasi bintang, kita diseru untuk memberikan kesaksian. Burj adalah apa saja yang nampak, menonjol atau tinggi. Ia juga berarti ‘menara, kastil’ dan ‘tanda zodiak’. Lelangit dapat dibagi ke dalam zona-zona yang berbeda, dan yang terdekat kepada kita adalah dua belas rumah zodiak, atau konstelasi bintang.

Penggunaan kata samâ’ (langit, cakrawala) di sini bisa berarti hati. Salah satu makna batin dari ayat ini berkenaan dengan tahap-tahap yang berbeda melalui mana hati berkembang ke arah realisasi tauhid.

وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ

2. Dan demi hari yang dijanjikan,

Mau’ud (dijanjikan, ditentukan) berasal dari kata kerja wa’ada, ‘menjanjikan, meramalkan, mengancam’. Pada Hari Perhitungan segala sesuatu akan terbuka dan gamblang. Kita telah diperingatkan tentang hari ini di seluruh wahyu.

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

3. Dan demi saksi dan yang disaksikan.

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah adalah saksi dan yang dipersaksikan, karena yang ada hanyalah Allah—la ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah).

Nabi Muhammad telah mengatakan bahwa syahid adalah Yawm al-Jum’ah dan masyhud (yang disaksikan) adalah Yawm al-’Arafat (Hari Arafah dalam ibadah Haji). Kita masing-masing adalah saksi, secara terus-menerus, berulang kali, setiap menit dari setiap hari, setiap minggu, setiap Jum’at. Ini juga bermakna menjadi saksi dalam arti kolektif, karena hari berkumpul (Jum’at) adalah latihan untuk menghadapi saat ketika semua jiwa akan dikumpulkan setelah Kebangkitan.

Masyhud adalah Hari Kepastian, atau pengenalan akan kebenaran yang satu, karena seluruh ciptaan menyaksikan kebenaran tersebut. Itulah hari keesaan (tauhid): kita menyaksikan itu sekali sepanjang hidup. Hari Jum’at menyaksikan kita, dan kita menyaksikan Arafah. Mengenal sekali saja sudah cukup, dan kemudian si penyaksi (syahid) bisa juga menjadi si tersaksi (masyhud).

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ

4. Kehancuran menimpa para penghuni parit,

Ini adalah penjelasan historis tentang suatu peristiwa yang terjadi di negeri Yaman. Peristiwanya mengenai seorang nabi dari Ethiopia yang memiliki sekelompok pengikut. Ini adalah cerita yang dituturkan oleh Amir al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib. Kaum pagan memenjarakan sang nabi dan pengikutnya, menggali sebuah lubang di tanah lalu menyalakan api besar di dalamnya. Kemudian kaum pagan mengumpulkan mereka dan berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang percaya kepada nabi orang Ethiopia ini, ia harus loncat ke dalam api dan membakar diri, karena jika kalian beriman kepada Allah, maka Allah akan menyelamatkan kalian! Dan mereka yang tidak percaya kepada orang ini hendaklah menjauhkan diri.” Diceritakan bahwa semua orang yang bersamanya loncat ke dalam api, dan mereka diselamatkan oleh Allah, dengan cara Allah. Di antara mereka ada seorang wanita yang punya anak kecil, dan ketika dia dan anaknya masuk ke dalam api yang ada hanyalah kesegaran dan kedamaian, persis seperti Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api oleh orang-orang Mesopotamia penyembah patung. Mereka yang loncat ke dalam api berada dalam keadaan yang benar-benar yakin. Pada saat berserah diri itu ada sistem lain yang mengambilalih. Kita biasanya terhalang dari sistem lain tersebut.

النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ

5. Api yang diberi bahan bakar,

إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ

6. Tatkala mereka duduk di situ,

Barangsiapa tidak bergabung dan mengikuti jalan mereka maka ia dimasukkan ke dalam jurang api yang besar, sementara kaum kafirin duduk di dekat api itu menyaksikan pertunjukkan besar.

وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

7. Dan mereka adalah saksi terhadap apa yang mereka lakukan terhadap kaum beriman.

Mereka sendiri menjadi saksi atas apa yang sedang mereka lakukan terhadap kaum mukrnin yang sedang menantikan kehidupan berikutnya, yang berbuat sebaik-baiknya dalam kehidupan ini. Kaum tiran ini menyengsarakan kaum beriman karena mereka ingin kaum beriman menjadi seperti mereka, karena kita semua ingin kebersatuan. Mereka yang mendustakan Tuhan (kafir) ingin menyatukan setiap orang dalam sistem kufur mereka, dan seperti dikatakan Nabi Muhammad, ‘Kufr (menolak Tuhan) adalah sebuah sistem.’ Hal itu seumpama seorang ayah dan seorang ibu yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya dengan menabung uang, tapi ujung-ujungnya sang anak tidak menginginkan apa yang semestinya mereka berikan kepada si anak. Ini adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada orang tua yang borjuis. Ayah dan ibu ingin menularkan sistem mereka kepada anak mereka dan jika si anak memberontak, mereka pun kecewa karena harapan yang tidak terpenuhi. Begitulah mereka menghancurkan si anak secara psikologis.

Contoh lain adalah terjadinya kehancuran masal di negeri Yaman. Golongan status quo, yang ingin melanggengkan sistem kehidupan mereka yang sempit, menyiksa golongan lainnya. Mereka rnembangun api persis di tengah-tengah para pengikut nabi karena benar-benar ingin melenyapkan para pengikut nabi, agar mereka tidak akan terganggu dan agar tidak ada unsur pemecah belah yang dapat mengancam kesinambungan sistem mereka.

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

8. Dan mereka membalas dendam orang-orang itu hanya karena mereka beriman kepada Allah, Yang Mahaperkasa, Yang Maha Terpuji.

Niqmah (balas dendam) adalah kebalikan dari ni’mah, yang berarti ‘kebaikan, berkah, manfaat’. Niqmah adalah penderitaan yang kelihatan dan destruktif. Kaum kafir dari negeri Yaman melakukan balas dendam dan berusaha menghancurkan orang-orang ini hanya karena mereka ingin mempercayai Allah dan beriman. Mereka menginginkan pengetahuan tentang Allah karena hal itulah komoditas yang paling jarang dan paling berharga dalam penciptaan, dan itulah pengetahuan yang paling agung yang bisa diperoleh manusia.

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍشَهِيدٌ

9. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Allah adalab Saksi atas segala sesuatu.

Ayat ini menunjuk kepada ayat sebelumnya: wa syahid wa masyhud (dan demi saksi dan yang disaksikan).

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

10. Sesungguhnya, mereka yang menganiaya kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, kemudian tidak bertobat, mereka mendapat siksa neraka (jahanam), dan bagi mereka siksaan yang menghanguskan!

Fatana (menyerah pada godaan atau cobaan, siksaan dan kesengsaraan, terpikat), di sini secara khusus bermakna ‘menimpakan penderitaan’ atau ‘menganiaya’ dalam arti menguasai, menghancurkan, dan menyebabkan kerusakan. Mereka yang telah melanggar kaum mukmin, sekalipun tanpa menyadari apa yang sedang mereka perbuat, dan juga mereka yang berbuat tidak pada jalan tauhid yang lurus dan kemudian tidak bertobat, maka mereka akan ditimpa ‘adzab (azab). ‘Adzdzab berarti ‘menyebabkan kerusakan atau kesakitan, hukuman, siksaan’. Pada saat yang sama, ‘adzuba, dari akar kata yang sama, berarti ‘bersikap manis, menyenangkan, ramah’. Inilah contoh gamblang tentang bagaimana makna yang berlawanan terkandung dalam kata yang sama. Maka siksaan neraka (jahanam) merupakan suatu aspek penyucian dan keadilan.

Haraqa berarti ‘membakar’. Adegan yang digambarkan dalam ayat-ayat sebelumnya dibalikkan. Sementara mereka yang dibakar dalam lubang adalah pemenang, mereka yang membakarnya akan berakhir sebagai orang-orang yang akan dibakar secara hakiki. Mereka akan menerima hukuman atas apa yang mereka sebabkan sendiri sehingga mereka sebenamya mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنتَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

11. Sesungguhnya, mereka yang beriman dan berbuat kebaikan, mereka akan rnendapat surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai—itulah kemenangan yang besar!

Dan mereka yang, seperti penghuni lubang api, memiliki iman dan mewujudkannya ke dalam perbuatan yang patut disertai niat yang benar, akan mendapatkan surga yang dialiri dengan sungai-sungai gaib. Kesuburannya bahkan tercermin sekarang dalam kecemerlangan wajah-wajah mereka. Itulah kemenangan yang besar dan terakhir. Fawz, yang berarti ‘kemenangan’, mengandung arti kemenangan mencapai keselamatan, dan itulah tujuan terakhir dari si calon pemenang.

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

12. Sesunggnhnya, cengkaman Tuhanmu sangatlah kuat.

Bathasya berarti ‘mencengkam dengan keras’, Ini berkenaan dengan saat-saat ketika sesuatu menimpa kita secara dahsyat, dengan tak diduga-duga. Jika kita mengatakan bathasya bihi, maksudnya adalah ‘dia menyerangnya’, apakah dalam kemarahan atau karena balas dendam. Syadid berarti ‘kuat, dahsyat, keras, hebat, kasar’. Serangan ini mungkin datang secara tiba-tiba dan tak terduga pada saat kematian di kehidupan ini, atau di kehidupan mendatang pada saat pengadilan.

إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ

13. Dialah Yang mengawali dan mengulang penciptaan.

Tuhan adalah asal segala sesuatu dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Ayat ini berkenaan dengan awal kehidupan seseorang, kesadaran individunya dan pengembalian terakhir kesadaran individunya kepada kesadaran total terhadap Allah, atau ke awal kehidupan jasmaniah itu sendiri dan kembalinya kehidupan ke sumbernya. Semua ini hanyalah sebagian dari makna yang mungkin dari ayat ini.

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

14. Dan Dia adalah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,

Kata yang digunakan di sini untuk mengungkapkan sifat dari Yang Maha Pengampun (al-Ghafur) berasal dari kata kerja ghafara, yang asalnya berarti ‘menutupi’. Pengampunan tidak bisa diartikan mengabaikan atau membatalkan apa yang telah terjadi dan dicatat. Karena untuk setiap aksi ada reaksi, sifat sesungguhnya dari pemaafan adalah bahwa dengan mengakui dan berpaling dari suatu pelanggaran, maka kita menyeru sumber kasih sayang dan ampunan untuk melindungi dan mencegah kita dari berbagai pengaruh negatif. Ketika menyeru, Sifat al-Ghafur akan menangkis dan mengubah gema dari segala perbuatan salah kita.

Wadud (Yang Maha Pengasih) berasal dari salah satu kata Arab yang bermakna ‘mencintai’. Kata yang lebih umum digunakan untuk cinta, hubb, adalah cahaya wudd sejati, atau widd (cinta, kasih sayang). Dua-duanya bermakna cinta, tapi jika widd-nya murni dan memancar secara terbuka, maka ia menjadi hubb. Seluruh penciptaan bergantung kepada cinta.

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

Surah al-Insyiqaq

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-INSYIQAQ

“TERBELAH”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ

1. Tatkala langit terbelah.

Surah ini mulai dengan gambaran tentang akhir alam semesta. Insyaqqa, akar dari insyiqâq berarti ‘terbelah, terpecah’, dan menunjukkan keretakan yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Kekuatan yang menyebabkan sistem tersebut berantakan sangatlah besar sehingga nampak sekali tidak adanya pola kehancuran terakhir yang sudah ditentukan sebelumnya. Keserampangan nyata dari babak akhir ini, secara linguistik menurut Alquran, berbeda dengan awal penciptaan yang telah ditentukan secara cermat (Q.S. 21:30). Kata kerja yang digunakan adalah fataqa (membelah pada lipatan). Fataqa dilakukan tidak secara serampangan, karena lipatan sepanjang mana penciptaan berlangsung sudah ditentukan sebelumnya, sebagaimana tersirat dalam makna kata kerja tersebut.

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

2. Dan menaati Tuhannya dan melaksanakannya.

Ketaatan serta kebenaran di sini menunjuk kepada lelangit yang mengikuti takdimya, yang menunjukkan sifat-sifat ini melalui tindakan-tindakannya. Udzun berarti ‘telinga’, dari adzina, yang berarti ‘mendengarkan, menyimak, mengizinkan’. Itu artinya langit telah mendengarkan, dan dengan demikian telah berhubungan dengan sumber pesan. ‘Beri saya idzn artinya ‘Beri saya izin’, yakni aspek lain dari bersatu dengan takdir.

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

3. Dan tatkala bumi dibentangkan.

Madda berarti ‘mengulurkan, membentangkan, mengembangkan’. Ketika seseorang berlomba dengan orang yang lebih kuat dari dirinya dan ia meminta madad (dari akar kata yang sama), maksudnya adalah ‘mendahului pada permulaan’. Nuansa penghancuran bumi diungkapkan dengan jelas dalam konteks dua ayat yang sebelumnya dan berikutnya.

وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ

4. Dan [bumi] mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.

Bumi telah mengembangkan diri, menghampar secara sempuma, dan telah menyemburkan semua yang ada di dalamnya. Keseimbangannya terganggu dan terhenti. Gaya gravitasi dan semua antarhubungan yang cocok dengan itu tidak lagi mendominasi.

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

5. Dan menaati Tuhannya dan melaksanakannya.

Lagi-lagi dengan ketaatannya langit menunjukkan takdirnya. Kewajibannya adalah mendatangkan stabilitas tertentu dan kemudian lenyap. Gambaran ini menjadi sangat jelas sekaitan dengan apa yang akan terjadi pada beberapa aspek bumi lainnya, seperti pegunungan.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

6. Wahai manusia! Sesungguhnya engkau selalu berjuang menuju Tuhanmu dengan perjuangan yang keras sampai engkau bertemu dengan-Nya.

Setelah diberikan gambaran tentang babak akhir di mana penciptaan akan hancur, kita melihat bahwa kehancuran dan keterpecahan akan terefleksi dalam kesadaran manusia. Kâdih adalah orang yang bekerja atau berjuang untuk mencapai sesuatu. Berjuang, berusaha keras, atau bekerja juga berarti mencari makanan dalam arti duniawi. Salah seorang hamba Allah yang mulia di Afrika Utara biasa merajut satu topi sehari. Ia mengerjakannya di pagi hari lalu membawanya ke pasar. Semua pedagang mengenalnya dan ingin menjual hasil karyanya. Orang pertama yang menjumpai dia akan mendapat topi dan menjualnya. Hamba Allah yang mulia ini kemudian berkata, “Sekarang aku telah menggoncangkan pohon palem!”

Surat al-Muthaffifin

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-MUTHAFFIFIN

“ORANG YANG MENGURANGI TAKARAN”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

1. Celakalah bagi orang-orang yang mengurangi takaran!

Akar kata muthaffifin adalah tbaffafa, yang berarti ‘membuat kurang, memberikan takaran kurang, bakhil’. Artinya, sengaja melakukan ketidakadilan dalam suatu transaksi. Tathfif berarti ‘kekikiran, hemat’, dan thafif berarti ‘kurang, sedikit, kecil, tidak berarti’.

Ini adalah gambaran tentang kecenderungan alamiah manusia dalam jual-beli dan perdagangan untuk mencoba memanipulasi timbangan demi keuntungannya sendiri, sering kali tidak jujur. Para pedagang Mekah dan Madinah tidak berbeda dengan pebisnis lain di sepanjang sejarah.

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

2. Yang jika mereka menakar [untuk dirinya] dari orang lain, mereka menakar dengan penuh.

Bentuk akar kata yastawfun adalah istawfa yang berarti ‘menerima sepenuhnya, lengkap, sampai nilai penuhnya, memenuhi’. Akar kata asalnya adalah wafa berarti ‘sempurna, memenuhi, ketaatan, kesetiaan’. Dalam kisah Nabi Ibrahim yang kadang-kadang disebut Ibrahim wafa’ (wafd di sini artinya iman dia), dikatakan bahwa ketika dimasukkan ke dalam api beliau berteriak, ‘Hasbi Allah’ (cukup Allah bagiku) dan ia tetap tidak teriuka oleh api. Itulah arti wafa’.

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

3. Tetapi ketika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.

Kala artinya ‘menakar’. Yukhsirun berasal dari kata kerja khasira, ‘membuat rugi, kehilangan, tidak sampai, binasa’. Ketika muthaffifin (orang yang mengurangi takaran) berada dalam keadaan mampu memberi dan menerima secara adil, yang mereka lakukan dalam transaksi malah merugikan pihak lain dan menguntungkan diri mereka sendiri.

Tiga ayat ini bermakna sama: muthaffifin, yastawfun, dan yukhsirun, saling menguatkan satu sama lain dalam hal kecenderungan manusia untuk ingin selalu menang. Ayat-ayat tersebut menggambarkan bagaimana kita berusaha untuk cerdik dalam transaksi. Itulah sifat dasar kita yang ingin menang dan untung dalam segala situasi. Sementara, sifat mukmin, atau muslim, adalah selalu ingin mengetahui kecenderungan ini dan berusaha memperbaikinya ketika dirinya bertransaksi dengan orang lain yang memiliki potensi sama dengan dirinya. Inflasi terjadi bila kita berusaha mengambil lebih banyak dan memberi lebih sedikit. Ini berlaku bagi situasi sekarang, persis seperti terjadi di Madinah selama periode turunnya Alquran. Jika kita berhubungan dengan suatu komunitas atau masyarakat, maka kita memperhatikan kecenderungan manusia untuk mengambil lebih banyak dan memberi lebih sedikit, dan jika seseorang menyadarinya selagi dia mengerjakannya, maka peluang dia untuk tidak terlalu rakus lebih besar, dan ia akan ingat untuk lebih berlaku adil dalam transaksinya. Kesadaran terhadap ketidakseimbangan kemungkinan besar akan menghasilkan keadilan. Jika kita sadar akan ketidakadilan, maka mungkin kita akan menyadari sifat bawaan manusia yang rendah dalam diri kita.

Ayat pertama mengatakan: Wayl, artinya, ‘Celakalah’ bagi orang-orang yang menipu. Suatu tindakan yang tidak seimbang adalah penipuan. Imam Ghazali mengatakan bahwa kita harus mengakui bahwa jual-beli tidak bisa terjadi kecuali kalau ada ketidakseimbangan, yakni, selalu ada unsur laba. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi pedagang yang jujur, kita harus selalu mengetahui kecenderungan bawaan ini dan memahami bahwa salah satu pihak akan memiliki tangan di atas. Keadaan yang paling baik terjadi bila kedua belah pihak merasa telah mengambil kesepakatan yang memuaskan dan perasaan tersebut tidak berubah begitu salah satu pihak meninggalkan tempat jual-beli. Jual-beli yang jujur harus bertahan terhadap ujian waktu. Jual-beli itu harus mencapai keseimbangan yang paling adil, agar terjadi inflasi yang paling kecil.

Untuk menjelaskan hal ini, mari kita tengok seorang tabiin (generasi muslim kedua, murid para sahabat Nabi) yang mempunyai toko emas. Satu hari ia meninggalkan tokonya untuk pergi salat ke mesjid, dan mempercayakan kepada kemenakan laki-lakinya untuk menjaga toko sampai ia kembali. Ketika si penjaga toko kembali usai salat, ia berpapasan dengan seorang laki-laki, seorang pedagang yang jelas kaya, yang membawa beberapa gelang emas, dan ia tahu gelang tersebut berasal dari tokonya. Ia menghampiri laki-laki tersebut dan bertanya, “Apakah Anda senang dengan yang Anda beli?” Orang itu menjawab, “Ya, saya sangat-sangat senang”. Lalu si penjaga toko bertanya dengan harga berapa ia membelinya. Si laki-laki menjawab, “Saya membayar 200 dirham untuk yang ini, dan 400 dirham untuk yang itu. Saya dapat menjualnya di tempat saya seharga dua kali lipatnya, karena itu saya sangat gembira.” Tapi si penjaga toko berkata, “Tidak. Saya tidak senang karena bajingan kemenakan ini telah menipu Anda. Saya sudah memberitahu dia tentang harga barang-barang ini. Tolong, saya mohon kepada Anda, kembalilah ke toko bersama saya.” Maka si penjaga toko menarik kembali laki-laki itu, memberinya sebagian uang selisihnya, dan mengusir kemenakannya. Si penjaga toko telah memasang harga untuk barang-barangnya dan puas dengan harga itu. Nabi berkata, “Jual, dan ambillah keuntungan, sekalipun keuntungannya sedikit saja.” Dengan cara ini ada dinamisme dan perputaran, dan orang tidak terikat pada apa yang dimilikinya.

Muthaffifin menunjuk kepada kita semua, karena potensi untuk melakukan penipuan ada pada kita semua. Jika potensi untuk menjadi penjahat tidak ada pada diri kita, maka kita tidak akan mampu memahami kriminalitas. Jika potensi kekasaran, atau potensi rasa takut, tidak ada dalam diri kita, maka kita tidak akan memahami maknanya. Jika ketuhanan tidak ada dalam diri kita, bagaimana kita dapat berbicara tentang Samudera Ilahi? Semua itu ada dalam diri kita, dan karena itu kita tidak akan mengatakan bahwa kemenakan si tukang emas suka mementingkan diri sendiri. Jika kisah ini bersifat historis belaka dan ditujukan hanya kepada penduduk Madinah, maka kita tidak perlu mengindahkannya. Namun, yang benar adalah bahwa kita selalu memiliki potensi ini, karena memang begitulah kisah umat manusia.

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ

4. Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan?

Ayat ini menunjukkan jalan keluar dari penjara dan rantai kecenderungan kita pada kesukaan untuk mementingkan diri sendiri dan ketamakan.

Ba’atsa berarti ‘bangkit, bangun, mengirimkan, menyebabkan’. Di sini maksudnya bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban. Siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban kepada siapa? Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban kita sendiri. Ini tentu saja menunjuk kepada alam akhirat, dan tentunya juga berkenaan dengan kehidupan ini. Dengan jalan apa pun, perhitungan ini akan terjadi baik kita suka atau tidak. Jika kita membuka sebuah keran, apa pun yang ada dalam pipa akan memancar; dan semakin lebar kita membukanya, semakin banyak mengalir. Jadi, kita hanya akan membangun lebih banyak ketamakan, kebencian, atau apa pun yang ada dalam diri kita, karena sistem penciptaan terletak dalam pertambahan. Itulah sebabnya mengapa Allah mengatakan, “Kasih-sayangku meliputi segala sesuatu” (Q.S.7:156).

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

5. Pada Hari yang Besar.

Secara eksplisit, ayat ini merupakan penjelasan tentang hari ketika yang tertinggal adalah roh kita, di mana niat dan amal kita telah distempel. Hari Besar ini bisa juga merupakan hari di mana kita siap untuk memperhitungkan diri kita secara utuh, hari kepasrahan total kita, hari islam kita (ketundukkan kepada Realitas). Jika kita ingin terbebas dari rantai-rantai yang membelenggu diri kita, kita harus mampu menyelesaikan semua perhitungan kapan saja. Bahkan, sebenarnya kita harus siap menyelesaikan perhitungan kita sebelum kita membuat perhitungan. Kita dapat melakukan hal ini dengan mempertanyakan niat. Dengan mengetahui niat kita sebelum melaksanakan suatu perbuatan, perhitungan kita akan selalu tetap bersih.

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

6. Pada hari tatkala manusia berdiri di hadapan Tuhan sementa alam.

Yawm yaqumu adalah Hari di mana kita akan berdiri di hadapan Tuhan semesta alam dan menghadapi catatan-catatan amal kita. Jika kita sungguh-sungguh dalam Islam sepanjang waktu, maka kita selalu menghadapi Rabb al-Alamin (Tuhan semesta alam). Qama berarti, di antaranya, ‘berdiri, bangkit dari kematian’, dan menunjukkan bahwa si pelaku dipersiapkan untuk berinteraksi dengan apa yang menjadi tujuan dibangkitkannya dia.

Ayat ini berkenaan dengan akhir zaman untuk menyentak kita dari kelesuan kita saat ini. Ia mengingatkan kita bahwa ada suatu akhir, dan bahwa pada akhimya kita akan dibiarkan tanpa dibekali apa pun selain buah dari niat-niat kita.

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

7. Tidak! Sesungguhnya buku (catatan) orang-orang jahat itu berada dalam Sijjin.

Buku catatan kaum fujjar (orang-orang yang jahat, berakhlak rendah, sesat jalan) berada dalam sijjin. Fujjar berasal dari fajara, yang berarti ‘membelah, mengakhiri, bertindak secara tak bermoral, turut dalam penyimpangan moral’. Subuh disebut fajr, karena ia mengakhiri malam. Seseorang disebut fajir jika ia sesat jalan. Ini berarti bahwa ia menyeleweng, merosot, keluar jalur. Kita semua adalah mutiara dalam untaian yang sama, dan sebutir mutiara hanya akan berarti jika ia dirangkai dalam sebuah untaian.

Akar kata sijjin, daftar setiap perbuatan yang tidak bermoral, adalah sajana, yang berarti ‘memenjarakan’. Sijjin adalah suatu pemenjaraan yang berlebih-lebihan, lebih permanen dan kekal. Dalam beberapa tafsir Alquran, kata ini dijelaskan sebagai nama lain dari jahannam (neraka). ‘Kitab’ adalah apa yang sedang ditulis oleh orang yang telah melakukan kejahatan tentang kehidupannya. Ia adalah penulis biografinya sendiri, tentang segala perbuatannya, yang dihasut oleh niat-niatnya. Si pesakitan sendirilah yang menentukan berapa banyak lagi rantai dan belenggu yang akan dimilikinya.

Kitab adalah apa yang ditulis, dan tulisan itu diwujudkan oleh setiap orang di antara kita melalui amal-amalnya. Jika biografl kita penuh dengan ketamakan dan kekikiran, sebagaimana disebutkan dalam ayat kedua dan ketiga, dan kita beramal tapi demi keuntungan pribadi dan untuk menguasai orang lain, maka kita akan dipenjarakan oleh amal-amal kita. Seseorang bisa saja berkeinginan untuk memimpin selumh kerajaan, karena mengira itu akan mem-bawakan kebahagiaan. Tapi, begitu keinginannya terpenuhi dia pun ingin merangsak kerajaan tetangganya juga. Apakah keinginan ini bukan belenggu? Karena terbelenggu maka kita tidak mau berurusan dengan objek itu sendiri, melainkan dengan perasaan kita terhadap objek tersebut. Sijjin, hukuman penjara, menunjuk kepada keadaan mental kita dan berkenaan dengan kebahagiaan kita, kebebasan batin kita, dan pemenuhan kita, yang merupakan hasil sampingan dari keluasan dan ketulusan islam (penyerahan) dan keterbebasan kita.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

8. Dan apakah yang membuat engkau tahu apakah sijjin itu?

Kata kerja adraka berarti ‘mencapai, mendekati, merenggut, merasakan, menyadari, matang’. Ia menunjukkan suatu pengetahuan yang lebih dalam dan lebih halus dibanding ketajaman buatan. Melalui perenungan yang dalam, maka realisasi dan pemahaman akan datang. Kita semua tahu apa itu belenggu, dan tahu akan seperti apa berada di bawah beratnya pengharapan dan kekecewaan. Kita harus bertanya kepada hati kita sendiri. Bagairnana sijjin, atau penjara kita, muncul, dan mengapa penjara seseorang berbeda dengan penjara orang lainnya? Itu karena kita menentukan situasi-situasi tertentu untuk kita sendiri.

كِتَابٌ مَّرْقُومٌ

9. Sebuah kitab yang ditulis.

Akar kata marqum (tertulis) adalah raqama, yang berarti ‘menulisi, menandai dengan hal-hal yang bersifat pengenal, membubuhi cap, menomori’. Ia juga bermakna ditetapkan dan dituliskan. Raqam berarti ‘nomor’. Maka kitab, atau apa yang dibicarakan, dapat diukur, ditulis dengan persis, dan tidak hanya dapat diukur.

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

10. Celakalah pada hari itu orang-orang yang menyangkal!

Pengertiannya di sini adalah bahwa jika seseorang menyangkal realitas eksistensi dan penciptaan, maka ia adalah seorang mukadzdzib (pendusta). Mukadzdzib berarti perbuatan seseorang yang bertentangan dengan ucapannya, ada pemisahan antara ucapan dan perbuatan. Kidzb adalah dusta, penipuan, kebohongan atau ketidakjujuran. Kecelakaan akan menimpanya pada hari ketika ia tak bisa lagi mengubah did dan menyaksikan realitas terakhir, yak-ni hari kematiannya. Barangsiapa menyangkal haqq (kebenaran), yang menjelma sebagai keadilan, berarti telah menyangkal bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan haqq, dengan keadilan dan keseimbangan. Jika seseorang berbuat tidak seimbang, maka ia sedang berbohong. Seseorang yang mengaku bahwa dirinya tidak menyangkal kebenaran tapi menegakkannya namun berbuat dengan cara yang berlawanan, maka ia berada dalam keadaan kufr (menutup, menyangkal realitas). Pengakuannya sebagai orang yang mengesakan Tuhan (muwahhid) ternyata palsu karena ia berbuat sebagai penipu (muthaffif) dan tidak memperhatikan keadilan dari perbuatannya sendiri.

الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

11. Orang-orang yang menyangkal Hari Pengadilan.

Hari Pengadilan, hari din, adalah hari ketika kita membayar penuh utang-utang kita. Itulah Hari Perhitungan, hari ketika bentuk kita yang sesungguhnya, yakni roh, membentang terbuka. Bentuk ini tidak dapat dilihat sekarang, karena ia merupakan energi halus yang mempertahankan kita hidup. Pemahaman kita tentang roh hanya bisa sejauh ini saja dan tak lebih, karena kemampuan untuk memahaminya muncul dari apa yang disebut ‘Aku’, yang akan terputus sudah sampai di situ.

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

12. Dan tidak ada yang menyangkalnya kecuali orang yang melanggar (melampaui batas) dan berdosa.

I’tadâ, akar dari mu’tadîn artinya ‘menyeberang, melebihi, bertindak sangat keterlaluan’. Sekaitan dengan kata ini adalah kata ‘aduw, yang berarti ‘musuh, lawan’, dan ‘ada, yang berarti ‘permusuhan, kebencian, antagonisme, agresi’. Pelanggaran terjadi karena kita tidak merasakan adanya tauhid di dalam diri kita.

Kata ‘aduw (musuh) tentu saja tidak berarti permusuhan di antara dua pihak tapi mengindikasikan bahwa mereka asing atau berbeda satu sama lain: tidak ada kesatuan di antara mereka. Itu tidak berarti bahwa mereka saling membenci, tetapi yang pasti mereka tidak saling mengenal. Maka kebodohan (ketidaktahuan) adalah juga musuh; kita menentang apa yang tidak kita ketahui. Dari kata i’tada, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pelanggaran dan penyangkalan kita adalah akibat kebodohan kita, maka kita bisa melihat betapa kita bisa menjadi musuh diri kita sendiri. Ketika kita telah melanggar (melampaui batas) jatidiri kita sendiri, maka kita atsim (berdosa). Atsima berarti ‘melakukan dosa atau kejahatan’, dan ini dilakukan karena kebodohan dan kebencian kita yang menyebabkan kita terputus dan berdusta. Atsima termasuk melakukan apa yang tidak boleh kita lakukan. Itsm artinya ‘berjudi’; perjudian dianggap pelanggaran karena dengan terlibat di dalamnya kita melakukan ketidakadilan. Kita menyebutkan suatu sistem selain dari apa yang ditetapkan oleh realitas—yakni kasih sayang dan keadilan—dan, karena itu, kita melakukan kejahatan. Dengan kembali ke sistem yang tidak adil maka kita menjadikan diri kita bagian dari itu.

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

13. Tatkala ayat-ayat kami dibacakan kepadanya, ia berkata: “Dongengan orang-orang kuno”.

Ini berkenaan dengan situasi yang berulangkali terjadi bahkan hingga sekarang, dimana orang mengatakan bahwa karena Alquran diturunkan beberapa ratus tahun lampau maka ia tidak bisa berlaku pada kondisi sekarang; ia hanyalah dongengan masa lampau.

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

14. Tidak! Apa yang mereka usahakan menjadi karat pada hati mereka.

Rana berarti ‘mengambil hati’, dan juga ‘menangkap, mengatasi, merendahkan diri, berlaku’. Yang mereka usahakan akan dimudahkan bagi hati mereka. Seperti dikatakan sebelumnya, jalan mana pun yang kita pilih akan dijadikan mudah bagi kita. Jika kita seorang penjahat, jalan ini akan dimudahkan bagi kita karena bagaimana pun juga kita akan selalu berusaha membenarkan perbuatan kita. Apa pun amal-amal seseorang, semuanya akan dibuat kelihatan nampak-wajar baginya. Dia akan terus membenarkannya kalau dia tidak senantiasa mengembalikan kepada standar perilaku kenabian. Maka dari itu dikatakan bahwa kalau kita terus bersama orang-orang tertentu selama empat puluh hari, kita akan menjadi seperti mereka. Bagi orang yang mudah dipengaruhi mungkin hanya perlu dua jam saja untuk menjadi seperti orang-orang yang mereka gauli.

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

15. Tidak! Sesungguhnya pada bari itu mereka tertutup dari Tuhan mereka!

Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa dalam kehidupan mendatang para pelanggar tertutup oleh suatu hijab dari pengenalan terhadap ketuhanan secara total dan final. Ini berarti bahwa mereka belum memperoleh cukup pengetahuan untuk mempersiapkan diri sebagaimana mestinya di kehidupan ini guna menjalani proses pengungkapan dan penyucian tambahan lainnya yang akan berlangsung di kehidupan selanjutnya. Mereka belum mempersiapkan jalan bagi dirinya untuk berpindah ke alam kehidupan selanjutnya. Alquran mengatakan bahwa kehidupan kita selanjutnya akan sesuai dengan ilmu dan amal kita dalam kehidupan ini. Maka orang-orang yang telah mengingkari, yang terus-menerus berbuat tidak adil dan tidak seimbang di sini, mereka akan berada dalam keadaan terpisah di kehidupan selanjutnya karena mereka sudah berada dalam keadaan seperti itu di sini. Pengingkaran yang mereka jalani dan mereka hidupkan di sini akan mencegah mereka untuk lebur kembali ke dalam sumbernya (tauhid).

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيمِ

16. Lalu sesunggubnya mereka akan memasuki api (neraka) yang menghanguskan.

Shala berarti ‘memanggang, membakar’ atau ‘dihadapkan pada lautan api’. Akar kata jahim adalah jahama, yang berarti ‘menyalakan api’ dan ia digunakan karena api yang akan mereka masuki adalah api yang telah mereka nyalakan dalam kehidupan ini. Jahim di sini rnenunjuk kepada neraka yang diancamkan kepada kita pada hari kiamat, dan juga neraka yang kita pahami sebagai manusia biasa. Ketika hati kita berkecamuk, ketika darah kita mendidih oleh kemarahan atau kegusaran, atau ketika kita terbakar oleh hasrat, maka kita mengalami berbagai aspek neraka dunia. Tapi maksudnya di sini adalah bahwa orang-orang tersebut pasti akan mencapai api abadi karena perbuatannya sendiri.

ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تُكَذِّبُونَ

Surat al-Infithar

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-INFITHAR

“TERBELAH”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Tema dan pola surah ini mirip dengan surah al-Takwir, tetapi maknanya berbeda. Surah ini memperingatkan kita bahwa manifestasi penciptaan akan berakhir dan mendeskripsikan bagaimana kejadian tersebut berlangsung dengan cara yang secara nalar dapat kita pahami. Nalar kita memahami kenyataan bahwa segala sesuatu yang diciptakan berasal dari zat padat yang memuai, kemudian rusak dan selanjutnya terjadi pembaharuan. Setiap pembahan tersebut tidak ada yang menjelma ke dalam bentuk atau pola yang tidak berakhir. ‘Akhir’ ini senantiasa berada di sepanjang bentangan waktu, dan objek kajian kita adalah pengetahuan mutlak yang tidak bembah dengan berjalannya waktu, yakni pengetahuan yang sah dan benar selamanya.

Surah ini dimulai dengan deskripsi tentang alam semesta dan lelangit, kemudian berlanjut ke tingkat duniawi—kuburan—yang merupakan tujuan akhir dari wujud sadar. Bahkan realitas yang menurut perkiraan kita sebagai wujud akhir pun akan hancur.

إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ

1. Tatkala langit terbelah

Ayat ini berbicara tentang akhir waktu dan awal kehidupan berikutnya. Infatharat berasal dari kata kerja yang artinya ‘retak, koyak atau pecah berantakan’. Fithrah, dari akar kata yang sama, berarti ‘sifat bawaan lahir, naluri’. Kata fitrah secara inheren mengingatkan pada gagasan tentang ‘asal-mula’, dan, sebagaimana nampak dari bentuk-bentuk katanya yang sekaitan, menunjukkan bahwa asal-mula sesuatu bersumber dari retakan. Alquran mengatakan bahwa bumi berbentuk telur, dan ketika air muncul maka bumi pun retak sehingga memudahkan terjadinya pertumbuhan sesuatu dari dalam bumi. Berdasarkan apa yang nampak dan secara simbolis, segala sesuatu berasal dari satu sumber awal yang mendadak masuk ke dalam arus penciptaan yang bersaluran banyak.

Lelangit dipersatukan oleh kekuatan-kekuatan berbeda yang menjaga agar bintang-bintang dan planet-planet tetap berada dalam orbitnya yang teratur. Jika sistem tersebut retak, maka tatanan ini akan rusak. Implikasinya di sini adalah bahwa bila sistem eksistensi di alam ini—baik untuk kita maupun untuk makhluk lain, seperti jin—sudah mencapai suatu titik yang merupakan akhir perkembangan, maka sistem tersebut akan mulai runtuh. Setiap sistem yang ada bersifat terbatas kecuali yang hakiki, yakni Allah yang meliputi semua sistem. Ia Tidak Berbatas dan karena alasan inilah maka muncul batas-batas yang penuh makna. Setiap batasan berasal dari Yang Tak Berbatas, dan karena berasal dari Yang Tak Berbatas, maka ia mesti terbatas. Waktu dapat dipahami hanya karena ada ketidakberwaktuan, yang maknanya sudah terkandung dalam diri manusia.

وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انتَثَرَتْ

2. Dan tatkala bintang-bintang bertebaran.

Beginilah yang terjadi sebagai akibat dari ayat pertama. Intatsarat artinya ‘bertaburan secara serampangan’. Kawâkib adalah ‘planet-planet’. Menurut pendapat kita, ketika lelangit retak, planet-planet yang terdekat kepada kita akan bertaburan. Kekuatan yang dengan kuat menjaganya agar tetap dalam orbit akan hancur dengan sendirinya.

Kawkaba, akar kata yang merupakan asal kata kawâkib, artinya ‘bersinar cemerlang’, terutama digunakan untuk menggambarkan kilau besi yang mengkilat. Jika suatu ‘hari’ digambarkan sebagai kawkabi, berarti hari tersebut memiliki arti penting atau kesulitan tertentu. Dalam hal ini, menurut pendapat kita, kata tersebut menunjuk kepada berbagai unsur di alam raya yang keberadaannya menonjol dalam sistem tata surya, dan mereka bersinar dengan kecemerlangan yang lebih besar dibanding sinar benda langit lainnya.

Intatsara yang berarti ‘bertaburan atau berhamburan, bertebaran’, menunjukkan bahwa pertaburan ini terjadi secara serampangan meskipun mengikuti pola tertentu. Gerakannya acak, namun tidak tanpa makna, dan bersifat abstrak. Kata intatsarat menimbulkan kesan menaburkan benih di atas tanah. Dari sudut pandang si penabur, si pelaku, maka penaburan ini mengikuti pola tertentu, yakni pola yang ditentukan oleh beberapa faktor seperti ukuran tangan dan gerakan serta iramanya yang normal, meskipun dari sudut pandang pengamat atau peneliti penaburan tersebut nampak serampangan. Tindakan menebar itu sendiri adalah menaburkan, namun ia mengikuti pola tertentu yang sudah ditetapkan.

وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ

3. Dan tatkala lautan naik meluap-luap.

Bila kekuatan atau sistem yang menjaga keutuhan alam semesta lenyap, maka terjadilah ledakan. Fujjirat berasal dari fajjara, yang berarti ‘menyebabkan mengalir, membelah, meledak’. Sistem yang ada akan meluap melampaui batas asalnya dan hancur dengan cepat.

Kata kerja fajara mempakan sumber kata yang kaya makna, yang makna-maknanya semua bertalian secara logis, sehingga perlu mendapat perhatian lebih jauh. Fajr (subuh) dihubungkan dengan fajara. Malam, yakni kegelapan yang menyelubungi, dirobek oleh sorotan pertama cahaya pagi, karena itu kata tersebut diartikan ‘fajar sidik’. Infijar adalah ‘ledakan, letusan, atau letupan’. Dalam Al-quran, fujur (kejahatan, imoralitas, kejangakan) biasanya menunjukkan pelanggaran, tindakan kelewat batas, melampaui batas jalan. Bila seseorang dikatakan sebagai seorang fajir maka artinya orang tersebut merosot akhlaknya dan bermoral bejat tak punya malu.

Salah satu makna fajjara yang paling penting dalam Alquran terdapat dalam ayat berikut: “Sebuah mata air dari mana hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan berlimpah” (Q.S.76:6). Pengertiannya di sini adalah bahwa mata air itu ada dalam diri kita sendiri. Mata air tersebut, yakni tempat fitrah (sifat yang orisinil), berada di dalam hati manusia, tapi ia harus diletuskan dan dipancarkan. Untuk itu kita harus dapat mencapai mata air itu. Untuk membuka deposit box di sebuah bank saja kita harus berjalan melalui beberapa lorong guna mencapainya. Demikian juga hati: untuk mencapainya, kita harus berjalan melewati semua mangruang menakutkan yang telah kita buat dan kita bangun dalam perjalanan hidup ini.

Hasan al-Bashri, salah seorang murid Ali ibn Abi Thalib, mengatakan bahwa maksud dari ayat ini berkenaan dengan ‘air yang mengering’ karena air tersebut mengalir kembali ke sumber asalnya. Planet-planet yang menahan kita dalam orbit, yang berhubung dengan kita dan paling berpengaruh terhadap kehidupan kita, akan bertebaran. Demikian pula, lautan akan kosong, yang padat akan kembali mencair, dan uap akan kembali hampa. Kita akan melihat segala sesuatu terbalik dan kita pasti akan mengalaminya.

وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ

4. Dan tatkala kuburan-kuburan dibuka.

Kini keruntuhan dunia semakin dekat. Tempat istirahat terakhir adalah kuburan, yang mempakan tempat kedamaian. Ba’tsara, akar dari bu’tsirat, berarti ‘tersebar di sana-sini, terbalik, menjebloskan ke dalam kekacauan’. Ayat ini menggambarkan akibat lain dari terjadinya gangguan, antara lain, dalam daya gravitasi dan sentrifugal yang mempersatukan dunia. Pemakaman akan menyembul dan kuburan-kuburan akan terbuka. Apa pun yang disembunyikan dan dirahasiakan oleh setiap jiwa akan tersingkap melalui pembukaan ini.

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

5. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang ditempatkan di depan dan apa yang dibiarkan di belakang.

Nafs di sini berarti ‘roh’, atau ‘jiwa’. Akar katanya dihubungkan dengan tanaffasa, yang merupakan kata kerja ‘bernafas’. Nafs adalah entitas kompleks yang meliputi sebab sejati eksistensinya, yakni roh. Kata ruh dalam bahasa Arab berkaitan dengan ‘angin’, karena sifatnya yang bebas mengalir. Nafs juga memiliki semua ciri buatan yang dicangkokkan kepada roh sebagai akibat dari perwujudannya. Kata nafs dan ruh kadang dapat dipertukarkan. Hu-bungan mereka bagaikan matahari kepada bumi: diri disadarkan oleh roh.

Bila semua tiang lahiriah telah roboh, seperti pada Hari Kebangkitan, setiap diri akan menjalani realitasnya, dan realitas ini dibentuk oleh amal-amalnya dan oleh apa yang telah dipeliharanya sebelum dunia wujud lahiriah runtuh.

Qaddamat, di sini diterjemahkan sebagai ‘[ia] menempatkan di depan’, kata kerja yang akarnya adalah qadam, artinya ‘kaki’, yakni, apa yang kita letakkan di hadapan kita untuk bergerak ke depan menuju sesuatu yang baru. Kita hanya mengupayakan apa yang sesuai dengan tujuan kita. Kalau tujuan kita adalah menyampaikan dan memperoleh pengetahuan tentang realitas, maka semua kekuatan di sekitar kita akan membantu.

Ayat ini mengatakan bahwa bila semua peristiwa tersebut tadi terjadi, maka niat seseorang akan terlihat jelas oleh dirinya sendiri, meskipun sebelumnya mungkin ia nyaris tidak memikirkan alasan untuk melakukan sesuatu perbuatan. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa lebih baik sama sekali tidak berbuat sebelum niat kita jelas, karena perbuatan hanya sesuai dengan niat yang mendahuluinya, dan kehidupan kita akan diuji. Jika kita memulai dengan hal nyata, maka kita akan membuat kemajuan. Umpamanya, menafkahi keluarga adalah suatu perbuatan yang patut dipuji. Karena bertindak dengan niat yang baik maka seseorang akan mencapai suatu titik di mana ia mulai haus akan pengetahuan, dan hal ini membawa dia kepada pengingatan akan Allah (zikir), yang pada gilirannya menggiring kepada kesunyian batin. Jika kita berbuat dengan ketulusan hati, rnaka keadaan zikir akan dicapai bagaimana pun juga, karena, seperti dikata-kan dalam Alquran, “Sesungguhnya la Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!’

Akhkhara artinya ‘menunda, menangguhkan, menghalangi, mengembalikan’, secara tidak langsung menunjuk kepada apa yang telah disembunyikan. Kita adalah hasil dari apa yang telah kita tinggalkan, masa lalu kita. Sebagai individu, sebagai manusia, kita adalah jumlah dari perbuatan dan pemikiran masa lalu kita, yang disembunyikan, ditangguhkan, atau yang diungkapkan. Yang berpotensi terjadi di masa mendatang adalah tujuan kita dan yang sebenarnya akan terjadi adalah perwujudan tujuan itu. Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lain dan juga dengan lingkungan luar, dan hasil dari interaksi-interaksi ini adalah masa akan datang. Jika manusia mengetahui apa yang ada di belakang dan di depan dirinya, maka ia sudah menguasai seluruh cakrawala dan berhubungan dengan cakrawala tersebut.

Makna ayat ini adalah bahwa pada hari itu setiap nafs akan benar-benar menampakkan diri, warna, nada, dan iramanya. Roh berawal sebagai kekuatan sejati, dan substansinya terbuat dari suatu unsur yang dengan itu setiap roh lain dapat berhubungan. Oleh karena itu setiap roh akan melihat roh lainnya dengan jelas, tidak seperti sekarang di mana kita dapat menyembunyikan bagian-bagian dari diri kita yang tidak ingin diketahui orang lain. Oleh karena itu, semakin terbuka kita di sini dan saat ini, dan semakin siap kita hidup di sini dan saat ini, maka kita pun semakin siap untuk menghadapi yang akan terjadi kelak. Kita harus memperhatikan cara hidup kita, sepenuhnya dan secara total. Jika seseorang sungguh-sungguh ingin menerapkan hal ini, ia akan mencapai kesimpulan bahwa cara mewujudkannya adalah dengan membersihkan setiap niat dan merangkaikannya dengan perbuatan yang benar dan dengan sungguh-sungguh bersikap terbuka, tidak menutup-nutupi, dan siap ditanya.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

6. Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan engkau dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah?

Setelah mengungkapkan bahwa dunia ini bersifat terbatas dan begitu kompleks serta fantantis, dan bahwa yang akan tertinggal dari masing-masing orang adalah jiwa, surah ini kemudian memusatkan perhatiannya langsung pada manusia. Insan (manusia) pada dasarnya memiliki sifat suka bergaul, peramah dan bersahabat. Makna yang lebih dalam dari ayat ini adalah: ‘Wahai engkau yang sudah menjadi penyembah ketauhidan, dengan nama apa pun engkau menyebutnya, apa yang menyebabkan engkau sombong sehingga mengira bahwa engkau terpisah dari Tuhanmu Yang Senantiasa Pemurah?’ Ketika kulit luar dunia hancur, apa alasan perbuatan manusia melepaskan diri dari Realitas Tunggal? Esensi manusia itu murah hati dan menyenangkan, lantas apa yang menyebabkannya begitu congkak?

Yang menjadi perhatian di sini adalah sifat manusia yang sesungguhnya, yakni yang akan tetap bertahan pada saat semua hiasan duniawi berangsur sima. Apa yang memalingkan dia sehingga tidak mengenal Rububiyyah (Ketuhanan)? Jawabannya adalah kecintaannya terhadap dunia ini, kesukaannya berada dalam kebingungan. Namun jawaban yang benar adalah ‘tidak ada alasan’. Ketika terjadi pertentangan dengan Tuhan, mengapa manusia tidak melaksanakan apa yang menjadi tujuannya dilahirkan, yakni mencari kebenaran? Untuk ini pun tidak ada jawaban yang sahih.

Selain Allah, semuanya adalah palsu dan kita tidak bisa ditipu oleh ‘ketiadaapa-apaan’, oleh suatu keniskalaan. Apa pun yang memalingkan manusia dari garis kebenaran maka itulah dunia, yang bersifat sementara dan menyebabkan kita berada dalam ghaflah (kelalaian, ketakperdulian). Kita menjadi terpancang pada dunia ini karena berbagai ilusi yang dibebankan pada diri kita sendiri, walaupun kita sebenarnya mencari keamanan. Sebenarnya, Yang Senantiasa Memberi Keamanan itu sudah ada di dalam hati dan berpengaruh terhadap situasi lahiriah, dan dalam situasi tersebut kita mendapati ternyata kita mengikuti hal-hal yang bersifat sementara. Kita harus berupaya untuk merasakan keamanan tersebut, dan begitu unsur yang menyebabkan kecintaan kita itu tidak lagi berkuasa, maka kita pun bebas dari kelalaian dan dapat mengenal Tuhan kita.

Perekat cinta yang paling hebat adalah tampilnya ‘Aku’, sang ego. Saat penciptaan berlangsung, unsur setaniah berkata, “Aku lebih baik daripada dia” (Q.S.7:12), dan dengan masuknya unsur ini maka mulailah kecintaan terhadap sesuatu yang asalnya tidak ada. Ketika dunia yang nampak ini tiba pada saat akhimya, maka segala sesuatu yang menjadi sandaran pun akan lenyap. Setan tidak akan muncul di alam kesatuan absolut, karena mustahil kekuatan yang menyebabkan keterpisahan itu akan berfungsi di sana.

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ

7. Yang menciptakan engkau, lalu menyempumakan engkau, lalu membuat engkau seimbang (proporsional).

Seandainya manusia tidak diciptakan maka ia tidak akan memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, juga tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan eksistensi batin, juga tidak akan melihat ratusan bunga yang nampak sama namun berbeda dalam warna dan bau.

Sawwa memiliki banyak makna, termasuk ‘meratakan, mendatarkan, meluruskan, mengatur, merapikan, menyamakan’. Lantas, mengapa manusia berlaku sombong padahal ia melihat betapa dirinya diberi potensi untuk tampil harmonis dan sempurna?

‘Adl artinya ‘lurus’, dan ini merupakan prinsip yang paling efisien (jalan tercepat untuk menghubungkan dua titik, bagaimana pun, adalah garis lurus). Ia juga berarti ‘keadilan, kewajaran dan ketulusan’. Segala sesuatu secara menakjubkan diciptakan dengan seimbang, wajar dan ekologis, baik di alam lahir maupun batin—dua alam ini sebenarnya adalah satu, dan, karenanya, seimbang. Kita memahami Pencipta kita melalui penelitian dan perenungan terhadap ciptaan-Nya.

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ

8. Dalam bentuk apa pun Ia kehendaki, Ia membentuk kamu.

Shurah adalah ‘gambaran, bentuk, rupa, kesamaan atau tiruan, dari kata kerja shawwara, ‘membentuk, menciptakan, menggambarkan, membuat’. Rakkaba adalah ‘mengikatkan, membangun, menyatukan’. Akar katanya adalah rakiba (menaiki). Bila kita melihat penciptaan secara keseluruhan, maka kita akan mengetahui bahwa temyata apa pun dapat terjadi, dan memang terjadi. Adalah di luar pemahaman intelektual kita untuk mengerti mengapa suatu sel atau makhluk tertentu bergerak dengan cara tertentu, dan kemudian kita menyebutnya sebagai gerakan yang abstrak atau serampangan. Sebenarnya tidak ada yang serampangan dalam gerakan tersebut, tapi yang terjadi adalah bahwa kita tidak dapat memahami gerakan tersebut. Sebenarnya, pola pencarian intelektual kita bisa melalui proses pemahaman atau, kalau tidak, melalui kebingungan. Dari segi realitas batin (hakikat) segala sesuatu sangat masuk akal dan tidak ada yang nampak janggal, tapi jika kita melanggar norma-norma akal dan pikiran, maka kita memasuki alam kebingungan.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

9. Sekali-kali tidak Engkau menolak Hari Pengadilan.

Kalla (sekali-kali tidak) maksudnya menegaskan kembali. Dengan kata lain maksud ayat ini adalah ‘Memang demikianlah halnya’. Penolakan bagi manusia sangatlah wajar: “Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi” (Q.S.103:2); dan, sangat bisa dimaklumi kalau kita melanggar, lupa dan tidak ingat. Itulah sebabnya mengapa Allah Maha Pengampun, Maharahman, dan mengapa kita bertobat kepada Allah. Hal ini Normal. Dalam konteks ayat ini, yang sedang kita ingkari adalah transaksi yang benar dan perilaku yang benar, yakni satu-satunya jalan untuk hidup, untuk bersiap-siap, untuk berada dalam keadaan bebas dari hawa nafsu di mana kita dapat menyadari dan mengalami keberlimpahan.

Ayat ini berbicara kepada kita pada tataran batin yang dalam. Din, dalam konteks lain, biasanya diterjemahkan sebagai ‘agama’. Namun kata tersebut menunjukkan suatu transaksi, yakni transaksi untuk membayar utang-utang kita kepada sang Pencipta. Akar kata din adalah dâna, yakni ‘berhutang, menjadi sasaran, menyerah’. Sifat dasar manusia memang mengingkari Islam. Persis bagaikan ikan salmon yang berusaha berenang ke hulu dan hanya sedikit sekali yang mencapai sumbemya. Ayat ini ditujukan untuk orang-orang Mekah kepada siapa ayat ini khususnya diturunkan, dan juga untuk semua orang di sepanjang masa. Sifat sejati manusia adalah ingin mencari sumbernya, sementara sifat rendahnya adalah menolak perjanjian yang mengaridung kerahmanan dan hanya dapat diketahui melalui pembayaran utang—dengan menghidupkan din— yang memang utangnya. Kemudian jalan kecil menuju Kerahmanan yang meliputi semua makhluk dilicinkan, ta’abbada (diratakan, dibuka, dilicinkan), melalui nyanyian ibadah.

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ

10. Dan sesungguhnya ada penjaga untuk kamu.

Kekuatan dan energi yang luhur, malaikat atau lainnya, menggiring kita ke arah pola dan takdir penciptaan. Kekuatan ini ditujukan kepada hâfizhin (penjaga, pelindung) karena tugas mereka adalah merefleksikan salah satu sifat Allah, al-Hafizh. Nama ‘Pelindung, Penjaga, Pemelihara’ menunjuk kepada Allah, satu-satunya Pelindung yang sejati.

Bagaimana mengejawantahkan al-Hafizh? Nama ini berasal dari akar kata kerja yang berarti ‘memelihara, melindungi, menjaga, menopang, mengingat’. Hafizh, dalam bahasa Arab sehari-hari, berarti seseorang yang hafal Al-quran. Sang Pencipta tidak akan menciptakan hukum kehidupan kalau Dia tidak akan mempertahankannya. Dengan demikian kita yakin bahwa hukum itu tidak berubah dan tidak akan berubah bagi siapa pun, baik ia seorang nabi, rasul, atau orang biasa. Hukum penciptaan berlaku sama kepada semua. Banyak di antara hukum-hukum ini yang kita anggap pasti benar karena kita tunduk padanya sepanjang waktu, seperti hukum gravitasi. Setiap diri ingin sekali mempertahankan, memelihara dan melanjutkan hidup. Ini adalah manifestasi kekuatan hâfizhin melalui diri.

كِرَامًا كَاتِبِينَ

11. Juru catat yang mulia.

Segala perbuatan manusia langsung dicatat. Ganjarannya seketika itu juga, dan akan ditulis dalam buku catatan amal dan kemudian dicatat dalam dirinya sendiri. Baik penyakit serius maupun ringan yang menyebabkan kita menderita adalah akibat langsung dari perbuatan kita. Ganjaran kita identik dengan perbuatan kita, dan makna dari perbuatan kita adalah niatnya. Kita mewujudkan niat: pada saat ini kita adalah jumlah total dari semua niat masa lampau kita. Jika mereka bebas—fi sabilillah (di jalan Allah)—maka kita bebas. Kita sama kotornya atau sama bersihnya dengan niat kita, dan itulah yang menentukan keadaan dan kondisi hati kita.

Jika niat manusia bersih sebersih-bersihnya, namun ia bertindak secara bodoh karena ia tidak memiliki cukup pengetahuan dunia lahiriah, maka mungkin ada yang menganggapnya tolol atau bahkan jahat jika orang lain menderita akibat tindakannya. Meskipun demikian Allah, Yang Mahabijaksana, memaafkan dia. Tapi di dunia ini, hukum lahiriah (syariat) meliputi kebenaran abadi (hakikat). Segala sesuatu mengikuti hukum Allah, dan hanya Allah yang berkuasa. Jika, meskipun niatnya bersih, ternyata manusia dijebloskan ke dalam penjara karena secara lahiriah menyebabkan keluhan kepada orang lain dan perbuatannya ini dapat dikenai hukuman, maka hal ini dibenarkan menurut syariat. Seorang hamba Allah yang benar-benar bebas (secara batiniah—peny.), namun berada dalam penjara (secara lahiriah—peny.), akan benar-benar puas dengan ketetapan Allah atas dirinya.

Kirâm kâtibîn (pencatat yang mulia) artinya bahwa amal baik yang paling luhur adalah mengetahui jalan yang sesuai dengan penciptaan manusia. Para malaikat, atau kekuatan, yang menjaga agar kehidupan berjalan terus dengan lancar di dunia ini, adalah kirâm kâtibîn. Mereka adalah energi dan kekuatan dalam diri manusia yang mencatat kisah manusia dari dalam. Setiap satu sel dalam tubuhnya menggemakan seluruh kemakhlukkannya, yang mengandung sejarah tentang semua yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Kâtibîn berasal dari kata kerja kataba, yang berarti ‘menuliskan, menggoreskan, menentukan, menakdirkan’. Ada pengertian ‘mengumpulkan’ di dunia ini. Karena itu, kitab tidak hanya berarti ‘buku’, tapi juga ‘apa yang diperbuat’. Jika seseorang dalam keadaan sadar, ia dapat ‘membaca’ apa yang diperbuat. Itulah yang dimaksud Alquran. Para malaikat, atau kekuatan, adalah mulia karena mereka berada pada batas-batas kemampuannya yang telah ditentukan. Dituliskan bahwa mereka harus menulis, dan mereka melakukannya.

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

12. Mereka mengetahui apa yang engkau lakukan.

Entitas atau kekuatan—kemana kita dihubungkan dan diikatkan oleh Realitas Tunggal—mengetahui apa yang kita lakukan meskipun intensitas pengetahuannya berbeda. Segala sesuatu yang kita lakukan akan mempengaruhi segala sesuatu yang lain dalam keseimbangan ekologis yang mutlak ini. Setiap perbuatan kita akan meninggalkan kesan pada kekuatan sensitif yang menguasai serat kosmik yang halus. Itulah mengapa kita mengatakan, “Allah sangat mengetahui”, dan “Allah memiliki pengetahuan atas segala sesuatu.”

Allah adalah al-’Alim (Yang Maha Mengetahui [semua]). Jika kita bertambah dalam ‘ilm (pengetahuan, kearifan), maka kita akan mendekati al-’Alim, sehingga kebodohan akan berkurang. Ibaratnya, saat cangkir menjadi penuh maka apa yang berada dalam cangkir dan cangkimya sendiri sudah dapat dipahami sebagai membentuk satu sistem, karena agar ada isi maka harus ada wadah. Inilah makna dari tema di mana seorang guru agung berkata: “Satukan minuman dengan cangkir dan lenyaplah olehnya (minuman-cangkir sudah menjadi ‘satu’ sistem—peny.).”

Meskipun kedua sistem itu nampak berbeda, yang satu cair dan satunya lagi padat, manusia adalah penghubung, ruang antara (barzakh), maka ia harus menghubungkan batin dengan lahir. Dari sudut pandang ‘arifbi’llah (orang yang mengenal Allah), tidak ada yang namanya batin ataupun lahir. Yang ada hanyalah Allah, Realitas Tunggal, yang memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk penciptaan.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

13. Sesungguhnya orang-orang yang tulus ada dalam kenikmatan.

Surah ini dimulai dengan mendeskripsikan dampak besar di hari kiamat (akhir dunia), yang deskripsinya meliputi akhir kita sendiri, dan kemudian memberi kita kabar baik tentang kenikmatan. Akar kata abrar (bebas, adil, baik hati) adalah barra (bersikap adil). Barr adalah ‘permukaan tanah yang luas’, tapi maknanya lebih dari sekadar gurun pasir. Kata ini menunjukkan ruang, keterbukaan dan pandangan yang jelas. Barr adalah lawan dari bahr (laut). Di atas barr segala sesuatu nampak jelas, tapi dalam bahr segala sesuatu tersembunyi di bawah permukaan.

Na’im (kebahagiaan, damai, sentosa) barasal dari na’ama (hidup senang dan tenteram, berbahagia, lembut). Na’am artinya ‘ya’. Ni’mah Allah adalah nikmat Tuhan. Di antara sifat dasar manusia adalah membenarkan karunia Allah. Keadaan abrar yang sesungguhnya akan merefleksi ke tempat tinggal di masa akan datang, dan di sana yang akan mereka dapati tak lain hanyalah kenikmatan atau kesenangan semata.

Surat at-Takwir

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH AL-TAKWIR

“MENGGULUNG”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Surah ini dimulai dengan membicarakan dimensi alam semesta, lalu bergerak ke dimensi manusia, kemudian memfokuskan pada kehidupan batin. la mulai dengan alam semesta, kembali kepada manusia, dan kemudian membicarakan manifestasi terbuka dari semua hal tersembunyi dalam rangka menampakkan kita secara lahir dan batin agar kita menemukan kesatuan dalam diri kita.

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

1. Tatkala matahari digulung,

Kawwara artinya ‘menjadikan bulat, memadatkan, melipat sesuatu, menggulung’. Kurah adalah bola. Takwir adalah gerakan sesuatu yang melipat dirinya sendiri menjadi bulat.

Pengetahuan bahwa matahari bersifat eksplosif dan ekspansif jelas-jelas sudah ada pada saat diturunkannya ayat ini. Ayat ini merupakan keterangan mengenai proses berbaliknya ekspansi penciptaan. Adapun matahari, ia terus-menerus meledak. Proses serupa terjadi pada bom hidrogen, yakni, melebur atau meledak sendiri secara terus-menerus. Kalau penciptaan yang meledak sendiri itu sampai pada akhirnya, maka matahari benar-benar akan melipat dirinya sendiri.

وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ

2. Dan tatkala bintang-bintang menjadi gelap,

Inkadarat berasal dari akar kata kerja kadura, yang berarti ‘berlumpur, berawan, keruh, kehitam-hitaman’. Menurut beberapa sumber, inkadara artinya ‘menembak jatuh atau menukik ke bawah’. Manusia bersifat ekspansif: ia merefleksikan keekspansifan seluruh alam semesta. Sebagai buku pedoman kehidupan, Alquran memperhatikan peran dan keadaan manusia dalam penciptaan. Realitas batin Nabi Muhammad menggetar dalam kata-kata sebagai wahyu untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, jika Alquran tidak digunakan sebagai buku pedoman hidup, sebagai sesuatu yang dapat kita pahami dalam keadaan kita sekarang atau dalam keadaan lainnya di mana kita mungkin berada, berarti kita belum menggali dan menjadikannya berguna bagi kita. Kita harus menggemakan realitas Qurani dalam kehidupan sehari-hari kita dan kita harus mengambil manfaat darinya sebanyak mungkin. Pada se-tiap tahap kehidupan, Alquran mampu menghilangkan noda yang telah menutupi sumber pengetahuan dalam diri kita. Sumber pengetahuan itu berada dalam diri kita, dan kegunaan Alquran adalah untuk membawa kita ke dalam penyadaran.

Secara naluriah manusia tidak menyukai kegagalan sebab ia merefleksikan ekspansi alam semesta. Kita mencintai Sifat-sifat Allah, dan Sifat Allah dalam penciptaan adalah ekspansif. Tak seorang pun di antara kita ingin rugi; kita hanya ingin berhasil, dan makna keberhasilan zaman sekarang adalah ekspansi. Namun, kadang-kadang keberhasilan terletak pada penyusutan. Ketika bentuk lahiriah manusia menyusut, aspek batinnya kemungkinan meluas. Kehidupan dan realitas manusia berlanjut sehingga ia tidak memperhatikan kematian pribadinya sendiri. Karena yang hakiki hidup selamanya, maka, mengapa ia harus takut? Yang ia butuhkan hanyalah sikap yang lurus.

Ayat ini berkenaan dengan jatuhnya bintang-bintang. Bintang-bintang disatukan oleh kekuatan sentrifugal, elektromagnetis, dan gravitasi, dan mereka membentuk satu entitas sempurna yang berada dalam keadaan ekspansif. Bila kekuatan ekspansif ini diintervensi—disebabkan oleh munculnya suatu fase tertentu dalam proses jalannya penciptaan secara keseluruhan—maka mereka akan jatuh. Setiap yang diciptakan mesti berakhir pada waktunya, apa pun itu. Surah ini memberikan suatu gambaran tentang bagaimana babak akhir ini akan terjadi pada skala kosmik, mulai dengan yang paling ekspansif dan menyeluruh kemudian menyusut ke skala individu.

Kita juga dapat melihat makna dari dua ayat ini dari sudut pandang mikrokosmik. Sejauh mengenai individu, maka matahari adalah rohnya, dan najm (bintang) adalah nafs (diri)-nya. Ketika matahari, atau roh, berhenti memberikan makanan kepada nafs, yakni bintang, maka bintang kemudian menyusut atau melipat dirinya. Nafs akan menyerah karena pada saat itu ia akan dipadamkan, ditutupi dan dilenyapkan.

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ

3. Dan tatkala gunung-gunung digerakkan,

Suyyirat adalah kata kerja pasif sayyara, yang berarti ‘menggerakkan, menghidupkan, mengedarkan’. Sayyarah artinya ‘kendaraan’. Ketika gunung-gunung mulai bergerak, mereka tidak akan bergerak dengan satu sentakan, tapi bergerak dalam gerakan yang terus-menerus. Bagaimana mungkin gunung bergerak dengan cara ini, kalau proses pembentukkan dan peluncuran bumi tidak berhenti? Karena kita sedang mengitari angkasa dengan kecepatan ribuan mil per jam, ketika saat akhirnya tiba dan bumi tercengkam lalu berhenti mendadak, gunung-gunung pun, niscaya, akan tercerabut dari tempatnya dan hancur. Untuk merasakan proses ini coba saja kita berhenti mendadak dalam kendaraan yang sedang bergerak. Pencabutan ini merupakan satu aspek dari babak akhir drama keci! kita di atas planet yang mungil ini.

وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ

4. Dan tatkala unta-unta hamil ditinggalkan,

Gunung-gunung yang terlepas dan binatang-binatang yang dibiarkan tidak terpelihara adalah kejadian yang luar biasa. Semua kesan ini melukiskan suatu keadaan berlawanan yang menyatu seketika itu juga. ‘Isyâr adalah seekor unta yang hamil sepuluh bulan. Bagi bangsa Arab gurun pasir pada waktu itu, unta melambangkan harta yang paling diinginkan. Jika unta-unta tak dipelihara, itu berarti bahwa irama yang nonnal dari berbagai peristiwa yang biasanya menyatukan kehidupan padang pasir tidak lagi berjalan. Akar kata ‘uththilat artinya ‘mengabaikan, meninggalkan tanpa peduli, memutuskan, menghentikan’. ‘Uthlah berarti ‘liburan atau tidak bekerja’, yakni, istirahat dari rutinitas normai seseorang. Ketika proses-proses penciptaan yang alamiah terganggu, maka akan teqadi kemacetan total dalam proses kehidupan. Ketika dunia sam-pai pada akhirnya, maka tidak ada orang waras yang akan merawat unta!

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

5. Dan tatkala binatang-binatang buas dikumpulkan,

Semua margasatwa akan berkerumun saling mendekat. Hasyara artinya ‘berkerumun, berhimpun, berkumpul’. Lagi-lagi ini mencerminkan sifat dasar penciptaan. Segala sesuatu pada dasamya bersifat ekspansif. Meskipun semua margasatwa cenderung bergerak bersama-sama dalam beberapa kawanan atau kelompok, namun binatang-binatang tidak berkumpul terlalu rapat; mereka mempertahankan individualitasnya, mempertahankan jaraknya masing-masing . Pada hari ketika semua sistem kehidupan sampai pada ujungnya, mereka akan bergerak dengan cara yang berlawanan dengan sifat dasarnya. Rasa takut menyebabkan mereka tidak berpencar tapi berkumpul bersama, karena tidak akan ada tempat bagi mereka untuk melarikan diri mencari keselamatan.

وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ

6. Dan tatkala lautan dipanaskan,

Sajjara, akar dari sujjirat, berarti ‘bergelombang, meluap’, dan bentuk pertamanya, sajara, berarti ‘menyalakan, membakar, mendidihkan’. Seringkali bila sesuatu berakhir, secara sepintas kita melihat seperti apa permulaannya. Dengan kata lain, ayat ini mungkin berarti bahwa api akan benar-benar keluar dari tanah pada akhir penciptaan persis seperti ketika bumi pertama kali diciptakan. Ketika itu bumi mulai sebagai sebuah bola api yang kemudian mendingin begitu proses penciptaan dibentangkan.

Kiasan ‘lautan memanas’ mungkin menunjuk kepada gunung-gunung berapi yang meletus dari lautan, atau bahkan kepada neraka yang membara di lautan akibat tumpahan minyak yang terbakar besar-besaran. Apa pun makna persisnya, perujukkan kepada lautan yang bernyala menunjukkan bahwa hal yang biasa digantikan oleh hal yang luar biasa.

Air melambangkan kesejukan dan ketenangan, tapi di sini kita diberitahukan bahwa akan tiba suatu saat di mana bagian bumi yang berair akan mendidih. Hal-hal yang kita anggap semestinya berbeda dan terpisah dihubungkan dengan kebalikan-kebalikannya. Semua kejadian ini merupakan peristiwa yang berlangsung pada saat proses kehidupan yang terus berkembang berhenti.

وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ

7. Dan tatkala roh-roh dipertemukan,

Nafs di sini artinya roh. Zuwwijat (bersatu) berasal dari akar kata zawwaja, yang artinya ‘berpasangan, bergandengan, bersatu’. Ayat ini bisa berarti bahwa roh akan dipersatukan dengan roh pasangan atau kawannya ketika di dunia atau dengan roh yang dikenalnya, atau bahwa roh itu akan dipasangkan dengan masa lalu duniawinya. Di alam kosmos, perpasangan terjadi secara konstan di mana hal-hal yang berlawanan bertemu. Manusia terdiri dari dua aspek: aspek jasmaniah yang merupakan bagian dari apa yang dinamakan ‘aku’ dan aspek yang tak dapat dilihat yang disebut rohaniah. Kita bisa membayangkan eksistensi roh dengan bertanya, ‘Di mana aku berada saat tertidur lelap? Di mana aku berada ketika mimpi?’ Kita mengatakan, ‘Aku bermimpi mendaki lereng gunung yang curam,’ tapi kenyataannya tubuh kita tidak bergerak. Dengan kata lain, roh adalah aspek lain dari manusia yang memiliki pengalamannya sendiri. Memahami penyatuan dari dua hal yang berlawanan ini—jasmani dan rohani—adalah satu cara untuk memahami makna ayat ini.

Cara lain untuk memahaminya adalah bahwa kita tidak berada dalam keadaan penyatuan karena bermacam-macam keadaan yang muncul dari nafs kita. Berbagai harapan, keinginan dan kebutuhan kita harus dipenuhi jika kita ingin ternetralisir dan mengalami penyatuan. Itulah sebabnya kebanyakan kita dapat direhabilitasi melalui penyatuan ‘perkawinan’. Perkawinan merupakan sarana pemenuhan, terutama bila kedua belah pihak saling respek, dan menyadari bahwa manusia datang ke dunia ini sendirian dan akan pergi dari dunia sendirian pula. Jika mereka saling membantu untuk mencapai pemenuhan diri selama persinggahan di dunia ini, mereka akan mencapai sesuatu.

Dengan demikian, ada dua cara yang mungkin untuk memahami ayat ini. Ketika nafs seseorang hancur, ia menyatu dengan lawannya. Segala sesuatu dalam kehidupan berada pada tingkat dualitas; ada baik dan ada juga buruk. Segala sesuatu yang dapat dibayangkan, disentuh, dirasakan atau sedikit banyaknya diamati, muncul dengan salah satu dari dualitas itu. Namun kita semua sedang mencari Yang Satu, karena kita takkan pemah dapat terpuaskan oleh dualitas.

Implikasi dari ayat ini adalah bahwa dualitas akan berakhir. Dalam kehidupan ini, dualitas akan berakhir bila manusia mencapai kebebasan diri yang sempurna, dan bila sudah tidak ada yang dapat memenuhinya karena ia sudah terpenuhi. Hal ini juga akan terjadi ketika manusia memahami sifat realitas yang sejati pada saat mati. Dalam realitasnya yang ada hanyalah Tuhan, yang ada sebelumnya hanyalah Tuhan, dan yang akan ada hanyalah Tuhan. Pengetahuan ini datang melalui batin—realisasi pengalaman—dan tidak perlu dipelajari.

Jika seseorang ingin mencapai esensi Alquran, maka yang dapat ia lakukan hanyalah persiapan untuk menanggalkan segala sesuatu—dan itu berarti mati. Ia harus berada dalam keadaan fana. Ia harus mendekatinya dengan hati yang bersih, tanpa ada asumsi atau prasangka apa pun. Jika tidak, ia tetap terperangkap dalam penderitaan dualitas dan dunia kearifan yang, paling banter, hanya bersifat lahiriah dan eksistensial belaka. Sebaliknya, ia hanya akan berinteraksi dengan kulitnya—ajaran lahiriah— ketimbang berubah dengan mendengarkan kebenaran. Pencari yang tulus akan mendengar Alquran seakan langsung dari bibir Nabi. Pencari yang tersadarkan mendengar Alquran seakan digemakan dari luar waktu oleh Allah.

Ketika seseorang memahami Alquran, berarti ia menemukan keluasannya. Namun, esensi manusia itu sendiri adalah luas. Pemahaman tergantung pada seberapa kuat dan lurusnya hati seseorang. Alquran mengatakan, “Bacalah apa yang mudah dari Alquran” (Q.S.73:20). Membaca apa? Apa maksudnya? Kita membaca apa yang sudah ditulis, apa yang ditulis pada kita. Pernyataan ini dibuat untuk mempertajam pandangan kita, untuk membuka apa yang sudah ada dalam diri kita.

Dalam ayat ini kita membaca, ‘Dan tatkala roh-roh dipertemukan’, artinya pada saat kita dipertemukan Dengan lawan kita atau pada saat kita dinetralisir. Sekarang ini hasrat kita tidak pernah terpuaskan. Kita selalu mengidamkan sesuatu, terus beralih dari satu aspek dualitas ke aspek dualitas lainnya dengan mengubah keadaan luar kita. Namun, kecenderungan ini akhirnya tidak akan berguna sebab yang mesti berubah adalah diri kita sendiri.

Kita hidup dalam dualitas, karena itu kita berusaha menetralisir. Bagaimana kita menetralisir? Kita menetralisir nafs kita dalam keheningan, secara sungguh-sungguh dan positif. Dalam keheningan itu kita memiliki pengetahuan langsung tentang makna Hajar Aswad (Batu Hitam) yang terpasang di sudut Ka’bah di Mekkah.

Tidak banyak kaum muslim yang mengetahui makna Hajar Aswad, meskipun mereka melakukan tbawaf (lari-lari kecil mengitari Ka’bah) dan menciumnya pada waktu ibadah haji setiap tahun. Hitam mengandung semua warna—ia melambangkan kematian, dari mana muncul kehidupan. Kehidupan tidak dapat dipahami kecuali jika kita siap mati. Makna jihad (secara harfiah, upaya keras, dan perang membela diri melawan kaum kafir) tidak hanya tentang darah dan kematian fisik; ia adalah kesiapan untuk mempertahankan kehidupan tanpa kenal takut, kehidupan rohani. Nabi tidak menginginkan perang dan kematian yang diakibatkannya. Beliau menggunakan nalar untuk menghindarinya. Ia tak gentar untuk bersikap rasional, karena ia menggunakan akalnya dan telah menyimpang dari warisan politeisme sukunya.

Hasan ibn Ali menggunakan nalar ketika ia melepaskan khilafah. Imam Hasan memiliki ribuan prajurit tapi ia tahu bahwa mereka tak mungkin mampu bertahan dan gigih. Oleh karena itu ia beranggapan tidaklah bijaksana menggidng mereka ke dalam peperangan sementara mereka tidak akan mampu bertahan, karena mereka tidak memiliki keyakinain yang dalam.

Kejahilan terjadi bila kita tidak mensyukuri penciptaan. Kejahilan ada dalam substansi manusia, karena segala sesuatu mengandung kebalikannya. Bagian dari manusia yang ingin hidup juga mengandung kehancurannya yang terakhir. Kita semua akan mati dan akan melihat indahnya kesempurnaan dalam kenyataan ini. Meskipun kita mungkin masih menggemakan rasa cinta terhadap al-Baqi (Yang Abadi), namun kesempurnaan kehidupan dan kematian manusia terletak dalam pengetahuan bahwa hidup dan mati hanyalah suatu siklus yang melahirkan kesadaran.

Kita akan mengetahui siapa kita sebenarnya kala kita sampai pada keadaan penyatuan yang sejati. Kita memahami mengapa kita semua—dalam realitasnya—mencari tauhid. Pengalaman pertama kita adalah pengalaman keterpisahan, dengan jalan mana kita dapat mengatakan bahwa esensi adalah satu. Yang ada hanyalah Keesaan, hanya Allah, tapi untuk mencapai realisasi ini kita harus berjalan melalui beberapa tahap. Tahap pertama kita meyakini keesaan. Tahap selanjutnya kita mampu mengatakan ‘Aku mulai mengerti!’ Namun, sepanjang ada ‘Aku’ kita berada dalam syirik (menyekutukan Allah dengan selain Allah). Ketika si ‘Aku’ tumbang, maka yang kita lihat hanyalah Aliah, hanyalah Sifat-sifat-Nya, dan itulah kedamaian terakhir yang melahirkan perbuatan. Kedamaian ini bersifat dinamis, tidak statis atau mati, juga tidak ada sandiwara dan penderitaan di dalamnya. Orang luar bisa saja melihat penderitaan, tapi sang muwahhid (pemersatu) tidak melihat penderitaan; yang dilihatnya tak lain hanyalah cinta. Pada saat itu segala sesuatu akan dapat dimengerti dan dilihat sebagai kesempurnaan. Gambaran eksistensi duniawi mungkin tidak diinginkan bila manusia sudah memahaminya, tapi itulah kesempurnaan. Mungkin saja kita tidak ingin minum obat yang pahit rasanya, tapi kesempurnaannya terletak dalam kemanjuran obat tersebut dalam mengembalikan kita ke keadaan sehat. Namun, tahap ini sangat halus dan hanya akan diungkapkan kepada teman yang paling intim.

Dengan demikian, makna dari ayat ini adalah bahwa esensi manusia adalah satu, dan hanya ada satu esensi. la mulai dengan syirik, dengan mengatakan, ‘Esensiku adalah satu’, dan kemudian ‘Yang ada hanya esensi, tak ada yang lain di samping Allah.’

وَإِذَا الْمَوْؤُودَةُ سُئِلَتْ

8. Dan tatkala gadis kecil yang dikubur hidup-hidup ditanya,

بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ

9. Karena dosa apakah ia dibunuh.

Orang Arab pada zaman Nabi begitu arogan dan bangga akan kegagahan lahiriahn

Surat ‘Abasa

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAH ‘ABASA

“IA BERMUKA MASAM”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Setiap surah diturunkan pada kesempatan tertentu dan mempunyai relevansi langsung baik dengan kejadian saat itu maupun dengan kejadian mendatang, karena firman Tuhan tidak dibatasi oleh waktu. Surah ini berkenaan dengan kejadian berikut: suatu hari ketika Nabi sedang duduk bersama para petinggi Quraisy yang menentang Islam dan tidak mau masuk Islam, beliau diganggu oleh seorang laki-laki buta. Orang buta ini, ‘Abd Allah ibn Umm Maktum, berakhlak baik sekali. Setiap kali berjumpa dengan Nabi, ia selalu bertanya, “Beritahu aku apa yang telah Tuhan sampaikan kepadamu.” Maka Nabi akan berusaha menerangi hatinya dan memberinya kabar baik. Namun kali ini Nabi bermuka masam dalam menanggapi gangguan tersebut, karena mungkin saat itu beliau nyaris mencapai kesepakatan dengan para pemimpin Quraisy, dan peristiwa ini akan memperkuat posisi Islam di tengah mereka dan menambah jumlah umat Islam. Surah ini turun kepada beliau saat kembali ke majelisnya setelah mengatasi gangguan (kedatangan Umm Maktum) tersebut.

عَبَسَ وَتَوَلَّى

1. Dia bermuka masam dan berpaling,

أَن جَاءَهُ الْأَعْمَى

2. Karena orang buta datang kepadanya.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى

3. Dan apa yang kau ketahui, bahwa mungkin ia hendak menyucikan dirinya?

Ayat ketiga berkenaan dengan para pemimpin Quraisy dan orang buta. Yazzakka berasal dari kata kerja ‘membersihkan (menyucikan) diri’; pembersihan harus dilakukan untuk mengerjakan salat, yang merupakan salah satu pilar Islam. Salat tidak hanya berarti sembahyang tapi juga berarti mengisi ulang dan berhubungan, dan dikerjakan lima kali sehari sampai kita terhubungkan secara permanen. Sekaitan dengan yazzakka adalah tazkiyah yang berarti pembersihan (penyucian), dan bermakna menambah atau meningkatkan kualitas sesuatu. Misalnya, kualitas air ditingkatkan dengan cara membersihkannya; kita membersihkan diri dengan cara membayar zakat.

Seluruh subjek kehidupan adalah pembersihan, dan jika ada kebersihan maka ada kedamaian. Manusia selalu berusaha semampunya untuk membersihkan pikiran dan perbuatannya. Pembersihan perbuatan sebagian orang bisa saja dilakukan dengan cara melakukan amal-amal yang paling baik, sesudah itu akan terjadi keseimbangan dan mendapat pelajaran. Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan kaum Quraisy, sementara sebagian lainnya mengatakan bahwa ia berkenaan dengan orang buta karena yang dibicarakan bukan kuantitas melainkan kualitas (penyucian).

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَى

4. Atau menjadi ingat sehingga peringatan itu berguna bagi dia?

Praktik-praktik yang dilakukan orang bertakwa merupakan upaya untuk senantiasa berada dalam keadaan ingat dan sadar. Kita mungkin bertanya, ingat akan apa? Ingat akan apa saja yang menyebabkan pemenuhan dan yang menyebabkan tiadanya pemenuhan. Kita semua menderita karena tiadanya pemenuhan yang kita sebabkan sendiri. Setiap orang, sebagai individu, menetapkan bahwa pemenuhan akan terjadi hanya jika beberapa peristiwa tertentu terjadi. Jika peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi, maka ia akan sengsara. Karena itu setiap individu adalah penulis dari pemenuhannya sendiri, dan tak ada orang lain yang dapat menolongnya dari sejak dalam kandungan sampai ke liang lahat. Maka zikir, dari kata kerja dzakara, yang berarti ‘mengingat’, adalah awal dari perenungan, bukan sekadar meditasi. Zikir sulit dilakukan dalam dunia modern sebab kita selalu berada dalam keadaan tergesa-gesa sehingga kita tidak dapat meluangkan waktu yang tenang untuk melihat bayangan kita dalam cermin.

Keempat ayat ini berkenaan dengan zikir yang positif. Jika zikir hanya merupakan pikiran romantis, lantas apa gunanya? Itulah sebabnya maka kita tidak perlu memikirkan hari kemarin ataupun apa yang akan terjadi esok, tapi bekerjalah hari ini sebaik-baiknya. Hari ini, saat ini, adalah milik kita. Jika energi kita dipelihara, maka setiap hari akan menjadi hari yang terbaik, karena kita akan selalu siap dan waspada. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mampu melakukannya.

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى

5. Adapun orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan apa-apa,

Istaghna berasal dari ghaniya, yang berarti ‘kaya, bebas dari kekurangan’. Tidak ada ketidakbergantungan, tapi yang ada hanyalah Yang Tidak Bergantung. Dalam realitasnya tidak ada keterputusan total, di mana setiap orang mempengaruhi orang lainnya. Seekor lalat mempengaruhi keseluruhan kosmos, meskipun pengaruhnya hanya sejenak. Namun, di antara kita ada yang mengira bahwa kita baru saja menemukan ekologi. Hanya setelah menyebabkan punahnya puluhan spesies barulah kita menemukan ketidakseimbangan dalam ekologi alam. Jadi, tidak ada yang terbebas dari kekurangan dan kebutuhan, dan kita tidak memiliki apa pun, karena segala daya dan kehi-dupan memancar dari Allah (Yang terbebas dari segala kekurangan maupun kebutuhan—peny.).

فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّى

6. Maka engkau memberikan perhatian kepadanya.

Meskipun di sini diterjemahkan sebagai ‘memberikan perhatian’, tashadda berasal dari kata kerja ‘menyibukkan diri dengan seseorang, beralih kepada seseorang, menentang, melawan’. Adapun orang yang kelihatannya sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri, mereka akan menjumpai berbagai kendala dalam usahanya. Mereka akan terhambat.

وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى

7. Dan bukanlah kesalahanmu jika ia tidak menyucikan diri.

Tugas seorang rasul sejati adalah menyampaikan pesan kepada yang lain. Ia hanya dapat berusaha mencontohkan isi pesan tersebut. Keinginan untuk memberikan segala aspek yang kita sendiri menyukainya merupakan unsur penting kondisi manusia. Namun rasul tidak dapat menyucikan orang lain, dan beban dosa akibat penyangkalan orang lain pun tidak jatuh padanya. la hanya dapat memberikan jalan dan contoh.

Seperti telah kita ketahui dalam ayat tiga, kata kerja untuk ‘disucikan’ mempunyai dua makna pokok: ‘menumbuhkan’ dan ‘menyucikan’. Zakat, yang berasal dari akar kata yang sama dengan yazzakka, adalah sebutan untuk 2,5% pajak yang dikenakan atas beberapa jenis harta yang didistribusikan kepada kaum miskin. Secara lahiriah zakat menyangkut pemberian. Secara batiniah zakat adalah membuang kotoran dan membersihkan diri, karena zakat menyiratkan pengakuan bahwa apa pun yang dimiliki seseorang akan mengikatnya erat-erat. Karena manusia sudah terikat oleh jasadnya dan terpaksa memilikinya, maka ia hams memberikan zakat. Zakat adalah kewajiban menurut syariat (hukum ilahi). Ia juga merupakan kewajiban secara batiniah, karena jika praktik lahir tidak sejalan dengan makna batin, maka tidak ada gunanya.

وَأَمَّا مَن جَاءَكَ يَسْعَى

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan usaha keras,

Ayat ini berkenaan dengan orang buta yang datang kepada Nabi meminta pengetahuan. Sa’i (berlari tujuh balik antara bukit Safa dan Marwah, sebagai ritus haji) berasal dari akar kata kerja yang sama dengan yaSa dan berarti ‘bergerak dengan cepat, berusaha keras’. Sa’i adalah prosesi yang kita laksanakan pada saat Haji, dan merupakan simbol dari apa yang kita—sebagai manusia berakal— kerjakan setiap hari dalam kehidupan kita. Kita sedang berjuang dengan segala upaya.

وَهُوَ يَخْشَى

9. Dan ia takut,

Siapa pun yang mendatanginya dengan tekad kuat untuk mendapat pengetahuan seperti orang buta itu maka ia akan takut terhadap hal-hal yang menyebabkan harapannya tidak terkabul. Bukan hanya tidak lepas dari rasa takut, tapi juga dari ketakutan—yang bersifat waspada— terhadap hal-hal yang merintangi kemajuan atau pengayaan ilmu pengetahuannya.

فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّى

10. Dan engkau tidak memperhatikannya.

Bentuk akar kata kerja talahha adalah laha, yang di sini berarti ‘tidak memperdulikan, berpaling, atau terlupakan’. Makna lain termasuk: ‘menghibur diri, membuang-buang, menghabiskan waktu, menikmati, mengecap, berusaha melupakan’. Zaman sekarang malha dikenal sebagai klub malam. Namun makna awalnya adalah setiap hal yang mengalihkan perhatian. Hal yang mengalihkan seseorang dari mengejar tujuannya adalah lahw (hiburan, pengalih perhatian), bukan pembebasan batin, dan pembebasan lahir hanya berguna jika dibimbing oleh batin.

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

11. Tidak! Sesungguhnya itu adalah peringatan.

Bila kata kalla (sesungguhnya tidak) muncul dalam Alquran, maka ia digunakan untuk mempertegas persoalan. Peringatan seperti ini jangkauannya luas melampaui waktu. Dengan kilas-balik ke masa lampau, dapatkah kita mengingat kembali suatu kejadian di mana kita mempunyai niat yang jelas dan bergerak melaksanakan niat tersebut? Andaikata tidak bisa, dapatkah kita mengakui bahwa kita dulu hidup tenang? Sebaiknya anggaplah tahun-tahun itu bertentangan dengan kita, karena mereka hanyalah tahun-tahun di waktu lampau, bukan tahun-tahun dalam kehidupan nyata. Ayat ini merupakan peringatan bagi kita agar bersikap peka, waspada dan aktif.

Setiap tindakan tanpa niat yang jelas menghendaki tindakan yang benar. Teguran ayat ini mengingatkan kita terhadap berbagai kecenderungan normal yang ada pada kita, yakni lebih menyukai perbuatan tertentu daripada terus memfokuskan beribadah kepada Allah sebagai tujuan utama kita. Kecenderungan untuk mengikuti asumsi-asumsi tertentu atau pola-pola perilaku pilihan merupakan cagar alam dari jiwa yang rendah. Sifat ini ada pada semua makhluk. Namun pada diri Nabi Muhammad yang sempurna, kecenderungan ini tidak termanifestasi secara lahiriah karena bimbingan Ilahi mutlak senantiasa mengontrol. Bunyi ayat ini tidak ditujukan kepada tindakan nyata Nabi, karena Nabi adalah sempurna. Oleh karena itu, meskipun ayat ini kedengarannya seperti teguran, ia hanya mendengungkan suatu peringatan terhadap kecenderungan ini yang ada pada semua hamba Allah. Jadi seakan-akan Allah mengatakan, “Jika engkau dibiarkan tanpa petunjuk, engkau akan lebih menyukai para pembesar Quraisy, yakni musuh-musuh-Ku.”

فَمَن شَاء ذَكَرَهُ

12. Maka barangsiapa ingin, hendaklah memperhatikan itu.

Pilihan ada di tangan kita. Realitas telah mewujudkan dirinya dengan cara ini, tidak dengan cara lain. Yang berjalan dalam sistem ini tak lain hanyalah kerahiman, dan karena saking luasnya jangkauan kerahiman tersebut serta meliputi segala sesuatu, sampai-sampai segala perbuatan salah kita pun bisa jadi nampak baik pada kita. Ayat ini mengatakan barangsiapa ingin ingat maka ia akan ingat. Pilihan terserah pada masing-masing individu, karena setiap orang, sebagai makhluk manusia, adalah makhluk tertinggi dalam penciptaan. Kita berada di puncak realitas penciptaan yang telah memberikan kita peluang untuk mencoba hidup dengan melanggar hukum Allah meskipun, realitasnya, kita tidak terpisah dari Pencipta kita. Tidak ada pemisahan, tidak ada dua. Alquran menyatakan: “Jalan telah ditunjukkan kepadanya, apakah ia bersyukur atau ingkar” (Q.S.76:3). Maka, kalau tidak dalam keadaan bersyukur, puas, dan mabuk batin, ia tentu dalam keadaan tertutup, menyesal, dan menjadi kaku. Manusia harus memilih! Begitu diciptakan, ia segera dihadapkan pada dualitas, pada beberapa alternatif. Kalau kita sadar, pengalaman langsung kita akan mengingatkan kita untuk menghindari apa pun yang tidak baik demi kebahagiaan kita. Kita akan menjadi takut menyebabkan kerugian pada diri kita sendiri dengan cara hanya mengingat apa yang sudah ada pada kita.

فِي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ

13. Dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan,

Shuhuf adalah jamak dari shahifah, yang berarti ‘halaman buku’. Shahifah dalam bahasa Arab modern berarti ‘surat kabar’. Fungsi surat kabar adalah menyebarkan berita, menunjukkan situasi. Shuhuf mukarramah artinya ‘lembaran-lembaran yang dimuliakan’, yang dibubuhi dengan cap realitas penciptaan. Ini berkenaan dengan tulisan mulia yang terukir dalam gen kita dari sejak awal waktu penciptaan, bukan berkenaan dengan sesuatu yang ditulis oleh seorang bijak bernama Ibrahim.

Yang tertulis adalah hal-hal yang inheren dalam penciptaan. Buku Catatan Ilahi ini memuat petunjuk dan takdir penciptaan. Di dalamnya terdapat semua hukum yang membawakan semua kehidupan dan yang menghubungkan alam nyata dengan alam gaib. Kita semua sudah dikondisikan karena masing-masing diberi karakter jasmani, karakter emosionil, dan, pada tingkat yang lebih dalam, karakter spiritual tertentu. Bagaimana pun bentuk yang diberikan, keselumhan karakter kita tercakup dalam karakter yang jauh lebih luas dan setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketetapan Allah itu dibuat sedemikian rupa sehingga ada takdir-takdir tertentu yang tidak dapat diubah dan ada takdir lainnya yang dapat diubah dengan cara mernperbaiki niat dan perbuatan kita. Takdir seorang individu seluruhnya merupakan hasil dari tindakan, pemikiran dan niatnya yang berinteraksi dengan dunia luas.

مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ

14. Yang ditinggikan, yang disucikan,

Kitab, realitas, atau penulisan kode genetika itu bersifat luhur dan suci. Tapi apa yang dimaksud dengan kesucian mutlak? Tingkat kesucian yang disebutkan di sini tidaklah terhingga; ia tidak dapat dimengerti ataupun diukur. Tidak ada kebenaran, misalnya, pada sesuatu yang kita katakan sebagai gambar arus listrik murni, karena tidak ada kemurnian di dalamnya. Listrik sebenarnya memancar sendiri karena ia mengalir secara berlawanan. Sepanjang sesuatu dapat diukur maka ia tidak suci, dan sepanjang manusia hidup maka ia pun tidak suci. Ayat ini menyinggung penulisan kode abstrak yang tercantum dalam Buku Catatan.

‘Buku yang terhormat’ itu bersifat agung dan tinggi karena hal-hal kotor semuanya ada di bawah, tunduk pada hukum gravitasi. Apa pun yang berat akan jatuh, dan apa pun yang ringan akan bergerak naik. Itulah sebabnya ketika menyeru Tuhan kita tanpa pikir-pikir lagi langsung melihat ke atas dan bukan ke bawah.

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

15. Di tangan para penulis,

Safarah adalah jamak dari safir, artinya ‘ahli menulis’. Safar, dari akar kata kerja yang sama, adalah ‘perjalanan’, sedangkan safir adalah ‘dutabesar, utusan, atau mediator’. Tangan merupakan instrumen tindakan. Suara Tuhan mengatakan bahwa penyandian ini, yang sama sekali abstrak dan murni, dilakukan atau diciptakan melalui medium atau tangan-tangan utusan. Seorang dutabesar penuh sepenuhnya mewakili kedutaannya. Begitu pula kehendak Ilahi, diimplementasikan melalui para wakil dan utusan yang benar-benar loyal.

كِرَامٍ بَرَرَةٍ

16. Yang mulia, berbudi baik.

Kata-kata ini menggambarkan kekuatan pelaksanaan yang menghasilkan realitas penciptaan ini. Kita mesti ingat bahwa Alquran menyatukan gaung keabadian dengan kemanusiaan. Nabi adalah entitas yang bergetar dan berdenyut yang menyampaikan Alquran dengan kata-kata yang dapat kita selami sedalam-dalamnya dalam rangka merenungkannya. Kita tidak bisa hanya memeriksa permukaannya saja. Oleh karena itu, kiram bararah tidak hanya berarti ‘mulia dan baik budi’. Karam berarti ‘kemurahan hati yang mutlak dan menyeluruh’. Jika seseorang benar-benar murah hati, maka ia menjadi saluran tempat lewatnya berbagai hal, baik dalam bentuk harta, ilmu pengetahuan, atau wujud kemurahan hati lainnya. Jika ia adalah karim (murah hati), ia hanya akan menjadi sebuah instrumen, sementara dirinya sendiri mangkir. Inilah kemurahan hati dalam bentuk terakhir.

Akar kata bararah adalah barra, yang berarti ‘saleh, adil’. Birr, dari akar kata yang sama, dalam kamus-kamus bahasa Arab didefinisikan sebagai ‘kebajikan, penghormatan, atau ketaatan’, tapi hanya sebagian saja yang benar. Kata tersebut juga diartikan sebagai loyal, setia dan konsisten.

Kiram bararah adalah kekuatan-kekuatan yang melaksanakan realitas penciptaan tanpa ada intervensi. Hanya makhluk manusia, sebagai puncak penciptaan, yang diberi kebebasan untuk secara cukup bodoh mengira bahwa dirinya adalah makhluk yang istimewa, atau, dengan cukup bijak membebaskan batinnya [dari persangkaan seperti itu—peny.].

قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ

17. Celakalah manusia itu! Alangkah tidak berterimakasihnya dia!

Qutila adalah bentuk pasif dad kata kerja ‘membunuh’, dan, dengan demikian, sedikit mengubah maknanya menjadi ‘dikutuk’ dengan konotasi kuat ‘dihukum’.

Alquran baru saja membawa kita kepada persoalan yang sangat halus, lalu tiba-tiba membawa kita kembali kepada kekasaran manusiawi kita. Kufr—kata benda dari akar kata kerja yang sama dengan akfara (tidak berterima-kasih atau tidak setia)—adalah menutupi kebenaran dalam upaya membenarkan keirasionalan ego kita. Segala sesuatu dalam eksistensi ini menunjukkan kesempurnaan—kita mendapatkan apa yang patut kita dapatkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena kita mempunyai berbagai pengharapan maka biasanya kita dilanda frustasi. Dunia secara keseluruhan bergerak ke satu arah, tapi segala pengharapan kita malah berbelok ke arah lain.

Pembunuhan menyiratkan berakhirnya kemungkinan. Sebenarnya kehidupan memancar dari satu sumber ilahiah, dan karena itu eksistensi individual dari masing-masing orang dibangun oleh kerahiman sumber tersebut. Dengan demikian warisan kita yang sebenarnya adalah ketuhanan. Tapi apakah hal itu diakui oleh kita? Bukannya berada dalam kesatuan, kebanyakan kita justru hidup dalam keter-pisahan yang sangat menyedihkan dengan sumber kehidupan.

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

18. Dari benda apakah Ia menciptakannya?

مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ

19. Dari benih kehidupan yang kecil, Ia menciptakannya, lalu Ia membentuknya sesuai dengan ukurannya.

Dari apa manusia diciptakan? la diciptakan dari sperma. ‘Lalu la membentuk dia’. Qaddara, berarti ‘menyiapkan, merencanakan atau menentukan sesuatu sesuai dengan ukurannya’. Qadr, yang dihubungkan dengan qaddara berarti ‘takdir, ketetapan Ilahi’. Suatu ketetapan bisa diukur.

Ayat ini menunjukkan bahwa pengkodean manusia yang lengkap terdapat dalam sperma. Selanjutnya manusia akan muncul dalam wujud kasar, berinteraksi dengan eksistensi lainnya, dan menemukan jalan kembali ke sumbernya. Alquran membawa kita ke dalam kemutlakan dan kemudian mengembalikan lagi kepada realitas duniawi ini untuk menyadarkan kita agar bisa lebur ke dalam realitas.

ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

20. Lalu Ia menjadikan jalan itu mudah baginya.

Lagi-lagi, ini berkenaan dengan hal positif. Sabil berarti ‘jalan atau garis edar’. Mengapa kita semua mencari jalan dalam kehidupan? Sabil dicari untuk menghindari lubang perangkap di jalan yang tidak dipasangi rambu-rambu yang jelas. ‘Jalan’ ini mungkin saja berupa kesepakatan, perkawinan, bisnis, liburan, dan sebagainya. Kita mencari jalan yang jelas karena kita telah menyimpang akibat pilihan-pilihan buruk yang kita buat dalam kejahilan dan kegelapan kita.

Perhatikanlah kata Arab untuk ketidakjelasan atau kegelapan, zhulam atau zhulumat. Kegelapan dideskripsikan dalam Alquran sebagai selubung yang harus disingkirkan karena hakikat dari segala sesuatu adalah cahaya. Cahaya adalah ilmu pengetahuan, sehingga kita mendapat gambaran: “Allah adalah cahaya langit dan bumi’ (Q.S.24:35). Zhulam, bila menutupi cahaya itu, kadang menjadi hikmah. Segala sesuatu ada hikmahnya, tapi kita tidak selalu memahaminya demikian. Jika, umpamanya, seseorang tahu bahwa kesehatan yang buruk akan menimpanya dalam waktu dekat, mak’a ia akan sakit karena cemas dari sekarang sampai nanti (saat keburukan menimpa). Oleh karena itu, kegelapan yang menutupi pengetahuannya tentang apa yang akan terjadi merupakan suatu hikmah.

Yassara berarti ‘melancarkan, meratakan, melicinkan, memudahkan’. Yusr dari akar kata yang sama, berarti ‘kemudahan, kemakmuran, kelimpahan’. Yasar berarti ‘kesenangan, kemewahan’, dan juga ‘tangan kiri’. Di semua kebudayaan, selama periode spiritualitas besar, tangan kanan melambangkan tindakan positif dan tangan kiri negatif. Manusia mengambil, memberi dan makan dengan tangan kanan. Ia membuang dan menghambur-hamburkan dengan tangan kiri. Ia mengetahui hal positif dengan meniadakan hal negatif.

Surah an-Nazi’at

•Juni 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

SURAHAL-NAZI’AT

“MEREKA YANG MEROBEK-ROBEK”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Surah Makkiyah ini berkenaan dengan kehidupan sekarang dan mendatang, dan juga memberikan deskripsi tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi pada Hari Pengadilan.

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا

1. Demi mereka yang merobek-robek dengan kekerasan,

Surah ini dimulai dengan mendeskripsikan kekuatan yang diketahui oleh semua orang dan umumnya ditafsirkan sebagai kekuatan malaikat, kekuatan luar biasa yang melaksanakan berbagai fungsi dalam seluruh penciptaan.

An-Nâzi’ât berasal dari kata naza’a, artinya ‘membawa, mencabut, bertengkar’, menunjukkan dua kekuatan yang saling berlawanan. Ghariqa, akar kata kerja gharq, artinya ‘terbenam, karam, basah kuyup.’ Ada ketidakjelasan makna di sini, dan penjelasannya sudah pasti hanya Allah yang tahu. Bisa jadi ayat ini berkenaan dengan saat kematian, ketika malaikat maut dengan kekerasan mencabut nyawa orang yang tidak ingin berpisah dengan kehidupan ini dan yang tidak siap untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Jiwa mereka harus dicabut paksa dari tubuhnya agar mereka melanjutkan jalannya takdir. Ayat ini mungkin juga berkenaan dengan alam semesta, di mana lima ayat pertama menunjuk kepada berbagai jenis planet dan bintang karena semuanya adalah pusat energi yang menjaga agar alam semesta tetap dalam keadaan terus-menerus bergerak.

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

2. Dan demi mereka yang menarik dengan lembut,

Yang diterjemahkan di sini sebagai ‘dengan lembut’ (nasyth) bisa juga diterjemahkan sebagai ‘dengan mudah, dengan penuh semangat atau dengan enerjik’. Ini mungkin berkenaan dengan jiwa-jiwa yang nasyth, bersemangat dan aktif, sehat dan dinamis. Ali Zainul Abidin pernah berkata, ‘Bagi orang yang mempercayai Realitas (Wujud Hakiki), kematian adalah bagaikan melepas pakaian kotor yang baunya busuk’. Jiwa seperti itu menanti-nanti kehidupan berikutnya sebab ia mengetahui bahwa di kehidupan berikutnya tidak ada kekacauan dan kesengsaraan dunia ini. Pasti, tidak akan terjadi gangguan di sana. Kita tidak bisa mengintervensi atau menyela—karena kita akan tidak berdaya—dalam kedamaian.

Ayat ini mungkin juga menunjuk kepada bintang-bintang jauh yang cahayanya mencapai kita setelah ratusan bahkan ribuan tahun cahaya dan ekspansi kosmiknya senantiasa melampaui batas kecepatan.

وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا

3. Dan demi mereka yang melayang di angkasa,

Al-sâbihât, ‘mereka yang melayang’, berasal dari akar kata kerja sabaha yang berarti ‘berenang, mengapung, melayang’. Jiwa mengalir mengikuti takdir dan berjalan sekehendaknya tanpa hambatan. ‘Mereka yang melayang’ bisa juga menunjuk kepada entitas-entitas yang substansinya menyerupai riak gelombang energi—para malaikat—yang memudahkan jiwa-jiwa yang mau menyerah. Sekali lagi ayat ini bisa saja berlaku untuk planet-planet yang beredar dalam orbitnya.

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

4. Lalu mereka yang mendahului ke muka,

Ayat-ayat ini dapat juga dipahami seluruhnya pada tingkat mulk (kekuasaan di bumi, berhubungan dengan hal-hal keduniawian). Sabaqa artinya ‘mendahului, meninggalkan’. Sibâq, dari akar kata yang sama, berkenaan dengan pacuan, khususnya pacuan kuda. Sebagian tafsir mengatakan bahwa ayat ini berarti ‘melihat yang berketurunan murni, melihat kuda yang unggul’. Kuda yang benar pemeliharaannya adalah kuda yang unggul. Jika kita memahami ayat ini dipandang dari sudut ekspansi kosmik, maka ayat ini juga mungkin berkenaan dengan planet-planet yang bergerak lebih cepat dibanding bintang-bintang atau galaksi-galaksi lain yang bergerak lebih jauh dibandingkan benda langit lainnya dalam orbit mereka.

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

5. Dan mereka yang mengatur urusan,

Ayat ini berkenaan dengan daya, kekuatan, planet-planet dan energi yang tujuannya adalah tadbîr (pengaturan), dari dabbara, artinya, ‘mengadakan penataan, mengorganisir, mengatur’, yakni, melakukan berbagai aksi yang saling menghubungkan berbagai kejadian di dunia ini, aksi-aksi yang akhirnya menjadi gerakan angin, awan, gunung berapi, atau umat manusia; dengan kata lain, gerakan dari berbagai unsur luar yang menyatukan semua unsur. Apa pun yang temasuk di antara mudabbirât adalah berkenaan dengan tadbîr atau pengaturan urusan.

Surah ini menggiring kita untuk mulai merenungkan segala daya dan kekuatan yang mempengaruhi kita secara lahir maupun batin, dan kita tidak bisa lepas dari daya dan kekuatan tersebut, seperti roh di dalam tubuh kita dan lingkungan sekitamya. Beberapa ayat pertama ini merupakan pendahuluan untuk penjelasan mengenai apa yang akan terjadi bila penciptaan ini, yang berkembang dari ledakan pertama, sampai pada ujungnya, yakni pada satu titik asalnya.

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ

6. Hari ketika goncangan pertama akan menggoncangkan,

Ini merupakan kejadian pertama yang mendengungkan akhir dari ekspansi kosmik. Bila ekspansi berhenti, maka kekacauan besar di seluruh sistem kosmik akan terjadi. Adapun mengenai bumi, maka di bumi akan tejadi suatu goncangan dan getaran yang hebat (rajifah).

Bila sebuah sistem berjalan secara alamiah, ia akan bergerak dengan lancar. Begitu jalannya bembah dan berganti arah, maka pembahan ini menunjukkan perlawanan yang, dalam hal ini, berbentuk getaran. Kejadian pertama ini berulangkali disebutkan dalam Alquran yang menjelaskan secara rinci bagaimana dunia ini akan berakhir. Ayat ini menjelaskan bagaimana sistem pertama berhenti. Sistem-sistem senantiasa saling berinteraksi satu sama lain; jadi, bila satu sistem berhenti maka sistem yang lain mulai. Faktor penyatu dari berbagai sistem yang saling tumpang-tindih ini berada di luar jangkauan pernahaman intelektual kita.

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

7. Yang datang sesudahnya akan menyusul.

Di susul kemudian goncangan berikutnya, yakni suara sangkakala yang mengumandangkan jalan baru di ‘alam al-arwah. Itulah alam energi halus sebagai kebalikan dari alam energi kasar. Radifah berasal dari radifa, artinya ‘mengikuti, datang kemudian’, dan radif artinya ‘yang berikutnya, yang menyusul’. Goncangan pertama, atau suara tiupan pertama, merupakan peristiwa pecahnya sistem yang ada hingga terkoyak-koyak, dan goncangan kedua akan menjadi permulaan dari sistem berikutnya.

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ

8. Ketika itu hati-hati akan berdebar-debar,

Informasi ini menjelaskan bahwa yang akan utuh pada diri kita di saat itu hanyalah apa yang tertanam dalam hati kita, yakni yang telah dibentuk oleh segala niat dan perbuatan kita dalam kehidupan ini. Mereka yang telah mengingkari peristiwa ini, yang mengingkari kebenaran dari pesan yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah Wujud (Realitas) Tunggal dan Pencipta Tunggal dan bahwa kita tidak pernah terputus dari takdir yang sudah ditetapkan, hatinya akan benar-benar berkecamuk. Pada saat Kebangkitan dimulai maka yang akan mereka rasakan adalah keterpisahan yang amat-sangat. Mereka merasa ddak mengalir dengan lancar mengikuti arus tapi malah melawan arus.

أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

9. Mata mereka menunduk.

Pandangan manusia, kemampuan penglihatannya, tidak akan berfungsi lagi seperti sebelumnya. Visi dan harapan yang ada dalam hatinya menjadi rendah, lemah, terputus dari segala peristiwa, sehingga tercampakkan.

يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ

10. Mereka berkata: “Benarkah kami akan dikembalikan kepada keadaan [kami] semula?

Suasana hati mereka mengumandangkan sebuah pemberontakan yang didasarkan pada keraguan mereka, dan bertanya ‘apakah kita akan kembali? Apakah memang ada peristiwa kembali itu? Akankah kita memulainya lagi seluruhnya? Ataukah ada kesinambungan, ada siklus kehidupan lain?

أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً

11. Apakah [akan dibangkitkan juga]! ketika kami sudah menjadi tulang-belulang yang hancur?

Pertanyaan berlanjut dengan seruan kuat yang bernada sangsi, seakan berkata ‘Bagaimana ini bisa terjadi? Kami tidak pernah menduganya!’ Pertanyaan seperti ini muncul karena dalam menilai peristiwa itu mereka hanya terpaku pada sudut pandang fisik. Jadi mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin tulang-belulang busuk ini dapat disusun kembali padahal, sebagai unsur tubuh yang paling keras, mereka sudah hancur. Mereka hams mengerti bahwa pertanyaan ini tidak berkenaan dengan daging dan tulang melainkan dengan roh dan segala perbuatannya selama berkelana di dunia ini.

قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

12. Mereka berkata, kalau demikian ini akan menjadi suatu pengembalian yang merugikan.

Begitu menyadari bahwa mau tidak mau mereka harus memasuki suatu tempat baru, mereka pun berkesimpulan bahwa mereka kembali ke keadaan yang merugi, karena roh mereka tidak siap untuk menjalani alam eksistensi berikutnya. Mereka sudah menyadari bahwa dalam kehidupan berikutnya mereka akan benar-benar rugi.

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ

13. Tapi itu hanyalah satu teriakan saja

Zajara, akar kata kerja dari zajrah (teriak), artinya ‘memaksa kembali, mengusir, mencegah, mengomeli’. Bagi orang-orang sesat—yakni mereka yang telah mengingkari kebenaran berita bahwa akan terjadi peristiwa pengembalian, ada alam akhirat—hanya ada satu teriakan, satu peringatan utama. Dalam seketika roh-roh akan menyadari bahwa mereka dalam keadaan merugi. Mereka akan mengakuinya dan menyatakannya secara terbuka, karena keadaan merugi itu melekat dalam roh.

فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ

14. Perhatikanlah! Mereka akan dibangkitkan!

Makna umum dari sahirah adalah ‘permukaan bumi’. Makna batinnya diambil dari akar kata sahira, yang berarti ‘menjadi tidak dapat tidur, tetap bangun (dalam suatu aktivitas)’. Sahar artinya ‘insomnia’. Ini menunjukkan bahwa permukaan bumi senantiasa hidup. Berarti, sekali roh-roh ini dibangunkan, selamanya mereka akan menyadari Realitas. Sebelumnya mereka tidak sadar akan kebenaran, tapi tiba-tiba mereka akan terbangun (sadar). Makna lahir dari ayat ini adalah bahwa mayat-mayat yang sebelumnya terpendam dalam kubur akan terdampar di permukaan bumi begitu menyembul keluar dan bergetar. Makna batinnya adalah bahwa roh-roh ini akan tiba-tiba sadar sepenuhnya. Tidak akan terjadi lagi tidur dalam kesadaran seperti yang kita alami dalam kehidupan ini.

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

15. Sudahkah kisah Musa sampai kepadamu?

Sekarang kita disodori kisah Nabi Musa sebagai contoh di dunia ini, di mana Tuhan Pemeliharanya memerintahkan dia untuk beramal, untuk melangkah mengikuti jalan realitas dalam kehidupan ini.

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

16. Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa

Musa as. dibawa ke lembah suci Thuwa. Hatinya dikuasi oleh al-ruh al-qudus (roh kudus). Hatinya ditarik oleh Rububiyyah (Ketuhanan) Tuhannya. Ia tidak punya pilihan selain melayani Tuhannya, dan ia diperintah oleh-Nya untuk menggempur puncak piramida kecurangan.

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

17. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas!

Ketika seseorang menjadi budak dari Yang Paling Tinggi, maka tugas yang harus dilaksanakannya memiliki tingkat kesulitan paling tinggi, tanggungjawabnya paling berat, dan ganjarannya pun paling besar. Musa ditugaskan untuk menyampaikan pesan tauhid kepada Fir’aun karena Fir’aun telah melakukan pelanggaran yang mengakibatkan seluruh bangsa tersesat.

فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَى أَن تَزَكَّى

18. Kemudian katakanlah: ‘Apakah kamu akan membersihkan diri?

Allah memerintahkan Musa untuk menyampaikan pesan kepada Fir’aun dan menanyakan apa sebabnya dia belum menyucikan diri. ‘Mengapa kamu belum menyerahkan dirimu dalam ketundukkan? Mengapa kamu tidak berjalan dalam kepasrahan diri? Mengapa kamu tidak melepaskan pakaian yang telah kamu kenakan, pakaian tempat kamu bersembunyi dan berperan sebagai Tuhan?

وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى

19. Dan aku akan membimbingmu ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut [kepada-Nya].

Pengertiannya di sini adalah bahwa Fir’aun tidak takut apa pun dan tidak menghargai apa pun; ia tidak punya pengetahuan tentang batas-batas perilaku. Petunjuk (hidayah, dari hada) di sini berarti rasa takut (khasyyah; dari khasyiya, kuatir atau takut kepada sesuatu). Pintu kepada petunjuk adalah rasa takut terhadap pelanggaran, takut akan membuat kesalahan dan takut mendatangkan murka Allah karena melanggar hukum-hukum-Nya yang mengatur kehidupan ini dan kehidupan akan datang. Ini adalah pesan Musa kepada Fir’aun. Dia berkata, “Jika engkau mau, jika engkau ingin menyucikan diri, jika engkau ingin menjalani kehidupan yang sejati dengan persiapan yang benar untuk dunia mendatang, akan aku tunjukkan jalan dan batas-batasnya, agar engkau merasa takut untuk melanggarnya. Kemudian engkau akan diberi petunjuk menuju satu-satunya Kebenaran. Jika engkau tidak punya rasa takut, maka engkau tidak akan mendapat petunjuk.”

فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى

20. Maka Musa menunjukkan kepadanya tanda yang besar.

Musa mempertunjukkan berbagai mukjizat kepada Fir’aun, beberapa di antaranya adalah memperlihatkan tongkatnya yang berubah menjadi seekor ular; tangannya yang berwarna putih dan bersinar, dan banyak lagi. Semua ini adalah mukjizat yang biasa. Persoalannya di sini adalah tentang al-ayat al-kubra (tanda besar), yakni ilmu Allah. Musa berkata, “Jika engkau mempunyai rasa takut, engkau akan mendapat petunjuk, dan dari petunjuk itu akan muncul pengetahuan tentang Realitas tunggal. Engkau tidak terpisah dari-Nya.

Pesan Musa kepada Fir’aun bukanlah pesan yang biasa, karena Fir’aun bukan seorang raja biasa. Ia menguasai berbagai pengetahuan dan sains yang sangat canggih (di zamannya). Ia memiliki banyak sekali kemampuan tapi tidak digunakan sesuai dengan sunah Allah. Misalnya, Fir’aun dan kaumnya menggunakan kekuatan supernatural, seperti mengerahkan kekuatan jin, atau kekuatan gaib. Bagi seorang nabi, kekuatan seperti itu tidak ada artinya— itu hanyalah kemampuan yang tidak berarti. Yang tertinggi dari seluruh mukjizat adalah pengetahuan tentang Allah, sedangkan yang paling rendah adalah mukjizat lahir, yang disebut keajaiban. Yang ada hanyalah Allah, dan kita telah menerima dunia ini untuk diuji dengan berbagai kesusahan agar pasrah dan tunduk kepada-Nya. Caranya adalah melalui rasa takut (khasyyah) untuk melakukan pelanggaran.

فَكَذَّبَ وَعَصَى

21. Tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan menolak.

Setelah mencurahkan seluruh hidupnya dalam sistem yang menonjolkan kekuatan dan kekuasaan, Fir’aun tidak mau menerima pesan yang mengajaknya untuk takut terhadap kekufuran. Arogansi kekuasaannya menyebabkan dia tidak mau menerima pesan tersebut. Reaksinya terhadap petunjuk yang terang bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa dirinya tidak berarti apa-apa, adalah mengingkari cetusan kebenaran yang ada dalam hatinya.

‘Asha artinya ‘tidak patuh, melawan, menentang, menolak’. Setelah menolak, ia berusaha mengkonfirmasikan kembali kedudukannya. Kita semua menginginkan penegasan dalam kehidupan ini, karena kita semua mencari keselamatan. Kita mencari konfirmasi bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah benar. Bagaimana pun juga, kita adalah pecinta Realitas Tunggal. Oleh karena itu, jika pemikiran kita sesat kita akan dihubungkan dengan orang-orang yang juga sesat pemikirannya.

Kita selalu beribadah dan mencintai Sifat-sifat Tuhan. Segala sesuatu dalam penciptaan berada dalam keadaan sempurna, dan kita hanya menjacli saksinya. Tak ada yang dapat kita tambahkan pada penciptaan. Hanya orang-orang yang telah dipilih untuk misi yang lebih tinggi yang hams menyatakan diri dan bertindak, mengajar, dan mengikuti langkah para nabi, seperti Musa. Sangat wajar dan dapat dimengerti kalau Fir’aun tidak memahami pesan ini dan belok ke arah yang sesat.

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى

22. Kemudian ia pergi membelakangi dengan tergesa-gesa,

Fir’aun pergi dengan sangat tergesa-gesa untuk menenangkan diri dan menjalankan sistem kekufurannya, dan mengkonsolidasikan kekuatan dirinya.

فَحَشَرَ فَنَادَى

23. Lalu ia mengumpulkan dan memproklamirkan,

Fir’aun mengumpulkan para pendukungnya karena ia merasa rentan terhadap serangan. Karena terpojok oleh sorotan pesan Musa yang gamblang, maka ia menghimpun semua pendukungnya untuk menenangkan dirinya.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

24. Kemudian ia berkata: “Akulah tuhan yang paling tinggir”,

Kemudian Fir’aun kembali ke kebiasaan lamanya, berlindung dan bertahan di bawah tahta kepemimpinan dan ketuhanan yang telah dinobatkannya sendiri untuk dirinya sendiri. Ia bermain sebagai tuhan, beaisaha menempatkan dirinya pada posisi yang sangat kuat dan mustahil. Ini sangat berbahaya bagi seluruh umat manusia. Semakin tinggi kita naik, semakin besar bahaya ini mengancam. Orang-orang yang memiliki wawasan dan kekuatan batin khususnya harus tetap berada di dalam batas-batas norma perilaku yang diwahyukan, yakni syariat—parameter hukum lahiriah—karena bahaya penyesatan ada dalam diri kita semua. Kita telah menyaksikannya dalam kehidupan ini, baik di kalangan ahli lahir (zhahir) maupun ahli batin. Selalu ada kecenderungan untuk menjadi sasaran bahaya ini kalau kita tidak senantiasa mengikuti jalan syariat, dengan melakukan salat dan do’a secara teratur dan berkesinambungan.

Fir’aun berkata, “Akulah tuhan yang paling tinggi,” kepada kaumnya. Tapi tidak ada manusia yang bisa hidup dalam keterasingan karena seandainya ia tidak berhubungan dengan Realitas tunggal dan menjadi hambanya semata, tentu ia berhubungan dengan versi kebenaran yang sesat dan menyimpang, sebagaimana dalam kasus Fir’aun.

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى

25. Maka Allah mencengkamnya dengan hukuman di akhirat dan hukuman di dunia ini.

Fir’aun mengangkat dirinya sendiri sebagai tuhan. Reaksi Tuhan atas perbuatan nekad ini adalah jatuhnya hukuman. Nakâl artinya hukuman. Fir’aun mendapat bantahan dari Tuhan atas perbuatannya di waktu lampau dan akan datang, baik yang telah dilakukannya sebelum Musa datang padanya maupun yang dilakukan sesudahnya. Ayat ini berkenaan dengan penderitaan yang dirundung Fir’aun dalam kehidupan sekarang dan nanti. Sebagaimana kita ketahui, Fir’aun dan kaumnya mati tenggelam saat menyeberangi Laut Merah. Tapi ‘terakhir’ dan ‘pertama’ bisa juga berarti ‘lahir’ dan ‘batin’; secara lahir ia ditegur, dan secara batin ia disiksa. Secara lahiriah ia tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi berbagai aksi Musa, secara batiniah juga ia tidak tahu bagaimana memberikan reaksi terhadap pesan Tuhan. Pembinasaan fisik Fir’aun pada akhimya menjadi catatan tambahan bahwa memang lazim kalau kebenaran selalu menang atas khayalan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَى

26. Sesungguhnya pada yang demikian ini ada pelajaran bagi orang yang takut.

‘Ibrah artinya ‘peringatan, contoh, pelajaran’. Akar katanya adalah ‘abara, yang berarti ‘menyeberangi, melintasi, menafsirkan (suatu mimpi), atau mencucurkan air mata’. Ini berarti bahwa pelajaran nyata yang diperoleh menyebabkan kita menyeberang dari kesalahan ke kebenaran. Kata untuk ‘Hebrew [Ibrani]‘ (‘ibri) berasal dari akar kata yang sama (dari ‘abara), karena mereka menyeberang menuju keselamatan di tepi laut lain. Kata ini juga berarti menyeberangi pantai pengetahuan karena orang yang ingin sekali mendapat ilmu akan berusaha agar tidak tetap dalam kebodohan. Orang seperti itu menginginkan keselamatan yang dijamin oleh perilaku yang benar.

Dalam ayat-ayat ini kita diberi contoh mengenai orang yang bertauhid, orang yang beriman kepada Allah, dalam hal ini Nabi Musa, dan lawannya yang berseberangan, yang merugi, yang asyik sendiri dengan kekuasaannya. Alquran mengatakan bahwa kedua sistem tersebut tidak bisa bertemu ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku’ (Q.S. 109:6). Sistem kekafiran akan dihancurkan, dan sistem Kebenaran akan menang.

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءَ بَنَاهَا

27. Apakah kamu yang lebih sulit diciptakan ataukah langit? Allah telah membangunnya.

Dengan memperhatikan kekuasaan Fir’aun dan apa yang terjadi padanya serta kaumnya, kini kita dihadapkan pada pertanyaan di atas, yang memaksa kita untuk merenungkan kekuasaan yang menciptakan alam semesta ini. Sama’ (langit, cakrawala) menunjukkan hal yang menyatukan alam semesta. Akar kata kerja sama’ berarti ‘tinggi’, tidak hanya dalam arti vertikal, tapi juga dalam arti kiasan, dinaikkan atau luhur. Dengan demikian, ia juga berarti ‘berjalan di luar pemahaman (seseorang)’. Rajul samin artinya ‘orang yang bernilai tinggi, berwatak moral tinggi’.

Ayat ini menunjuk kepada langit yang lebih dekat dalam sistem planet dan juga langit yang lebih jauh di luar sistem itu. Alquran mengatakan bahwa Allah telah men-ciptakan tujuh langit (Q.S. 41:12). Langit yang dapat kita lihat, yang kelihatannya tidak dapat diduga, sebenarnya adalah langit paling rendah. Di atasnya ada enam langit lagi. Sebagaimana ada tujuh lapis langit, begitu juga ada tujuh lapis bumi, dan lapisan paling dalam berupa logam cair. Tujuh lapis ‘langit’ pun ada pada tingkat energi elektron yang mengelilingi inti atom.

Namun, dalam bahasa Arab jumlah tujuh atau tujuh puluh (atau bahkan kelipatan tujuh) menunjukkan jumlah yang sangat banyak. Dalam ceramah biasa, jika kita mengatakan bahwa seseorang memberitahu kita sesuatu tujuh kali, tentu saja itu tidak berarti benar-benar tujuh kali tapi mungkin maksudnya beberapa kali. Sama halnya juga pada jumlah tujuh puluh. Pada beberapa hadis Nabi, kita menemukan jumlah-jumlah ini disebutkan, ‘Tiada hari berlalu tanpa aku meminta ampunan kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali.’ Tentu saja ini tidak berarti bahwa beliau menghitung tujuh puluh biji tasbih atau bahwa beliau duduk dengan setumpuk biji kurma, sebagaimana lazimnya pada waktu itu, untuk menghitung jumlah kali yang telah dia ucapkan, ‘ Astaghfirullah’. Lebih tepatnya, jumlah itu berarti bahwa beliau mengucapkan kalimat ini berulangkali dalam jumlah yang banyak, barangkali paling sedikit tujuh puluh kali.

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

28. Dia menambah ketinggian [atap langit]-nya, lalu menyempurnakannya.

Samk artinya ‘atap’ atau ‘langit-langit’, sumk artinya ‘ketebalan’, sedangkan samik artinya ‘tipis’. Rafa’a samkaha, ‘ia menambah ketinggiannya’, artinya lebar langit ditambah sampai suatu tingkat yang menurut persepsi kita ukurannya tak dapat diduga. Dalam ayat ini kata tersebut menyiratkan bahwa langit meletus. Bisa saja menafsirkan ayat ini dengan makna Ledakan Besar (Big Bang).

Fa-sawwaha (lalu menyempurnakannya) merupakan salah satu petunjuk paling awal pada kata sawa, artinya ‘sepadan, rata, datar, meratakan, menyamakan, mengatur, menertibkan’. Sawa dan beberapa derivatnya memiliki makna yang saling mencakup dengan kata ‘adala, yang berarti ‘bertindak adil, sesuai, menyamakan, menyusun rapi’. Dari sawa muncul kata musawah, yang artinya ‘persamaan di depan hukum’, dan taswiyah, yang berarti ‘penyusunan, penyamaan’. Jadi setelah terjadi ledakan besar, ketertiban pun ditegakkan.

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا

29. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan paginya terang benderang.

Ini berkenaan dengan dualitas eksistensi. Malam hari dijadikan gelap, sementara siang hari, awal pagi, dikeluarkan dan dijadikan lebih terang. Akhraja artinya ‘mengeluarkan, atau memunculkan’. Kharaja akar dari akhraja berarti ‘keluar, terbit’. Kharaj adalah apa yang harus dibayar oleh kita dari kekayaan kita sebagai zakat.

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

30. Dan bumi, Dia menghamparkannya sesudah itu.

Bumi adalah bagian dari keseimbangan penciptaan secara keseluruhan. Di sini bumi dibentangkan dengan datar dan dijadikan dapat digunakan. Daha artinya ‘menggelar, meratakan, mendatarkan, membuka gulungan’, dan dahyah artinya ‘telur’. Ini menunjuk pada kenyataan bahwa bumi diciptakan terhampar pada beberapa kutub (ujung-ujung hamparan bumi bertemu di dua kutub—peny.), suatu fakta yang baru beberapa dekade saja diketahui oleh manusia modern.

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

31. Dia mengeluarkan darinya mata airnya dan padang rumputnya

Pada tahap-tahap awal penciptaan, bumi memadat dari material berbentuk cair atau gas. Kemudian dari bumi keluar katalis cair yang dibutuhkan untuk mengubah zat padat menjadi lebih dapat digunakan, zat untuk menopang kehidupan, dan kemudian menjadi tetumbuhan, binatang dan manusia.

Mar’a berarti ‘padang rumput’ atau ‘tempat untuk menggembala’. Ra’a artinya ‘menggembalakan’, dan juga berarti ‘memelihara sekawan binatang’, atau lebih umum lagi ‘mengurus seseorang atau sesuatu’. Rctai adalah pelindung, sedangkan ra’ini artinya ‘lindungi saya’. Dengan demikian dari bumi muncul suatu zat cair yang membuat kehidupan menjadi mungkin dan memberi kita kemungkinan untuk menggembala di atasnya.

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

32. Dan gunung-gunung, Dia menjadikannya teguh.

Lagi-lagi di sini kita diberi contoh bagaimana bumi terjadi, yang berubah menjadi bentuk padat. Arsaha artinya bahwa ‘Dia telah mengikatkan mereka pada suatu medium cair, Dia menambatkan mereka’, dan kata itu berasal dari rasa, yang berarti ‘meneguhkan’, dan ‘menambatkan’. Diteguhkannya bumi ini agar kita bisa menetap dan mencari perbekalan, dan juga memberi kita kestabilan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan. Jadi, Al-quran sudah bercerita kepada kita lebih dari 1400 tahun lampau tentang awal proses pembentukkan bumi, dan fenomena ini baru sekarang dapat dijelaskan oleh para ahli geologi modern.

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

33. Perbekalan untukmu dan untuk binatang ternakmu.

Karena bumi menetap dan berkembang, maka disediakanlah perbekalan untuk umat manusia dan binatang, yang memberikan sekadar kesenangan tertentu dalam perjalanan kita di muka bumi ini.

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى

34. Namun ketika malapetaka besar datang.

Kematian adalah malapetaka besar bagi mereka yang menganggap kehidupan dunia ini sebagai tujuan utama eksistensinya, padahal itu hanyalah pendahuluan menuju kehidupan berikutnya.

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَى

35. Hari di mana manusia akan mengingat kembali apa yang telah ia usahakan.

Pada hari itulah manusia akan mengingat semua yang telah terjadi sebelumnya, dan semua yang ia usahakan ketika hidup akan terbentang di hadapannya, yang mengungkapkan segala niat, perbuatan, dan, dengan demikian, realitas dia. Engkau adalah siapa engkau pada hari itu, tanpa kepura-puraan ataupun ditutup-tutupi.

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَى

36. Dan neraka akan diperlihatkan dengan jelas bagi siapa yang melihat.

Pada hari itu penglihatan kita akan menjadi lebih tajam dibanding sebelumnya dan jahim—nama lain untuk neraka—akan nampak segamblang-gamblangnya. Mereka yang telah memimpin kehidupannya dalam bimbingan agitasi batin akan melihatnya dengan jelas.

فَأَمَّا مَن طَغَى

37. Adapun orang yang telah melampaui batas.

وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

38. Dan lebih menyukai kehidupan dunia ini.

فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

39. Maka tentu saja nerakalah tempat tinggalnya!

Dunya, maksudnya ‘dunia ini’ sebagai lawan dari dunia berikutnya, berasal dari kata dana, yang berarti ‘rendah, dekat, berhampiran’, dan juga ‘sebagai atau menjadi alas, hina, atau tercela’. Dengan lebih mencintai kehidupan dunia ini seseorang secara otomatis bergerak ke arah materialisme yang lebih kotor dan bersifat rendah.

Keadaan yang bergejolak selamanya adalah tempat istirahat terakhir yang pantas bagi mereka yang melampaui batas di dunia ini, yang lebih menyukai kehidupan dunia ini daripada kehidupan selanjutnya, yakni, bagi mereka yang telah kufur dan terperangkap dalam kekufurannya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

40. Dan adapun orang yang takut berdiri di hadapan Tuhannya, dan menahan diri dari segala hasrat (hawa nafsu) rendahnya.

Adapun orang yang takut terhadap kekuasaan dan kedudukan Tuhannya Yang Mahabesar, yang selalu berdiri seakan dalam genggaman Tuhannya, dan yang selalu berbuat seakan perpanjangan Ketuhanan itu, maka itulah orang yang menjaga jiwanya dari mengikuti hasrat rendah, yang tiada hentinya mengingat Allah dan tidak melampaui batas.

Barangsiapa senantiasa menyadari kerusakan akibat tingkah hawa nafsunya akan senantiasa berada di jalan yang lempang dan, konsekwensinya, paling selamat.

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

41. Maka tentu saja surgalah tempat tinggalnya!

Bagi siapa saja yang memelihara rasa takut di hadapan Allah, maka jannah (taman surga) adalah tempat tinggal terakhirnya yang pantas. Ia telah mempersiapkan diri untuk itu di sini dan saat ini juga, dan telah mempelajari kondisi serta situasi taman tersebut. Ia telah memasuki suasana taman surga di dunia ini dalam persiapan untuk keadaannya yang terakhir dan abadi di dunia akan datang.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

42. Mereka bertanya kepadamu tentang saat (kiamat) kapan ia akan terjadi.

Inilah petunjuk tentang Saat Perhitungan (Hari Pengadilan), saat penyingkapan total dan sempurna, saat di mana aksi dan reaksi bertemu dan dipertemukan, di mana segala niat, perbuatan dan roh manusia akan dihubungkan dan dipersatukan. Saat itulah manusia akan melihat dirinya sendiri sebagai hasil perbuatannya yang, dalam kenyataan, merupakan perwujudan dari segala niatnya. Yang akan dilihatnya tak lain adalah sifat tersembunyi yang merupa-kan sifat aslinya, dan penampilannya akan jelas dalam dua pilihan: cemerlang karena selalu digosok, atau suram tertutup oleh sifat rendahnya.

فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا

43. Tentang apakah engkau mengingatkan?

Orang yang bertanya tentang hari itu tidaklah sungguh-sungguh kuatir, karena jika mengimaninya maka ia akan selalu bersiap-siap menghadapi kematian dan pertanggung-jawabannya. Jika kesadaran dia seperti demikian, maka tidak ada alasan untuk terobsesi dengan kiamat besar dunia ini. Perhatian terhadap saat (kematian)nya sendiri mengalahkan perhatiannya terhadap akhir alam semesta atau Saat Pasti.

إِلَى رَبِّكَ مُنتَهَاهَا

44. Kepada Tuhanmulah tujuannya.

Bagaimana engkau dapat mengingatkan mereka kepada ujung atau tujuan akhirnya? Seluruh waktu berhenti pada Tuhan, karena Tuhan berada di luar waktu. Saat tersebut, perhentian waktu itu—tempat berhenti atau ter-akhir itu—adalah pada Tuhan.

إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا

45. Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut terhadapnya (kiamat).

Yang dapat kita lakukan di dunia ini, yang tunduk pada waktu, hanyalah mengingatkan orang lain, menyadarkan mereka bahwa akan terjadi situasi di mana waktu akan berhenti. Pada saat itu yang akan kita miliki sebagai modal hanyalah apa yang telah kita peroleh dari hasil perbuatan kita dan pengetahuan yang terbit dari sumber pengetahuan dalam diri kita, dan dari kesadaran pencegahan kita bahwa kehidupan ini akan sampai pada akhirnya.

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

46. Pada hari tatkala mereka melihat itu, seakan-akan mereka tidak tinggal kecuali selama bagian akhir hari (sore) atau bagian awal hari (pagi).

Saat akhir dapat dirasakan di sini, tapi pada saat akhir yang mutlak, waktu akan berhenti. Ketika kita menjalaninya, tahun-tahun panjang kehidupan ini akan terasa bagaikan satu hari saja, atau bagian dari sehari dan semalam semata. Kehidupan terasa singkat dan tidak berarti. Bila waktu sampai pada ujungnya dan kita melihatnya dengan kesadaran seperti itu, maka seluruh perjalanan kita di dunia ini akan nampak menyimpang sama sekali. Kita akan meninggalkan waktu kernudian memasuki ketakberwaktuan, yang melatarbelakangi waktu; dan Allah adalah Yang Tak Berwaktu.[]

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.