Surat ‘Abasa

SURAH ‘ABASA

“IA BERMUKA MASAM”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Setiap surah diturunkan pada kesempatan tertentu dan mempunyai relevansi langsung baik dengan kejadian saat itu maupun dengan kejadian mendatang, karena firman Tuhan tidak dibatasi oleh waktu. Surah ini berkenaan dengan kejadian berikut: suatu hari ketika Nabi sedang duduk bersama para petinggi Quraisy yang menentang Islam dan tidak mau masuk Islam, beliau diganggu oleh seorang laki-laki buta. Orang buta ini, ‘Abd Allah ibn Umm Maktum, berakhlak baik sekali. Setiap kali berjumpa dengan Nabi, ia selalu bertanya, “Beritahu aku apa yang telah Tuhan sampaikan kepadamu.” Maka Nabi akan berusaha menerangi hatinya dan memberinya kabar baik. Namun kali ini Nabi bermuka masam dalam menanggapi gangguan tersebut, karena mungkin saat itu beliau nyaris mencapai kesepakatan dengan para pemimpin Quraisy, dan peristiwa ini akan memperkuat posisi Islam di tengah mereka dan menambah jumlah umat Islam. Surah ini turun kepada beliau saat kembali ke majelisnya setelah mengatasi gangguan (kedatangan Umm Maktum) tersebut.

عَبَسَ وَتَوَلَّى

1. Dia bermuka masam dan berpaling,

أَن جَاءَهُ الْأَعْمَى

2. Karena orang buta datang kepadanya.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى

3. Dan apa yang kau ketahui, bahwa mungkin ia hendak menyucikan dirinya?

Ayat ketiga berkenaan dengan para pemimpin Quraisy dan orang buta. Yazzakka berasal dari kata kerja ‘membersihkan (menyucikan) diri’; pembersihan harus dilakukan untuk mengerjakan salat, yang merupakan salah satu pilar Islam. Salat tidak hanya berarti sembahyang tapi juga berarti mengisi ulang dan berhubungan, dan dikerjakan lima kali sehari sampai kita terhubungkan secara permanen. Sekaitan dengan yazzakka adalah tazkiyah yang berarti pembersihan (penyucian), dan bermakna menambah atau meningkatkan kualitas sesuatu. Misalnya, kualitas air ditingkatkan dengan cara membersihkannya; kita membersihkan diri dengan cara membayar zakat.

Seluruh subjek kehidupan adalah pembersihan, dan jika ada kebersihan maka ada kedamaian. Manusia selalu berusaha semampunya untuk membersihkan pikiran dan perbuatannya. Pembersihan perbuatan sebagian orang bisa saja dilakukan dengan cara melakukan amal-amal yang paling baik, sesudah itu akan terjadi keseimbangan dan mendapat pelajaran. Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan kaum Quraisy, sementara sebagian lainnya mengatakan bahwa ia berkenaan dengan orang buta karena yang dibicarakan bukan kuantitas melainkan kualitas (penyucian).

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَى

4. Atau menjadi ingat sehingga peringatan itu berguna bagi dia?

Praktik-praktik yang dilakukan orang bertakwa merupakan upaya untuk senantiasa berada dalam keadaan ingat dan sadar. Kita mungkin bertanya, ingat akan apa? Ingat akan apa saja yang menyebabkan pemenuhan dan yang menyebabkan tiadanya pemenuhan. Kita semua menderita karena tiadanya pemenuhan yang kita sebabkan sendiri. Setiap orang, sebagai individu, menetapkan bahwa pemenuhan akan terjadi hanya jika beberapa peristiwa tertentu terjadi. Jika peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi, maka ia akan sengsara. Karena itu setiap individu adalah penulis dari pemenuhannya sendiri, dan tak ada orang lain yang dapat menolongnya dari sejak dalam kandungan sampai ke liang lahat. Maka zikir, dari kata kerja dzakara, yang berarti ‘mengingat’, adalah awal dari perenungan, bukan sekadar meditasi. Zikir sulit dilakukan dalam dunia modern sebab kita selalu berada dalam keadaan tergesa-gesa sehingga kita tidak dapat meluangkan waktu yang tenang untuk melihat bayangan kita dalam cermin.

Keempat ayat ini berkenaan dengan zikir yang positif. Jika zikir hanya merupakan pikiran romantis, lantas apa gunanya? Itulah sebabnya maka kita tidak perlu memikirkan hari kemarin ataupun apa yang akan terjadi esok, tapi bekerjalah hari ini sebaik-baiknya. Hari ini, saat ini, adalah milik kita. Jika energi kita dipelihara, maka setiap hari akan menjadi hari yang terbaik, karena kita akan selalu siap dan waspada. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mampu melakukannya.

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى

5. Adapun orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan apa-apa,

Istaghna berasal dari ghaniya, yang berarti ‘kaya, bebas dari kekurangan’. Tidak ada ketidakbergantungan, tapi yang ada hanyalah Yang Tidak Bergantung. Dalam realitasnya tidak ada keterputusan total, di mana setiap orang mempengaruhi orang lainnya. Seekor lalat mempengaruhi keseluruhan kosmos, meskipun pengaruhnya hanya sejenak. Namun, di antara kita ada yang mengira bahwa kita baru saja menemukan ekologi. Hanya setelah menyebabkan punahnya puluhan spesies barulah kita menemukan ketidakseimbangan dalam ekologi alam. Jadi, tidak ada yang terbebas dari kekurangan dan kebutuhan, dan kita tidak memiliki apa pun, karena segala daya dan kehi-dupan memancar dari Allah (Yang terbebas dari segala kekurangan maupun kebutuhan—peny.).

فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّى

6. Maka engkau memberikan perhatian kepadanya.

Meskipun di sini diterjemahkan sebagai ‘memberikan perhatian’, tashadda berasal dari kata kerja ‘menyibukkan diri dengan seseorang, beralih kepada seseorang, menentang, melawan’. Adapun orang yang kelihatannya sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri, mereka akan menjumpai berbagai kendala dalam usahanya. Mereka akan terhambat.

وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى

7. Dan bukanlah kesalahanmu jika ia tidak menyucikan diri.

Tugas seorang rasul sejati adalah menyampaikan pesan kepada yang lain. Ia hanya dapat berusaha mencontohkan isi pesan tersebut. Keinginan untuk memberikan segala aspek yang kita sendiri menyukainya merupakan unsur penting kondisi manusia. Namun rasul tidak dapat menyucikan orang lain, dan beban dosa akibat penyangkalan orang lain pun tidak jatuh padanya. la hanya dapat memberikan jalan dan contoh.

Seperti telah kita ketahui dalam ayat tiga, kata kerja untuk ‘disucikan’ mempunyai dua makna pokok: ‘menumbuhkan’ dan ‘menyucikan’. Zakat, yang berasal dari akar kata yang sama dengan yazzakka, adalah sebutan untuk 2,5% pajak yang dikenakan atas beberapa jenis harta yang didistribusikan kepada kaum miskin. Secara lahiriah zakat menyangkut pemberian. Secara batiniah zakat adalah membuang kotoran dan membersihkan diri, karena zakat menyiratkan pengakuan bahwa apa pun yang dimiliki seseorang akan mengikatnya erat-erat. Karena manusia sudah terikat oleh jasadnya dan terpaksa memilikinya, maka ia hams memberikan zakat. Zakat adalah kewajiban menurut syariat (hukum ilahi). Ia juga merupakan kewajiban secara batiniah, karena jika praktik lahir tidak sejalan dengan makna batin, maka tidak ada gunanya.

وَأَمَّا مَن جَاءَكَ يَسْعَى

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan usaha keras,

Ayat ini berkenaan dengan orang buta yang datang kepada Nabi meminta pengetahuan. Sa’i (berlari tujuh balik antara bukit Safa dan Marwah, sebagai ritus haji) berasal dari akar kata kerja yang sama dengan yaSa dan berarti ‘bergerak dengan cepat, berusaha keras’. Sa’i adalah prosesi yang kita laksanakan pada saat Haji, dan merupakan simbol dari apa yang kita—sebagai manusia berakal— kerjakan setiap hari dalam kehidupan kita. Kita sedang berjuang dengan segala upaya.

وَهُوَ يَخْشَى

9. Dan ia takut,

Siapa pun yang mendatanginya dengan tekad kuat untuk mendapat pengetahuan seperti orang buta itu maka ia akan takut terhadap hal-hal yang menyebabkan harapannya tidak terkabul. Bukan hanya tidak lepas dari rasa takut, tapi juga dari ketakutan—yang bersifat waspada— terhadap hal-hal yang merintangi kemajuan atau pengayaan ilmu pengetahuannya.

فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّى

10. Dan engkau tidak memperhatikannya.

Bentuk akar kata kerja talahha adalah laha, yang di sini berarti ‘tidak memperdulikan, berpaling, atau terlupakan’. Makna lain termasuk: ‘menghibur diri, membuang-buang, menghabiskan waktu, menikmati, mengecap, berusaha melupakan’. Zaman sekarang malha dikenal sebagai klub malam. Namun makna awalnya adalah setiap hal yang mengalihkan perhatian. Hal yang mengalihkan seseorang dari mengejar tujuannya adalah lahw (hiburan, pengalih perhatian), bukan pembebasan batin, dan pembebasan lahir hanya berguna jika dibimbing oleh batin.

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

11. Tidak! Sesungguhnya itu adalah peringatan.

Bila kata kalla (sesungguhnya tidak) muncul dalam Alquran, maka ia digunakan untuk mempertegas persoalan. Peringatan seperti ini jangkauannya luas melampaui waktu. Dengan kilas-balik ke masa lampau, dapatkah kita mengingat kembali suatu kejadian di mana kita mempunyai niat yang jelas dan bergerak melaksanakan niat tersebut? Andaikata tidak bisa, dapatkah kita mengakui bahwa kita dulu hidup tenang? Sebaiknya anggaplah tahun-tahun itu bertentangan dengan kita, karena mereka hanyalah tahun-tahun di waktu lampau, bukan tahun-tahun dalam kehidupan nyata. Ayat ini merupakan peringatan bagi kita agar bersikap peka, waspada dan aktif.

Setiap tindakan tanpa niat yang jelas menghendaki tindakan yang benar. Teguran ayat ini mengingatkan kita terhadap berbagai kecenderungan normal yang ada pada kita, yakni lebih menyukai perbuatan tertentu daripada terus memfokuskan beribadah kepada Allah sebagai tujuan utama kita. Kecenderungan untuk mengikuti asumsi-asumsi tertentu atau pola-pola perilaku pilihan merupakan cagar alam dari jiwa yang rendah. Sifat ini ada pada semua makhluk. Namun pada diri Nabi Muhammad yang sempurna, kecenderungan ini tidak termanifestasi secara lahiriah karena bimbingan Ilahi mutlak senantiasa mengontrol. Bunyi ayat ini tidak ditujukan kepada tindakan nyata Nabi, karena Nabi adalah sempurna. Oleh karena itu, meskipun ayat ini kedengarannya seperti teguran, ia hanya mendengungkan suatu peringatan terhadap kecenderungan ini yang ada pada semua hamba Allah. Jadi seakan-akan Allah mengatakan, “Jika engkau dibiarkan tanpa petunjuk, engkau akan lebih menyukai para pembesar Quraisy, yakni musuh-musuh-Ku.”

فَمَن شَاء ذَكَرَهُ

12. Maka barangsiapa ingin, hendaklah memperhatikan itu.

Pilihan ada di tangan kita. Realitas telah mewujudkan dirinya dengan cara ini, tidak dengan cara lain. Yang berjalan dalam sistem ini tak lain hanyalah kerahiman, dan karena saking luasnya jangkauan kerahiman tersebut serta meliputi segala sesuatu, sampai-sampai segala perbuatan salah kita pun bisa jadi nampak baik pada kita. Ayat ini mengatakan barangsiapa ingin ingat maka ia akan ingat. Pilihan terserah pada masing-masing individu, karena setiap orang, sebagai makhluk manusia, adalah makhluk tertinggi dalam penciptaan. Kita berada di puncak realitas penciptaan yang telah memberikan kita peluang untuk mencoba hidup dengan melanggar hukum Allah meskipun, realitasnya, kita tidak terpisah dari Pencipta kita. Tidak ada pemisahan, tidak ada dua. Alquran menyatakan: “Jalan telah ditunjukkan kepadanya, apakah ia bersyukur atau ingkar” (Q.S.76:3). Maka, kalau tidak dalam keadaan bersyukur, puas, dan mabuk batin, ia tentu dalam keadaan tertutup, menyesal, dan menjadi kaku. Manusia harus memilih! Begitu diciptakan, ia segera dihadapkan pada dualitas, pada beberapa alternatif. Kalau kita sadar, pengalaman langsung kita akan mengingatkan kita untuk menghindari apa pun yang tidak baik demi kebahagiaan kita. Kita akan menjadi takut menyebabkan kerugian pada diri kita sendiri dengan cara hanya mengingat apa yang sudah ada pada kita.

فِي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ

13. Dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan,

Shuhuf adalah jamak dari shahifah, yang berarti ‘halaman buku’. Shahifah dalam bahasa Arab modern berarti ‘surat kabar’. Fungsi surat kabar adalah menyebarkan berita, menunjukkan situasi. Shuhuf mukarramah artinya ‘lembaran-lembaran yang dimuliakan’, yang dibubuhi dengan cap realitas penciptaan. Ini berkenaan dengan tulisan mulia yang terukir dalam gen kita dari sejak awal waktu penciptaan, bukan berkenaan dengan sesuatu yang ditulis oleh seorang bijak bernama Ibrahim.

Yang tertulis adalah hal-hal yang inheren dalam penciptaan. Buku Catatan Ilahi ini memuat petunjuk dan takdir penciptaan. Di dalamnya terdapat semua hukum yang membawakan semua kehidupan dan yang menghubungkan alam nyata dengan alam gaib. Kita semua sudah dikondisikan karena masing-masing diberi karakter jasmani, karakter emosionil, dan, pada tingkat yang lebih dalam, karakter spiritual tertentu. Bagaimana pun bentuk yang diberikan, keselumhan karakter kita tercakup dalam karakter yang jauh lebih luas dan setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketetapan Allah itu dibuat sedemikian rupa sehingga ada takdir-takdir tertentu yang tidak dapat diubah dan ada takdir lainnya yang dapat diubah dengan cara mernperbaiki niat dan perbuatan kita. Takdir seorang individu seluruhnya merupakan hasil dari tindakan, pemikiran dan niatnya yang berinteraksi dengan dunia luas.

مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ

14. Yang ditinggikan, yang disucikan,

Kitab, realitas, atau penulisan kode genetika itu bersifat luhur dan suci. Tapi apa yang dimaksud dengan kesucian mutlak? Tingkat kesucian yang disebutkan di sini tidaklah terhingga; ia tidak dapat dimengerti ataupun diukur. Tidak ada kebenaran, misalnya, pada sesuatu yang kita katakan sebagai gambar arus listrik murni, karena tidak ada kemurnian di dalamnya. Listrik sebenarnya memancar sendiri karena ia mengalir secara berlawanan. Sepanjang sesuatu dapat diukur maka ia tidak suci, dan sepanjang manusia hidup maka ia pun tidak suci. Ayat ini menyinggung penulisan kode abstrak yang tercantum dalam Buku Catatan.

‘Buku yang terhormat’ itu bersifat agung dan tinggi karena hal-hal kotor semuanya ada di bawah, tunduk pada hukum gravitasi. Apa pun yang berat akan jatuh, dan apa pun yang ringan akan bergerak naik. Itulah sebabnya ketika menyeru Tuhan kita tanpa pikir-pikir lagi langsung melihat ke atas dan bukan ke bawah.

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

15. Di tangan para penulis,

Safarah adalah jamak dari safir, artinya ‘ahli menulis’. Safar, dari akar kata kerja yang sama, adalah ‘perjalanan’, sedangkan safir adalah ‘dutabesar, utusan, atau mediator’. Tangan merupakan instrumen tindakan. Suara Tuhan mengatakan bahwa penyandian ini, yang sama sekali abstrak dan murni, dilakukan atau diciptakan melalui medium atau tangan-tangan utusan. Seorang dutabesar penuh sepenuhnya mewakili kedutaannya. Begitu pula kehendak Ilahi, diimplementasikan melalui para wakil dan utusan yang benar-benar loyal.

كِرَامٍ بَرَرَةٍ

16. Yang mulia, berbudi baik.

Kata-kata ini menggambarkan kekuatan pelaksanaan yang menghasilkan realitas penciptaan ini. Kita mesti ingat bahwa Alquran menyatukan gaung keabadian dengan kemanusiaan. Nabi adalah entitas yang bergetar dan berdenyut yang menyampaikan Alquran dengan kata-kata yang dapat kita selami sedalam-dalamnya dalam rangka merenungkannya. Kita tidak bisa hanya memeriksa permukaannya saja. Oleh karena itu, kiram bararah tidak hanya berarti ‘mulia dan baik budi’. Karam berarti ‘kemurahan hati yang mutlak dan menyeluruh’. Jika seseorang benar-benar murah hati, maka ia menjadi saluran tempat lewatnya berbagai hal, baik dalam bentuk harta, ilmu pengetahuan, atau wujud kemurahan hati lainnya. Jika ia adalah karim (murah hati), ia hanya akan menjadi sebuah instrumen, sementara dirinya sendiri mangkir. Inilah kemurahan hati dalam bentuk terakhir.

Akar kata bararah adalah barra, yang berarti ‘saleh, adil’. Birr, dari akar kata yang sama, dalam kamus-kamus bahasa Arab didefinisikan sebagai ‘kebajikan, penghormatan, atau ketaatan’, tapi hanya sebagian saja yang benar. Kata tersebut juga diartikan sebagai loyal, setia dan konsisten.

Kiram bararah adalah kekuatan-kekuatan yang melaksanakan realitas penciptaan tanpa ada intervensi. Hanya makhluk manusia, sebagai puncak penciptaan, yang diberi kebebasan untuk secara cukup bodoh mengira bahwa dirinya adalah makhluk yang istimewa, atau, dengan cukup bijak membebaskan batinnya [dari persangkaan seperti itu—peny.].

قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ

17. Celakalah manusia itu! Alangkah tidak berterimakasihnya dia!

Qutila adalah bentuk pasif dad kata kerja ‘membunuh’, dan, dengan demikian, sedikit mengubah maknanya menjadi ‘dikutuk’ dengan konotasi kuat ‘dihukum’.

Alquran baru saja membawa kita kepada persoalan yang sangat halus, lalu tiba-tiba membawa kita kembali kepada kekasaran manusiawi kita. Kufr—kata benda dari akar kata kerja yang sama dengan akfara (tidak berterima-kasih atau tidak setia)—adalah menutupi kebenaran dalam upaya membenarkan keirasionalan ego kita. Segala sesuatu dalam eksistensi ini menunjukkan kesempurnaan—kita mendapatkan apa yang patut kita dapatkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena kita mempunyai berbagai pengharapan maka biasanya kita dilanda frustasi. Dunia secara keseluruhan bergerak ke satu arah, tapi segala pengharapan kita malah berbelok ke arah lain.

Pembunuhan menyiratkan berakhirnya kemungkinan. Sebenarnya kehidupan memancar dari satu sumber ilahiah, dan karena itu eksistensi individual dari masing-masing orang dibangun oleh kerahiman sumber tersebut. Dengan demikian warisan kita yang sebenarnya adalah ketuhanan. Tapi apakah hal itu diakui oleh kita? Bukannya berada dalam kesatuan, kebanyakan kita justru hidup dalam keter-pisahan yang sangat menyedihkan dengan sumber kehidupan.

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

18. Dari benda apakah Ia menciptakannya?

مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ

19. Dari benih kehidupan yang kecil, Ia menciptakannya, lalu Ia membentuknya sesuai dengan ukurannya.

Dari apa manusia diciptakan? la diciptakan dari sperma. ‘Lalu la membentuk dia’. Qaddara, berarti ‘menyiapkan, merencanakan atau menentukan sesuatu sesuai dengan ukurannya’. Qadr, yang dihubungkan dengan qaddara berarti ‘takdir, ketetapan Ilahi’. Suatu ketetapan bisa diukur.

Ayat ini menunjukkan bahwa pengkodean manusia yang lengkap terdapat dalam sperma. Selanjutnya manusia akan muncul dalam wujud kasar, berinteraksi dengan eksistensi lainnya, dan menemukan jalan kembali ke sumbernya. Alquran membawa kita ke dalam kemutlakan dan kemudian mengembalikan lagi kepada realitas duniawi ini untuk menyadarkan kita agar bisa lebur ke dalam realitas.

ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

20. Lalu Ia menjadikan jalan itu mudah baginya.

Lagi-lagi, ini berkenaan dengan hal positif. Sabil berarti ‘jalan atau garis edar’. Mengapa kita semua mencari jalan dalam kehidupan? Sabil dicari untuk menghindari lubang perangkap di jalan yang tidak dipasangi rambu-rambu yang jelas. ‘Jalan’ ini mungkin saja berupa kesepakatan, perkawinan, bisnis, liburan, dan sebagainya. Kita mencari jalan yang jelas karena kita telah menyimpang akibat pilihan-pilihan buruk yang kita buat dalam kejahilan dan kegelapan kita.

Perhatikanlah kata Arab untuk ketidakjelasan atau kegelapan, zhulam atau zhulumat. Kegelapan dideskripsikan dalam Alquran sebagai selubung yang harus disingkirkan karena hakikat dari segala sesuatu adalah cahaya. Cahaya adalah ilmu pengetahuan, sehingga kita mendapat gambaran: “Allah adalah cahaya langit dan bumi’ (Q.S.24:35). Zhulam, bila menutupi cahaya itu, kadang menjadi hikmah. Segala sesuatu ada hikmahnya, tapi kita tidak selalu memahaminya demikian. Jika, umpamanya, seseorang tahu bahwa kesehatan yang buruk akan menimpanya dalam waktu dekat, mak’a ia akan sakit karena cemas dari sekarang sampai nanti (saat keburukan menimpa). Oleh karena itu, kegelapan yang menutupi pengetahuannya tentang apa yang akan terjadi merupakan suatu hikmah.

Yassara berarti ‘melancarkan, meratakan, melicinkan, memudahkan’. Yusr dari akar kata yang sama, berarti ‘kemudahan, kemakmuran, kelimpahan’. Yasar berarti ‘kesenangan, kemewahan’, dan juga ‘tangan kiri’. Di semua kebudayaan, selama periode spiritualitas besar, tangan kanan melambangkan tindakan positif dan tangan kiri negatif. Manusia mengambil, memberi dan makan dengan tangan kanan. Ia membuang dan menghambur-hamburkan dengan tangan kiri. Ia mengetahui hal positif dengan meniadakan hal negatif.

~ oleh hidayatulhaq pada Juni 20, 2008.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: