Tiga Golongan Manusia Dalam Menghadapi Al-Quran

Golongan Mukmin

Alif lam mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Al-Baqarah: 01-02)

Para mufasir berbeda pendapat tentang potongan huruf-huruf di awal-awal surah. Di antara mereka ada yang mengatakan, itu termasuk sesuatu yang hanya diketahui Allah. Mereka mengembalikan pengetahuan tentang makna ayat tersebut kepada Allah dan tidak menafsirkannya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya.

Di antara mereka ada yang menafsirkan ayat pertama tersebut, meski mereka berbeda pendapat tentang maknanya. Dan di antara mereka ada yang mengatakan, ia merupakan nama-nama surah. Ada pula pendapat lain, ia merupakan salah satu nama Allah yang menjadi pembuka surah-surah. Masing-masing hurufnya menunjukan sebuah nama-Nya atau sifat-Nya. Jadi alif pada alif lam lim merupakan kunci (awal) Lafzhul-Jalalah, lafal kebesaran, yaitu lafal “Allah“, huruf lam merupakan kunci nama-Nya Lathif, dan huruf mim kunci nama-Nya Majid.

Mufasir-mufasir lain mengatakan, huruf-huruf ini disebutkan di awal-awal surah sebagai penjelasan kemukjizatan Al-Quran dan kelemahan makhluk untuk menyanggah-Nya dengan yang serupa, padahal ia tersusun dari huruf-huruf yang biasa mereka gunakan juga untuk berbicara.

Zamakhsyari mengatakan, “Huruf-huruf ini tidak disebutkan secara keseluruhan dengan digabungkan di awal Al-Quran, melainkan diulang, agar lebih mendalam dalam memberikan tantangan sebagaimana diulanginya banyak kisah di dalam Al-Quran dan juga diulanginya tantangan yang nyata di beberapa tempat.

Di antaranya ada yang disebutkan dengan satu huruf seperti Shad, ada yang dua huruf seperti Ha mim, ada yang tiga huruf seperti Alif lam mim, ada yang empat huruf seperti Alif lam mim shad, ada pula yang lima huruf seperti Kaf ha ya ‘ain shad, karena isi pembicaraan mereka, yakni kata-katanya, ada yang terdiri dari satu huruf, dua huruf, tiga huruf, empat huruf, lima huruf, dan tidak ada yang lebih dari itu.”

Ibn Katsir mengatakan, karena itulah setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf seperti itu, di dalamnya mesti terdapat pembelaan terhadap Al-Quran serta penjelasan tentang kemukjizatan dan keagungannya. Ini dapat diketahui melalui penyimpulan yang didapat di 29 surah

Dzalikal-kitab

Ibn Abbas mengatakan, Dzalikal-kitab (kitab itu) artinya hadzal-kitab (kitab ini). Orang-orang Arab suka menggunakan dua isim isyarah, kata penunjuk, secara saling menggantikan. Mereka menggunakan masing-masing di tempat yang lain, sebagaimana dikenal dalam bahasa perbincangan mereka. Kitab di sini adalah Al-Quran. Barang siapa yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Taurat dan Injil, berarti ia menanggung sesuatu yang ia tidak ketahui.

Makna ayat ini, tidak ada keraguan bahwa Al-Quran diturunkan dari sisi Allah sebagaimana yang Dia firmankan (yang artinya), “Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam.” (QS As-Sajdah:2).

Sebagian mufasir mengatakan, meski ayat ini berupa berita, maknanya adalah perintah. Yakni, janganlah kalian meragukannya. Hidayah dikhususkan bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah., ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (QS Fush-shilat:44).

Dalam ayat lain dikatakan (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Isra:82). Ayat-ayat lainnya juga menunjukan, hanya orang mukminlah yang dapat mengambil manfaat Al-Quran (penawar dan rahmat), karena ia sendiri merupakan petunjuk, tetapi itu tak dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang baik.

As-Sudi mengatakan hudan-lil-muttaqin artinya nuran-lil-muttaqin ( cahaya bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari Ibn Abbas disebutkan, Al-muttaqun adalah orang-orang beriman yang menjauhkan diri dari syirik dan menjalankan ketaatan kepada Allah. Al-Hasan al-Bishri berkata, mereka menjauhkan diri dari apa-apa yang diharamkan atas mereka dan mereka menunaikan apa-apa yang diwajibkan atas mereka.

Qatadah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang disifati Allah dengan firman-Nya alladzina yu’minuna bil-qhaibi wa yuqimunash-shalah, “Yaitu orang-orang yang beriman kepada hal yang ghaib dan mendirikan shalat.” Ibn Jarir berpendapat, ayat ini mencakup semuanya itu. Di dalam hadist dikatakan, “Tidaklah seorang hamba tergolong orang muttaqin sampai ia meninggalkan dengan hati-hati apa-apa yang tidak perlu untuk yang perlu.”

Kata al-huda terkadang digunakan dengan pengertian iman yang tertanam di dalam hati dan tidak ada yang mampu menempatkannya di hati para hamba kecuali Allah SWT. Di dalam Al-Quran disebutkan, “Sesungguhnya engkau tak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai.” Di dalam ayat lain dikatakan, “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk.” Terkadang ia digunakan dengan pengertian penjelasan kebenaran.

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(03)

Kata iman secara bahasa digunakan dengan pengertian semata-mata membenarkan, sebagaimana firman Allah Ta’alla, “Ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” Sebagaimana juga yang dikatakan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf kepada ayah mereka, “Dan engkau sekali-kali tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami adalah orang-orang yang beriman.” (QS Yusuf:17).

Demikian pula jika ia disertai dengan kata amal. Sedangkan jika ia digunakan secara mutlak (tanpa disertai apa-apa), iman yang dituntut haruslah merupakan I’tiqad (keyakinan), perkataan, dan perbuatan sekaligus. Inilah pendapat sebagian besar imam. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad sepakat, iman merupakan ucapan dan perbuatan, ia dapat bertambah dan dapat berkurang. Mengenai hal itu, terdapat banyak atsar, periwayatan yang bersumber dari sahabat.

Ada pula ulama yang menafsirkan iman sebagai “perasaan takut”. Dalam ayat Al-Quran disebutkan, “(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka sedang mereka tidak melihat-Nya.” (QS Al-Anbiya:49). Perasaan takut, yakni takut kepada Allah, adalah inti iman dan ilmu.

Mengenai apa yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib di sini, para ulama salaf berbeda pendapat. Abu Al-Aliyah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, surga-Nya, perjumpaan dengan-Nya, dan kehidupan setelah mati. Semua itu adalah hal-hal yang ghaib.

As-Sudi menyebutkan keterangan dari Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud bahwa yang ghaib adalah yang tidak diketahui oleh hamba-hamba Allah tentang perkara surga, neraka, dan apa-apa yang disebutkan dalam Al-Quran. Sedangkan Atha’ mengatakan, orang yang beriman kepada Allah berarti beriman kepada yang ghaib. Semuanya ini berdekatan dan semuanya itulah yang dimaksud.

Dalam riwayat dari Abdurrahman bin Yazid disebutkan, ia mengatakan, “Suatu ketika kami sedang duduk di tempat Abdullah bin Mas’ud. Kemudian ia menyebutkan perihal para sahabat Nabi dan orang-orang lain yang pernah berjumpa dengan beliau. Abdullah bin Mas’ud lalu berkata, ‘Perkara Muhammad SAW adalah jelas bagi orang yang melihatnya. Demi Zat yang tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Dia. Tidaklah seorang mengimani sesuatu yang lebih utama daripada beriman kepada yang ghaib.” Kemudian ia membaca ayat Alladzina yu’minuna bil-ghaibi dan seterusnya.

Hadist serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibn Muhairiz, ia mengatakan, “Aku berkata kepada Abi Jum’ah, ‘Katakanlah kepada kami sebuah hadist yang engkau dengar dari Rasulullah SAW’.” Ia menjawab, “Baiklah, aku akan menyebutkan kepadamu sebuah hadist yang bagus, ‘Kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW di mana bersama kami turut pula Ubaidah bin Al-Jarrah. Ia lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, adakah orang yang lebih baik daripada kami? Kami masuk islam denganmu dan kami berjuang bersamamu.’ Beliau menjawab, ‘Ya, ada, yaitu kaum sesudah kalian yang beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku.”

Dalam riwayatku lain dari Shalih bin Jubair, ia mengatakan, “Datang kepada kami di Baitul Maqdis, Abu Jum’ah Al-Anshari, sahabat Rasulullah SAW. Ia melakukan shalat di situ. Ketika itu ada bersama kami Raja bin Hayawah.

Saat ia hendak pergi, kami keluar melepasnya. Ia lalu berkata, ‘Sesungguhnya kalian memiliki ganjaran dan hak. Aku akan menyebutkan kepada kalian sebuah hadist yang aku dengar dari Rasulullah SAW, ‘Kami bilang, ‘Sebutkanlah, semoga Allah merahmatimu, ‘Ia lalu mengatakan, ‘Suatu ketika kami berada bersama Rasulullah dan bersama kami terdapat pula Mu’adz bin Jabal. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, adakah suatu kaum yang lebih besar ganjarannya dibandingkan kami? Kami beriman kepadamu dan kami mengikutimu.” Rasulullah menjawab, ‘Apa yang menghalangi kalian dari itu sedangkan Rasulullah berada di tengah-tengah kalian dan ia membawakan kepada kalian wahyu dari langit? Tetapi kaum setelah kalian yang didatangkan kitab kepada mereka, mereka beriman dengannya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Mereka itulah yang lebih besar ganjarannya dibandingkan kalian;.”

Mengenai firman Allah Ta’ala wa yuqimunash-shalah (dan mereka mendirikan shalat), Ibn Abbas mengatakan, arti mendirikan shalat adalah menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan Al-Quran yang dibaca, juga khusyu’. Sedangkan Qatadah berkata, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhunya, rukuknya, dan sujudnya. Shalat dalam perkataan orang Arab pada asalnya berarti doa.

Wa mimma razaqnahum yunfiqun

Ibn Abbas mengatakan, artinya adalah mereka mengeluarkan zakat harta mereka. Sejumlah sahabat Rasulullah SAW berkata bahwa yang dimaksud adalah nafkah yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keluarganya, dan ini sebelum turunnya ayat tentang zakat. Sedangkan Qatadah mengatakan, mereka menafkahkan apa yang Allah berikan kepada mereka. Semua harta ini merupakan titipan di sisi manusia, dan mereka akan meninggalkannya. Ibn Jarir berpendapat, ayat ini mencakup zakat dan nafkah.

Allah sering mengiringkan shalat dan menafkahkan harta. Shalat merupakan hak Allah dan ibadah kepada-Nya, dan ia mencakup pengesaan terhadap-Nya, pujian kepada-Nya, doa, serta tawakal kepada-Nya. Sedangkan menafkahkan harta adalah kebaikan kepada para makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Orang yang paling patut menerima itu adalah keluarga, kerabat, hamba-hamba sahaya, kemudian orang-orang lain (yang tak ada hubungan apa-apa dengannya). Setiap nafkah yang wajib dan zakat yang wajib masuk di dalam firma Allah wa mimma razaqnahum yunfiqun.

Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yang yakin akan adanya kehidupan akhirat.(04)

Ibn Abbas mengatakan, pengertian ayat ini, mereka adalah orang-orang yang membenarkan apa-apa yang engkau bawa dari Allah Ta’ala dan juga apa-apa yang dibawa oleh para rasul sebelummu. Mereka tidak membedakan para rasul dan tidak menentang apa yang para rasul bawa kepada mereka. Mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat, artinya yakin dengan adanya kebangkitan, kiamat, surga, dan neraka, perhitungan dan timbangan.

Mujahid mengatakan, empat ayat dari surah Al-Baqarah menyifati orang-orang mukmin, dua ayat menyifati orang-orang kafir, dan tiga belas ayat menyifati orang-orang munafik.

Empat ayat yang menyifati orang-orang mukmin itu bersifat umum berlaku pada setiap mukmin yang memiliki sifat demikian, baik orang Arab, ajam (non-Arab), maupun Kitabi, baik manusia maupun jin. Dan tidak bisa hanya sebagian sifat sedangkan yang lainnya tidak ada. Semuanya harus ada. Bahkan, setiap sifatnya menuntut adanya sifat yang lain dan menjadi syarat bersamanya. Jadi, tidak sah iman kepada yang ghaib kecuali beriman pula kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah dan apa-apa yang dibawa oleh para rasul sebelum beliau, juga yakin akan datangnya hari akhirat.

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.(05)

Ula-ika (mereka itu) artinya mereka yang digambarkan sebelumnya, yakni yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan apa yang Allah rezekikan kepada mereka, beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah dan meyakini datangnya hari akhirat.

‘Ala hudan (di atas petunjuk) artinya berjalan di atas cahaya, keterangan, dan bashirah (penglihatan batin) dari Allah. Wa ulaika humul-muflihun (dan mereka itulah orang-orang yang beruntung), di dunia dan akhirat. Ibn Abbas mengatakan, ala hudan min rabbihim artinya berjalan di atas cahaya dari Tuhan mereka dan senantiasa istiqamah atas apa yang dibawakan kepada mereka. Sedangkan wa ulaika humul muflihun artinya mereka mendapatkan apa yang mereka tuntut dan mereka selamat dari keburukan yang mereka hindari.

About these ads

~ oleh hidayatulhaq pada Juni 7, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: