Surah an-Nazi’at

SURAHAL-NAZI’AT

“MEREKA YANG MEROBEK-ROBEK”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Surah Makkiyah ini berkenaan dengan kehidupan sekarang dan mendatang, dan juga memberikan deskripsi tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi pada Hari Pengadilan.

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا

1. Demi mereka yang merobek-robek dengan kekerasan,

Surah ini dimulai dengan mendeskripsikan kekuatan yang diketahui oleh semua orang dan umumnya ditafsirkan sebagai kekuatan malaikat, kekuatan luar biasa yang melaksanakan berbagai fungsi dalam seluruh penciptaan.

An-Nâzi’ât berasal dari kata naza’a, artinya ‘membawa, mencabut, bertengkar’, menunjukkan dua kekuatan yang saling berlawanan. Ghariqa, akar kata kerja gharq, artinya ‘terbenam, karam, basah kuyup.’ Ada ketidakjelasan makna di sini, dan penjelasannya sudah pasti hanya Allah yang tahu. Bisa jadi ayat ini berkenaan dengan saat kematian, ketika malaikat maut dengan kekerasan mencabut nyawa orang yang tidak ingin berpisah dengan kehidupan ini dan yang tidak siap untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Jiwa mereka harus dicabut paksa dari tubuhnya agar mereka melanjutkan jalannya takdir. Ayat ini mungkin juga berkenaan dengan alam semesta, di mana lima ayat pertama menunjuk kepada berbagai jenis planet dan bintang karena semuanya adalah pusat energi yang menjaga agar alam semesta tetap dalam keadaan terus-menerus bergerak.

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

2. Dan demi mereka yang menarik dengan lembut,

Yang diterjemahkan di sini sebagai ‘dengan lembut’ (nasyth) bisa juga diterjemahkan sebagai ‘dengan mudah, dengan penuh semangat atau dengan enerjik’. Ini mungkin berkenaan dengan jiwa-jiwa yang nasyth, bersemangat dan aktif, sehat dan dinamis. Ali Zainul Abidin pernah berkata, ‘Bagi orang yang mempercayai Realitas (Wujud Hakiki), kematian adalah bagaikan melepas pakaian kotor yang baunya busuk’. Jiwa seperti itu menanti-nanti kehidupan berikutnya sebab ia mengetahui bahwa di kehidupan berikutnya tidak ada kekacauan dan kesengsaraan dunia ini. Pasti, tidak akan terjadi gangguan di sana. Kita tidak bisa mengintervensi atau menyela—karena kita akan tidak berdaya—dalam kedamaian.

Ayat ini mungkin juga menunjuk kepada bintang-bintang jauh yang cahayanya mencapai kita setelah ratusan bahkan ribuan tahun cahaya dan ekspansi kosmiknya senantiasa melampaui batas kecepatan.

وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا

3. Dan demi mereka yang melayang di angkasa,

Al-sâbihât, ‘mereka yang melayang’, berasal dari akar kata kerja sabaha yang berarti ‘berenang, mengapung, melayang’. Jiwa mengalir mengikuti takdir dan berjalan sekehendaknya tanpa hambatan. ‘Mereka yang melayang’ bisa juga menunjuk kepada entitas-entitas yang substansinya menyerupai riak gelombang energi—para malaikat—yang memudahkan jiwa-jiwa yang mau menyerah. Sekali lagi ayat ini bisa saja berlaku untuk planet-planet yang beredar dalam orbitnya.

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

4. Lalu mereka yang mendahului ke muka,

Ayat-ayat ini dapat juga dipahami seluruhnya pada tingkat mulk (kekuasaan di bumi, berhubungan dengan hal-hal keduniawian). Sabaqa artinya ‘mendahului, meninggalkan’. Sibâq, dari akar kata yang sama, berkenaan dengan pacuan, khususnya pacuan kuda. Sebagian tafsir mengatakan bahwa ayat ini berarti ‘melihat yang berketurunan murni, melihat kuda yang unggul’. Kuda yang benar pemeliharaannya adalah kuda yang unggul. Jika kita memahami ayat ini dipandang dari sudut ekspansi kosmik, maka ayat ini juga mungkin berkenaan dengan planet-planet yang bergerak lebih cepat dibanding bintang-bintang atau galaksi-galaksi lain yang bergerak lebih jauh dibandingkan benda langit lainnya dalam orbit mereka.

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

5. Dan mereka yang mengatur urusan,

Ayat ini berkenaan dengan daya, kekuatan, planet-planet dan energi yang tujuannya adalah tadbîr (pengaturan), dari dabbara, artinya, ‘mengadakan penataan, mengorganisir, mengatur’, yakni, melakukan berbagai aksi yang saling menghubungkan berbagai kejadian di dunia ini, aksi-aksi yang akhirnya menjadi gerakan angin, awan, gunung berapi, atau umat manusia; dengan kata lain, gerakan dari berbagai unsur luar yang menyatukan semua unsur. Apa pun yang temasuk di antara mudabbirât adalah berkenaan dengan tadbîr atau pengaturan urusan.

Surah ini menggiring kita untuk mulai merenungkan segala daya dan kekuatan yang mempengaruhi kita secara lahir maupun batin, dan kita tidak bisa lepas dari daya dan kekuatan tersebut, seperti roh di dalam tubuh kita dan lingkungan sekitamya. Beberapa ayat pertama ini merupakan pendahuluan untuk penjelasan mengenai apa yang akan terjadi bila penciptaan ini, yang berkembang dari ledakan pertama, sampai pada ujungnya, yakni pada satu titik asalnya.

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ

6. Hari ketika goncangan pertama akan menggoncangkan,

Ini merupakan kejadian pertama yang mendengungkan akhir dari ekspansi kosmik. Bila ekspansi berhenti, maka kekacauan besar di seluruh sistem kosmik akan terjadi. Adapun mengenai bumi, maka di bumi akan tejadi suatu goncangan dan getaran yang hebat (rajifah).

Bila sebuah sistem berjalan secara alamiah, ia akan bergerak dengan lancar. Begitu jalannya bembah dan berganti arah, maka pembahan ini menunjukkan perlawanan yang, dalam hal ini, berbentuk getaran. Kejadian pertama ini berulangkali disebutkan dalam Alquran yang menjelaskan secara rinci bagaimana dunia ini akan berakhir. Ayat ini menjelaskan bagaimana sistem pertama berhenti. Sistem-sistem senantiasa saling berinteraksi satu sama lain; jadi, bila satu sistem berhenti maka sistem yang lain mulai. Faktor penyatu dari berbagai sistem yang saling tumpang-tindih ini berada di luar jangkauan pernahaman intelektual kita.

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ

7. Yang datang sesudahnya akan menyusul.

Di susul kemudian goncangan berikutnya, yakni suara sangkakala yang mengumandangkan jalan baru di ‘alam al-arwah. Itulah alam energi halus sebagai kebalikan dari alam energi kasar. Radifah berasal dari radifa, artinya ‘mengikuti, datang kemudian’, dan radif artinya ‘yang berikutnya, yang menyusul’. Goncangan pertama, atau suara tiupan pertama, merupakan peristiwa pecahnya sistem yang ada hingga terkoyak-koyak, dan goncangan kedua akan menjadi permulaan dari sistem berikutnya.

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ

8. Ketika itu hati-hati akan berdebar-debar,

Informasi ini menjelaskan bahwa yang akan utuh pada diri kita di saat itu hanyalah apa yang tertanam dalam hati kita, yakni yang telah dibentuk oleh segala niat dan perbuatan kita dalam kehidupan ini. Mereka yang telah mengingkari peristiwa ini, yang mengingkari kebenaran dari pesan yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah Wujud (Realitas) Tunggal dan Pencipta Tunggal dan bahwa kita tidak pernah terputus dari takdir yang sudah ditetapkan, hatinya akan benar-benar berkecamuk. Pada saat Kebangkitan dimulai maka yang akan mereka rasakan adalah keterpisahan yang amat-sangat. Mereka merasa ddak mengalir dengan lancar mengikuti arus tapi malah melawan arus.

أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

9. Mata mereka menunduk.

Pandangan manusia, kemampuan penglihatannya, tidak akan berfungsi lagi seperti sebelumnya. Visi dan harapan yang ada dalam hatinya menjadi rendah, lemah, terputus dari segala peristiwa, sehingga tercampakkan.

يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ

10. Mereka berkata: “Benarkah kami akan dikembalikan kepada keadaan [kami] semula?

Suasana hati mereka mengumandangkan sebuah pemberontakan yang didasarkan pada keraguan mereka, dan bertanya ‘apakah kita akan kembali? Apakah memang ada peristiwa kembali itu? Akankah kita memulainya lagi seluruhnya? Ataukah ada kesinambungan, ada siklus kehidupan lain?

أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً

11. Apakah [akan dibangkitkan juga]! ketika kami sudah menjadi tulang-belulang yang hancur?

Pertanyaan berlanjut dengan seruan kuat yang bernada sangsi, seakan berkata ‘Bagaimana ini bisa terjadi? Kami tidak pernah menduganya!’ Pertanyaan seperti ini muncul karena dalam menilai peristiwa itu mereka hanya terpaku pada sudut pandang fisik. Jadi mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin tulang-belulang busuk ini dapat disusun kembali padahal, sebagai unsur tubuh yang paling keras, mereka sudah hancur. Mereka hams mengerti bahwa pertanyaan ini tidak berkenaan dengan daging dan tulang melainkan dengan roh dan segala perbuatannya selama berkelana di dunia ini.

قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

12. Mereka berkata, kalau demikian ini akan menjadi suatu pengembalian yang merugikan.

Begitu menyadari bahwa mau tidak mau mereka harus memasuki suatu tempat baru, mereka pun berkesimpulan bahwa mereka kembali ke keadaan yang merugi, karena roh mereka tidak siap untuk menjalani alam eksistensi berikutnya. Mereka sudah menyadari bahwa dalam kehidupan berikutnya mereka akan benar-benar rugi.

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ

13. Tapi itu hanyalah satu teriakan saja

Zajara, akar kata kerja dari zajrah (teriak), artinya ‘memaksa kembali, mengusir, mencegah, mengomeli’. Bagi orang-orang sesat—yakni mereka yang telah mengingkari kebenaran berita bahwa akan terjadi peristiwa pengembalian, ada alam akhirat—hanya ada satu teriakan, satu peringatan utama. Dalam seketika roh-roh akan menyadari bahwa mereka dalam keadaan merugi. Mereka akan mengakuinya dan menyatakannya secara terbuka, karena keadaan merugi itu melekat dalam roh.

فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ

14. Perhatikanlah! Mereka akan dibangkitkan!

Makna umum dari sahirah adalah ‘permukaan bumi’. Makna batinnya diambil dari akar kata sahira, yang berarti ‘menjadi tidak dapat tidur, tetap bangun (dalam suatu aktivitas)’. Sahar artinya ‘insomnia’. Ini menunjukkan bahwa permukaan bumi senantiasa hidup. Berarti, sekali roh-roh ini dibangunkan, selamanya mereka akan menyadari Realitas. Sebelumnya mereka tidak sadar akan kebenaran, tapi tiba-tiba mereka akan terbangun (sadar). Makna lahir dari ayat ini adalah bahwa mayat-mayat yang sebelumnya terpendam dalam kubur akan terdampar di permukaan bumi begitu menyembul keluar dan bergetar. Makna batinnya adalah bahwa roh-roh ini akan tiba-tiba sadar sepenuhnya. Tidak akan terjadi lagi tidur dalam kesadaran seperti yang kita alami dalam kehidupan ini.

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

15. Sudahkah kisah Musa sampai kepadamu?

Sekarang kita disodori kisah Nabi Musa sebagai contoh di dunia ini, di mana Tuhan Pemeliharanya memerintahkan dia untuk beramal, untuk melangkah mengikuti jalan realitas dalam kehidupan ini.

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

16. Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa

Musa as. dibawa ke lembah suci Thuwa. Hatinya dikuasi oleh al-ruh al-qudus (roh kudus). Hatinya ditarik oleh Rububiyyah (Ketuhanan) Tuhannya. Ia tidak punya pilihan selain melayani Tuhannya, dan ia diperintah oleh-Nya untuk menggempur puncak piramida kecurangan.

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

17. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas!

Ketika seseorang menjadi budak dari Yang Paling Tinggi, maka tugas yang harus dilaksanakannya memiliki tingkat kesulitan paling tinggi, tanggungjawabnya paling berat, dan ganjarannya pun paling besar. Musa ditugaskan untuk menyampaikan pesan tauhid kepada Fir’aun karena Fir’aun telah melakukan pelanggaran yang mengakibatkan seluruh bangsa tersesat.

فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَى أَن تَزَكَّى

18. Kemudian katakanlah: ‘Apakah kamu akan membersihkan diri?

Allah memerintahkan Musa untuk menyampaikan pesan kepada Fir’aun dan menanyakan apa sebabnya dia belum menyucikan diri. ‘Mengapa kamu belum menyerahkan dirimu dalam ketundukkan? Mengapa kamu tidak berjalan dalam kepasrahan diri? Mengapa kamu tidak melepaskan pakaian yang telah kamu kenakan, pakaian tempat kamu bersembunyi dan berperan sebagai Tuhan?

وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى

19. Dan aku akan membimbingmu ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut [kepada-Nya].

Pengertiannya di sini adalah bahwa Fir’aun tidak takut apa pun dan tidak menghargai apa pun; ia tidak punya pengetahuan tentang batas-batas perilaku. Petunjuk (hidayah, dari hada) di sini berarti rasa takut (khasyyah; dari khasyiya, kuatir atau takut kepada sesuatu). Pintu kepada petunjuk adalah rasa takut terhadap pelanggaran, takut akan membuat kesalahan dan takut mendatangkan murka Allah karena melanggar hukum-hukum-Nya yang mengatur kehidupan ini dan kehidupan akan datang. Ini adalah pesan Musa kepada Fir’aun. Dia berkata, “Jika engkau mau, jika engkau ingin menyucikan diri, jika engkau ingin menjalani kehidupan yang sejati dengan persiapan yang benar untuk dunia mendatang, akan aku tunjukkan jalan dan batas-batasnya, agar engkau merasa takut untuk melanggarnya. Kemudian engkau akan diberi petunjuk menuju satu-satunya Kebenaran. Jika engkau tidak punya rasa takut, maka engkau tidak akan mendapat petunjuk.”

فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى

20. Maka Musa menunjukkan kepadanya tanda yang besar.

Musa mempertunjukkan berbagai mukjizat kepada Fir’aun, beberapa di antaranya adalah memperlihatkan tongkatnya yang berubah menjadi seekor ular; tangannya yang berwarna putih dan bersinar, dan banyak lagi. Semua ini adalah mukjizat yang biasa. Persoalannya di sini adalah tentang al-ayat al-kubra (tanda besar), yakni ilmu Allah. Musa berkata, “Jika engkau mempunyai rasa takut, engkau akan mendapat petunjuk, dan dari petunjuk itu akan muncul pengetahuan tentang Realitas tunggal. Engkau tidak terpisah dari-Nya.

Pesan Musa kepada Fir’aun bukanlah pesan yang biasa, karena Fir’aun bukan seorang raja biasa. Ia menguasai berbagai pengetahuan dan sains yang sangat canggih (di zamannya). Ia memiliki banyak sekali kemampuan tapi tidak digunakan sesuai dengan sunah Allah. Misalnya, Fir’aun dan kaumnya menggunakan kekuatan supernatural, seperti mengerahkan kekuatan jin, atau kekuatan gaib. Bagi seorang nabi, kekuatan seperti itu tidak ada artinya— itu hanyalah kemampuan yang tidak berarti. Yang tertinggi dari seluruh mukjizat adalah pengetahuan tentang Allah, sedangkan yang paling rendah adalah mukjizat lahir, yang disebut keajaiban. Yang ada hanyalah Allah, dan kita telah menerima dunia ini untuk diuji dengan berbagai kesusahan agar pasrah dan tunduk kepada-Nya. Caranya adalah melalui rasa takut (khasyyah) untuk melakukan pelanggaran.

فَكَذَّبَ وَعَصَى

21. Tetapi ia (Fir’aun) mendustakan dan menolak.

Setelah mencurahkan seluruh hidupnya dalam sistem yang menonjolkan kekuatan dan kekuasaan, Fir’aun tidak mau menerima pesan yang mengajaknya untuk takut terhadap kekufuran. Arogansi kekuasaannya menyebabkan dia tidak mau menerima pesan tersebut. Reaksinya terhadap petunjuk yang terang bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa dirinya tidak berarti apa-apa, adalah mengingkari cetusan kebenaran yang ada dalam hatinya.

‘Asha artinya ‘tidak patuh, melawan, menentang, menolak’. Setelah menolak, ia berusaha mengkonfirmasikan kembali kedudukannya. Kita semua menginginkan penegasan dalam kehidupan ini, karena kita semua mencari keselamatan. Kita mencari konfirmasi bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah benar. Bagaimana pun juga, kita adalah pecinta Realitas Tunggal. Oleh karena itu, jika pemikiran kita sesat kita akan dihubungkan dengan orang-orang yang juga sesat pemikirannya.

Kita selalu beribadah dan mencintai Sifat-sifat Tuhan. Segala sesuatu dalam penciptaan berada dalam keadaan sempurna, dan kita hanya menjacli saksinya. Tak ada yang dapat kita tambahkan pada penciptaan. Hanya orang-orang yang telah dipilih untuk misi yang lebih tinggi yang hams menyatakan diri dan bertindak, mengajar, dan mengikuti langkah para nabi, seperti Musa. Sangat wajar dan dapat dimengerti kalau Fir’aun tidak memahami pesan ini dan belok ke arah yang sesat.

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى

22. Kemudian ia pergi membelakangi dengan tergesa-gesa,

Fir’aun pergi dengan sangat tergesa-gesa untuk menenangkan diri dan menjalankan sistem kekufurannya, dan mengkonsolidasikan kekuatan dirinya.

فَحَشَرَ فَنَادَى

23. Lalu ia mengumpulkan dan memproklamirkan,

Fir’aun mengumpulkan para pendukungnya karena ia merasa rentan terhadap serangan. Karena terpojok oleh sorotan pesan Musa yang gamblang, maka ia menghimpun semua pendukungnya untuk menenangkan dirinya.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

24. Kemudian ia berkata: “Akulah tuhan yang paling tinggir”,

Kemudian Fir’aun kembali ke kebiasaan lamanya, berlindung dan bertahan di bawah tahta kepemimpinan dan ketuhanan yang telah dinobatkannya sendiri untuk dirinya sendiri. Ia bermain sebagai tuhan, beaisaha menempatkan dirinya pada posisi yang sangat kuat dan mustahil. Ini sangat berbahaya bagi seluruh umat manusia. Semakin tinggi kita naik, semakin besar bahaya ini mengancam. Orang-orang yang memiliki wawasan dan kekuatan batin khususnya harus tetap berada di dalam batas-batas norma perilaku yang diwahyukan, yakni syariat—parameter hukum lahiriah—karena bahaya penyesatan ada dalam diri kita semua. Kita telah menyaksikannya dalam kehidupan ini, baik di kalangan ahli lahir (zhahir) maupun ahli batin. Selalu ada kecenderungan untuk menjadi sasaran bahaya ini kalau kita tidak senantiasa mengikuti jalan syariat, dengan melakukan salat dan do’a secara teratur dan berkesinambungan.

Fir’aun berkata, “Akulah tuhan yang paling tinggi,” kepada kaumnya. Tapi tidak ada manusia yang bisa hidup dalam keterasingan karena seandainya ia tidak berhubungan dengan Realitas tunggal dan menjadi hambanya semata, tentu ia berhubungan dengan versi kebenaran yang sesat dan menyimpang, sebagaimana dalam kasus Fir’aun.

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى

25. Maka Allah mencengkamnya dengan hukuman di akhirat dan hukuman di dunia ini.

Fir’aun mengangkat dirinya sendiri sebagai tuhan. Reaksi Tuhan atas perbuatan nekad ini adalah jatuhnya hukuman. Nakâl artinya hukuman. Fir’aun mendapat bantahan dari Tuhan atas perbuatannya di waktu lampau dan akan datang, baik yang telah dilakukannya sebelum Musa datang padanya maupun yang dilakukan sesudahnya. Ayat ini berkenaan dengan penderitaan yang dirundung Fir’aun dalam kehidupan sekarang dan nanti. Sebagaimana kita ketahui, Fir’aun dan kaumnya mati tenggelam saat menyeberangi Laut Merah. Tapi ‘terakhir’ dan ‘pertama’ bisa juga berarti ‘lahir’ dan ‘batin'; secara lahir ia ditegur, dan secara batin ia disiksa. Secara lahiriah ia tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi berbagai aksi Musa, secara batiniah juga ia tidak tahu bagaimana memberikan reaksi terhadap pesan Tuhan. Pembinasaan fisik Fir’aun pada akhimya menjadi catatan tambahan bahwa memang lazim kalau kebenaran selalu menang atas khayalan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَى

26. Sesungguhnya pada yang demikian ini ada pelajaran bagi orang yang takut.

‘Ibrah artinya ‘peringatan, contoh, pelajaran’. Akar katanya adalah ‘abara, yang berarti ‘menyeberangi, melintasi, menafsirkan (suatu mimpi), atau mencucurkan air mata’. Ini berarti bahwa pelajaran nyata yang diperoleh menyebabkan kita menyeberang dari kesalahan ke kebenaran. Kata untuk ‘Hebrew [Ibrani]‘ (‘ibri) berasal dari akar kata yang sama (dari ‘abara), karena mereka menyeberang menuju keselamatan di tepi laut lain. Kata ini juga berarti menyeberangi pantai pengetahuan karena orang yang ingin sekali mendapat ilmu akan berusaha agar tidak tetap dalam kebodohan. Orang seperti itu menginginkan keselamatan yang dijamin oleh perilaku yang benar.

Dalam ayat-ayat ini kita diberi contoh mengenai orang yang bertauhid, orang yang beriman kepada Allah, dalam hal ini Nabi Musa, dan lawannya yang berseberangan, yang merugi, yang asyik sendiri dengan kekuasaannya. Alquran mengatakan bahwa kedua sistem tersebut tidak bisa bertemu ‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku’ (Q.S. 109:6). Sistem kekafiran akan dihancurkan, dan sistem Kebenaran akan menang.

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءَ بَنَاهَا

27. Apakah kamu yang lebih sulit diciptakan ataukah langit? Allah telah membangunnya.

Dengan memperhatikan kekuasaan Fir’aun dan apa yang terjadi padanya serta kaumnya, kini kita dihadapkan pada pertanyaan di atas, yang memaksa kita untuk merenungkan kekuasaan yang menciptakan alam semesta ini. Sama’ (langit, cakrawala) menunjukkan hal yang menyatukan alam semesta. Akar kata kerja sama’ berarti ‘tinggi’, tidak hanya dalam arti vertikal, tapi juga dalam arti kiasan, dinaikkan atau luhur. Dengan demikian, ia juga berarti ‘berjalan di luar pemahaman (seseorang)’. Rajul samin artinya ‘orang yang bernilai tinggi, berwatak moral tinggi’.

Ayat ini menunjuk kepada langit yang lebih dekat dalam sistem planet dan juga langit yang lebih jauh di luar sistem itu. Alquran mengatakan bahwa Allah telah men-ciptakan tujuh langit (Q.S. 41:12). Langit yang dapat kita lihat, yang kelihatannya tidak dapat diduga, sebenarnya adalah langit paling rendah. Di atasnya ada enam langit lagi. Sebagaimana ada tujuh lapis langit, begitu juga ada tujuh lapis bumi, dan lapisan paling dalam berupa logam cair. Tujuh lapis ‘langit’ pun ada pada tingkat energi elektron yang mengelilingi inti atom.

Namun, dalam bahasa Arab jumlah tujuh atau tujuh puluh (atau bahkan kelipatan tujuh) menunjukkan jumlah yang sangat banyak. Dalam ceramah biasa, jika kita mengatakan bahwa seseorang memberitahu kita sesuatu tujuh kali, tentu saja itu tidak berarti benar-benar tujuh kali tapi mungkin maksudnya beberapa kali. Sama halnya juga pada jumlah tujuh puluh. Pada beberapa hadis Nabi, kita menemukan jumlah-jumlah ini disebutkan, ‘Tiada hari berlalu tanpa aku meminta ampunan kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali.’ Tentu saja ini tidak berarti bahwa beliau menghitung tujuh puluh biji tasbih atau bahwa beliau duduk dengan setumpuk biji kurma, sebagaimana lazimnya pada waktu itu, untuk menghitung jumlah kali yang telah dia ucapkan, ‘ Astaghfirullah’. Lebih tepatnya, jumlah itu berarti bahwa beliau mengucapkan kalimat ini berulangkali dalam jumlah yang banyak, barangkali paling sedikit tujuh puluh kali.

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

28. Dia menambah ketinggian [atap langit]-nya, lalu menyempurnakannya.

Samk artinya ‘atap’ atau ‘langit-langit’, sumk artinya ‘ketebalan’, sedangkan samik artinya ‘tipis’. Rafa’a samkaha, ‘ia menambah ketinggiannya’, artinya lebar langit ditambah sampai suatu tingkat yang menurut persepsi kita ukurannya tak dapat diduga. Dalam ayat ini kata tersebut menyiratkan bahwa langit meletus. Bisa saja menafsirkan ayat ini dengan makna Ledakan Besar (Big Bang).

Fa-sawwaha (lalu menyempurnakannya) merupakan salah satu petunjuk paling awal pada kata sawa, artinya ‘sepadan, rata, datar, meratakan, menyamakan, mengatur, menertibkan’. Sawa dan beberapa derivatnya memiliki makna yang saling mencakup dengan kata ‘adala, yang berarti ‘bertindak adil, sesuai, menyamakan, menyusun rapi’. Dari sawa muncul kata musawah, yang artinya ‘persamaan di depan hukum’, dan taswiyah, yang berarti ‘penyusunan, penyamaan’. Jadi setelah terjadi ledakan besar, ketertiban pun ditegakkan.

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا

29. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan paginya terang benderang.

Ini berkenaan dengan dualitas eksistensi. Malam hari dijadikan gelap, sementara siang hari, awal pagi, dikeluarkan dan dijadikan lebih terang. Akhraja artinya ‘mengeluarkan, atau memunculkan’. Kharaja akar dari akhraja berarti ‘keluar, terbit’. Kharaj adalah apa yang harus dibayar oleh kita dari kekayaan kita sebagai zakat.

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

30. Dan bumi, Dia menghamparkannya sesudah itu.

Bumi adalah bagian dari keseimbangan penciptaan secara keseluruhan. Di sini bumi dibentangkan dengan datar dan dijadikan dapat digunakan. Daha artinya ‘menggelar, meratakan, mendatarkan, membuka gulungan’, dan dahyah artinya ‘telur’. Ini menunjuk pada kenyataan bahwa bumi diciptakan terhampar pada beberapa kutub (ujung-ujung hamparan bumi bertemu di dua kutub—peny.), suatu fakta yang baru beberapa dekade saja diketahui oleh manusia modern.

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

31. Dia mengeluarkan darinya mata airnya dan padang rumputnya

Pada tahap-tahap awal penciptaan, bumi memadat dari material berbentuk cair atau gas. Kemudian dari bumi keluar katalis cair yang dibutuhkan untuk mengubah zat padat menjadi lebih dapat digunakan, zat untuk menopang kehidupan, dan kemudian menjadi tetumbuhan, binatang dan manusia.

Mar’a berarti ‘padang rumput’ atau ‘tempat untuk menggembala’. Ra’a artinya ‘menggembalakan’, dan juga berarti ‘memelihara sekawan binatang’, atau lebih umum lagi ‘mengurus seseorang atau sesuatu’. Rctai adalah pelindung, sedangkan ra’ini artinya ‘lindungi saya’. Dengan demikian dari bumi muncul suatu zat cair yang membuat kehidupan menjadi mungkin dan memberi kita kemungkinan untuk menggembala di atasnya.

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

32. Dan gunung-gunung, Dia menjadikannya teguh.

Lagi-lagi di sini kita diberi contoh bagaimana bumi terjadi, yang berubah menjadi bentuk padat. Arsaha artinya bahwa ‘Dia telah mengikatkan mereka pada suatu medium cair, Dia menambatkan mereka’, dan kata itu berasal dari rasa, yang berarti ‘meneguhkan’, dan ‘menambatkan’. Diteguhkannya bumi ini agar kita bisa menetap dan mencari perbekalan, dan juga memberi kita kestabilan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan. Jadi, Al-quran sudah bercerita kepada kita lebih dari 1400 tahun lampau tentang awal proses pembentukkan bumi, dan fenomena ini baru sekarang dapat dijelaskan oleh para ahli geologi modern.

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

33. Perbekalan untukmu dan untuk binatang ternakmu.

Karena bumi menetap dan berkembang, maka disediakanlah perbekalan untuk umat manusia dan binatang, yang memberikan sekadar kesenangan tertentu dalam perjalanan kita di muka bumi ini.

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى

34. Namun ketika malapetaka besar datang.

Kematian adalah malapetaka besar bagi mereka yang menganggap kehidupan dunia ini sebagai tujuan utama eksistensinya, padahal itu hanyalah pendahuluan menuju kehidupan berikutnya.

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ مَا سَعَى

35. Hari di mana manusia akan mengingat kembali apa yang telah ia usahakan.

Pada hari itulah manusia akan mengingat semua yang telah terjadi sebelumnya, dan semua yang ia usahakan ketika hidup akan terbentang di hadapannya, yang mengungkapkan segala niat, perbuatan, dan, dengan demikian, realitas dia. Engkau adalah siapa engkau pada hari itu, tanpa kepura-puraan ataupun ditutup-tutupi.

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَن يَرَى

36. Dan neraka akan diperlihatkan dengan jelas bagi siapa yang melihat.

Pada hari itu penglihatan kita akan menjadi lebih tajam dibanding sebelumnya dan jahim—nama lain untuk neraka—akan nampak segamblang-gamblangnya. Mereka yang telah memimpin kehidupannya dalam bimbingan agitasi batin akan melihatnya dengan jelas.

فَأَمَّا مَن طَغَى

37. Adapun orang yang telah melampaui batas.

وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

38. Dan lebih menyukai kehidupan dunia ini.

فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

39. Maka tentu saja nerakalah tempat tinggalnya!

Dunya, maksudnya ‘dunia ini’ sebagai lawan dari dunia berikutnya, berasal dari kata dana, yang berarti ‘rendah, dekat, berhampiran’, dan juga ‘sebagai atau menjadi alas, hina, atau tercela’. Dengan lebih mencintai kehidupan dunia ini seseorang secara otomatis bergerak ke arah materialisme yang lebih kotor dan bersifat rendah.

Keadaan yang bergejolak selamanya adalah tempat istirahat terakhir yang pantas bagi mereka yang melampaui batas di dunia ini, yang lebih menyukai kehidupan dunia ini daripada kehidupan selanjutnya, yakni, bagi mereka yang telah kufur dan terperangkap dalam kekufurannya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

40. Dan adapun orang yang takut berdiri di hadapan Tuhannya, dan menahan diri dari segala hasrat (hawa nafsu) rendahnya.

Adapun orang yang takut terhadap kekuasaan dan kedudukan Tuhannya Yang Mahabesar, yang selalu berdiri seakan dalam genggaman Tuhannya, dan yang selalu berbuat seakan perpanjangan Ketuhanan itu, maka itulah orang yang menjaga jiwanya dari mengikuti hasrat rendah, yang tiada hentinya mengingat Allah dan tidak melampaui batas.

Barangsiapa senantiasa menyadari kerusakan akibat tingkah hawa nafsunya akan senantiasa berada di jalan yang lempang dan, konsekwensinya, paling selamat.

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

41. Maka tentu saja surgalah tempat tinggalnya!

Bagi siapa saja yang memelihara rasa takut di hadapan Allah, maka jannah (taman surga) adalah tempat tinggal terakhirnya yang pantas. Ia telah mempersiapkan diri untuk itu di sini dan saat ini juga, dan telah mempelajari kondisi serta situasi taman tersebut. Ia telah memasuki suasana taman surga di dunia ini dalam persiapan untuk keadaannya yang terakhir dan abadi di dunia akan datang.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

42. Mereka bertanya kepadamu tentang saat (kiamat) kapan ia akan terjadi.

Inilah petunjuk tentang Saat Perhitungan (Hari Pengadilan), saat penyingkapan total dan sempurna, saat di mana aksi dan reaksi bertemu dan dipertemukan, di mana segala niat, perbuatan dan roh manusia akan dihubungkan dan dipersatukan. Saat itulah manusia akan melihat dirinya sendiri sebagai hasil perbuatannya yang, dalam kenyataan, merupakan perwujudan dari segala niatnya. Yang akan dilihatnya tak lain adalah sifat tersembunyi yang merupa-kan sifat aslinya, dan penampilannya akan jelas dalam dua pilihan: cemerlang karena selalu digosok, atau suram tertutup oleh sifat rendahnya.

فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا

43. Tentang apakah engkau mengingatkan?

Orang yang bertanya tentang hari itu tidaklah sungguh-sungguh kuatir, karena jika mengimaninya maka ia akan selalu bersiap-siap menghadapi kematian dan pertanggung-jawabannya. Jika kesadaran dia seperti demikian, maka tidak ada alasan untuk terobsesi dengan kiamat besar dunia ini. Perhatian terhadap saat (kematian)nya sendiri mengalahkan perhatiannya terhadap akhir alam semesta atau Saat Pasti.

إِلَى رَبِّكَ مُنتَهَاهَا

44. Kepada Tuhanmulah tujuannya.

Bagaimana engkau dapat mengingatkan mereka kepada ujung atau tujuan akhirnya? Seluruh waktu berhenti pada Tuhan, karena Tuhan berada di luar waktu. Saat tersebut, perhentian waktu itu—tempat berhenti atau ter-akhir itu—adalah pada Tuhan.

إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا

45. Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut terhadapnya (kiamat).

Yang dapat kita lakukan di dunia ini, yang tunduk pada waktu, hanyalah mengingatkan orang lain, menyadarkan mereka bahwa akan terjadi situasi di mana waktu akan berhenti. Pada saat itu yang akan kita miliki sebagai modal hanyalah apa yang telah kita peroleh dari hasil perbuatan kita dan pengetahuan yang terbit dari sumber pengetahuan dalam diri kita, dan dari kesadaran pencegahan kita bahwa kehidupan ini akan sampai pada akhirnya.

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

46. Pada hari tatkala mereka melihat itu, seakan-akan mereka tidak tinggal kecuali selama bagian akhir hari (sore) atau bagian awal hari (pagi).

Saat akhir dapat dirasakan di sini, tapi pada saat akhir yang mutlak, waktu akan berhenti. Ketika kita menjalaninya, tahun-tahun panjang kehidupan ini akan terasa bagaikan satu hari saja, atau bagian dari sehari dan semalam semata. Kehidupan terasa singkat dan tidak berarti. Bila waktu sampai pada ujungnya dan kita melihatnya dengan kesadaran seperti itu, maka seluruh perjalanan kita di dunia ini akan nampak menyimpang sama sekali. Kita akan meninggalkan waktu kernudian memasuki ketakberwaktuan, yang melatarbelakangi waktu; dan Allah adalah Yang Tak Berwaktu.[]

~ oleh hidayatulhaq pada Juni 20, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: